<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728</id><updated>2011-12-28T22:22:35.732-08:00</updated><title type='text'>Mubarok Institute</title><subtitle type='html'>Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>537</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-377995340109856959</id><published>2011-09-21T23:37:00.000-07:00</published><updated>2011-09-21T23:53:06.193-07:00</updated><title type='text'>Turki Erdogan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Azyumard&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;i Azra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turki. Masih d&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-om4OgPovnDc/TnrYvKF2okI/AAAAAAAABqM/9yobGRN4n78/s1600/azyumardi%2Bazra.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 189px; height: 137px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-om4OgPovnDc/TnrYvKF2okI/AAAAAAAABqM/9yobGRN4n78/s200/azyumardi%2Bazra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655070586791436866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;alam suasana Hari Raya Idul Fitri awal September, pemerintah Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan memutuskan untuk 'menurunkan' hubungan militer dan diplomatik dengan Israel. Langkah drastis ini diambil Erdogan setelah Israel tidak memenuhi tuntutan Turki untuk minta maaf atas tindakan militernya menyerbu kapal perdamaian Mavi Marmara 31 Mei 2010 yang menewaskan sembilan tentara Turki dan aktivis perdamaian.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon menyesalkan memburuknya hubungan Turki-salah satu dari tiga negara Timur Tengah yang memiliki hubungan diplomatik dan militer dengan Israel; dua lainnya adalah Mesir dan Yordania. Meski ada imbauan Sekjen PBB agar Turki dan Israel memperbaiki kembali hubungan mereka, tidak terlihat tanda-tanda meyakinkan bakal terjadinya perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Turki di bawah PM Erdogan adalah Turki yang kian unjuk gigi di Timur Tengah. Turki tidak hanya bertindak tegas terhadap Israel, tapi juga sebelumnya bersuara keras terhadap rezim Khadafi (Libya) dan Bashar Assad (Syria) yang melakukan kekerasan terhadap warga negaranya sendiri. Di tengah kemerosotan dan masalah yang dihadapi negara-negara yang secara tradisional hegemonik di Timur Tengah, seperti Irak, Mesir, Libya, dan Syria, Turki kini berdiri kokoh, baik ke dalam maupun keluar. Turki kini terlihat begitu kuat, tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga bila dibandingkan dengan sejumlah negara Eropa yang tengah bergulat dengan krisis ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana rahasia Turki sehingga bisa menjadi begitu asertif? Kunci utamanya tidak lain adalah keberhasilan PM Erdogan membangun ekonomi Turki setelah dua kali masa pemerintahannya. Karena itu, tak heran jika awal Agustus lalu PM Erdogan kembali menang dalam Pemilu dengan sekitar 50 persen pemilih memberikan suara kepada partainya, AKP, Partai Pembangunan dan Keadilan. Padahal, ketika mulai berkuasa pada 2002, PM Erdogan mewarisi Turki yang tengah ambruk secara ekonomi, di mana tingkat kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan pendapatan menganga luas. Di tengah situasi memburuk itu, pertikaian dan konflik politik juga sangat mewarnai kehidupan publik Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PM Erdogan dengan AKP yang secara tersembunyi merupakan partai berorientasi Islam berhasil membalikkan keadaan. Pembalikan keadaan itu dilakukan berdasarkan prinsip Erdogan tentang 'demokrasi ke depan' (forward democracy) yang berisikan 'ekonomi yang kuat, pemerintahan yang kuat, dan partai yang kuat'. Berdasarkan kerangka ini, PM Erdogan menampilkan pemerintahan efektif dan efisien melalui transformasi birokrasi yang berorientasi kepada pelayanan publik daripada melayani diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, ekonomi Turki tumbuh secara fenomenal. Pada 2011 ini, prediksi pertumbuhan ekonominya mencapai 11 persen. Tetapi, perkembangan ekonomi yang mengagumkan itu bukan semata-mata demi pertumbuhan, tetapi untuk pemerataan dan keadilan. Pemerintahan Erdogan, misalnya, memberikan akses seluas-luasnya bagi kaum miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik; pemukiman kumuh digusur untuk digantikan perumahan publik masif dan dengan subsidi besar negara; infrastruktur seperti jalan raya dan jalan kampung dibangun besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencapaian besar lain Erdogan adalah keberhasilannya menguasai militer yang merupakan pengawal sekularisme-kemalisme. Dengan posisi dan tradisi ini, militer Turki dari waktu ke waktu mengudeta pemerintahan-pemerintahan yang mereka anggap 'menyimpang' dari prinsip sekularisme-kemalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, militer tidak berkutik berhadapan dengan PM Erdogan. Fakta bahwa Erdogan berkuasa sudah satu dasawarsa jelas menunjukkan ketidakmampuan militer menghadapi PM Erdogan yang pertama kali dalam sejarah Turki modern memperkenalkan seorang istri berjilbab di istana negara. Hal yang sama juga dilakukan istri Presiden Abdullah Gul. Padahal, jilbab secara resmi masih terlarang di ranah resmi pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya, keberhasilan PM Erdogan-bersama Presiden Gul-menguasai militer adalah pertengahan Agustus lalu ketika mereka mengangkat Penglima Angkatan Bersenjata baru setelah pada 29 Juli seluruh pemimpin puncak militer-darat, laut dan udara-mengundurkan diri. Pengunduran besar-besaran ini ternyata tidak menimbulkan krisis politik Turki. Dan, sebaliknya memberikan ruang yang sangat besar bagi pemerintahan sipil mengendalikan militer untuk pertama kali dalam sejarah modern Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turki di bawah Erdogan adalah showcase negara Muslim yang berhasil dalam reformasi politik dan ekonominya. Indonesia juga punya potensi dan peluang yang sama. Sayangnya, reformasi di Indonesia masih setengah hati sehingga gagal, misalnya, dalam menciptakan pemerintahan yang bersih. Akibatnya, juga tidak efektif dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat. (Sumber : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Republika Online&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-377995340109856959?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/377995340109856959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=377995340109856959' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/377995340109856959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/377995340109856959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/09/kamis-22-september-2011-pukul-103700.html' title='Turki Erdogan'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-om4OgPovnDc/TnrYvKF2okI/AAAAAAAABqM/9yobGRN4n78/s72-c/azyumardi%2Bazra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-4499340378631588298</id><published>2011-08-17T21:36:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T22:50:45.204-07:00</updated><title type='text'>Citra Da'i di Mata Masyarakat (5)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kualitas Konsep Diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-zwm3FIsERHg/TkyW198sxII/AAAAAAAABqE/k4hiVMVzMKM/s1600/senyum.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 155px; height: 151px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-zwm3FIsERHg/TkyW198sxII/AAAAAAAABqE/k4hiVMVzMKM/s200/senyum.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642050287094776962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Konsep diri ada yang positif dan ada yang negatif. Jika seorang da’i memiliki konsep diri yang positif, maka ciri-cirinya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu mengatasi masalah yang akan dihadapi. Apapun kesulitan yang ia bayangkan, ia merasa yakin akan dapat menemukan jalan keluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Dalam pergaulan dengan orang banyak, ia merasa setara dengan orang lain, ia tidak merasa rendah diri, tidak kecil hati, tidak merasa sebagai orang kampung yang ketinggalan zaman (meskipun ia berasal dari kampung), tetapi merasa sama. Jika orang lain bisa mengapa saya tidak bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3.    Jika suatu saat ia dipuji orang, ia tidak tersipu-sipu malu, karena ia merasa pujian itu wajar saja, sekadar mengungkapkan keberhasilan atau kelebihan yang ia miliki. Baginya pujian tidak membuatnya merasa tinggi dari apa yang ada pada dirinya, atau merasa kagum terhadap dirinya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘ujub&lt;/span&gt;). ia menerima pujian itu dengan terbuka karena pujian itu sudah pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki kecenderungan yang – tidak mungkin disetujui atau memuaskan seluruh masyarakat. Ia menyadari bahwa ia dapat melakukan suatu hal yang berguna dan menyenangkan orang lain, tetapi ia juga sadar bahwa tidak semua orang dapat menerima secara positip terhadap apa yang ia lakukan. Di antara sejumlah masyarakat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mad’u&lt;/span&gt;, atau bahkan di antara atasannya, pasti ada orang yang tidak meyukainya, tidak menyetujuinya atau tidak paham terhadap dimensi kebaikan yang ia lakukan. Oleh karena itu jika suatu saat ia disalahkan, dikritik atau dicaci maki orang, ia sama sekali tidak terkejut. Baginya pujian dan penolakan adalah wajar, ia dapat menerimanya secara wajar. Pujian tidak membuatnya besar kepala dan cacian tidak membuatnya tersinggung. Ia bisa tertawa terbahak-bahak karena dipuji dan ketika dicaci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Mampu memperbaiki diri. Karena sikap yang terbuka terhadap pujian dan cacian, maka ia mampu menerima kritikan dan saran-saran dari orang lain sebagai masukan untuk memperbaiki diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan da’i yang mempunyai konsef diri negatip, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Peka terhadap kritik. Jika dikritik orang ia tidak tahan. Ia mempersepsi kritikan orang itu sebagai upaya untuk menjatuhkan dirinya. Oleh karena itu da’i yang konsep dirinya tidak dapat menjalankan dialog terbuka, ia tidak dapat menangkap pikiran-pikiran yang bagus dari para pengkritiknya, karena telinganya terlanjur “merah” dan oleh karena itu ia bersikukuh untuk mempertahankan logika berpikirnya yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Ia bersifat hiperkritis, kelewat kritis terhadap orang lain, sehingga ia cenderung merendahkan dan meremehkan orang lain. Ia begitu berat mengakui kelebihan yang dimiliki orang lain, apalagi orang yang menjadi saingannya. Baginya yang benar adalah dirinya dan orang lain pasti salah. Kebenaran orang lain itu diakuinya hanya jika berhubungan dengan pujian kepada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Ia merasa tidak disenangi oleh orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, merasa tidak dianggap sebagai “orang” dan ditinggal. Oleh karena itu ia mudah mempersepsi orang lain sebagai lawan, sebagai saingan atau musuh yang mengancam keberadaan dirinya. Orang yang memiliki sifat ini biasanya susah untuk dapat bergaul secara akrab dan hangat, karena ia sendiri merasa tidak diakrabi. Jika suatu saat rivalnya itu datang dengan keakraban, maka ia mencurigai keakraban lawannya itu sebagai pura-pura. Ia susah sekali mengakui kesalahan dirinya.&lt;br /&gt;Dalam pandangannya, sistem sosial, sitem organisasi dan norma-norma msayarakat hanya memojokan dirinya daja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Ia pesimis untuk bersaing dengan orang lain secara terbuka. Ia enggan untuk berkompetisi dengan orang lain. Karena ia merasa bahwa sistem persaingan itu merugikan dirinya. Ia sudah memastikan bahwa jika ia ikut kompetisi pasti akan dikalahkan oleh sistem yang tidak adil terhadap dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang da’i sudah sepantasnya memiliki konsep diri yang positif, karena dari konsef diri positiflah akan lahir pola konsep diri positif. Da’i diharap tidak keliru mempersepsi orang, dan mampu berekspresi diri yang menimbulkan kesan positip. Sebagai orang yang harus mengetuk hati nurani dalam dakwahnya, seorang da’i harus memiliki citra “terbuka” di hadapan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mad’u&lt;/span&gt;nya, dan hanya orang yang memiliki konsep diri positiflah yang sanggup membuka diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang terbuka (atau berani membuka diri) adalah orang yang tahu betul hal-hal apa yang telah diketahui orang lain tentang dirinya, sehingga tak perlu menutup-nutupi dengan topeng (kata-kata atau perilaku tertentu). Ia juga tahu betul hal-hal apa pada dirinya yang tidak perlu diketahui oleh orang lain, yang oleh karena itu tidak merasa perlu untuk memberitahukannya.&lt;br /&gt;Konsep diri orang juga dapat diketahui dari pilihan kata-kata yang digunakan, pilihan selera dan pilihan perilaku yang bersangkutan. Secara sederhana kita dapat mempersepsi siapa pembaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kompas&lt;/span&gt; dan siapa pembaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pos kota&lt;/span&gt;, siapa pemakai bikini dan siapa pemakai jilbab, siapa yang selalu mengenakan topi haji dan siapa yang selalu berdasi. Orang yang memandang dirinya “siapa”, maka ia merasa pantas memakai pakaian anu, tidak melakukan ini dan tidak layak bergaul dengan si Anu. Pilihan-pilihan itu merupakan proses penyusunan lambang-lambang, sebagai terjemahan dari apa yang ada dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mubalighah yang sudah biasa dipanggil ustadzah, merasa harus selalu memakai jilbab ketika ke luar rumah atau bertemu dengan orang lain, sedangkan mahasiswa Fakultas Dakwah yang merasa belum menjadi da’i atau mubalighah menganggap: Tak apalah sekali-sekali “ bergaya” dengan pakaian trendi di jalanan, asal tidak ketahuan orang-orang tertentu. Yang penting jangan keterlaluan, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Yusmin, seorang dosen muda merasa tidak pantas dan tidak bisa makan sewarung dengan mahasiswanya, tetapi Pak Zubaidi, seorang dosen senior dan disegani mahasiswanya, biasa-biasa saja makan di warung bersama mahasiswanya, terkadang mentraktir, tapi lebih sering ditraktir.&lt;br /&gt;Itu semua menggambarkan terjemahan dari apa yang ada dalam pikirannya, sesuai dengan konsef dirinya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-4499340378631588298?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/4499340378631588298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=4499340378631588298' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4499340378631588298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4499340378631588298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/08/citra-dai-di-mata-masyarakat-5.html' title='Citra Da&apos;i di Mata Masyarakat (5)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zwm3FIsERHg/TkyW198sxII/AAAAAAAABqE/k4hiVMVzMKM/s72-c/senyum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-2977691905881525362</id><published>2011-08-15T22:14:00.000-07:00</published><updated>2011-08-15T22:19:41.588-07:00</updated><title type='text'>Citra Da'i di Mata Masyarakat (4)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor Personal yang Mempengaruhi Persepsi Terhadap Orang lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-y2twNIMwMXo/Tkn8zqJy0oI/AAAAAAAABp0/h9IRreYg3f8/s1600/merenung.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 169px; height: 135px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-y2twNIMwMXo/Tkn8zqJy0oI/AAAAAAAABp0/h9IRreYg3f8/s200/merenung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641317972677153410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Faktor personal yang mempengaruhi persepsi terhadap orang lain adalah pengalaman dan konsep diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pengalaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari datang ke masjid seorang pemuda dengan penampilan bersih dan necis, memakai sorban, memegang tasbih serta membawa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mushaf&lt;/span&gt; al-Qur’an. Banyak orang yang mempersepsinya anak mda yang alim dan saleh, mungkin baru pulang mukim dari Mekkah, tetapi bagi Joni yang telah mengenalnya lama sebagai preman di pasar, dan baru dua hari yang lalu sama-sama membobol toko pakaian busana muslim, maka ia tak akan tertipu dengan pakaian. Dalam persepsinya, anak muda itu tetap saja sebagai preman meski memasang jubah sekalipun. Jadi pengalaman seseorang dengan orang lain mempertajam persepsi  interpersonalnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Konsep Diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konsep diri adalah pandangan dan perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri dapat bersifat fisik, psikologis maupun sosial.&lt;br /&gt;Mahasiswa yang selalu lulus ujian dengan nilai A maka tertanam dalam dirinya satu konsep diri bahwa ia pintar, sebaliknya mahasiswa yang senantiasa gagal ujian, maka iapun merasa dirinya bodoh. Pesilat yang selalu memenangkan pertandingan maka iapun merasa dirinya kuat, merasa mampu mengatasi persoalan-persoalan berkelahi dengan orang lain. Demikian juga satu etnis yang kebanyakan masyarakatnya sukses dalam bidang (bisnis misalnya) maka mereka merasa secara sosial bahwa bisnis adalah keahlian etnis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep diri sangat besar pengaruhnya dalam berkomunikasi. Orang yang merasa dirinya bisa menyelesaikan masalah, maka ia akan bisa, sedang orang yang merasa bodoh, pada akhirnya akan menjadi bodoh beneran. Seorang Da’i yang merasa kecil di depan jama’ahnya,maka ia benar-benar menjadi “kecil” secara sosial, sedangkan da’i yang merasa bahwa orang lain tak ada bedanya dengan dirinya dan yakin bahwa apa yang orang lain bisa pasti bisa ia kerjakan, maka pada akhirnya ia memang bisa mengatasi kesulitan yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep diri seseorang biasanya tumbuh karena dipengaruhi oleh dua hal :&lt;br /&gt;1.    Dipengaruhi orang lain, misalnya, karena sering dipuji orang sebagai orang pintar, maka ia percaya bahwa dirinya pintar. Sebaliknya jika ia dipandang rendah dan bodoh oleh orang maka akhirnya ia menjadi minder  dan bodoh beneran. Dalam konteks inilah, maka seseorang yang berprestasi perlu diberi penghargaan, karena penghargaan itu (lisan, sertifikat, piala, atau tabanas) berfungsi memacu penerimanya untuk meningkatkan prestasi dan menambah rasa percaya dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Kelompok rujukan, seorang tokoh masyarakat yang menjadi pengurus Dewan Dakwah atau Majelis Dakwah, maka keanggotaan dalam organisasi profesi itu memberikan keyakinan kepada dirinya bahwa ia mengerti masalah-masalah dakwah. Anggota Menwa merasa dirinya mengerti tentang masalah-masalah kemiliteran, beginilah seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-2977691905881525362?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/2977691905881525362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=2977691905881525362' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2977691905881525362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2977691905881525362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/08/citra-dai-di-mata-masyarakat-4.html' title='Citra Da&apos;i di Mata Masyarakat (4)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-y2twNIMwMXo/Tkn8zqJy0oI/AAAAAAAABp0/h9IRreYg3f8/s72-c/merenung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-5482592848904167055</id><published>2011-08-14T19:58:00.000-07:00</published><updated>2011-08-14T20:11:45.332-07:00</updated><title type='text'>Citra Da'i di Mata Masyarakat (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi Terhadap Orang Lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-hhzG4py4hhY/TkiLg9jF8EI/AAAAAAAABpk/x2kofxdpVv0/s1600/pohon.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 183px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-hhzG4py4hhY/TkiLg9jF8EI/AAAAAAAABpk/x2kofxdpVv0/s200/pohon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5640911931675373634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Karena manusia itu makhluk yang berpikir dan merasa, maka dalam mempersepsi orang lain pikiran dan perasaannya bekerja, yaitu menangkap stimuli dan mengolahnya menjadi informasi (persepsi). Ketika mempersepsi orang lain, sekurang-kurangnya ada dua hal yang mempengaruhi persepsi, yaitu factor situasional dan factor personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor Situasional yang Mempengaruhi Persepsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor situasional yang mempengaruhi persepsi kepada orang lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cara menyebut sifat orang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau seorang guru disebutkan oleh kepala sekolahnya bahwa Pak Guru yang ini orangnya pintar, dan saya saya murid, hanya metode mengajarnya yang masih harus diperbaiki, maka persepsi orang kepada Pak Guru adalah positif. Tetapi jika dibalik, Pak Guru ini tidak mengerti metodologi pengajaran, meskipun ia sayang murid dan pintar, maka persepsi kepadanya menjadi negatif. Jadi secara psikologis, sifat yang pertama kali disampaikan, apalagi dengan intonasi yang meyakinkan, sangat mempengaruhi persepsi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jarak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Harian Republika edisi 2 Januari 1995 memuat foto Rektor UIA sedang menyambut kedatangan Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PB NU pada acara ceramah ilmiah di hadapan peserta musyawarah alumni UIA. Kebetulan penyelenggara musyawarah itu pada hari-hari di mana pertentangan Gus Dur dengan kelompok Abu Hasan sedang gencar-gencarnya di bahas oleh Koran, termasuk Republika. Karena dalam gambar itu kelihatan sekali Rektor UIA, Sutjipto Wirosardjono MSc, dengan dengan Gus Dur, maka besoknya banyak sekali telepon dan orang yang bertanya, dan sudah mempersepsi bahwa Pak Cip adalah pendukung Gus Dur. Beberapa teman dekat yang telah mengetahui bahwa Pak Cip bukan pendukung Gus Dur pun ada yang mempersepsi bahwa Pak Cip telah berubah. Jadi jarak keakraban, jarak sosial, jarak ide, dekat atau jauh, mempengaruhi persepsi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;interpersonal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekat dengan presiden di persepsi orang penting, dengan dengan kyai dipersepsi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;saleh&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘alim&lt;/span&gt;, dengan dengan Edy Tanzil dipersepsi terlihat skandal Bapindo, pendapatnya berdekatan dengan ide-ide komunis juga bisa dipersepsi sebagai Marxis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gerakan orang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Si Alex jika berbicara dengan orang selalu berkacak pinggang dan membusungkan dada, maka hampir semua orang yang melihatnya menganggapnya sebagai orang yang sombong, sedangkan si Dolah jika berbicara dengan orang lain selalu menundukan kepala dan tangannya dilipat di depan, maka orang mempersepsinya sebagai orang yang sopan atau orang yang rendah diri.&lt;br /&gt;Jadi gerakan membusungkan dada dipersepsi sombong, gerakan menengadahkan kepala ketika berbicara dipersepsi sebagai pemberani, bertopang dagu dipersepsi sedih, dan menadahkan tangan dipersepsi sedang memeinta atau memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Petunjuk Wajah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wajah adalah cermin jiwa, oleh karena itu sifat-sifat orang terkadang dapat diketahui melalui petunjuk wajah. Ilmu tentang ini disebut Frenologi. Akan teteapi tidak semua orang dapat membaca wajah, oleh karena itu tak jarang orang keliru mempersepsi orang lain melalui wajah, baik karena tidak memiliki pengetahuan tentang itu, atau karena tertipu oleh wajah manis hati serigala, atau wajah garang hati lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana cara mengucapkan Lambang-lambang Verbal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang perwira tinggi yang kebetulan menjabat sebagai rektor sebuah PTS, kecewa terhadap seorang stafnya tentang suatu hal. Kepada stafnya itu ia berkata,  "monyet lu”. Akan tetapi, dari cara beliau mengucapkannya, yakni tidak terlalu keras dan bernuansa humor, maka orang tahu bahwa cacian monyet itu bukan lambing kemarahan besar sehingga tidak dipersepsi sebagai cacian, malah stafnya yang dimarahi sering merespon dengan senyum-senyum. Meskipun “monyet” nya sering keluar, tetapi persepsi orang terhadap Pak Rektor yang jenderal itu tetap positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kata-kata “bagus”, “pantas”, “silahkan” dan sebagainya, tapi diucapkan dengan keras dan penuh meosi, maka orang yang mengucapkan itu dipersepsi sedang marah berat, atau galak atau sadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penampilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep struktural, pakaian mode, kosmetik, bahkan kaca mata, tas tangan atau model rambut termasuk dalam struktur kepribadian. Artinya orang yang berpakaian dengan mode A menunjukan pemakainya berkepribadian A, model B menunjukan kepribadian B, kosmetik C menunjukan kepribadian C pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz Sulaiman ketika diundang ceramah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nuzulul Qur’an&lt;/span&gt;  di sebuah mesjid datang dengan mengenakan celana jeans, jaket kulit, kaca mata hitam, rambut gondrong tidak disisir dan membawa gitar. Meskipun orang sudah kenal Pak Ustadz tersebut, tapi tak urung ketika melihanya dalam pakaian yang berada di luar konsep jama’ah, orang tergoda untuk bertanya, apa betul ini Ustadz Sulaiman, kasihan yah Ustadz Sulaiman. Atau apa gerangan yang menimpa ustadz kita ini? Jama’ah akan mempersepsi bukan ustadz Sulaiman, atau sebagai ustadz yang sedang “kumat”, atau persepsi negative lainnya. Orang memang sering tertipu oleh penampilan seseorang yakni apa yang dalam psikologi disebut hallo effect.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-5482592848904167055?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/5482592848904167055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=5482592848904167055' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5482592848904167055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5482592848904167055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/08/citra-dai-di-mata-masyarakat-3.html' title='Citra Da&apos;i di Mata Masyarakat (3)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-hhzG4py4hhY/TkiLg9jF8EI/AAAAAAAABpk/x2kofxdpVv0/s72-c/pohon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-5326037587939827869</id><published>2011-08-11T20:38:00.000-07:00</published><updated>2011-08-11T20:59:36.209-07:00</updated><title type='text'>Citra Da'i di Mata Masyarakat (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sistem Komunikasi Interpersonal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-wO9dxGEDhJM/TkSh-HOP0DI/AAAAAAAABpc/HgL_QK7q3Cg/s1600/komunikasi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 152px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-wO9dxGEDhJM/TkSh-HOP0DI/AAAAAAAABpc/HgL_QK7q3Cg/s200/komunikasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639810721837469746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam ilmu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Psikologi Komunikasi&lt;/span&gt;, bagaimana persepsi orang terhadap kita, atau bagaimana persepsi kita tentang orang lain dinamakan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sistem Komunikasi Interpersonal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk yang berpikir dan berperasaan. Pikiran dan perasaannya menentukan persepsinya terhadap orang lain. Jika dua orang berkomunikasi maka berlangsunglah pengiriman dan penerimaan pesan berupa lambang-lambang, berbeda dengan ketika persepsi benda – patung misalnya -  proses komunikasi itu sendiri mempengaruhi pikiran dan perasaan antar keduanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, seorang pengusaha yang sukses dan terpelajar (dan “sekuler), semula ia mempersepsi seorang da’i dengan persepsi buruk, bodoh, ketinggalan zaman, kampungan, dan mata duitan. Tetapi, setelah pernah bertemu di sebuah forum seminar dan menginap bersama dalam satu kamar hotel selama dua malam dimana terjadi peristiwa mental ( pengiriman dan penerimaan lambang-lambang) dalam berkomunikasi selama dua hari itu, persepsinya tentang ustadz berubah, dan persepsi Pak Ustadz terhadap “sekuler” juga berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orang yang semula dipersepsi sebagai sombong setelah berkomunikasi boleh jadi berubah persepsinya menjadi rendah hati atau tidak terlalu sombong, mubaligh yang semula dipersepsi sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘alim&lt;/span&gt;, setelah berdiskusi berubah persepsinya menjadi hanya padai pidato, atau yang semua dipersepsi sebagai anggun dan shaleh, setelah berkomunikasi berubah persepsinya menjadi genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan persepsi terhadap benda dengan persepsi terhadap manusia (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;interpersonal&lt;/span&gt;) adalah disebabkan hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Terhadap benda, patung misalnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stimuli&lt;/span&gt; ditangkap hanya dengan indera, sedangkan persepsi terhadap manusia, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stimuli&lt;/span&gt; di samping ditangkap melalui indera, juga melalui lambang-lambang verbal atau grafis yang disampaikan pihak ketiga. Ketika orang pertama kali ketemu dengan Gus Dus (ketua PBNU) misalnya, sebelumnya orang sudah mendengar tentang dia melalui Koran, majalah, atau desas desus negatif yang beredar. Dengan pengenalan sebelumnya itu maka persepsinya terhadap Gus Dur menjadi kurang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Bila seseorang melihat benda, maka yang dilihat hanya benda itu saja, yakni sifat-sifat luarnya saja tanpa harus mempertimbangkan bahaimana perasaannya, sedang bila ia berkomunikasi dengan manusia (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;interpersonal&lt;/span&gt;) maka yang diperhatikan bukan hanya tindakan luarnya, tetapi juga memperhitungkan bagaimana perasaannya, dan apa motivasinya. Jika seseorang terlihat tersenyum, maka akan timbul pertanyaan mengapa ia tersenyum. Jika seorang ayah cemberut, maka anaknya akan tergoda untuk bertanya mengapa ayah cemberut. Karena persepsi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;interpersonal&lt;/span&gt; itu menyangkut aspek berpikir dan merasa, maka kemungkinan keliru persepsi itu selalu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Ketika benda diamati ia tidak bereaksi apa pun, sedang dalam berkomunikasi dengan orang, ia pasti bereaksi, dan terjadilah saling tukar stimulus dan respon antara kedua belah pihak.&lt;br /&gt;Seorang mahasiswa diberi tugas praktikum dakwah di suatu desa. Kepadanya disampaikan bahwa mahasiswa yang akan ditugaskan di desa itu orangnya simpatik, sabar, dan pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka mahasiswa mempersepsi orang desa sebagai positif, dan mereka pun mempersepsi mahasiswa juga positif. Baru dua hari bertugas, mahasiswa itu disinggung oleh penduduk desa yang memang tidak menyukai kehadirannya. Singgungan itu begitu kasarnya sehingga mahasiswa itu merespon dan sampai terlepas control. Sang mahasiswa terkejut melihat perilaku orang desa yang sudah terlanjur di persepsi baik, tapi karena ia tak dapat mengendalikan diri di hadapan masyarakat desa, maka ia pun kemudian dipersepsi sebagai mahasiswa yang tidak sabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Benda relatif tidak berubah, sedang manusia selalu berubah. Pak Dul ketika pinjam uang sangat ramah dan sopan, tetapi ketika ditagih ia berubah menjadi galak dan kasar. Tadi pagi Evi berangkat kuliah dengan sangat riang, tetapi pulang kuliah menjadi cemberut dan pendiam. Perubahan inilah yang menyulitkan dalam mempersepsi orang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-5326037587939827869?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/5326037587939827869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=5326037587939827869' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5326037587939827869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5326037587939827869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/08/citra-dai-di-mata-masyarakat-2.html' title='Citra Da&apos;i di Mata Masyarakat (2)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-wO9dxGEDhJM/TkSh-HOP0DI/AAAAAAAABpc/HgL_QK7q3Cg/s72-c/komunikasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-8482904858062578118</id><published>2011-08-10T23:09:00.000-07:00</published><updated>2011-08-11T20:57:33.719-07:00</updated><title type='text'>Citra Da'i di Mata Masyarakat (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-qWIIwN__HGE/TkNzzf_PQhI/AAAAAAAABpE/2ghmYftDmMY/s1600/muhammad.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 169px; height: 141px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-qWIIwN__HGE/TkNzzf_PQhI/AAAAAAAABpE/2ghmYftDmMY/s200/muhammad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639478486995255826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Citra adalah kesan kuat yang melekat pada banyak orang tentang seseorang, sekelompok orang atau tentang suatu institusi. Seseorang yang secara konsisten dan dalam waktu yang lama berperilaku baik atau berprestasi menonjol maka akan terbangun kesan pada masyarakatnya bahwa orang tersebut adalah sosok yang baik dan hebat. Sebaliknya jika seseorang dalam kurun waktu yang lama menampilkan perilaku yang tidak konsisten, maka akan tertanam kesan buruk orang tersebut di dalam hati masyarakatnya. Dalam perspektif ini maka citra dapat dibangun. Orang yang ingin memiliki citra baik di dalam keluarganya atau di lingkungannya, maka ia harus bisa menunjukan sebagai orang baik secara konsisten.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra atau kesan terbangun melalui proses komunikasi interpersonal dimana orang banyak mempersepsi kepada kita atau sebaliknya. Citra dipersoalkan biasanya hanya pada seseorang yang secara sosial menonjol kedudukannya. Meski demikian tidak semua perbuatan dipersepsi secara tidak benar, karena persepsi dipengaruhi oleh banyak faktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Da’i – idealnya -  merasa sebagai pejuang yang bekerja untuk menyelamatkan masyarakat dari bencana dan mengantarnya pada kebahagiaan hakiki. Sebagai pejuang, maka seorang da’i tak mengenal lelah, tak mengharapkan penghargaan, dan juga upah. Kebahagiaan seorang da’i adalah apabila ia berhasil membimbing masyarakat kepada jalan yang benar, yang diridlai Allah. Bagi seorang da’i, ridla Allah lah yang dicari, oleh karena itu tantangan, hambatan dan bahkan caci-maki dari masyarakat yang belum bisa menerima dakwahnya diterima dengan ikhlas, sabar dan dijadikan cambuk perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, betapa mulia tugas seorang da’i, ia bersusah payah demi kebahagiaan orang lain, tetapi pertanyaannya ialah, apakah da’i juga mulia dalam pandangan masyarakat?&lt;br /&gt;Dalam kehidupan keseharian, dapat dijumpai kenyataan bahwa tidak semua orang baik dipersepsi orang baik, tidak semua tugas mulia dipersepsi sebagai kemuliaan. Memberi nasehat dipersepsi sebagai sok tahu atau mencampuri urusan orang lain, mengingatkan dipersepsi sebagai penghinaan, dan sebagainya dan sebagainya. Dengan demikian kerja keras seorang da’i belum tentu dipersepsi sebagai kebaikan oleh masyarakat&lt;span style="font-style: italic;"&gt; mad’u&lt;/span&gt;, padahal persepsi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mad’u&lt;/span&gt; terhadap da’i mempengaruhi efektifitas dakwahnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-8482904858062578118?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/8482904858062578118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=8482904858062578118' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8482904858062578118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8482904858062578118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/08/citra-dai-di-mata-masyarakat.html' title='Citra Da&apos;i di Mata Masyarakat (1)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qWIIwN__HGE/TkNzzf_PQhI/AAAAAAAABpE/2ghmYftDmMY/s72-c/muhammad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-5640616553462719190</id><published>2011-07-21T20:24:00.000-07:00</published><updated>2011-07-21T20:46:44.297-07:00</updated><title type='text'>Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (5)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hubungan Kesulitan dengan Kebahagiaan  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-nnBWhQ1e-vI/TijupSBI2GI/AAAAAAAABo8/QzZXFgFSohQ/s1600/mudah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 162px; height: 144px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-nnBWhQ1e-vI/TijupSBI2GI/AAAAAAAABo8/QzZXFgFSohQ/s200/mudah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5632013727005464674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semua orang yang memutuskan untuk hidup berkeluarga pasti mengangankan adanya kebahagiaan dalam hidup rumah tangganya, meski angan-angan tentang kebahagiaan juga berbeda-beda. Kebahagiaan sangat subyektip tetapi universal. Ada orang yang bahagia karena memperoleh sesuatu yang banyak, tetapi yang lain sudah cukup merasa bahagia meski hanya memperoleh sedikit. Ada orang yang merasa bahagia karena memperoleh susuatu tanpa bersusah payah, tetapi yang lain merasa bahagia justru telah bersusah payah lebih dahulu. Kebahagiaan ada yang sifatnya sesaat, ada yang lama dan bahkan ada kebahagiaan abadi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makna bahagia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  Ada dua ungkapan, senang dan bahagia. Senang adalah terpenuhinya tuntutan syahwat, misalnya sedang lapar menemukan makanan lezat, sedang haus menemukan minuman segar, sedang sulit menemukan kemudahan, sedang kesepian ketemu teman atau kekasih, sedang nganggur dapat pekerjaan dan sebangsanya. Adapun bahagia berhubungan dengan misteri yang sangat subyektip, tetapi intinya adalah datangnya  pertolongan ilahiyah hingga memperoleh sesuatu yang dianggap sebagai kebaikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ilahiyah&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al khair&lt;/span&gt;). Rasa bahagia misalnya terasa ketika anaknya lahir laki-laki setelah sekian lama mendambakan ingin mempunyai anak lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan memiliki anak-lelaki tidak diklaim sebagai prestasi – ini karena aku bisa bikinnya misalnya; kata sang ayah- tetapi orang yang mempunyai anak lelaki setelah hampir putus asa mendambakan kehadirannya merasa bahwa kehadiran anak lelaki itu merupakan anugerah Tuhan yang tak ternilai. Kebahagiaan juga terasa ketika seorang ibu yang membesarkan anak gadisnya tanpa kehadiran suami sehingga ia dalam keadaan berat selalu berharap agar anaknya memiliki masa depan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saatnya anak gadisnya dipersunting oleh seorang  pemuda saleh yang cerah masa depannya. Masa depan cerah anak gadisnya itu tidak diklaim sebagai prestasinya tetapi benar-benar dipandang sebagai anugerah Tuhan. Jadi kebahagiaan itu datang dalam rangkaian kesulitan yang panjang tetapi ketika hadir tidak diakui sebagai prestasinya. Orang lainpun akan berkomentar, ibu itu sungguh sudah bekerja keras melampaui berbagai kesulitan dalam mengasuh anaknya sendirian, maka pantaslah  jika Allah menganugerahinya kebahagiaan yang sempurna kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dalam bahasa Arab ada  empat kata yang berhubungan dengan kebahagiaan, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa`adah &lt;/span&gt;(bahagia), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;falah&lt;/span&gt; (beruntung), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;najat&lt;/span&gt; (selamat) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;najah&lt;/span&gt; (berhasil). Jika &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa'adah&lt;/span&gt; (bahagia)  mengandung nuansa anugerah Tuhan setelah terlebih dahulu mengarungi kesulitan, maka falah mengandung arti menemukan apa yang dicari (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;idrak al bughyah&lt;/span&gt;). Falah ada dua macam, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dunyawi&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ukhrawi&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Falah duniawi&lt;/span&gt; adalah memperoleh kebahagiaan yang membuat hidup di dunia terasa nikmat, yakni menemukan  (a) keabadian (terbatas); umur panjang, sehat terus, kebutuhan tercukupi terus dsb, (b) kekayaan; segala yang dimiliki jauh melebihi dari yang dibutuhkan, dan (c) kehormatan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;falah ukhrawi&lt;/span&gt; terdiri dari empat macam, yaitu (a) keabadian tanpa batas, (b) kekayaan tanpa ada lagi yang dibutuhkan, (c) kehormatan tanpa ada unsur kehinaan dan (d) pengetahuan hingga tiada lagi yang tidak diketahui. Sedangkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;najat&lt;/span&gt; merupakan kebahagiaan yang dirasakan karena merasa terbebas dari ancaman yang menakutkan, misalnya ketika menerima putusan bebas dari pidana, ketika mendapat grasi besar dari presiden, ketika ternyata seluruh keluarganya selamat dari gelombang tsunami dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;najah&lt;/span&gt; adalah perasaan bahagia karena yang diidam-idamkan ternyata terkabul, padahal ia sudah merasa pesimis, misalnya keluarga miskin yang sepuluh anaknya berhasil menjadi sarjana semua. Kesenangan berdimensi horizontal, sedangkan kebahagiaan berdimensi horizontal dan vertikal. Orang masih bisa menguraikan anatomi kesenangan yang diperolehnya, tetapi ia akan susah mengungkap rincian kebahagiaan yang dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata bahagia merupakan wujud ketidakmampuan kata-kata. Prof. Fuad Hasan dalam bukunya Pengalaman Naik Haji mengaku tidak bisa menerangkan kenapa beliau menangis di depan Ka`bah, karena kebahagiaan yang beliau alami berdimensi vertikal, bernuansa anugerah, bukan prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak mempelai menitikkan air mata ketika akad nikah, demikian juga kedua orang tuanya, dan mereka tidak bisa menerangkan anatomi perasaan bahagianya. Kebahagiaan berkaitan dengan tingkat kesulitan yang dialami. Kebahagiaan sesungguhnya dalam kehidupan rumah tangga bukan ketika akad nikah, bukan pula ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu telah membuktikan mampu mengarungi samudera kehidupan hingga ke pantai tujuan, dan di pantai tujuan ia mendapati anak cucu yang sukses dan terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh orang sangat menderita ketika di ujung umurnya menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya nya sengsara dan hina, meski perjalanan bahtera rumah tangganya penuh dengan sukses story. Kebahagiaan biasanya datang setelah orang sukses mengatasi kesulitan yang panjang, tetapi tidak semua kesulitan mengantar pada kebahagiaan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Menurut hadis Nabi ada empat pilar kebahagiaan dalam hidup berumah tangga; (1) isteri/suami yang setia (2) anak-anak yang berbakti (3) lingkungan sosial yang sehat dan (4) rizkinya dekat.  Kesetiaan membuat hati tenang dan bangga, anak-anak yang berbakti menjadikannya sebagai buah hati, lingkungan sosial yang sehat menghilangkan rasa khawatir dan rizki yang dekat merangsang optimisme, idealisme dan imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makna Kesulitan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  Imam Gazali dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ihya `Ulumuddin&lt;/span&gt; mengatakan bahwa  setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu&lt;/span&gt;. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan,  berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justeru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Manusia didesain oleh Tuhan dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat introspeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal manusia bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati manusia bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani manusia bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat manusia dinamis mencari dan dengan hawa nafsu manusia menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain manusia juga menyukai kesulitan. Manusia tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri oli, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa ? karena manusia memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan.  Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adapun kebahagiaan biasanya merupakan buah dari ketabahan menghadapi kesulitan panjang yang bersifat alamiah dalam kehidupan. Itulah maka hakikat kebahagiaan hidup berumah tangga biasanya baru diperoleh setelah kakek nenek, yakni ketika menyaksikan anak cucu sebagai generasi penerusnya hidup sukses dan terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kesulitan juga harus dibedakan antara analisa dan perasaan, antara kesulitan teknis dan merasa sulit. Ada hambatan yang menurut analisa teknis masuk kategori sangat sulit dan berat, tetapi ada orang yang memandangnya ringan-ringan saja. Kenapa ? karena ia merasa tertantang untuk dapat menaklukkan kesulitan dan ia menyadari bahwa kesulitan itu merupakan  proses mencapai kebahagiaan. Ia tidak merasa berat dan sulit ketika menghadapi kesulitan karena ia selalu membayangkan buah kebahagiaan yang akan dipetiknya, seperti seorang petani yang belepotan lumpur di sawah, ia tidak merasa risih dengan lumpur karena ia membayangkan panennya nanti. Sedangkan merasa sulit merupakan respon psikologis terhadap problem dan perasaan itu berhu bungan dengan tingkat kapasitas kejiwaan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suasana Akad nikah yang anggun dan religious bisa menjadi pondasi psikologis dalam menapaki sejarah kehidupan. Selanjutnya penghayatan atas sunnatulloh kehidupan disertai dengan sikap amanah dalam konteks horizontal maupun vertical amin keberkahan hidup berkeluarga. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yushlih lakum a`malakum wa yaghfir lakum dzunubakum&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-5640616553462719190?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/5640616553462719190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=5640616553462719190' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5640616553462719190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5640616553462719190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya_21.html' title='Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (5)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-nnBWhQ1e-vI/TijupSBI2GI/AAAAAAAABo8/QzZXFgFSohQ/s72-c/mudah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-1466586827841185843</id><published>2011-07-20T20:07:00.000-07:00</published><updated>2011-07-20T20:20:11.573-07:00</updated><title type='text'>Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (4)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terapi Psikologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-5opUE0fJexI/TieZq11ysFI/AAAAAAAABo0/J6fCMANklT0/s1600/keluarga%2Bbahagia.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 155px; height: 129px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5opUE0fJexI/TieZq11ysFI/AAAAAAAABo0/J6fCMANklT0/s200/keluarga%2Bbahagia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631638820336349266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada tiga teori untuk menerangkan mengapa “sesuatu” berlangsung dengan baik dan di tempat lain atau pada orang lain “sesuatu” itu justru tidak dapat berlangsung dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;•    Teori Transaksional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, hubungan antar manusia (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;interpersonal&lt;/span&gt;) itu berlangsung mengikuti kaidah transaksional, yaitu apakah masing-masing merasa memperoleh keuntungan dalam transaksinya atau malah merugi. Jika merasa memperoleh keuntungan maka hubungan itu pasti mulus, tetapi jika merasa rugi maka hubungan itu akan terganggu , putus, atau bahkan berubah menjadi permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;     Demikian juga suami, isteri, mantu, mertua, mereka berfikir; kontribusi mereka  sebanding dengan keuntungan yang diperoleh atau malah rugi. Oleh karena itu seyogyanya, suami, isteri, mantu dan mertua selalu bertanya; apa yang dapat saya berikan, jangan bertanya apa yang dapat saya peroleh. Isteri pasti penuh perhatian kepada suami jika ia merasa banyak menerima dari suami, mertua juga pasti sayang mantu jika merasa banyak menerima dari menantu. Suami pun akan semakin sayang kepada isteri jika ia merasa banyak menerima dari isteri, sang mantu juga akan sangat hormat kepada mertua jika ia merasa banyak dibantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;•    Teori Peran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, sebenarnya dalam pergaulan sosial itu sudah ada skenario yang  disusun oleh masyarakat, yang mengatur apa dan bagaimana semestinya peran setiap orang dalam pergaulannya . Dalam skenario itu sudah ‘tertulis” seorang Presiden harus bagaimana, seorang gubernur harus bagaimana, seorang guru harus bagaimana, murid harus bagaimana. Demikian juga sudah tertulis peran apa yang harus dilakukan oleh suami, isteri, ayah, ibu, anak, mantu , mertua dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, jika seseorang mematuhi skenario, maka hidupnya akan harmoni, tetapi jika menyalahi skenario, maka ia akan dicemooh oleh penonton dan ditegur sutradara. Wanita sudah bersuami tetapi genit di depan umum, pasti digunjing orang banyak, karena menurut skenario, seorang isteri hanya boleh genit kepada suaminya. Seorang suami tidak bekerja, isterinya bekerja membanting tulang, tetapi suami tenang-tenang saja hidup numpang isteri. Nah lelaki seperti ini pasti tidak dihormati orang karena menurut skenario, suami adalah tulang punggung keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;•    Teori Permainan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, klasifikasi manusia itu hanya terbagi tiga, yaitu anak-anak, orang dewasa dan orang tua. Anak-anak itu manja, tidak mengerti tanggung jawab, dan jika permintaanya tidak segera dipenuhi ia akan nangis terguling-guling atau ngambek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang dewasa, ia lugas dan sadar akan tanggung jawab, sadar akibat dan sadar resiko. Adapun orang tua, ia selalu memaklumi kesalahan orang lain dan menyayangi mereka. Tidak ada orang yang merasa aneh melihat anak kecil menangis terguling-guling ketika  minta eskrim tidak dipenuhi, tetapi orang akan heran jika ada orang tua yang masih kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana rumah tangga juga ditentukan oleh bagaimana kesesuaian orang dewasa dan orang tua dengan sikap dan perilaku yang semestinya ditunjukkan. Sudah semestinya suami dan isteri bersikap dewasa, tetapi kepada anak-anaknya mereka harus bersikap sebagai orang tua. Mereka juga tidak kaget jika melihat sikap anak-anaknya yang kekanak-kanakan. Jika mereka tidak bisa bersikap sesuai dengan tingkatannya maka suasana pasti runyam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-1466586827841185843?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/1466586827841185843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=1466586827841185843' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/1466586827841185843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/1466586827841185843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya_20.html' title='Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (4)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5opUE0fJexI/TieZq11ysFI/AAAAAAAABo0/J6fCMANklT0/s72-c/keluarga%2Bbahagia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-6384146688322896038</id><published>2011-07-19T19:59:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T20:14:56.204-07:00</updated><title type='text'>Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terapi Al Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-mWjx9v5I4bk/TiZEiAFL49I/AAAAAAAABos/qrPUbuENDoE/s1600/alquran.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 156px; height: 169px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-mWjx9v5I4bk/TiZEiAFL49I/AAAAAAAABos/qrPUbuENDoE/s200/alquran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631263735001375698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Al Qur’an memberikan panduan umum kepada pasangan keluarga agar berpegang teguh kepada taqwa ketika sedang mencari pemecahan masalah.  Taqwa menjamin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;output&lt;/span&gt; berupa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;way out&lt;/span&gt; dan rizki, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;waman yattaqillaha jaj`al lahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib&lt;/span&gt; (Q/….) Taqwa artinya berpegang teguh kepada kebenaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ilahiyah&lt;/span&gt; dan konsisten menghindari larangan Allah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imtitsalu awamirihi wa ijtinabu nawahihi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis takwa adalah aksi moral yang integral, yakni perilaku yang lahir  dari komitmen nilai moralitas yang dianut orang beragama. Jadi, sesulit apapun problem, jika dalam pemecahanya berpijak pada komitmen taqwa maka jalan keluar maupun jalan masuknya baik, seperti semangat doa; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rabbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin wa ij`al li min ladunka sulthanan nashira&lt;/span&gt;.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Al Qur`an secara khusus juga memberi terapi dengan menggunakan pendekatan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ishlah&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mu`asyarah bi al ma`ruf, mau`idzah&lt;/span&gt; dan  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ihsan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    Bagaimanapun keadaannya, meski sedang kesal, hendaknya masing-masing bertindak secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ma`ruf&lt;/span&gt;, bergaul secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ma`ruf&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;wa`asyiruhunna bi al ma`ruf&lt;/span&gt;/Q/4:19  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imsakun bi ma`ruf&lt;/span&gt;/Q/2:229). Ma`ruf adalah sesuatu yang secara sosial dipandang baik dan patut. Ini artinya orang harus juga memperhatikan kebiasaan dan tata krama yang dianut masyarakat dimana seseorang berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    Semangat yang dicari haruslah ishlah. Jika yang dicari itu ishlah pasti Allah akan menolong; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;in yurida ishlahan yuwaffiqillahu bainahuma &lt;/span&gt;(Q/4:35). Ishlah mengandung muatan makna &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shulh&lt;/span&gt; (perdamaian) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shalih&lt;/span&gt; (baik , patut dan layak) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mashlahat&lt;/span&gt; (konstruktip). Baik suami maupun isteri harus mengedepankan niat berdamai, berpikir konstruktip dan tetap menunjukan perilaku yang patut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    Ada tahapan-tahapan dalam mencari pemecahan masalah. Artinya masing-masing suami dan isteri harus sabar, tidak keburu nafsu dan tidak putus asa. Dalam kasus suami membimbing isteri misalnya, menurut al Qur’an, pertama harus mengedepankan nasehat, mau`idzah. Jika belum efektip, meningkat ke kesungguhan sikap-seperti berpisah tempat tidur. Jika belum efektip, baru langkah yang lebih tegas (Q/4:34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    Seandainya harus mengambil keputusan yang pahit, perpisahan misalnya, itupun harus dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ihsan&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;imsakun bima`rufin au tasrihun bi ihsan&lt;/span&gt; (Q/2:229). Ihsan adalah kebaikan yang murni, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ihsan mahdlah&lt;/span&gt;, terlepas dari berbagai kepentingan, gengsi misalnya. Orang yang berbuat ihsan  disebut muhsin- muhsinin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-6384146688322896038?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/6384146688322896038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=6384146688322896038' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/6384146688322896038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/6384146688322896038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya_19.html' title='Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (3)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-mWjx9v5I4bk/TiZEiAFL49I/AAAAAAAABos/qrPUbuENDoE/s72-c/alquran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-8946399439290805524</id><published>2011-07-18T19:56:00.000-07:00</published><updated>2011-07-18T20:15:33.884-07:00</updated><title type='text'>Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pernik-Pernik Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-iwmxMmNSXvc/TiTyy5qCJEI/AAAAAAAABoU/dUNvjvCXLAo/s1600/ombak.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 153px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-iwmxMmNSXvc/TiTyy5qCJEI/AAAAAAAABoU/dUNvjvCXLAo/s200/ombak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630892390404465730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mengarungi kehidupan tak ubahnya mengarungi samudera, terkadang lautan tenang dan angin sumilir, tetapi terkadang tanpa diduga datang ombak besar.  Bagi orang yang faham sunnatullah laut, maka ia bisa berhitung kapan musim ombak dan kapan musim tenang. Tetapi kehidupan juga sering diungkapkan sebagai “tersandung di jalan rata”, terpeleset oleh “kerikil” kehidupan, dan sebagainya. Pembaca buku ini mungkin  sudah banyak makan asam dan garam kehidupan. Meski begitu tetap saja anda masih dihadang oleh banyak problem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernik adalah benda kecil tetapi menarik perhatian. Pernik-pernik hidup adalah sesuatu yang sebenarnya tidak prinsipil, tetapi karena menarik perhatian, maka ia bisa menyita perhatian suami dan isteri sehingga mendistorsi proporsionalitas masalah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sebagai individu adalah unik. Rumah tangga adalah mempersatukan dua keunikan, keunikan suami dan keunikan isteri. Jika keunikan suami dan keunikan isteri menjadi sinergi maka rumah tangga itu mampu mempersepsi stimulus secara proporsional. Tetapi jika dua keunikan itu bertolak belakang, maka segala yang pernik-pernik dipersepsi menjadi prinsipil, dan meresponya juga dengan sikap prinsipil berpijak pada keunikan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keadaan sudah demikian maka sakinah akan menjauh dari rumah tangga, dan sebagai gantinya adalah kesalahfahaman yang berkesinambungan. Rumah tangga tidak lagi menjadi “surga” (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;baiti jannati, my house is my castil&lt;/span&gt;), tetapi menjadi “neraka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pernik-Pernik Sandungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiap rumah tangga memiliki problem spesifik, tetapi problem yang sering berkembang menjadi batu sandungan hampir sama karakteristiknya; (a) persepsi terhadap rizki, (b) egoisme, (c) perkembangan psikologi pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Persepsi Terhadap Rizki Keluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Tuhan telah menjamin rizki hambaNya, bahkan jika seseorang ingin menikah tetapi ekonominya masih berat, kata al Qur’an nikah saja, Allah yang menjamin rizkinya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in yakunu fuqara yughnihimullah&lt;/span&gt; Q/an Nur:32). Banyak pasangan ketika baru nikah belum memiliki harta apa-apa, tetapi kemudian mereka hidup berkecukupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya ada yang ketika menikah sengaja mencari pasangan atau mertua  orang kaya, ternyata tak terlalu lama sudah jatuh menjadi orang miskin. Ada yang semula suami lancar sebagai pencari nafkah, tetapi kemudian jatuh sakit berkepanjangan sehingga tak lagi produktip, kemudian sumber rizki berpindah melalui isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan saluran rizki bisa menjadi problem ketika orang  memandang bahwa rizki itu hanya rizkinya, bukan rizki keluarga. Suami yang sukses kemudian menjadi GR(gede rumongso-bahasa Jawa, maksudnya merasa dirinya sangat penting) memandang rendah isterinya yang cuma &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyadong&lt;/span&gt;. Ketika saluran rizki pindah lewat isteri, sang isteri juga kemudian menjadi GR, memandang sebelah mata suami. Inilah yang sering menjadi kerikil tajam, meski rizki melimpah, padahal sebenarnya rizki itu adalah rizki bersama sekeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Sifat Egois dan Tinggi Harga diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sifat egois dan tinggi harga diri sering mendistorsi persepsi. Ada ungkapan dalam psikologi komunikasi yang berbunyi “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;world don’t mean, people mean&lt;/span&gt;”, bahwa kata-kata itu tidak punya arti apa-apa, oranglah yang memberi arti. Ada orang tanpa beban apa-apa membeli mobil baru karena memang membutuhkan, tetapi tetangganya ada yang memberi arti sombong, sok, mentang-mentang, tak menenggang perasaan dan sebagainya. Dalam rumah tangga , sifat egois dan tinggi harga diri sering mengubah keadaan yang normal menjadi tidak normal, apa yang sebenarnya biasa-biasa saja, proporsional, dipersepsi sebagai tidak menghargai, menyakiti dan sebagainya, sehingga apa yang semestinya seiring sejalan berubah menjadi ada yang ngerjain dan ada yang merasa menjadi korban. Ada isteri atau suami yang merasa selalu disakiti, padahal tidak ada yang menyakitinya, merasa tidak dihargai, padahal harga seseorang itu sudah nempel pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c. Perkembangan Psikologi Pasangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jiwa manusia itu tak bisa menghindar dari hukum SR, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stimulus &amp;amp; Respond&lt;/span&gt;. Setiap hari ia melihat, mendengar dan merasakan sesuatu, kemudian mempersepsinya dan meresponnya. Proses SR yang dinamis , bisa mendewasakan seseorang, bisa juga membuatnya menjadi terganggu kejiwaannya. Hubungan interpersonal suami dan isteri berlangsung sangat intens, lama dan peka. Hubungan itu kemudian bisa menumbuhkan kejiwaan mereka secara seimbang, menjadi sinergi, bisa juga jomplang. Hubungan interpersonal suami isteri itu mengandung muatan; partner seksual, partner sosial, dan persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada laki-laki muatan partner seksualnya itu pada umumnya stabil, partner sosialnya pasang surut dan partner persahabatanya berjalan lambat. Sedangkan bagi wanita, muatan partner seksualnya mulai menurun setelah monopouse, yang meningkat justeru partner sosial dan persahabatan. Pada pasangan paruh umur (yang normal) gairah seksual suami tetap stabil, sementara isteri lebih merasa  bersahabat dengan suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dokter ahli seksologi, pada wanita, gairah seks (libido) meningkat sejak haid sampai mencapai puncaknya di usia 35 (tigapuluh lima) tahun dan terus menetap sampai usia 45 (empat puluh lima) tahun dan dapat bertahan terus sampai setelah menopause, terutama pada wanita yang rajin memelihara kesehatan secara tradisionil, minum jamu misalnya . Pada pria, puncak gairah seks dicapai pada umur 20-30 tahun dan bertahan sampai umur 50 tahun, kemudian berkurang dan menetap sampai umur lanjut. Pusat libido letaknya di dalam otak, oleh karena itu keadaan jiwa yang positip dapat menahan libido, sebaliknya keadaan jiwa yang tidak tenang dapat merusak libido.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus tertentu, jika suami merasa tidak lagi stabil gairahnya apa lagi jika merasa gagal menunjukkan kejantanannya (impoten atau ejakulasi dini), muatan persahabatan bisa berubah menjadi permusuhan (untuk menutupi kelemahannya). Setiap hari suami uring-uringan dan memandang keliru apa saja yang dilakukan isterinya sehingga  isteri yang ingin tetap bersahabat menjadi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia paruh baya, ada suami yang padanya  muncul apa yang disebut sebagai puber kedua dan puber ketiga. Pada masa puber kedua (usia sekitar 40 tahun) ada kecenderungan lelaki senang berdekatan dengan gadis belasan tahun, sedang pada puber ketiga (antara usia 50-60 th) lelaki tidak lagi tertarik dengan gadis belia, tetapi lebih suka berakrab-akrab dengan wanita paruh baya, yakni wanita yang sudah menunjukkan keberhasilannya sebagai wanita dewasa yang anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala ini sebenarnya normal dan akan reda dengan sendirinya jika direspond secara proporsional. Tetapi jika oleh isterinya disalahfahami atau dicaci maki, gejala “pubertas” ini justeru menuntut aktualisasi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-8946399439290805524?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/8946399439290805524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=8946399439290805524' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8946399439290805524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8946399439290805524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya_18.html' title='Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (2)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-iwmxMmNSXvc/TiTyy5qCJEI/AAAAAAAABoU/dUNvjvCXLAo/s72-c/ombak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-9203064047144032377</id><published>2011-07-18T00:04:00.000-07:00</published><updated>2011-07-18T00:13:39.767-07:00</updated><title type='text'>Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Akad nikah it&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-w9SfyGuIR5Q/TiPa-QNtFWI/AAAAAAAABoM/TMulzgMOK7w/s1600/cincin.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 152px; height: 138px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-w9SfyGuIR5Q/TiPa-QNtFWI/AAAAAAAABoM/TMulzgMOK7w/s200/cincin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630584722182444386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;u bersifat suci dan mengandung dimensi vertikal disamping horizontal, oleh karena itu meski akad nikah juga merupakan kotrak antara dua pihak, tetapi ia bersifat suci, ilahiyah, dan spiritual. Oleh karena itu tidak dibolehkan adanya nikah muaqqot yang dibatasi oleh waktu sesuai dengan perjanjian. Akad nikah harus berdimensi selama hayat dikandung badan , meski di tengah jalan, agama membolehkan adanya perceraian jika keadaan tidak lagi kondusip untuk meneruskan akad itu. Dari beratnya bobot akad nikah itu maka sebagian ulama menyebutnya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mitsaqon gholidzo&lt;/span&gt;, sebagai perjanjian yang dimensinya sangat berbobot.  Dari sisi itu maka jika nikah dipandang sebagai ibadah dan mengikuti sunah Rasul maka orang yang menikah dengan niat negatip dihukumi sebagai perbuatan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Problem Mengemudi Bahtera Rumah Tangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Hidup berumah tangga bagaikan mengemudi bahtera di tengah samudera luas. Lautan kehidupan seperti tak bertepi, dan medan hamparan kehidupan sering tiba-tiba berubah.  Memasuki lembaran baru hidup berkeluarga biasanya dipandang sebagai pintu kebahagiaan. Segala macam harapan kebahagiaan ditumpahkan pada lembaga keluarga. Akan tetapi setelah periode “impian indah” terlampaui orang harus menghadapi realita kehidupan. Sunnah kehidupan ternyata adalah “problem”. Kehidupan manusia, tak terkecuali dalam lingkup keluarga adalah problem, problem sepanjang masa. Tidak ada seorangpun yang hidupnya terbebas dari problem, tetapi ukuran keberhasilan hidup justeru terletak pada kemampuan seseorang mengatasi problem. Sebaik-baik mukmin adalah orang yang selalu diuji tetapi lulus terus, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khiyar al mu’min mufattanun tawwabun&lt;/span&gt;.(hadis). Problem itu sendiri juga merupakan ujian dari Tuhan, siapa diantara ,mereka yang berfikir positip, sehingga dari problem itu justeru lahir nilai kebaikan, liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala (Q/67:2) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;liyabluwakum fi ma a ta kum&lt;/span&gt; (Q/6:165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awal Akhir Problem Hidup Berumah Tangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Menurut hadis Nabi, menemukan pasangan yang cocok (saleh/salihah) dalam hidup berumah tangga berarti sudah meraih  separoh urusan agama, separoh yang lain tersebar di berbagai bidang kehidupan. Hadits ini mengambarkan bahwa “rumah tangga” itu serius dan strategis. Kekeliruan orientasi, keliru jalan masuk, keliru persepsi, keliru problem solving dalam hidup rumah tangga akan membawa implikasi yang sangat luas. Oleh karena itu problem hidup berumah tanga adalah problem sepanjang zaman, dari sejak problem penyesuaian diri, problem aktualisasi diri, nanti meluas ke problem anak, problem mantu, cucu dan bahkan tak jarang suami isteri yang sudah berusia di atas 60 masih juga disibukkan oleh problem komunikasi suami isteri, hingga kakek dan nenek itu pisah ranjang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-9203064047144032377?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/9203064047144032377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=9203064047144032377' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/9203064047144032377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/9203064047144032377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/mitsaqon-gholidza-dan-hubungannya.html' title='Mitsaqon Gholidza dan Hubungannya dengan Membangun Ketahanan Keluarga (1)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-w9SfyGuIR5Q/TiPa-QNtFWI/AAAAAAAABoM/TMulzgMOK7w/s72-c/cincin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-7087633184410156175</id><published>2011-07-12T19:53:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T20:36:53.932-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana potret masa depan bangsa kita ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-knS-Y8_WENg/Th0P8vv-WRI/AAAAAAAABn8/qG6IlEB7Lrs/s1600/indah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 172px; height: 172px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-knS-Y8_WENg/Th0P8vv-WRI/AAAAAAAABn8/qG6IlEB7Lrs/s200/indah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628672645567240466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Visi kita tentang Indonesia sudah barang tentu adalah bangsa besar yang maju. Tetapi kekayaan alam suatu bangsa tidak serta merta menjadikan bangsa itu maju, sebagaimana juga negara yang tidak memiliki sumber daya alam tidak serta merta terhalang untuk menjadi bangsa maju. Kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi oleh kecerdasan dan keuletan manusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang yang tidak memiliki kekayaan alam bisa menjadi negara maju menyaingi Amerika yang dulu meluluh lantakkannya dengan bom atom. Kita bangsa Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam ternyata tertinggal oleh  Jepang, karena manusianya belum memiliki karakter bangsa maju. Ada negara maju tetapi tidak bermartabat, sebaliknya ada negara yang tidak masuk kategori negara maju atau negara kaya tetapi bermartabat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri bangsa yang maju adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Memiliki kebanggaan terhadap bangsanya, tidak merendahkan bangsa sendiri, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;right or  wrong my country&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2.    memiliki etos kerja yang diwujudkan dalam sistem sehingga hanya orang yang&lt;br /&gt;        bekerja keraslah yang mempunyai peluang untuk mencapai kesejahteraan tinggi.&lt;br /&gt;3.    memiliki keseimbangan antara mengadopsi nilai-nilai universal dengan pemeliharaan&lt;br /&gt; niliai-nilai kearifan lokal sebagai jati diri kebangsaan.&lt;br /&gt;4.    memiliki  program pendidikan sebagai sistem peningkatan kualitas sumber daya&lt;br /&gt;manusia.&lt;br /&gt;5. membudayakan fanatisme nasional meski tetap berkomitmen kepada problem global.&lt;br /&gt;6. memiliki sistem kepemimpinan nasional yang kuat sehingga menjamin berjalannya&lt;br /&gt;konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan enam ciri tersebut diatas, suatu bangsa bisa membangun kemandirian. Kemandirian suatu bangsa dapat dilihat pada indikator-indikator :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    mampu mengelola sendiri sumber daya alam yang dimiliki. Jika sumber daya alam dikelola oleh Negara asing maka mereka yang lebih memperoleh manfaat,sementara pemiliknya hanya menampung limbah.&lt;br /&gt;2.    mampu menyediakan sendiri kebutuhan dasar (terutama pangan) bagi rakyatnya. Ketahanan pangan akan dapat menghindarkan bangsa dari dampak krisis global, sebaliknya ketergantungan pangan kepada Negara asing akan melemahkan ketahanan masyarakat dari godaan anarkisme.&lt;br /&gt;3.    tidak memiliki ketergantungan absolut kepada Negara lain. Ketergantungan absolut kepada Negara lain akan  membuat bangsa itu mudah didikte oleh Negara lain. Sedangkan saling ketergantungan antar Negara tidak bisa dihindar, sepanjang tidak absolut.&lt;br /&gt;4.    tidak terjerat hutang LN melebihi batas kemampuan.&lt;br /&gt;5.    Tidak bisa didikte oleh Negara lain.&lt;br /&gt;6.    menguasai  ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), terutama yang diperlukan dalam pengelolaan sumberdaya alam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suatu bangsa mampu mandiri, maka ia berpeluang untuk menjadi bangsa yang terhormat, dan  bermartabat. Martabat suatu bangsa dicapai manakala bangsa itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Rakyatnya memiliki taraf  hidup yang layak dari segi sandang, pangan, papan dan kesehatan.&lt;br /&gt;2.    Rakyatnya hidup dalam keadaan aman dan damai, terlindung dari tindak kekerasan dan kejahatan&lt;br /&gt;3.    Hak azazi manusia dijamin, bebas mengeluarkan pendapat dan bebas memilih sepanjang untuk kepentingan bangsa.&lt;br /&gt;4.    Memiliki program pembangunan yang berkesinambungan, tidak terganggu oleh pergantian kepemimpinajn nasional. Jika setiap ganti Presiden berganti pula orientasi pembangunan nasionalnya maka stabilitas bangsa itu mudah diganggu oleh intervesi asing.&lt;br /&gt;5.    Pemerintahnya bersih dari praktek-praktek kotor sebangsa KKN sehingga dinamika politik dan ekonominya terukur.&lt;br /&gt;6.    Peduli kepada pendidikan generasi dimana sistem pendidikan yang dijalankan menjamin kualitas generasi sebagai sumber daya yang dibutuhkan, apalagi jika Universitas-universitasnya menjadi rujukan  mahasiswa asing  .&lt;br /&gt;7.    Lingkungan hidupnya sehat dan tertib, limbah terkelola dan ketertiban terjaga.&lt;br /&gt;8.    Memiliki prestasi international dalam bidang-bidang tertentu,misalnya olah raga, seni, lomba ilmiah.&lt;br /&gt;9.    mampu melindungi wilayah negaranya dari intervensi asing, musuh, penyelundupan, pencurian dan spionase.&lt;br /&gt;10.    Mampu menunjukkan jati diri kebangsaannya di dunia internasional; terutama kebudayaan dan karakter kebangsaan. Bangsa yang tidak lagi memiliki kebudayaan yang dibanggakan, apa lagi jika sudah lebur dengan budaya asing, atau selalu merendahkan jati diri kebangsaan sendiri maka ia akan kehilangan martabat kebangsaannya..&lt;br /&gt;11.    berpegang teguh kepada etiket dan moral, baik dalam interaksi internalnya dengan sesama warga bangsa maupun dalam berhubungan dengan bangsa-bangsa lain.  Dengan etiket dan moral yang kuat maka bangsa itu disegani oleh bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari visi itu maka kita harus memiliki misi. Ada misi yang menjadi domain pemimpin dan Pemerintah, ada yang menjadi domain lembaga pendidikan dan insan pendidikan dan juga dunia usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    Depdiknas dengan anggaran pendidikan yang sudah lumayan (20%) harus membuat strategi pendidikan nasional sehinggga pendidikan menjadi relefan dengan cita-cita masa depan bangsa di tengah era global.&lt;br /&gt;•    Lembaga pendidikan (sekolah dan Perguruan Tinggi) harus mampu membuat kreatifitas pendidikan berbasis budaya dan kearifan lokal masing-masing&lt;br /&gt;•    Individu insan pendidikan (guru) harus memiliki konsep diri sebagai guru pendidik, bukan sekedar guru pengajar.&lt;br /&gt;•    Dunia usaha harus membuka link dengan dunia pendidikan dalam bidang penelitian dan ketenaga- kerjaan.&lt;br /&gt;•    Tiga karakteristik Budaya pesantren; yaitu kesederhanaan, toleransi dan keakraban dengan tradisi , bisa  dijadikan ruh kultur pendidikan.&lt;br /&gt;•    Untuk menambah ufuk, budaya pertukaran murid, guru dan dosen, perlu digalakan, baik antar lembaga di dalam negeri maupun di dunia internasional.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-7087633184410156175?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/7087633184410156175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=7087633184410156175' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7087633184410156175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7087633184410156175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/bagaimana-potret-masa-depan-bangsa-kita.html' title='Bagaimana potret masa depan bangsa kita ?'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-knS-Y8_WENg/Th0P8vv-WRI/AAAAAAAABn8/qG6IlEB7Lrs/s72-c/indah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-8575191245128624489</id><published>2011-07-11T19:35:00.000-07:00</published><updated>2011-07-11T20:39:15.792-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan di Indonesia: Potret Masa Depan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ty2F_qAMdaM/Thu66TPrYcI/AAAAAAAABn0/9ocEOqvCRPg/s1600/pendidikan%2Bindo.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 151px; height: 139px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ty2F_qAMdaM/Thu66TPrYcI/AAAAAAAABn0/9ocEOqvCRPg/s200/pendidikan%2Bindo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628297670090777026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membangun Karakter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama kita baca dalam GBHN yang lalu bahwa hakikat pembangunan Indonesia adalah pembangunan manusia Indonesia, pembangunan manusia seutuhnya. Jika mengamati perilaku ”menyimpang” masyarakat kita yang nampak di parlemen, di jalanan dan bahkan di pengadilan KPK, timbul pertanyaan, apakah itu cermin karakter manusia Indonesia, atau sekedar perilaku temperamental pada saat-saat tertentu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini perlu diketahui bahwa memang ada perilaku yang bersumber dari karakter seseorang, disamping  ada juga perilaku yang bersumber dari temperamennya. Apa bedanya? Temperamen  merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai rangsangan yang berasal dari lingkungan dan dari dalam diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temperamen berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang, oleh karena itu sulit untuk diubah dan bersifat netral terhadap penilaian baik buruk.  Sedangkan karakter berkaitan erat dengan penilaian baik buruknya tingkah laku seseorang didasari oleh bermacam-macam tolak ukur yang dianut masyarakat. Karakter terbentuk melalui perjalanan hidup seseorang, oleh karena itu ia dapat berubah. Jika temperamen tidak mengandung implikasi etis, maka karakter justeru selalu menjadi obyek penilaian etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang orang memiliki temperamen yang berbeda dengan karakternya. Ada orang yang temperamennya buruk, padahal karakternya baik. Jika temperamennya sedang bekerja maka pada umumnya bertingkah laku negatip, tetapi setelah reda nanti ia menyesali dan malu atas apa yang dilakukannya, meskipun nanti juga akan terulang kembali. Sedangkan orang yang karakternya buruk tetapi temperamennya baik, ia dapat menyembunyikan keburukannya dihadapan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penipu biasanya memiliki temperamen yang baik tetapi karakternya buruk. Yang paling merepotkan adalah orang jahat yang temperamennya buruk. Karakter yang sudah menetap akan membentuk sebuah kepribadian. Menurut Freud, kepribadian manusia berdiri diatas tiga pilar, Id, Ego dan Super Ego, unsur hewani, akali dan moral. Perilaku menurut Freud merupakan interaksi dari ketiga pilar tersebut. Tetapi kesimpulan Freud manusia adalah Homo Volens, yakni makhluk berkeinginan yang tingkah lakunya dikendalikan oleh keinginan-keinginan yang terpendam di dalam alam bawah sadarnya, satu kesimpulan yang merendahkan martabat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam pandangan Islam, kepribadian merupakan interaksi dari kualitas-kualitas nafs, qalb, akal dan bashirah, interaksi antara jiwa, hati, akal dan hati nurani. Kepribadian, disamping bermodal kapasitas fitrah bawaan sejak lahir dari warisan genetika orang tuanya, ia  terbentuk melalui proses panjang riwayat hidupnya, proses internalisasi nilai pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya termasuk pengalaman pendidikan. Dalam perspektip ini maka keyakinan agama yang ia terima dari pengetahuan maupun dari pengalaman masuk dalam struktur kepribadian seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu kualitas kepribadian muslim setiap orang berbeda-beda. Kualitas kepribadian muslim juga tidak mesti konstan, terkadang kuat, utuh dan prima, tetapi di kala yang lain bisa saja terdistorsi oleh pengaruh di luar keyakinan agamanya.&lt;br /&gt;Jadi karakter bukan hanya terbentuk melalui pendidikan sekolah, tetapi yang juga sangat berpengaruh adalah pendidikan dalam keluarga sejak dalam kandungan atau yang sering disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pra natalia education&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nation and Character Building&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   Bung Karno dulu seringkali mengumandangkan kalimat ini, yaitu bagaimana membangun karakter bangsa. Manusia memang bukan hanya makhlukyang unik,tetapi ia juga makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia menjadi apa dan siapa bergantung ia bergaul dengan siapa. Artinya hubungan interpersonal masyarakat akan dapat melahirkan karakter masyarakat. Seberapa besar ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sebuah penelitian psikologi, 83% perilaku manusia  dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar dan 6% sisanya oleh berbagai stimulus. Maknanya, pada era global dimana informasi dunia bisa diakses secara serentak oleh masyarakat di seluruh balahan bumi, perilaku masyarakat Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh fenomena dunia, menyangkut politik, budaya, mode, selera dan norma-norma sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih berat khususnya bagi Indonesia adalah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia masih terpecah menjadi lima lapisan; (1) lapisan masyarakat ultra modern yang tinggal di kota-kota besar, (2) lapisan masyarakat modern di kota-kota, (3) lapisan masyarakat urban yang jumlahnya terbesar, (4) masyarakat tradisionil di desa-desa dan (5) masih ada lapisan masyarakat terbelakang yang hidup di zaman batu . Kelima lapis ini dalam era global menerima stimulus yang hampir sama melalui televisi. Realita inilah yang harus menjadi perhatian serius bagaimana bisa membangun karakter manusia Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Strategi Pendidikan Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada dua bangsa yang kini sedang bangkit menjadi negara besar ,yaitu Cina dan India. Kebangkitan itu ternyata merupakan buah dari strategi pendidikan nasionalnya. Dalam kesempatan dengan dialog dengan menteri Pendidikan dari dua negara tersebut terungkap terungkap hal sebagai berikut.&lt;br /&gt;•   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt; India&lt;/span&gt;, menfokuskan anggaran pendidikan nasionalnya hanya untuk 10% penduduknya,yaitu dari ”kasta” tertinggi. Selebihnya dibiarkan apa adanya seperti yang kita lihat di film2 India.  Dengan demikian maka anggaran pendidikan menjadi sangat besar, dan dengan anggaran yang besar itu India bisa menyelenggarakan pendidikan yang sangat bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buahnya sungguh luar biasa. 10% dari hampir 1 Milyard Penduduk India adalah 100 juta, dan mereka kini menguasai pasar tenaga kerja di dunia maju. Bandingkan dengan pendidikan nasional kita, sudah anggarannya kecil, pakai pemerataan lagi. Hasilnya, yang merata adalah kebodohannya. Lulusan sekolah kita takut bersaing dengan lulusan sekolah luar negeri, tenaga kerja kita yang kita kirim ke luar negeri malah hanya TKW yang tak terdidik sama sekali. Kini kita sudah mempunyai anggaran pendidikan 20%, tetapi kreatifitas pendidikan kita belum memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cina&lt;/span&gt;, selalu mengirimkan mahasiswa ke luar negeri dalam jumlah besar, tetapi yang kembali ke negerinya hanya 10%. Selebihnya tidak mau pulang, memilih menjadi perantau di negeri orang. Ketika Menteri pendidikannya ditanya,apa negara tidak rugi, mengirimkan mahasiswa ke luar negeri dalamumlah besar tetapimerekatidak mau kembali?. Menterinya menjawab, tidak, karena cina-cina diperantauan justeru menjadi tangan negara.Mereka membangun &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;China town&lt;/span&gt; di mana-mana, dan buahnya adalah untuk kepentingan negeri leluhurnya. Bandingkan negri kita, jika ada mahasiswa diberi beasiswa keluar negeri kemudian bekerja diluar negeri, tidak mau pulang, maka mereka bisa dicap sebagai penghianat bangsa, tidak tahu terimakasih kepada negara sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cina lebih cermat dalam melakukan perubahan abad XXI ini dibanding Indonesia, sehingga dalam kurun waktu 20 tahun Cina sudah bisa mengubah diri dari negeri miskin menjadi negeri terkaya di dunia. Cina bahkan berani mengambil sistem ekonomi kapitalis meski politiknya tetap komunis. Sementara Indonesia sudah 13 tahun reformasi masih belum jelas potret 10 tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelajaran dari Turki dan Iran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  Ada dua bangsa yang sekarang mampu menunjukkan kemandiriannya yang dapat kita ambil pelajaran, yaitu Turki dan Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Turki&lt;/span&gt;. Dulu Turki pada masa Ottoman atau Turki Usmani adalah imperium yang wilayah kekuasaannya sangat luas mencakup Asia Afrika dan Eropa. Pada masa itu bahkan Perancis nyaris ditaklukkan. Dampak dari Perang Dunia, Imperium Turki runtuh dan  diambil alih oleh Mustafa Kamal Attaturk menjadi Republik Turki dengan membuang semua warisan budaya Turki Usmani  mengubah jati dirinya menjadi negeri sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun Turki mengemis-ngemis untuk diakui menjadi orang Eropa tetapi hingga sekarang ditolak menjadi anggauta Uni Eropa.Keterpurukan Turki bahkan melahirkan sebutan yang sangat tidak enak, yaitu bahwa Turki adalah sick Eourope, orang Eropa yang sakit.&lt;br /&gt;   Baru sekitar 12-13 tahun Turki melakukan perubahan mendasar yakni menghidupkan kembali jati diri Turki  melawan orde sekuler yang dimotori tentara. Pers dan dunia usaha mendukung sepenuhnya ”orde baru” Turki. Turki tak peduli diakui atau tidak diakui sebagai orang Eropa, tapi Turki justru aktif mendekati negara-negara kecil seperti Yordan, Suriah, Libanon dan Palestina. Hasilnya luar biasa, kini Turki bangkit, ekonomi dan diplomasi internationalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iran&lt;/span&gt;. Sedangkan Iran, setelah sekian lama dikucilkan oleh dunia Barat (tadinya boneka Amerika pada zaman Reza Pahlevi) kini Iran mampu mandiri dalam bidang senjata bahkan nuklir. Boikot Barat mengilhami bangsa itu untuk berdiri diatas kaki sendiri. Dengan kultur Syi`ah dan politik wilayatul faqih, Iran berdiri kokoh ditengah kekuatan Barat yang selalu menakut-nakuti.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-8575191245128624489?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/8575191245128624489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=8575191245128624489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8575191245128624489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8575191245128624489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/pendidikan-di-indonesia-potret-masa.html' title='Pendidikan di Indonesia: Potret Masa Depan'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ty2F_qAMdaM/Thu66TPrYcI/AAAAAAAABn0/9ocEOqvCRPg/s72-c/pendidikan%2Bindo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-7163436639052942164</id><published>2011-07-11T01:27:00.000-07:00</published><updated>2011-07-11T01:42:45.185-07:00</updated><title type='text'>Problem Pendidikan di Indonesia: Potret Ke depan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kuliah Umum di depan Mahasiswa Pascasarjana STAIN, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gresik, 9 Juli 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ttOeCgrHc1E/Thq0BEIfQtI/AAAAAAAABns/NFq6ZYrz_j8/s1600/pendidikan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 167px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ttOeCgrHc1E/Thq0BEIfQtI/AAAAAAAABns/NFq6ZYrz_j8/s200/pendidikan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628008614735069906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martabat suatu bangsa  diukur dari akhlak (budaya) nya. Kebudayaan suatu bangsa terbangun melalui proses pendidikan generasi. Kualitas pendidikan ditentukan oleh konsep , sistem dan SDM pendidikan, sedangkan keberhasilan program pendidikan nasional ditentukan oleh political-will Pemerintah/negara.  Bangsa besar tanpa kebudayaan tinggi tidak pernah bisa menjadi subyek, sebaliknya dijadikan obyek oleh bangsa lain yang lebih tinggi kebudayaannya meski negara kecil. Tanpa pendidikan yang memadai, kebudayaan suatu bangsa tidak akan beranjak maju.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kualitas Manusia Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh dua hal:&lt;br /&gt;1.    &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, oleh faktor hereditas, faktor keturunan. Manusia Indonesia dewasa ini adalah keturunan langsung manusia Indonesia generasi 45 dan cucu dari generasi 1928, cicit dari generasi 1912. Menurut bapak sosiologi Ibn Khaldun, jatuh bangunnya suatu bangsa ditandai oleh lahirnya tiga generasi. Pertama generasi Pendobrak, kedua generasi Pembangun dan ketiga generasi penikmat. Jika pada bangsa itu sudah banyak kelompok generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik menikmati hasil pembangunan tanpa berfikir harus membangun, maka itu satu tanda bahwa bangsa itu akan mengalami kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses datang perginya tiga generasi itu menurut Ibnu Khaldun berlangsung dalam kurun satu abad. Yang menyedihkan pada bangsa kita dewasa ini ialah bahwa baru setengah abad lebih, ketika generasi pendobrak masih ada satu dua yang hidup, ketika generasi pembangun masih belum selesai bongkar pasang dalam membangun, sudah muncul sangat banyak generasi penikmat, dan mereka bukan hanya kelompok yang kurang terpelajar, tetapi justeru kebanyakan dari kelompok yang terpelajar. Salah didikkah mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikanlah yang bisa membangun jiwa bangsa Indonesia. Hasil pendidikan hari ini baru akan nampak pada 20-30 tahun yang akan datang. Kondisi bangsa  hari ini adalah buah dari pendidikan nasional kita 30-50 tahun yang lalu. Lalu Seperti apa wajah  generasi Indonesia mendatang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Problem Pendidikan di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Menengok kebijakan pendidikan 30-50 tahun yang lalu ,sekurang-kurangnya ada sembilan point kekeliruan pendidikan nasional kita dimasa lalu yang buahnya kita rasakan sekarang, meliputi:&lt;br /&gt; [a]    Pengelolaan pendidikan di masa lampau terlalu berlebihan penekanannya pada aspek kognitip, mengabaikan dimensi-dimensi lainnya sehingga buahnya melahirkan generasi yang mengidap&lt;span style="font-style: italic;"&gt; split personality&lt;/span&gt;, kepribadian yang pecah.&lt;br /&gt; [b]    Pendidikan terlalu sentralistik sehingga melahirkan generasi yang hanya bisa memandang Jakarta (ibu kota) sebagai satu-satunya tumpuan harapan tanpa mampu melihat peluang dan potensi besar yang tersedia di daerah masing-masing.&lt;br /&gt; [c]    Pendidikan gagal meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan masyarakat yang berdisiplin.&lt;br /&gt; [d]    Gagal melahirkan lulusan (SDM) yang siap berkompetisi di dunia global&lt;br /&gt; [e]    Pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan demokratisasi dan hak-hak azasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, pada masa orde Baru, Guru negeri di sekolah lingkungan Dikbud mencapai 1 guru untuk 14 siswa, tetapi di madrasah (Depag) hanya 1 guru negeri untuk 2000 siswa. Anggaran pendidikan dari Pemerintah misalnya di SMU negeri mencapai Rp. 400.000,-/siswa/tahun, sementara untuk Madrasah Aliyah hanya Rp. 4.000,-/anak/tahun.&lt;br /&gt; [f]    Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan SDM dikalahkan oleh uniformitas yang sangat sentralistik. Kreatifitas masyarakat dalam pengem-bangan pendidikan menjadi tidak tumbuh.&lt;br /&gt; [g]    Sentralisasi pendidikan nasional mengakibatkan tumpulnya gagasan-gagasan otonomi daerah.&lt;br /&gt; [h]    Pendidikan nasional kurang menghargai kemajemukan budaya, bertentangan dengan semangat bhinneka Tunggal Ika.&lt;br /&gt; [i]    Muatan indoktrinasi nasionalisme dan patriotisme yang dipaksakan yakni melalui P4 dan PMP, terlalu kering sehingga kontraproduktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan kesalahan dalam pengelolaan pendidikan nasional pada era orde baru  sekarang telah melahirkan buahnya yang pahit, yakni:&lt;br /&gt;1.    Generasi muda yang langitnya rendah, tidak memiliki kemampuan imajinasi idealistik.&lt;br /&gt;2.    Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar global.&lt;br /&gt;3.    Birokrasi yang lamban, korup dan  tidak kreatif.&lt;br /&gt;4.    Pelaku ekonomi yang tidak siap bermain&lt;span style="font-style: italic;"&gt; fair&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;5.    Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkis&lt;br /&gt;6.    Sumberdaya alam (terutama hutan) yang rusak parah&lt;br /&gt;7.    Cendekiawan dan politisi yang hipokrit,&lt;br /&gt;8.    Hutang Luar Negeri yang terus membebani&lt;br /&gt;9.    Merajalelanya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah moralnya.&lt;br /&gt;10.    Pemimpin-pemimpin daerah yang kebingungan. Bupati daerah minus tetap mengharap kucuran dari pusat, bupati daerah plus menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Indonesia memasuki dunia global dimana arus informasi dan keterbukaan tak bisa dihindar,  masyarakat Indonesia mengalami keterkejutan budaya, bagaikan sekumpulan orang yang selama 32 tahun dikurung dalam penjara yang gelap gulita, tiba-tiba penjaranya dirobohkan, dan mereka keluar melihat dunia baru yang terang benderang, terlihat aneh tapi mengasyikkan. Mereka berpesta pora melakukan apa saja yang sebelumnya mustahil dilakukan, dan entah kapan mereka dapat berfikir tenang merencanakan masa depan yang realistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gambaran masyarakat Indonesia, sepeninggal jatuhnya Presiden Suharto, mencari jati dirinya kembali tapi dalam prosesnya masih kebingungan karena permasalahan yang komplikatip, antara kerinduan kepada demokratisasi, kebebasan, kemakmuran dan kehormatan  yang ternyata tidak sinkron. Problem &lt;span style="font-style: italic;"&gt;solving&lt;/span&gt; yang dilakukan oleh Pemerintah, DPR dan MPR  hampir semuanya berjangka pendek, kurang bersistem dan terasa sekali nuansa improvisasi karena hampir semua warga bangsa ini secara psikologis masih dalam posisi menikmati eforia kebebasan dari penjara gelap selama 32 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sepuluh tahun lebih reformasi, pesta eforia masih juga belum usai, dan perilaku ”anarkis” yang sesungguhnya memuakkan itu selalu muncul setiap kali menjelang pesta demokrasi; pileg atau pilpres. Anggaran pendidikan yang ditetapkan sejak  APBN 2009 sesungguhnya sudah lumayan mencapai 20% tapi belum diikuti dengan kreatifitas yang memadai dalam bidang pendidikan. Jika kita menyaksikan perilaku ”kita” di TV terasa sekali kita seperti bangsa yang tidak berkarakter.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-7163436639052942164?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/7163436639052942164/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=7163436639052942164' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7163436639052942164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7163436639052942164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/07/problem-pendidikan-di-indonesia-potret.html' title='Problem Pendidikan di Indonesia: Potret Ke depan'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ttOeCgrHc1E/Thq0BEIfQtI/AAAAAAAABns/NFq6ZYrz_j8/s72-c/pendidikan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-4621652988907921556</id><published>2011-06-23T20:24:00.000-07:00</published><updated>2011-06-23T20:36:16.529-07:00</updated><title type='text'>Proklamasi Kemerdekaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-zCoP3QCtYA0/TgQDbDxteYI/AAAAAAAABnk/h8zdUuSBwQY/s1600/proklamasi%2BII.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 156px; height: 175px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-zCoP3QCtYA0/TgQDbDxteYI/AAAAAAAABnk/h8zdUuSBwQY/s200/proklamasi%2BII.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5621621998270380418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Penjajahan Jepang, meski singkat dan sangat keras, tetapi berhasil mangakumulasi kesadaran nasional untuk merdeka. Islam merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia, tetapi para pendiri negara Republik Indonesia pada tahun 1945 tidak merujuk sejarah Islam atau contoh di Dunia Islam dalam membangun negara bangsa. Tokoh Nasionalis Muslim sekaliber HOS Cokroaminoto dan Agus Salim rupanya memiliki kemampuan untuk memahami komunitas Indonesia yang terbuka dan egaliter partisipatif. Pendidikan modern telah membantu mereka memahami konsep-konsep nasionalisme modern yang berlawanan dengan konsep-konsep kekuasaan para raja feodal.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi religiusitas para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;faunding father&lt;/span&gt; negeri kita nampak jelas seperti yang dapat dibaca pada pembukaan UUD 45, bahwa kemerdekaan RI adalah atas berkat rahmat Allah, dan hubungan vertikal negara dengan agama dituangkan dalam fasal 29 UUD 45, negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pergumulan Nasionalisme Vs. Islamisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan dalam Panitia Penyelidik Kemerdekaan Indonesia (PPKI) berlangsung sangat seru dan dinamis tetapi sehat, karena dilakukan oleh tokoh-tokoh negarawan yang mengedepankan kepentingan bangsa melebihi kepentingan kelompok dan pribadi. Secara garis besar mereka terdiri dari kelompok nasionalis muslim dan tokoh Islam nasionalis. Kebesaran jiwa mereka nampak sekali, tercermin pada persetujuan AA. Maramis yang beragama Kristen terhadap rancangan Piagam Jakarta, dan kesediaan tokoh-tokoh Islam untuk mencoret tujuh kata-kata dalam Piagam Jakarta demi tercapainya kemerdekaan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dekrit 5 Juli 1959&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan pemikiran nasionalisme dengan Islamisme dalam perumusan konstitusi Indonesia sesungguhnya justeru mencerminkan jati diri  nasionalis religius dari bangsa Indonesia. Tokoh Islam yang membawa aspirasi Islamisme seperti Moh. Natsir adalah seratus persen tokoh nasionalis, sementara banyak pembawa aspirasi nasionalis seperti Bung Hatta adalah tokoh yang juga taat beribadah. Adu argumen dari para pemimpin bangsa ini sangat sehat, jauh dari trik-trik konyol. Kekentalan corak nasionalis religius juga tercermin dalam hasil Pemilu pertama 1955 sehingga tarik ulur nasionalis vs. Islamisme dalam Majelis Konstituante tak pernah melahirkan pemenang. Ujung dari pergumulan itu akhirnya diselesaikan melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dimana konstitusi dikembalikan kepada UUD 45 dan dinyatakan bahwa Piagam Jakarta menjiwai seluruh batang tubuh UUD 45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari Orde Lama hingga Reformasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno sesunguhnya adalah tokoh besar dalam sejarah. Ia berhasil menggelorakan semangat nasionalisme Indonesia. Tetapi sebagai manusia , beliau juga mempunyai kelemahan. Bung Karno tergoda untuk melanggar konstitusi (UUD 45) yang disusunnya. Pemilu ditiadakan, anggauta parlemen diangkat, masa jabatan lima tahunan diganti menjadi presiden seumur hidup, jabatan presiden dirasa kurang besar sehingga diperkenalkan jabatan Pemimpin Besar Revolusi. Sudah menjadi sunnatulloh dalam sejarah, penyimpangan akan berakhir dengan kejatuhan (1965), dan periode Bung Karno disebut orde lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Harto adalah sosok yang sangat tepat hadir pada tahun 1965. Orangnya muda, kuat, suka senyum tetapi kemauannya tak bisa dibantah. Pak Harto berhasil mengubah orientasi politik nasional ke jalur ekonomi. Rasanya pada pertengahan masa Suharto, bangsa hidup tenang dan berpengharapan masa depan. Tetapi, lagi-lagi Pak Harto juga tergoda untuk melanggengkan kekuasaan. Jika Bung Karno 20 tahun, Pak Harto malah duduk di kursi kekuasaan selama 32 tahun. Ketergodaan itulah yang membuat demokrasi direkayasa, ekonomi seolah-olah maju , bangsa seakan-akan mau tinggal landas, nyatanya tertinggal di landasan. Di akhir penutup abad 20 pak Harto dengan orde Barunya dijatuhkan oleh gerakan reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin Rais CS disebut sebagai penarik gerbong reformasi, tetapi sekali lagi, reformasi 1998 tidak konsepsional, lebih bersifat emosional, didorong oleh kemarahan kepada Pak harto, Gol Kar, ABRI dan Orde Baru. Akibatnya reformasi gagal mengantar bangsa pada sistem kenegaraan yang mapan, sebaliknya justeru menjerumuskannya pada sistem yang tumpang tindih. Kini tidak mudah bagi bangsa untuk kembali ke tatanan yang mapan. Jika di Amerika, kebebasan itu relefan dengan kesejahteraan rakyat, di Indonesia kini, kebebasan justeru sering mengganggu kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teori Sosiologi Ibn Khaldun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibn Khaldun, jatuh bangunnya bangsa ditandai oleh lahirnya tiga generasi; generasi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pendobrak&lt;/span&gt;, generasi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pembangun&lt;/span&gt; dan generasi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penikmat&lt;/span&gt;. Jika generasi penikmat sudah menjadi mayoritas maka akan muncul generasi keempat, yaitu mereka yang tidak menghargai masa lalu dan tidak mempedulikan masa depan. Mereka tidak bisa menghormati pahlawan yang telah gugur, dan juga tidak peduli nasib generasi anak cucu. Proses jatuh bangunnya bangsa itu berlangsung selama satu abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika teori ini kita gunakan untuk membedah sejarah negeri kita, ketika bangsa  ini baru berusia 60 tahun lebih, ada satu dua generasi pendobrak yang masih hidup (angkatan 45), generasi pembangun masih belum selesai bongkar pasang, sudah mulai mucul generasi penikmat, yaitu mereka yang sibuk menikmati tanpa berfikir membangun, sibuk menebang tanpa berfikir menanam. Dibutuhkan kesadaran nasional untuk jangan sampai muncul generasi ke empat. Kita masih punya waktu 35 tahun untuk membalik sejarah, meluruskan kembali kiblat hidup berbangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Negeri Pesantren&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekarang jarang sekali orang berfikir panjang, dan mendalam dalam kehidupan berbangsa. Agendanya selalu pendek lima tahunan, pilkada atau pilleg atau pilpres. Akibatnya wajah Indonesia sekarang nampak sebagai jejak improvisasi, bukan jejak konsep besar seperti yang dibayangkan oleh para pendiri negeri ini 60-75 tahun yang lalu. Dalam kegalauan ini terbayang kata-kata Syekh Nazim al Qubrusy yang mengatakan bahwa Indonesia didesain oleh para wali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu saya sangat tergoda untuk menggulirkan budaya Pesantren sebagai pondasi psikologis dan spiritual bangsa Indonesia. Ada tiga karakter Pesantren yang bisa menjadi pondasi budaya bangsa, yaitu kesederhanaan, sikap tasamuh atau toleransi dan akrab dengan tradisi. Tiga pilar ini cukup untuk menghadapi gempuran budaya global. Kesederhanaan bisa melawan budaya hedonis materialis, tasamuh bisa melawan radikalisme, dan tradisi bisa menjadi filter gempuran budaya asing melalui media global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa kita bisa belajar kepada pengalaman bangsa lain.Paling tidak ada lima Negara dapat diambil sebagai pelajaran pada era global ini, yaitu Cina, India, Turki, Iran dan Jepang. Kelima Negara ini dipandang mampu mensikapi perubahan dunia dengan modal pondasi budaya mereka sendiri. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Khudzil hikmah walau min ayyi biladin khorojat&lt;/span&gt;. Kata kyai di Pesantren. Ambillah pelajaran dari negeri manapun resep itu datang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lohu a`lamu bissawab&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-4621652988907921556?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/4621652988907921556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=4621652988907921556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4621652988907921556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4621652988907921556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/06/proklamasi-kemerdekaan.html' title='Proklamasi Kemerdekaan'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zCoP3QCtYA0/TgQDbDxteYI/AAAAAAAABnk/h8zdUuSBwQY/s72-c/proklamasi%2BII.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-2540098827399284020</id><published>2011-06-22T19:33:00.000-07:00</published><updated>2011-06-22T19:51:41.894-07:00</updated><title type='text'>Bhinneka Tunggal Ika</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-QJ25MdqgNPI/TgKnHh7yDZI/AAAAAAAABnU/4vJ-P6v2kNU/s1600/bhineka%2Btunggal%2Bika.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 146px; height: 173px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-QJ25MdqgNPI/TgKnHh7yDZI/AAAAAAAABnU/4vJ-P6v2kNU/s200/bhineka%2Btunggal%2Bika.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5621239032721837458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Indonesia adalah realita kebangsaan dengan ciri-ciri budaya yang dapat dikenali sebagai khas Indonesia, dengan bahasa nasional yang juga khas Indonesia. Keberadaan Indonesia sebagai satu bangsa tidak terjadi secara tiba-tiba tetapi  melalui proses sejarah yang bukan saja tidak mudah, tetapi penuh dengan dinamika konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita kebangsaan tidak selamanya berada di jalan lurus, terkadang menyimpang ke kiri dan ke kanan, Dalam usia kemerdekaan yang telah mencapai lebih dari setengah abad, bangsa Indonesia masih tergolong bangsa  baru, yang masih harus terus menyempurnakan proses penjadian dirinya menjadi bangsa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nation in making&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era reformasi  telah menyadarkan kepada kita bahwa problem yang dihadapi oleh bangsa dewasa ini sungguh sangat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B&lt;/span&gt;esar, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B&lt;/span&gt;erat dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;R&lt;/span&gt;umit, yang oleh karena itu kita harus mampu melihat hubungan logis antara “krisis” yang kita derita sekarang dengan dinamika kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan bangsa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari Nusantara Hingga Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kodrat sejarah bahwa penghuni kawasan ribuan pulau (Nusantara) di Asia Tenggara ini disatukan dalam satu kesatuan kebangsaan, bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Ribuan pulau, ratusan bahasa, ratusan suku, beragam-ragam tradisi, nilai budaya dan keyakinan agama, karena kodrat sejarah membuatnya tetap bersatu. Sejarah tidak bisa direkayasa. Penjajahan Barat yang berlangsung lebih dari tiga abad, meski direkayasa dengan politik pecah belah justeru mengantar pada kesatuan wilayah yang sekarang dinamakan wawasan Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjajahan dan politik pecah belah justeru telah menumbuhkan kesadaran bahwa perbedaan tidak menghalangi persatuan, bahwa persatuan akan mengubah perbedaan menjadi kekuatan. Kesadaran kebangsaan ini merupakan naluri bangsa Indonesia. Oleh karena itu pergumulan pemikiran dan konflik-konflik yang pernah terjadi haruslah difahami sebagai dinamika sejarah kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akar Klassik Nasionalis Religius&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Asia Tengara sudah lama menarik perhatian saudagar dari anak benua India dan Timur Tengah karena adanya komoditi yang eksotik, yaitu rempah-rempah dan wewangian. Dari kawasan Anak Benua, datang saudagar yang beragama Hindu dan Budha, dan pengaruh politik mereka tercermin pada berkembangnya budaya bercorak India dan peran utama bahasa Sanskerta. Jejak ke India-an kawasan ini secara antropologis dapat dilihat  dalam nama Indonesia yang artinya “Kepulauan India”, sejalan dengan daratan tenggara Asia yang disebut Indocina, yakni “Cina-India”. Jejak agama India ini tersimbolkan dalam candi Borobudur yang lebih melebar ke segala penjuru, sesuai dengan jiwa agama Budha yang meluas dan egaliter, dan candi Roro Jongrang (Prambanan) yang vertikal dan menjulang, sesuai dengan sifat agama Hindu yang mendalam dan bertingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budhisme merupakan falsafah kerajaan luar Jawa (Sriwijaya) yang bersemangat bahari, dan Hinduisme merupakan falsafah kerajaam Majapahit yang bertumpu pada kesuburan tanah pertanian Jawa. Karena Majapahit berdiri di latar belakang kejayaan Budhisme (Borobudur) dan Hinduisme (Roro Jongrang) sekaligus maka failasuf Majapahit (Empu Tantular) mengembangkan konsep rekonsiliasi dalam semangat kemajemukan, beraneka ragam tetapi hakikatnya satu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bhineka Tunggal Ika&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tan Hana Dharma Mangroa&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kehadiran Budaya Kosmopolit Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada saat memuncaknya peradaban Islam, maka budaya Islam merupakan pola budaya umum seluruh belahan bumi Timur, bahkan sekaligus merupakan budaya global, karena ketika itu benua Amerika sebagai belahan bumi barat belum ditemukan. Karakteristik peradaban Islam yang mengglobal itu memudahkan peneguhan agama Islam di Asia Tengara. Peranan saudagar anak benua India berlanjut terus tetapi mereka tidak lagi beragama Hindu dan Budha melainkan Islam. Pola budaya Perso Arab sebagai buah masuk Islamnya imperium Persia, kemudian menggeser pola budaya Sanskerta. Perkembangan selanjutnya, pola budaya Perso-Arab digantikan oleh pola budaya yang bercorak Arab dengan dominasi bahasa Arab, tergambar pada banyaknya kata-kata Arab dalam bahasa Melayu dan Indonesia. Kerajaan Hindu-Budha (Majapahit-Sriwijaya) yang memasuki masa senja  digantikan oleh munculnya kerajaan-kerajaan Islam (Aceh, Demak, Mataram, Ternate dll.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Datangnya Kolonialisme/Imperialisme Eropa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah tujuh abad peradaban Islam menjadi peradaban dunia, giliran bangsa Eropa bangkit. Bersamaan dengan melemahnya peradaban Islam, bangsa-bangsa Eropa, terutama dari Semenanjung Liberia (Spanyol dan Portugis) mengembara, mencari jalan sendiri ke India dan Timur Jauh, yang sebelumnya dikuasai saudagar Islam. Mereka bahkan menemukan benua Amerika. Satu persatu pusat-pusat kekuasaan Islam ditaklukkan, termasuk Malaka yang menjadi pusat perdagangan dan peradaban Islam Asia Tenggara. Sejak itulah era kolonialisme dan imperialisme Eropa menguasai wilayah-wilayah negeri-negeri Islam. Spanyol, Portugis, Inggris dan Belanda mengkapling-kapling wilayah Nusantara, tetapi penjajahan terlama terhadap Indonesia dilakukan oleh Belanda. Sungguh Ironis bahwa bangsa-bangsa Barat mampu mengungguli bangsa-bangsa Muslim setelah mereka mengadopsi ilmu pengetahuan Islam, dan pandangan hidup muslim yang egalitarian, partisipasi dan keterbukaan atas dasar kebebasan memilih, sementara pada saat yang sama dunia Islam kembali tersekat oleh kejumudan, feodalisme dan politik despotik-otokratik-totaliter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawanan paling sengit terhadap kolonialis Eropa dilakukan oleh Sultan dan Ulama, terutama di wilayah bandar-bandar perdagangan, oleh karena itu pahlawan nasional kita pada masa itu kebanyakan para sultan dan ulama. Penjajahan yang berlangsung lebih dari tiga abad mengobarkan semangat perang budaya dari kaum santri, yaitu boikot total terhadap semua yang berbau Belanda. Di satu sisi boikot budaya ini sangat efektip melindungi ummat dari pengaruh kolonial, tetapi di sisi lain sangat merugikan karena boikot total menjadikan kaum santri tidak bisa melakukan interaksi sosial dengan per¬kembangan modern, yang menyebabkan mereka terpinggirkan dalam proses modernisasi. Dampak negatif dari politik boikot ini masih terasa hingga zaman kemerdekaan, dimana kaum santri tetap memandang segala sesuatu yang datang dari Pemerintah (misalnya sistem pendidikan)  sebagai urusan duniawi yang haram atau makruh. Kini bahkan masih ada yang memandang Pemerintah sebagai thoghut dan hormat  bendera merah putih dalam upacara bendera sebagai dosa syirik. Marginalisasi dan deprivasi ulama dan masyarakat santri dalam bidang pendidikan masih mewariskan kesulitan bangsa dan negara hingga kini, satu masalah yang tidak boleh dianggap sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tumbuhnya Kesadaran Nasionalisme Modern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pra kolonialisme, wilayah nusantara lebih luas dibanding Indonesia sekarang, tetapi harus diakui bahwa konsep wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke berasal dari administrasi Pemerintah Hindia Belanda, Meski demikian Lahirnya negara nasional Indonesia tidak berasal dari konsep Belanda. Dalam upaya melanggengkan penjajahannya di Indonesia, Pemerintah Hindia Belanda membuat kebijakan yang menghambat perkembangan kecerdasan pribumi. Dari segi hukum, stratifikasi penduduk tanah jajahan dibagi menjadi empat; tertingi penduduk Eropa, kemudian Timur Asing (Cina dan Arab), kemudian aristokrat pribumi (priyayi) dan baru rakyat biasa.  Stratifikasi ini juga diwujudkan dalam sistem pendi¬dikan; khusus untuk orang Eropa (ELS), kemudian sekolah khusus untuk golongan Timur Asing (HAS dan HCS), kemudian sekolah untuk golongan priyayi (HIS), baru sekolah untuk rakyat umum, yaitu Volkse School (Sekolah Ongko Siji) dan Tweede Volkse School (Sekolah Ongko Loro). Dari sistem pendidikan yang dibuat oleh Belanda itu tidak memungkinkan orang Indonsia dapat menjadi terpelajar, kecuali priyayi yang sekolahanya justeru didesain untuk kepentingan penjajahan.&lt;br /&gt;Satu hal yang tak diduga Belanda, dari STOVIA dan  NIAS  yakni dua sekolah kedokteran Jawa yang di Jakarta dan Surabaya muncul bibit-bibit nasionalisme modern, seperti Dr. Wahidin dan DR. Sutomo. Demikian juga priyayi yang sekolah di negeri Belanda mengalami pencerahan nasionalisme. Walhasil, pada paruh pertama abad XX, tumbuhlah kesadaran nasio¬nalisme modern, baik yang bersifat nasionalis seperti Yong Java, maupun yang bernuansa Islam, seperti Yong Islamitten Bond, Serikat Dagang Islam , Sumpah Pemuda dan lain-lain. Kesadaran nasionalis modern itulah yang nantinya mengantar pada Proklamasi Kemerdekaan 1945.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-2540098827399284020?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/2540098827399284020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=2540098827399284020' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2540098827399284020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2540098827399284020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/06/bhinneka-tunggal-ika.html' title='Bhinneka Tunggal Ika'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-QJ25MdqgNPI/TgKnHh7yDZI/AAAAAAAABnU/4vJ-P6v2kNU/s72-c/bhineka%2Btunggal%2Bika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-2786015212624893399</id><published>2011-06-22T01:15:00.000-07:00</published><updated>2011-06-22T01:32:58.431-07:00</updated><title type='text'>KESADARAN HIDUP BERBANGSA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-mMF_YJmb1Ac/TgGkwMVHmMI/AAAAAAAABnM/Ge-3zE6SMLQ/s1600/indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 172px; height: 161px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mMF_YJmb1Ac/TgGkwMVHmMI/AAAAAAAABnM/Ge-3zE6SMLQ/s200/indonesia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620954957785569474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1998 dalam acara sarasehan sufisme international yang dihadiri 100 negara , dan diselenggarakan di ibu kota  Amerika,  Washington DC, saya berjumpa dengan Syekh Nazim, ~Adil al Qubrusy, mursyid tarekat Naqsyabandi Siprus Turki.  Pada tahun itu bangsa Indonesia sedang dalam tikungan tajam sejarah berupa gerakan reformasi pasca jatuhnya Presiden Suharto. Dikala itu terus terang saya sebagai warga Negara dilanda kebimbangan antara optimisme reformasi dan kegamangan masa depan bangsa, karena gerakan reformasi ketika itu menginginkan reformasi ekonomi dan politik sekaligus, padahal tidak ada contohnya dalam sejarah , reformasi ekonomi yang dilakukan serentak dengan reformasi ekonomi yang berhasil.Uni Sovyet, negeri super power sebelumnya melakukan hal yang sama, glassnot dan perestoika. Hasilnya, Uni Sovyet kemudian bubar. Yugoslaviapun menyusul di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Didorong oleh rasa kegalauan, saya mohon doa kepada Syekh Nazim, saya berkata (dalam Bahasa Inggris pas pasan) Syekh, mohon doa, negeri kami Indonesia sedang dalam persimpangan jalan. Eh tiba-tiba beliau menjawab dengan sangat spontan. Oh iya, ini para aulia sedang sangat sibuk memikirkan Indonesia, karena negeri anda ini dulunya di desain oleh para wali. Desain itulah yang membuat Indonesia berbeda dengan Andalusia atau Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Refleksi Kebangsaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika baru mendengar, pernyataan  Syekh  Tarekat Naqsyabandi itu  rasanya biasa saja, mungkin karena sedang dalam kesibukan acara international. Tetapi setelah pulang ke tanah air, pernyataan itu selalu terngiang-ngiang, dan akhirnya melalui perenungan sejarah dunia, memang terasa ada jejak spiritual dalam proses terbangunnya bangsa Indonesia ini. Sekarang memang menjadi sangat berbeda antara Indonesia dan Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spanyol, dulu disebut Andalusia pernah menjadi negeri muslim selama 700 tahun. Istana Al Hambra, patung-patung ilmuwan antara lain al Khawarizmi dan lantunan musik Spanyol adalah tinggalan sejarah Islam. Begitu kokohnya daulah Islamiyah disana hingga mereka nyaris menaklukkan Perancis. Yang menarik, ketika kekuatan politik Islam tergusur, maka tergusur pula agama Islam dari negeri Eropa itu sehingga sekarang, Islam di sana hanya tinggal  bangunan dan patung-patung. Mengapa ? karena Islam datang ke Eropa dengan pedang, maka dengan pedang pula mereka terusir dari Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ke Indonesia, Islam dibawa oleh para wali, terkenal dengan nama Wali Songo. Mereka membawa Islam tidak dengan pedang, tetapi melalui akulturasi budaya. Para wali membiarkan bentuk-bentuk budaya masyarakat Jawa, yang diubah hanya isinya, sehingga banyak orang Jawa yang tanpa disadari sudah menjadi muslim. Proses lembut dalam dakwah membuat Islam menjadi tradisi. Karena menjadi tradisi, maka Islam terasa nyaman di hati, kokoh di bumi. 350 tahun lebih penjajahan Belanda berlangsung di Nusantara ini, tetapi Islam tetap utuh hingga hari ini. Diantara “produk” akulturasi budaya yang hingga hari ini tetap membumi antara lain tumpeng, arsitektur kabupaten dan pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a.    Konsep tumpeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dulu para wali menjumpai tradisi masyarakat Jawa berhubungan dengan kematian keluarga  berupa lek-lekan pada malam ke tiga, ketujuh, ke empatpuluh, dan ke seratus. Supaya tahan lama lek-lekan maka dilengkapi minuman keras dan judi (semacam gaple). Para wali membiarkan bentuk tradisi kumpul-kumpul malam ke tiga, tujuh, empat puluh dan seratus, tetapi isinya diganti dengan bacaan kalimah tayyibah. Makanannya diganti tumpeng. Tumpeng adalah konsep tauhid.  Dibawah lebar dengan berbagai lauk, kemudian mengerucut ke satu titik diatas. Makna yang diajarkan ialah bahwa manusia itu levelnya macam-macam, ada yang masih kelas tempe dan ada yang sudah maqam ayam, tetapi kesemuanya akan menuju kepada Tuhan yang Satu di atas. Karena tumpeng itu konsep tauhid, maka kemudian disakralkan, orang yang membawa pulang nasi tumpeng disebut memperoleh berkah. bahasa jawanya brekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b.    Arsitektur  kabupaten&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Denah kabupaten sesungguhnya mengandung konsep teologi politik. Kabupaten adalah tempat tinggal dan kantor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ulil amri&lt;/span&gt;. Didepannya ada alun-alun sebagai medan kehidupan rakyat, di tengahnya ada pohon beringin sebagai tempat berteduh. Jika ada rakyat yang baik maka ia dimasukkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ashabul yamin&lt;/span&gt; berwujud masjid kauman yang ada di sebelah kanan. Nah rakyat yang jahat masuk kategori &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ashabus syimal&lt;/span&gt;, maka mereka dimasukkan ke penjara yang ada disebelah kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c.    Pesantren&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Awal mula model pendidikan pesantren ada di Yunani, yakni asrama tempat tinggal murid yang belajar filsafat , disebut pondok heyon. Ketika budaya Yunani runtuh dan muncul era sejarah Islam, budaya Yunani dihidupkan oleh peradaban Islam, terutama pada masa Daulah Abbasiah. Asrama musafir penuntut ilmu pada waktu itu disebut funduq. Sekarang funduq dalam bahasa Arab artinya hoitel. Di Afrika, asrama itu disebut ribath, pada masa Imam Ghazali disebut zawiyah dan haniqah. Ketika para wali berdakwah di Jawa, dijumpai sistem  pendidikan berasrama yang dikenal sebagai padepokan, dengan dua unsur  guru (shastri) dan murid (cantrik). Para wali mengambil oper bentuk itu dengan menyebut murid sebagai cantrik, dan asramanya menjadi pecantrikan. Lidah Arab susah menyebut huruf c, maka kata cantrik bergeser menjadi santri, pecantrikan menjadi pesantren. Lama-kelamaan konsep funduq ikut digabung menjadi fondok pesantren. Pada masa kerajaan Islam di Jawa, Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan bagi calon-calon pemimpin (keluarga raja) dan cendekiawan (ulama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akar sosiologis  Bangsa Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hampir setahun lalu, di Singapura saya berkesempatan nonton pagelaran seni Matah Ati-Pangeran Samber Nyowo dari kraton Mangkunegaran. Pagelaran internasional itu sangat memukau dari semua aspek, tapi inti yang terpenting pagelaran itu menggambarkan kentalnya budaya Jawa dengan segala kearifan lokalnya. Yang sangat menarik ialah epilog dari pagelaran seni adalah zikir kalimah la ilaha illalloh muhammadur Rasululloh. Maknanya, apapun bentuk dan corak budaya Jawa (baca “Indonesia”) substansinya sesungguhnya adalah Islam. Islam tidak bisa dihapus dari bumi Indonesia, karena sudah menyatu dengan tradisi. Generasi sekarang harus menyadari bahwa pondasi sosiologis Indonesia adalah spiritualisme Islam yang menyatu dalam budaya. Bangunan kebangsaan yang tidak sesuai dengan pondasinya tidak pernah akan kokoh berdiri.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-2786015212624893399?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/2786015212624893399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=2786015212624893399' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2786015212624893399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2786015212624893399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/06/kesadaran-hidup-berbangsa.html' title='KESADARAN HIDUP BERBANGSA'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mMF_YJmb1Ac/TgGkwMVHmMI/AAAAAAAABnM/Ge-3zE6SMLQ/s72-c/indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-581709582572365917</id><published>2011-06-07T21:36:00.000-07:00</published><updated>2011-06-08T23:30:29.023-07:00</updated><title type='text'>Tujuan dan Fungsi Konseling Agama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-wV-u3NCIGLY/Te7-O6cQmLI/AAAAAAAABnE/QhI801g4KZQ/s1600/pusing.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 162px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-wV-u3NCIGLY/Te7-O6cQmLI/AAAAAAAABnE/QhI801g4KZQ/s200/pusing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615705317536995506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pemberian bantuan psikologis berupa konseling agama dapat disebut sebagai kegiatan dakwah dengan obyek khusus, yaitu orang perorang yang bermasalah. Jika dakwah bertujuan mengubah tingkah laku manusia agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia akhirat, maka pemberian konseling juga bertujuan sama. Secara teknis, tujuan konseling agama dapat dibagi menjadi dua, tujuan umum dan tujuan khusus.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tujuan Umum Konseling Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konseling agama bukanlah penyuluhan agama dalam artian penerangan agama seperti yang dilakukan juru penerang agama atau pegawai Departemen Agama di desa-desa, tetapi merupakan bimbingan dan penyuluhan (konseling) kehidupan secara umum dengan menggunakan pendekatan agama (Islam). Penerangan agama lebih merupakan penyampaian informasi kepada umum, sedangkan konseling agama merupakan pekerjaan yang sifatnya khusus berupa pemberian batuan psikologis dan ditujukan kepada orang-orang khusus pula, yaitu orang yang bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan umum dari konseling agama ialah membantu klien agar ia memiliki pengetahuan tentang posisi dirinya dan memiliki keberanian mengambil keputusan untuk  melakukan seuatu perbuatan yang dipandang baik, benar dan bermanfaat untuk kehidupannya di dunia dan untuk kepentingan akhiratnya.&lt;br /&gt;Target pertama dari konseling agama ialah membantu klien agar ia mengetahui siapa dirinya, apa posisinya dan bagaimana kapasitasnya sendiri. Perilaku menyimpang yang dilakukan seseorang biasanya karena ketika itu ia mengalami alienansi, atau keterasingan diri, tidak jelas siapa dirinya, dan apa posisinya diantara orang lain (orang tua, anak, murid, guru, atasan, bawahan, kekasih dsb). Demikian juga orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan tidak mau menjalankan ibadah adalah juga orang yang ketika itu tidak tahu siapa dirinya dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu maka ia tidak merasa harus taat kepada (Tuhan) yang dia tidak mengenalnya, apa lagi untuk mensyukuri terhadap apa yang dia sendiri tidak merasa diberi apa-apa oleh entah siapa. Dalam hal ini rasul pernah bersabda yang artinya barang siapa mengenal dirinya pasti ia mengenal siapa Tuhannya.&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa setiap kali menjumpai suatu rangsang terhadap realita, maka ia merespond, menangkap, mengolah dan menyimpan dalam memorinya sebelum bereaksi. Dalam proses pengolahan persepsi sampai menjadi informasi, banyak hal mempengaruhinya dari faktor biologis, sosiologis sampai pada masalah ruhaniah yang melingkupinya. Oleh karena itu seseorang mungkin tepat persepsinya terhadap sesuatu, tetapi orang lain mungkin bisa keliru persepsi karena perbedaan hal yang mempengaruhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian orang yang karena beratnya beban psikologis, menjadi kurang peka perasaannya, kurang cermat pengamatannya, dan kurang jelas orientasinya. Dalam keadaan tertentu, seseorang terkadang merasa dirinya kurang wajar, sehingga ia juga tidak wajar jika berasama dengan orang lain yang tampaknya tak wajar. Dalam kondisi kejiwaan seperti itu seseorang akan sulit mengambil keputusan dengan pertimbangan yang jernih. Ia tidak bisa memutuskan sesuatu, dan bahkan ia tidak tahu apa yang ia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dalam kondisi kejiwaan seperti itu biasanya kurang menyadari posisinya, bahwa ia misalnya adalah seorang ayah dimana anak-anaknya sangat menyayangi dan membutuhkan, atau sebagian orang pandai yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh orang-orang sekelilingnya. Perasaan disayangi, dihormati, dan dibutuhkan biasanya membuat hidup menjadi bermakna, maka akibat oran itu tidak tahu bahwa ia dibutuhkan dan dihormati (karena ia tidak menyadari posisinya), maka ia menjadi orang asing yang tak berdaya dan tak berkemauan. Keterasingan dari keluarganya, teman dekatnya dan dari masyarakatnya. Ia merasa tidak wajar, tidak berguna, tak berpengharapan, dan sudah barang tentu tak bahagia, meskipun sebenarnya ia memiliki banyak kemampuan dan banyak pula yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tujuan Khusus Konseling Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari kasus-kasus klien seperti tersebut diatas, maka tujuan khusus konseling Agama adalah :&lt;br /&gt;a)    Untuk membantu klien agar tidak menghadapi masalah&lt;br /&gt;b)    Jika sudah terlanjur bermasalah, maka konseling dilakukan dengan tujuan membantu klien agar dapat mengatasi masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;c)    Kepada klien yang sudah berhasil disembuhkan, maka konseling agama bertujuab agar klien dapat memelihara kesegaran jiwanya dan bahkan dapat mengembangkan potensi dirinya supaya dirinya tidak menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fungsi Kegiatan Konseling Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari beragamnya keadaan klien yang membutuhkan bantuan konseling agama, maka fungsi kegiatan ini bagi klien dapat dibagi menjadi empat tingkat.&lt;br /&gt;a)    Konseling sebagai langkah pencegahan (preventif)&lt;br /&gt;Konseling pada tingkat ini ditujukan kepada orang-orang yang diduga memiliki peluang untuk menderita gangguan kejiwaan (kelompok beresiko), misalnya orang-orang yang terlalu berat penghidupannya, orang-orang yang bekerja amat sibuk seperti mesin, orang-orang yang tersingkir atau teraniaya oleh sistem sosial, atau orang yang kapasitas jiwanya tidak sanggup menghadapi kehidupan modern, atau orang yang menghadapi keruwetan hidup. Kegiatan konseling yang bersifat preventif ini harus dilakukan secara aktif, terprogram dan bersistem. Konselor bukannya menunggu klien, tetapi merekalah yang harus mendatangi kelompok beresiko ini, seperti hisbah yang dilakukan oleh para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muhtasib&lt;/span&gt; pada zaman Umar bin al Khattab. Program kegiatan semacam pengajian, kunjungan sosial, olah raga, kerja bakti sosial dapat juga berfungsi sebagai bentuk pencegahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)    Konseling sebagai langkah kuratif atau korektif&lt;br /&gt;Konseling dalam fungsi ini sifatnya memberi bantuan kepada individu klien memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Dalam hal ini informasi perlu disebarkan kepada masyarakat luas bahwa konselor A atau bahwa lembaga Klinik konsultasi Agama tertentu dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan untuk konseling agama. Diinformasikan bahwa konseling agama dapat membantu memecahkan masalah kejiwaan yang dihadapi orang. Informasi ini dapat disebar luaskan melalului media komunikasi, atau melalui masjid, majlis taklim dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)    Konseling sebagai langkah pemeliharaan (preservatif)&lt;br /&gt;Konseling ini membantu klien yang sudah sembuh agar tetap sehat, tidak mengalami problem yang pernah dihadapi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan membentuk semacam club yang anggotanya para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;klien&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ex klien&lt;/span&gt; dengan menawarkan program-program yangterjadwal, misalnya ceramah-ceramah keagamaan atau keilmuan, program aksi social untuk kelompok, masyarakat tidak mampu, misalnya secara aktif menghimpun dana bagi pasien tak mampu di rumah sakit, panti asuhan, atau panti jompo, atau menawarkan program produktif berupa penghimpunan dana bagi beasiswa mahasiswa berprestasi tapi tidak mampu, atau menawarkan program wisata ziarah. Di Jakarta lembaga yang sudah melaksanakan fungsi ini adalah Lembaga Pendidikan Kesehatan Jiwa (LPKJ) Bina Amaliah yang didirikan oleh Dr. Zakiah Darajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)    Fungsi pengembangan (developmental)&lt;br /&gt;Konseling dalam fungsi ini adalah membantu klien yang sudah sembuh agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya pada kegiatan yang lebik baik. Konseling dalam fungsi ini dapat dilakukan dengan mendirikan semacam club, dengan penekanan pada program yang terarah, yang melibatkan anggota, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun pengembangan. Klien yang sudah sehat dapat diajak untuk menjadi pengurus dari lembaga-lembaga yang melaksanakan kegiatan social, pendidikan, dan keagamaan. Dengan aktif sebagai pengurus, maka ia bukan hanya menyembuhkan diri sendiri tetapi bahkan menyembuhkan orang lain yang belum sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sistematika Terapi Psikologis Dalam Konseling Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seseorang klien yang semula mengidap alienasi atau keterasingan diri sehingga ia tidak berani mengambil suatu keputusan untuk melakukan suatu tindakan dan bahkan tidak tahu lagi apa sebenarnya yang diinginkan, dapat dibantu memecahkan persoalannya dengan langkah-langkah sbb:&lt;br /&gt;a.    Diajak memahami realita apa sebenarnya yang sedang dihadapi, misalnya tentang ditinggal keluarga, dicerai suami, kehilangan jabatan, kehilangan harta, kehilangan kekasih, sakit yang berkepanjangan, dizalimi orang yang selama ini dibantu dsb., bahwa realita itu adalah benar-benar realita yang harus dihadapi, dan harus diterima, suka atau tidak suka karena itu memang realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Diajak mengenali kembali siapa sebenarnya dia itu, apa posisinya dan apa kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. Misalnya ia harus diingatkan bahwa ia adalah seorang ayah dari sejumlah anak-anak yang membutuhkan kehadirannya, bahwa anak-anak semuanya merindukan dan menyayanginya. Atau misalnya didasarkan bahwa kepandaian yang dimilikinya itu bisa diajarkan kepada orang lain, dan sebenarnya banyak yang membutuhkan dirinya, atau bahwa ia adalah manusia yang sebagai hamba Allah tak bisa mengelak dari kehendak Nya, dan bahwa apa yang dialaminya itu merupakan kehendak Allah yang kita belum tahu apa makna dan hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.    Mengajak klien memahami keadaan yang sedang berlangsung disekitarnya, bahwa ada perubahan-perubahan yang sedang berlangsung, misalnya, perubahan nilai-nilai social, perubahan struktur ekonomi masyarakat, perubahan zaman dsb, dan bahwa perubahan itu merupakan sunatullah yang tidak bisa ditolak, tetapi yang penting bagaimana mensikapi dan mengantisipasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.    Diajak menyakini bahwa Than itu Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Pengasih dan Penyayang, dan bahwa semua manusia diberi peluang untuk bertaubat dan mendekat kepada Nya. Bahwa ridla Allah adalah tujuan utama dari hidup manusia, bahwa tuhan selalu mendengar doa hamba-hamba Nya, bahwa sifat dengki, iri hati, putus asa adalah tercela dan hanya merugikan diri sendiri, juga bahwa ibadah shalat, puasa, tadarus al Qur’an, haji, bersedekah, membantu orang lain dsb, dapat membantu jiwa menjadi tenteram dan bahwa membuat kemudian salah itu lebih baik dari pada tidak berbuat karena takut salah, dan bahwa niat baik akan mendorong orang berbuat baik.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-581709582572365917?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/581709582572365917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=581709582572365917' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/581709582572365917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/581709582572365917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/06/tujuan-dan-fungsi-konseling-agama.html' title='Tujuan dan Fungsi Konseling Agama'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-wV-u3NCIGLY/Te7-O6cQmLI/AAAAAAAABnE/QhI801g4KZQ/s72-c/pusing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-993361491141047803</id><published>2011-06-06T22:54:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T23:06:42.706-07:00</updated><title type='text'>Konseling Agama Pada Masyarakat Islam (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konseling Agama Dalam Tradisi Islam Klasik&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dan Hisbah dalam Tinjauan Konseling Modern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Fk7CqeFU9ZI/Te29PGVpKHI/AAAAAAAABm8/Od1AqAsoMoI/s1600/islam%2Bklasik.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 171px; height: 153px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Fk7CqeFU9ZI/Te29PGVpKHI/AAAAAAAABm8/Od1AqAsoMoI/s200/islam%2Bklasik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615352377497954418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebagaimana disebutkan dalam pendahuluan, bahwa Bimbingan dan Konseling Agama dapat dimasukan dalam rumpun dakwah, yakni dakwah kepada orang-orang yang bermasalah. Dalam tradisi Islam klasik, pemberian konseling yang dijumpai juga berada dalam satu nafas dengan kegiatan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. Kamal Ibrahim Mursi, aktivitas konseling agama yang dijumpai pada zaman klasik Islam dikenal dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hisbah&lt;/span&gt;, atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ihtisab&lt;/span&gt;, konselornya disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muhtasib&lt;/span&gt;, dank lien dari hisbah tersebut dinamakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muhtasab ‘alaih&lt;/span&gt;.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pengertian hisbah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hisbah menurut pengertian syara’ artinya menyuruh orang (klien) untuk melakukan perbuatan baik yang jelas-jelas ia tinggalkan, dan mencegah perbuatan munkar yang jelas-jelas dikerjakan oleh klien (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;amar ma’ruf nahi munkar&lt;/span&gt;) serta mendamaikan klien yang bermusuhan. Hisbah merupakan panggilan, oleh akrena itu muhtasib melakukannyta semata-mata karena Allah, yakni membantu orang agar dapat mengerjakan hal-hal yang menumbuhkan kesehatan fisik, mental dan sosial, dan menjauhkan mereka dari perbuatan yang merusak. Panggilan untuk melakukan hisbah didasarkan kepada firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artinya&lt;/span&gt;: hendaknya ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.merekalah orang-orang yang beruntung. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Q/3:104)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artinya&lt;/span&gt;: Tidak ada kebajikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) member sedekah, atau berbuat ma’ru, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Q/:114)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amar ma’ruf&lt;/span&gt; dalam hisbah ialah menyuruh dan menghendaki kliennya mengerjakan yang ma’ruf, yakni semua hal yang dituntut syara, termasuk perbuatan dan perkataan yang membawa kemaslahatan bagi individu dan masyarakat, yang wajib maupun yang sunat. Sedangkan bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nahi munkar&lt;/span&gt;, yakni semua yang dilarang syara’, termasuk perbuatan dan perkataan yang mendatangkan kesulitan bagi pribadi dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu hisbah dilakukan dengan prinsif suka sama suka, bersifat sugesti dan intropeksi, sehingga klien menyadari betul manfaat berbuat ma’ruf dan bahayanya perbuatan munkar, kuat motivasi positifnya dn padam motivasi negatipnya.&lt;br /&gt;Hisbah juga dilakukan dengan lemah lembut. Nabi pernah mencontohkan bagaimana menanamkan suatu pengertian kepada orang yang memang belum memiliki pengertian tentang suatu kebaikan dan kemunkaran.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Artinya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;: Seorang pemuda mendatangi Rasul dan bertanya secara lantang di hadapan orang banyak; Wahai Nabi Allah, apakah engkau dapat mengijinkan aku untuk berzina? Mendengar pertanyaan yang tidak sopan itu orang-orang rebut mau memukulinya, tetapi Nabi segera melarang dan memanggil, Bawalah pemuda itu dekat-dekat padaku. Setelah pemuda itu duduk di dekat Nabi, maka nabi dengan santun bertanya kepada pemuda itu: Bagaimana jika ada orang yang akan menzinahi ibumu? Demi Allah tidak akan membiarkannya, kata pemuda itu. Nabipun meneruskan, nah begitu pula orang tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada ibu mereka. Bagaimana jika terhadap anak perempuanmu? Tidak, demi Allah, aku tidak akan membiarkannya, kata si pemuda. Nabi meneruskan, Nah begitu juga orang tidak akan membiarkan putrinya atau saudara perempuannya atau bibinya dizinahi. Nabi kemudian meletakan tangannya ke dada pemuda itu sambil berdoa; Ya Allah bersihkanlah hati pemuda ini, ampunilah dosanya dan jagalah kemaluannya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( H.R. Ahmad dari Abu Umamah)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Menurut perawi hadist tersebut, sejak peristiwa itu sang pemuda tidak lagi menengok kiri kanan untuk berbuat zina. Dalam hadis itu jelas digambarkan bahwa dalam menghadapi pemuda itu nabi tidak menempatkan diri sebagai subyek yang melarang atau memberi nasehat, tetapi hanya mengantar sang pemuda  untuk berfikir jernih tentang implikasi zina bagi orang lain, dan selanjutnya sang pemuda itulah yang harus menjadi subyek dirinya untuk memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi dirinya. Secara psikologis, manusia memang satu-satunya makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang hukum hisbah, para fuqaha berbeda pendapat antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fardlu ‘ain&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fardlu kifayah&lt;/span&gt;. Yang pertama berdasarkan pendapatnya pada firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artinya&lt;/span&gt;: orang-orang mukmin, laki-laki dan  perempuan, yang satu dengan lainnya adalah kekasih dan orang kepercayaannya, mereka selalu beramar makruf dan nahi munkar. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Al taubah, 71)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Artinya:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Demi masa, Sesungguhnya manusia senantiasa merugi, kecuali orang yang beriman, beramal saleh dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Q/103: 1-3)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berpendapat hukumnya fardlu kifayah mendasarkan pendapatnya pada ayat al Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artinya:&lt;/span&gt; hendaklah ada diantara kalian sekelompok orang yang bekerja mengajak kebaikan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, merekalah orang-orang yang beruntung. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Ali Imran 104)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Khalifah Umar bin al Khattab adalah orang pertama yang mengatur pelaksanaan hisbah sebagai suatu sistem dengan merekrut dan mengorganisir muhtasib (konselor) dan kemudian menugaskan mereka ke segala pelosok kaum muslimin guna membantu orang-orang yang bermasalah. Khalifah berikutnya juga meneruskan kebijaksanaan Umar, sehingga itu jabatan muhtasib menjadi jabtan yang terhormat di mata masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Khaldun, hisbah itu merupakan tugas keagamaan dalam bidang / amar makruf nahi munkar, yang merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh pemerintah.&lt;br /&gt;bentuk-bentuk ihtisab/hisab ketika itu menurut Kamal Ibrahim Mursi antara lain :&lt;br /&gt;a)    Pemberian nasehat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mau’idzah hasanah&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Secara umum, yakni dilakukan secara perorangan atau kelompok, di mesjid, di rumah atau di tempat kerja. Tahap ini sifatnya merupakan langkah prefentip.&lt;br /&gt;b)    Bimbingan ringan secara individuil&lt;br /&gt;Bentuk hibah ini diberikan kepada orang-orang yang nyata-nyata membutuhkan, diminta atau tidak diminta. Objek bimbingannya bisa menyangkut masalah keagamaan, kerumah tanggaan, kepribadian, pekerjaan dsb.&lt;br /&gt;Dalam menjalankan hisbah dalam bentuk ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muhtasab ‘alaihi&lt;/span&gt; (klien) bedua saja. Bentuk hisbah ini dilakukan untuk mendorong motivasi klien pada kebaikan, dan mendorongnya alergi terhadap kemunkaran, dan menyadarkannya untuk menerima kenyataan secara ikhlas.&lt;br /&gt;c)    Bimbingan berat secara individuil&lt;br /&gt;Metode ini dilakukan terhadap orang yang sudah terang-terangan menjalankan perbuatan tercela/ keji, dan terang-terangan pula tidak mau mengerjakan perbuatan baik, orang yang sudah akrab dengan kejahatan dan alergi terhadap kebaikan. Orang pada tingkat seperti ini biasanya sidah tidak mempan terhadap nasehat-nasehat yang lemah lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang semacam ini, muhtasib dalam percakapannya sengaja mengunakan kata-kata yang kereas seraya mengingatkan resiko yang akan diterimanya di dunia maupun di akhirat. Jika tidak mau mengubah perilakunya. Muhtasib dengan memposisikan dirinya sebagai seorang sahabat yang mempunyai kepedulian, secara sengaja mengetuk keras-keras pintu hati klien –semacam schok terapi- pintu hatinya bisa terkuak, karena ketukan halus tidak akan pernah didengar atau bahkan ditertawakan.&lt;br /&gt;d)    Bimbingan missal&lt;br /&gt;Metode ini digunakan dalam kasus pertikaian, yakni bimbingan untuk mendamaikan perselisihan yang sudah terlanjur terbuka, antara buruh dan majikan, peminjam dan yang dipinjami, penjual dan pembeli, perselisihan anak dan ayah, suami dan isteri dsb. Karena persoalannya sudah terbuaka maka hisbah yang diberikan juga dilakukan secara terbuka, misalnya dalam forum perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem hisbah seperti ini berakhir pada akhir masa khalifah Usman bin Affan, selanjutnya pada masa-masa sesudahnya fungsi-fungsi hisbah ini diambil oper oleh aparat pemerintah, dengan nuansa yang berbeda. Pengambil operan hisbah oleh Negara nantinya memunculkan istilah wilayat al hisbah dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fiqh Siyasah&lt;/span&gt;/ sistem politik Islam seperti yang dibahas oleh al Mawardi dalam al Ahkam as Sulthoniyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hisbah dalam Tinjauan Konseling Modern&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Era globalisasi dunia telah menjadikan planet bumi ini menjadi kecil, jarak menjadi sangat pendek. Peristiwa yang terjadi di suatu pojok dunia dapat diketahui secara serempak oleh manusia-manusia di belahan bumi lainya. Batas budaya, batas peradaban menjadi kabur karena informasi, peristiwa dan perilaku manusia di dunia bisa dilihat secara serempak melalui layar kaca (TV) di rumah-rumah penduduk bumi tanpa memperdulikan norma-norma yang diaut oleh suatu komunitas budaya. Anak-anak, kyai dan pendeta bisa menyaksikan adegan telanjang di TV, atau melalui internet. Gadis kampong yang sedang bekerja menjadi pembantu rumah tangga di kota juga ditawari produk-produk kecantikan yang aduhai di iklan TV majikannya. Pakaian, plesiran, kenyamanan, kenikmatan, gaya hidup dan juga kemaksiatan ditawarkan kepada semua orang yang sudah siap atau yang belum, yang bisa membeli atau yang hanya tergiur, yang siap budaya maupun yang terbelakang, padahal realita menunjukan bahwa strata manusia di muka bumi ini tidaklah sama, sebagian kecil sudah hidup dengan gaya ultra modern, kaum JetSet dan sebangsanya, sebagian baru mencapai taraf modern, sebagian besar masih berada dalam kondisi radisionil, dan masih ada komunitas manusia yang hidup pada zaman batu seperti di Irian Barat atau sangat terbelakang seperti di sebagian Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman globalisasi dunia ini, masyarakat terbelakang dan tradisionil dipaksa untuk menyaksikan perilaku bangsa lain yang sudah maju atau sudah sangat maju dengan segala norma-normanya yang sangat longgar dan liberal. Komunikasi gegap gempita ini akhirnya memakan korban, yakni orang-orang yang belum siap untuk hidup pada era lain yang lebih “maju”. Fenomena dari korban-korban ini dapat dibaca di surat kabar atau televisi yaitu terjadinya proses dehumanisasi dan lunturnya nila-nilai kemanusiaan, melorotnya martabat manusia, melonggarnya nila-nilai etika, merebaknya perilaku menyimpang, meluasnya tindakan kejahatan dan banyaknya pengidap gangguan mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli dan para professional sudah berteriak-teriak mengingatkan bahaya dari fenomena tersebut, tetapi “roda kemajuan” nampaknya tak bisa dihentikan. Pembangunan ekonomi dan fisik semakin menjulang tinggi, tetapi harkat manusia semakin melorot kebawah, sampai-samapi GBHN Indonesia harus secara tegas mengingatkan bahwa hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota-kota besar di dunia dimana banyak penduduknya yang menderita stress, frustasi, depressi, “gila”, ketergantungan obat terlarang dan gangguan kejiwaan lainnya, muncul upaya-upaya untuk membangun meringankan beban mereka atau membuka usaha jasa bagi yang membutuhkan dengan membuka lembaga-lembaga konsultasi kejiwaan. Pada masyarakat dengan gaya hidup Barat, konsep konsultasi kejiwaan atau konseling juga tak terhindar dari paradigm konseling Barat, sehingga konsep kebahagiaan, ketentraman yang dimaksud terhenti kepada ketenteraman dan kebahagiaan hidup di dunia, tanpa menghubungkan dengan nilai-nilai ukhrawi. Konsep konseling Barat, seperti yang telah diuraikan di muka, dalam perspektif Islam hanyalah menawarkan kebahagiaan sementara, yakni kebahagiaan di dunia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisbah, jika ditinjau dengan sudut kekinian, maka ia merupakan pemberian konseling secara dini yang sifatnya aktif atau agressif, yang mengutamakan pencegahan dari pada mengobati, sejalan dengan jargon bahwa menjaga kesehatan itu nilainya lebih baik dari pada mengobati penyakit (yang terlanjur diderita karena tidak dijaga kesehatannya). Jika klinik konselor pada umumnya hanya siap menerima klien yang dating, maka hibah lebih agressif, yakni semacam gerakan menjemput bola agar potensi-potensi gangguan kejiwaan tidak sempat berkembang.&lt;br /&gt;Hisbah bukan hanya membantu klien menemukan kebahagiaan sementara, tetapi lebih dari itu mengenalkannya dengan konsef kebahagiaan universal, kebahagiaan dunia akhirat.&lt;br /&gt;Ditinjau dari sudut kegiatan dakwah, jika dewasa ini para da’i dan muballigh diibaratkan menawarkan dagangannya kepada public, maka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muhtasib&lt;/span&gt; (konselor) lebih memfokuskan perhatiannya kepada kelompok sasaran tertentu, yakni orang-orang yang berpeluang menderita gangguan kejiwaan, atau orang-orang yang sudah terkena masalah kejiwaan. Rekruitmen muhtasib dengan kualifikasi keahlian yang memadai, serta pengelolaan membantu masyarakat Islam dalam mengarungi kehidupan dalam era globalisasi ini. Salah satu kelebihan hisbah adalah filosofi yang mendasarinya, yaitu semangat beribadah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-993361491141047803?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/993361491141047803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=993361491141047803' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/993361491141047803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/993361491141047803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/06/konseling-agama-pada-masyarakat-islam-2_06.html' title='Konseling Agama Pada Masyarakat Islam (2)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Fk7CqeFU9ZI/Te29PGVpKHI/AAAAAAAABm8/Od1AqAsoMoI/s72-c/islam%2Bklasik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-8776364702772840561</id><published>2011-06-05T20:55:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T21:21:22.248-07:00</updated><title type='text'>Konseling Agama Pada Masyarakat Islam (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Filosofi Konseling Agama dan Prinsip-prinsif Konseling Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah diur&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-GCHb64QgN-o/TexQN51LWEI/AAAAAAAABms/HSrN2CciVPU/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 168px; height: 152px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-GCHb64QgN-o/TexQN51LWEI/AAAAAAAABms/HSrN2CciVPU/s200/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614951035216549954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;aikan dimuka bahwa konsep Konseling lahir di Barat berdiri diatas falsafah hidup Barat pula. Pertanyaan yang muncul selanjutnya ialah seperti apa model konseling yang berdiri diatas pandangan hidup masyarakat Islam? Sebelum memperkenalkan bentuk konseling yang dipandang Islami, terlebih dahulu harus diketahui dulu filosofi dari konseling Agama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Filosofi Konseling Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dasar dari pemikiran konseling agama ialah satu asumsi bahwa agama itu merupakan kebutuhan fitri dari semua manusia. Allah telah menciptakan manusia dan telah meniupkan ruh-Nya, sehingga iman kepada Allah merupakan sumber ketentraman, keamanan dan kebahagiaan manusia, seperti firman Allah:&lt;br /&gt;Artinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ingatlah bahwa dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenteram&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Sebaliknya, dalam paradigma ini, maka ketiadaan iman kepada Allah menjadi sumber kegalauan, kegelisahan dan kesengsaraan bagi manusia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Agama, seperti yang dikatakan oleh Hasan al Banna, seorang pembaharu dakwah dan pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, adalah merupakan alat yang pas untuk terapi psikologis, karena agama dapat membantu menajamkan hati nurani, menghidupkan perasaan dan mengingatkan hati. Agama juga berfungsi sebagai polisi yang selalu mengawasi, serta penjaga yang tak pernah tidur.&lt;br /&gt;Agama secara konsisten selalu mendorong jiwa kepada kebaikan, dan secara konsisten pula menolak kekejian. Agama juga senantiasa mengajak manusia untuk meningkatkan kualitas jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian maka pekerjaan yang sifatnya menyuburkan keimanan kepada Allah adalah juga termasuk dalam ruang lingkup konseling agama. William james pun berkata bahwa, kepercayaan kepada Tuhan sangat besar pengaruhnya dalam mengobati kegelisahan, karena iman dapat membuat hidup menjadi lebih bermakna, dan membantu bagaimana cara menikmati kehidupan ini secara benar. Imam Ghazali bahwakn mengatakan bahwa tidak ada satu kesulitan pada manusia yang asal usulnya bukan dari kelemahan iman, atau dari tidak mengikuti petunjuk agama. Seseorang, kata al Ghazali- pada hakikatnya tidak dapat melepaskan diri dari kesulitannya, kecuali ketika imannya sedang menguat, dan ketika sedang berpedoman kepada petunjuk agama dalam menghadapi realita hidup. Seorang mukmin, kata Nabi senantiasa beruntung, karena jika sedang memperoleh keberuntungan ia bersyukur, dan jika sedang dilanda cobaan, ia bersabar. Sementara itu orang yang tidak beriman, ketika sedang dalam puncak keberuntungan ia lupa daratan, dan ketika ia dilanda kesulitan yang amat sangat ia lupa ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prinsip-prinsif Konseling Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara teknis, praktek konseling agama dapat menggunakan instrument yang dibuat oleh Bimbingan dan Konseling Modern, tetapi secara filosofis, konseling agama harus berdiri diatas prinsif-prinsip ajaran Islam, antara lain :&lt;br /&gt;a.    Bahwa nasehat itu merupakan salah satu pilar agama, seperti yang tersebut dalam hadis; bahwa agama adalah nasehat.&lt;br /&gt;b.    Bahwa konseling kejiwaan adalah merupakan pekerjaan yang mulia,karena bernilai membantu orang lain mengatasi kesulitan, seperti yang dimaksud oleh hadis Nabi yang artinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sebaik-baik pekerjan di sisi Allah adalah membuat gembira hati seorang muslim, atau menghilangkan kesusahan darinya atau membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H.R. Tabrani&lt;/span&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;c.    Konseling agama harus dilakukan sebagai pekerjan ibadah yang dikerjakan semata-mata mengharap ridla Allah.&lt;br /&gt;d.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Uli Amri&lt;/span&gt; atau Pemerintah berkewajiban mendukung program-program konseling misalnya memberi fasilitas atau membuka program pendidikan konseling agama.&lt;br /&gt;e.    Setiap muslim yang memiliki kemampuan bidang konseling memiliki tanggung jawab moral dalam pengembangan konseling agama.&lt;br /&gt;f.    Tujuan praktis konseling agama adalah mendorong klien agar selalu ridla terhadap hal-hal yang bermanfaat dan alergi terhadap hal-hal yang madlarat.&lt;br /&gt;g.    Konseling agama menganut prinsip bagaimana klien dapat menarik keuntungan dan menolak keruksakan.&lt;br /&gt;h.    Meminta bantuan konselor agama hukumnya wajib bagi setiap orang yang membutuhkan.&lt;br /&gt;i.    Memberikan bantuan psikologis/ konseling agama hukumnya wajib bagi konselor yang sudah mencapai derajat spesialist.&lt;br /&gt;j.    Proses pemberian konseling harus sejalan dengan tuntunan syariat Islam.&lt;br /&gt;k.    Pada dasarnya manusia memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri perbuatan baik yang akan dipilih, dan bahkan juga memiliki kebebasan untuk melakukan perbuatan maksiat secara sembunyi-sembunyi (tetapi ia berdosa).&lt;br /&gt;l.    Tidak ada orang yang diberi kebebasan untuk melakukan perbuatan maksiat atau perbuatan destruktif secara terang-terangan, yang mengganggu pikiran dan perasaan orang lain, langsung atau tidak langsung, atau perbuatan yang menjurus pada kekejian yang merusak masyarakat. Dalam Islam setiap individu ikut bertanggung jawab atas kemaslahatan masyarakatnya, seperti yang dilukiskan oleh hadis Nabi tentang penumpang kapal.yang artinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;perumpaan tanggung jawab penegak hukum terhadap pelaku pelanggar hukum adalah seperti orang banyak yang bersama-sama menjadi penumpang sebuah kapal. (karena banyaknya penumpang) maka ada yang duduk di lantasi dasar dan ada yang duduk di lantai atas. Jika penumpang lantai dasar membutuhkan air maka mereke langsung naik ke atas dan sudah barang tentu mengganggu penumpang yang di atas (atas pertimbangan praktis) ada penumpang di bawah yang mengusulkan :Di bawah kita ini ada air, jika kita membuat lubang, maka air kita peroleh tanpa harus mengganggu orang diatas. Jika penumpang yang diatas membiarkan perbuatan orang yang dibawah melubangi perahu, maka semua penumpang akan tenggelam. Tetapi jika mereka mencegah, maka semua penumpang selamat. ( &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H.R. Bukhari dari Nukman bin Basyir&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan dan konseling agama harus memperhatikan norma-norma sosial Islam, misalnya tentang kesucian perkawinan, kehormatan wanita dan tanggung jwab individu dalam bermasyarakat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-8776364702772840561?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/8776364702772840561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=8776364702772840561' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8776364702772840561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8776364702772840561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/06/konseling-agama-pada-masyarakat-islam-1.html' title='Konseling Agama Pada Masyarakat Islam (1)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GCHb64QgN-o/TexQN51LWEI/AAAAAAAABms/HSrN2CciVPU/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-8985870451632710652</id><published>2011-05-31T22:33:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T22:45:46.414-07:00</updated><title type='text'>Konseling Agama</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-a7Sze87axDk/TeXQOQ9wIMI/AAAAAAAABmg/iB76jVHsMaA/s1600/konseling.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 172px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-a7Sze87axDk/TeXQOQ9wIMI/AAAAAAAABmg/iB76jVHsMaA/s200/konseling.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613121454077911234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bimbingan dan Konseling sebagai profesi pertama kali lahir di Amerika pada awal abad XX, yaitu ketika Frank Person membuka klinik di Boston untuk memberi pengarahan kepada para pemuda memperoleh pekerjaan yang sesuai. Pada tahun 1950 an bidang ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, bukan hanya dalam bidang pekerjaan tetapi merambah pada bidang-bidang pendidikan. Rehabilitasi, kerumah tanggaan, penanganan tindak kriminal, kenakalan remaja, juga di rumah sakit, pabrik-pabrik dan bahkan di rumah militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi wilayah geografi, bimbingan dan konseling tidak lagi tidak lagi terbatas hanya di Amerika, tetapi berkembangan menjalar ke Eropa, Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Australia. Tahun 1970-1980 bimbingan  dan Konseling masuk ke dalam kurikulum Sekolah Menengah di negeri-negeri yang mengambil sistem pendidikan Barat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya Bimbingan dan Konseling di Amerika pada awal abad XX merupakan tuntunan logis dari dinamika masyarakat Amerika ketika itu. Sebagaimana diketahui bahwa pandangan hidup masyarakat Amerika dan Barat pada umumnya bersumber dari budayanya yang sekuler dan liberal. Oleh karena itu filosofi dari Bimbingan Konseling di sana juga tak terlepas dari faham sekuler dan liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun konsepsi Bimbingan dan Konseling di Barat dilahirkan  oleh para ahli yang tak diragukan kapasitasnya, tetapi konsep-konsep yang boleh jadi cocok untuk masyarakat Barat tidak otomatis dapat diterapkan pada masyarakat lain, masyarakat Islam misalnya.&lt;br /&gt;Kesulitan menerapkan prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling Barat di lingkungan msyarakat Islam disebabkan oleh falsafah hidup yang berbeda, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Jika masyarakat Barat memisahkan Negara dan agama, masyarakat Islam tidak mengenal pemisahan yang sebenarnya antara agama dan kehidupan, antara masjid dan lapangan kerja. Bimbingan dan Konseling di masyarakat Islam harus berdiri diatas prinsip keterpaduan antara agama dan kehidupan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Masyarakat Barat menganut kebebasan individual (dan kelompok yang sangat liberal, tercermin pada pergaulan bebas, norma seksual yang sangat longgar asal tidak mengganggu orang lain, sementara masyarakat muslim sangat menjunjung tinggi kesucian perkawinan, kehormatan wanita, berbakti kepada orang tua yang sudah renta, dan mengagungkan nila-nilai akhlak, iman dan takwa. Masyarakat Islam tidak mengenal kebebasan individual dalam arti se bebas-bebasnya, karena dibatasi oleh norma-norma tradisi, agama dan akhlak. Masyarakat muslim masih menjungjung tinggi prinsip-prinsip berbakti kepada orang tua, sopan santun social dan tradisi keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Banyak hal-hal yang di Barat tidak dipermasalahkan, tetapi pada masyarakat Islam justeru hal itu diharamkan, misalnya; perjudian, perzinaan, gay, menyakiti orang tua, boy friend, tukar kunci dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Pedekatan Bimbingan dan Konseling yang dilakukan di Amerika sendiri menunjukan kegagalan, seperti yang tercermin dalam angka statistik yang dikutip oleh Dr. Abd. Rahman Isawi dan seruan kecemasan ahli-ahli sosial AS menyangkut masa depan generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka-angka statistik tersebut menunjukan bahwa :&lt;br /&gt;a.    Jumlah lembaga pendidikan tenaga konseling, tahun 1910, ada 475 lembaga, dan pada tahun 1980 telah menghasilkan 50.000 konselor kejiwaan dan 70.000 konselor pendidikan.&lt;br /&gt;b.    Jumlah perilaku menyimpang 1957     19,1 /1000&lt;br /&gt;1974     37,5/1000&lt;br /&gt;1977     200/1000&lt;br /&gt;c.    Anak sekolah yang hamil di luar nikah pada tahun 1957 mencapai 10 %&lt;br /&gt;d.    Penderita penyakit kelamin di kalangan pelajar tahun 1956 s/d 1973 naik 300 %&lt;br /&gt;e.    Mahasiswa peminum mencapai 52 % (1956), 72 % (1973), 87 % (1977)&lt;br /&gt;f.    3-4 juta anak SLP drop out/lari dari sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian maka pelaksanaan bimbingan dan konseling, apalagi konseling agama pada masyarakat Islam seperti di Indonesia, menuntut adanya pandangan kritis terhadap falsafah masyarakat barat dimana ilmu itu lahir dan berkembang, seraya menggali ajaran Islam dan tradisi masyarakat muslim berkaitan dengan pandangan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan Konseling merupakan olmu terapan yang pelaksanaanya bertujuan membimbing dan memperbaiki individu-individu dalam arti memperbaiki perilaku mereka serta membantu menyesuaikan mereka terhadap dirinya, pekerjaannya, pendidikannya, rumah tangga dan keluarganya, sampai individu-individu itu merasa wajar, mereasa berharga dan dapat mengecap kebahagiaan idup sesuai dengan kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek bimbingan dan konseling menjadi lancar jika ada kesesuaian antara konselor dan klien. Menurut Dr. Abd. Isawi, yang dapat dilakukan oleh seorang konselor&lt;br /&gt;ahli, antara lain dapat membantu klien;&lt;br /&gt;1)    Memahami dirinya sendiri,&lt;br /&gt;2)    Mengukur kemampuannya,&lt;br /&gt;3)    Mengetahui kesiapan dan kecenderungannya,&lt;br /&gt;4)    Memperjelas, orientasi, motivasi dan aspirasinya,&lt;br /&gt;5)    Mengetahui kesulitan dan problem lingkungan dimana ia hidup, serta peluang yang terbuka baginya,&lt;br /&gt;6)    Membantu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menempatkan tujuan yang paling kongkrit bagi dirinya,&lt;br /&gt;7)    Mendorong klien untuk berani mengambil keputusan yang sesuai dengan kemampuanya, dan memanfaatkan seoptimal mungkin potensi yang ada pada dirinya untuk merebut peluang yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi klien yang berasal dari lapisan orang kebanyakan, konseling dibutuhkan untuk;&lt;br /&gt;1.    Membantu pengembangan diri dan memilih gaya hidup (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;life style&lt;/span&gt;) yang sesuai dengan aspirasinya.&lt;br /&gt;2.    Menjaga agar mereka tidak terjatuh lagi pada problem psikologi yang membuat merek “kurang wajar” dan tidak bahagia dalam hidup, dan&lt;br /&gt;3.    Membantu mengatasi kesulitan dalam mengambil keputusan menyangkut pilihan belajar atau bekerja, dan&lt;br /&gt;4.    Membantu meringankan perasaan tertekan, frustasi dan sebangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pekerjaan konseling itu menyentuh hal-hal yang peka, maka hubungan antara konselor dank lien harus atas dasar suka sama suka, saling mempercayai dan tanpa ada perasaan terpaksa.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-8985870451632710652?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/8985870451632710652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=8985870451632710652' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8985870451632710652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8985870451632710652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/konseling-agama.html' title='Konseling Agama'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-a7Sze87axDk/TeXQOQ9wIMI/AAAAAAAABmg/iB76jVHsMaA/s72-c/konseling.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-3059242698295700170</id><published>2011-05-24T00:40:00.000-07:00</published><updated>2011-05-24T01:03:18.074-07:00</updated><title type='text'>Jenis-jenis Gangguan Jiwa (6)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gangguan Kejiwaaan dari Akhlak yang Rendah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif P&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-HyR-P-ZMd94/TdthFP6QOZI/AAAAAAAABmY/P1II8MSALio/s1600/iri.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 179px; height: 131px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-HyR-P-ZMd94/TdthFP6QOZI/AAAAAAAABmY/P1II8MSALio/s200/iri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5610184503618189714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;sikologi Islami, gangguan kejiwaan tidak hanya bersumber dari gangguan psikis (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;neurose&lt;/span&gt;) seperti tersebut diatas, tetapi juga bisa bersumber dari kualitas akhlak seseorang yang rendah. Akhlak, menurut al Ghazali adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu dilakukan dengan mudah tanpa dipikirkan untung ruginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang akhlaknya baik adalah orang yang melakukan kebaikan tanpa memikirkan resiko atau keuntungan dari kebaikan itu. Baginya melakukan kebaikan adalah satu keniscayaan yang tidak perlu diperdebatkan. Sebaliknya orang yang akhlaknya rendah adalah orang yang ketika melakukan perbuatan buruk tidak lagi berfikir tentang akibat-akibat yang akan ditanggung olehnya maupun oleh orang lain yang menjadi korban. Baginya berbuat sudah seperti air yang mengalir dari metinggian ke dataran yang lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhlak seseorang, dipengaruhi oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan, tetapi lebih banyak dibentuk oleh perjalanan hidup seseorang. Anak keluarga baik-baik, jika dalam kurun waktu lama hidup adalam lingkungan kejahatan, sifat jahat dapat tertanam dalam dirinya. Sebaliknya anak orang jahat jika dididik dalam lingkungan yang baik juga dapat memiliki akhlak yang baik. Akhlak berhubungan dengan sifat yang telah menetap dalam diri seseorang, oleh karena itu mengubah akhlak sama sulitnya dengan mengubah sikap. Namun demikian baik sikap dan akhlak dapat diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang akhlaknya baik, apalagi yang tinggi, dapat dipastikan ia memiliki tingkat kesehatan mental yang tinggi, sebaliknya orang yang akhlaknya rendah cenderung mudah terkena gangguan kejiwaan karena jalan fikiran yang tidak lurus dan cara hidup yang menyalahi kelaziman masyarakat akan selalu menimbulkan konflik-konflik interest yang pada gilirannya akan melahirkan konflik batin.&lt;br /&gt;Pada tahap pertengahan seseorang berakhlak rendah masih bisa menikmati selera rendahnya, tetapi pada tahap dimana perbuatan buruk dan jahat telah saling tumpang tindih, maka ia bagaikan orang yang terkena komplikasi dari berbagai penyakit. Memori manusia jika digunakan untuk merekam informasi kejujuran dan kebenaran, maka ia bagaikan gudang yang tersusun rapi, meskipun dipenuhi dengan isi yang banyak, tetapi karena tertata rapih maka gudang itu terasa tetap longgar. Sedangkan jika digunakan untuk merekam kejahatan dan keburukan, maka ibarat gudang yang barang-barangnya tidak tersusun rapih, isinya belum banyak tetapi terasa penuh dan sesak menyesakkan. Memori manusia, sebagaimana juga memori computer, jika digunakan untuk menampung hal-hal (kejahatan) yang bertentangan dengan sistemnya (yang logis), maka perekaman itu dapat menyebabkan “hang” yang mengacaukan sistem berfikir dan system merasa. Seseorang tidak bisa berfikir jujur dan curang sekaligus, Tuhan tidak menjadikan pada seseorang dua hati sekaligus dalam dadanya (Q/33:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Riya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Riya adalah melakukan suatu perbuatan dengan tujuan untuk dipamerkan kepada orang lain, bukan untuk niat ikhlas. Riya termasuk perbuatan menipu, yaitu menipu orang dengan memperlihatkan suatu perbuatan yang berbeda dengan hakekat perbuatan itu sendiri.&lt;br /&gt;Dalam istilah psikologi, orang riya itulah yang disebut oleh psikolog Humanis Rollo May sebagai manusia bertopeng, yaitu orang yang selalu menyembunyikan wajah kepribadiannya dengan topeng-topeng kepalsuan. Orang yang mengidap penyakit riya selalu berusaha melakukan apa-apa yang orang lain (tuntutan sosial) menyuruhnya untuk melakukannya. Ia selalu berusaha melakukan kehendak orang lain sampai lupa kehendak sendiri. Ia selalu menggunakan topeng kepalsuan sampai ia lupa wajah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengidap penyakit riya tidak memiliki rasa keindahan dan kebenaran. Ketika ia sedang menggunakan topeng kepalsuan ia memperoleh kesenangan sekejap, tetapi sekembalinya ke rumah, kembali kepada dirinya yang asli, ia merasa kesepian, hambar, lelah serta gelisah. Pada akhirnya ia akan mengidap perasaan bosan, bosan kepada kepura-puraan, tetapi ia tidak tahu ia harus berbuat apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Dengki atau hasad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengertian dengki atau hasad adalah mengharap hilangnya kesenangan orang lain untu bisa berpindah kepada dirinya. Hasad adalah perasaan iri terhadap keberuntungan yang dimiliki oleh orang lain disertai keinginan untuk menghilangkan kesenangan itu dan memindahkan kepada dirinya. Sedangkan jika iri hanya kepada hal yang semisal dengan keberuntungan yang dimiliki orang lain, maka hal itu tidak termasuk dengki, karena dalam hal itu mereka masih diberi peluang untuk berpacu, berlomba-lomba dalam kebaikan (Q/2:148). Nabi mengibaratkan sifat dengki itu sebagai sifat yang merusak seperti api membakar kayu bakar, dan seperti gunting yang mencukur amal dan sebagai penyakit ummat. Orang yang pendengki sering merasa tersiksa karena ia sakit hati jika orang lain memperoleh kesenangan, dan ia baru senang jika orang lain terkena bencana (Q/3:120). Perasaan iri negatif ini disebabkan oleh rasa permusuhan dan kebencian (Q/43:31) dan kagum diri (Q/ 26:183).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengki dan iri itu hanya timbul dalam bidang yang sempit, persaingan bidang harta dan pangkat (duniawi), karena semua orang ingin menjadi satu-satunya yang terhebat, padahal ruang utnu menjadi satu-satunya itu sempit sehingga orang yang dengki itu saling bermusuhan dan saling menjatuhkan. Akan tetapi jika orang berdaing dalam bidang keutamaan ukhrawi, misalnya berlomba menjadi orang yang dekat dengan Tuhan dengan cara melakukan amal saleh, maka diantara mereka tidak akan terjadi iri dan dengki,  karena rahmat Allah luas tak terbatas, meski peminatnya banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Rakus dan tamak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rakus bersumber dari syahwat. Manusia memiliki keinginan tak terbatas untuk memiliki, dan menguasai hal-hal yang memuaskan nafsunya. Seberapa banyakpun manusia diberi, ia tidak pernah puas, kecuali jika dibentengi dengan motif-motif positip. Rakus juga berhubungan dengan pandangan hidup, yakni bahwa hidup ini untuk apa, dan apa fungsi harta dan jabatan/ kekuasaan dalam hidup ini. Orang yang memandang bahwa hidup ini sebagai tempat bersenang-senang seperti pandangan hidup orang kafir (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;wa al kafiru yatamatta’u&lt;/span&gt;), maka ia berusaha menumpuk semua hal yang dapat memuaskan kesenangannya. Tetapi bagi orang mukmin yang memandang hidup ini bagakan orang kerja di lading untuk panen di akirat, dan harta dipandangnya sebagai alat untuk mencapai kebajikan, maka ia hanya mengambil seperlunya fasilitas hidup yang dibutuhkan untuk mengelola lading (perjuangan), karena baginya, harta dan jabatan tak lebih hanya alat perjuangan, bukan tujuan hidup. Rasulullah pernah mengatakan bahwa orang rakus itu baru berhenti dari kerakusannya jika mulutnya telah dipenuhi tanah (dikubur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Takabbur atau Sombong dan Kagum Diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Takabbur adalah perasaan seseorang bahwa dirinya lebih besar seraya memandang orang lain kecil. Kesombongan bisa ditunjukan kepada sesame manusia dan yang paling buruk jika sombong kepada Tuhan. Orang takabbur bukan hanya merasa dirinya lebih besar tetapi juga menghina orang lain yang dianggap kecil. Manusia terkadang menyombongkan kekuatan fisiknya, terkadang menyombongkan jumlah kekayaannya atau ketinggian pangkatnya, bisa juga kebesaran jumlah golonganya atau keunggulan intelektualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesombongan bersumber dari ketidak tahuan seseorang atas dirinya (tidak tahu diri), karena sesungguhnya diatas orang pintar pasti ada yang lebih pintar, diatas orang kaya pasti ada yang lebih kaya, diatas orang kuat, pasti ada yang lebih kuat, dan diatas makhluk ada Khalik yang Maha Kaya, Maha Kuat, Maha Mengetahui dan Maha segala Maha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh sifat takabbur ini adalah karena orang takabbur itu selalu merasa tersiksa jika ada orang lain yang berpeluang mengunggulinya. Ia selalu merasa terancam oleh perubahan dan perkembangan, ia tidak tahu akhirnya kesombongan itu akan tersungkur secara alami. Ia asyik mengagumi dirinya, padahal perubahan merupakan sunatullah yang tidak bisa dihindarkan. Kata Rasulullah, barang siapa rendah hati, Allah akan mengangkat derajatnya, dan barang siapa takabbur, maka Allah akan menjatuhkannya. Perilaku orang sombong dalam pergaulan sosial biasanya menjilat kepada orang yang dipandangnya lebih besar dan menginjak orang yang dipandangnya lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berani kepada orang lemah, tetapi ia takut kepada orang yang ia ketahui betul tidak mampu menghadapinya. Secara psikologis, kesombongan sebenarnya merupakan usaha untuk menutupi kepengecutan seseorang. Orang sombong tidak bisa menghargai sifat rendah hati orang lain. Oleh karena itu orang yang sombong perlu disombongi. Ada ungkapan yang berbunyi :”secara sadar bertingkah laku sombong kepada orang yang memang sombong adalah bernilai sedekah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Al Wahm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyakit al wahm kata Rasulullah adalah cinta berlebihan kepada harta dan takut mati. Cinta memiliki dua sisi, yaitu kebahagiaan dan kesengsaraan. Cinta yang terbalas melahirkan kebahagiaan, dan cinta yang tertolak melahirkan penderitaan. Orang yang cinta kepada harta benda tetapi keinginan menjadi orang kaya tak pernah terkabul maka ia merasa menderita seperti penderitaan orang yang ditolak cintanya. Beitu juga jika orang kehilangan harta yang ia cintai, ia akan menderita seperti penderitaan orang yang ditolak cintanya. Begitu juga jika orang yang kehilangan harta yang ia cintai, seperti derita orang yang ditinggal kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hadist nabi tentang watak harta sebagai sahabat dan kekasih.&lt;br /&gt;Hadist tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut :bahwa setiap manusia memiliki tiga kelompok sahabat, yaitu harta, keluarga, dan amal. Harta adalah tipe sahabat yang paling curang, karena ia hanya memberikan cintanya kepada pemiliknya hanya jika ia sedang sehat dan senang. Jika seseorang sedang sakit parah, maka makanan enak tidak terasa enak, kasur empuk tidak terasa nikmat, dan bahkan uang banyak tak membantu meringankan rasa sakitnya. Apalagi jika masuk kubur, maka hanya kain kafan yang mau menyertainya. Oleh karena itu cinta kepada harta harus siap dikhianati teruatama ketika dalam keadaan sakit parah dan setelah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan cinta kepada keluarga, mereka masih bisa merawat ketika sakit dan mengantarnya ke liang kubur jika mati, tetapi untuk tinggal bersamanya di dalam kubur tak seorangpun keluarga yang dicintainya bersedia. Hanya amal salehlah yang setia mendampinginya sampai pengadilan akhirat nanti. Barang siapa cinta kepada amal, maka ia memperoleh balasan cinta yang lebih memadai, cinta kepada keluarga masih terbalas meski terbatas, sedangkan cinta harta tak ubahnya mencintai kekasih yang curang, satu hubungan cinta yang sarat dengan potensi penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan takut mati juga menimbulkan gangguan kejiwaan, meski seseorang tahu bahwa semua manusia pasti mati. Derita orang takut mati adalah dalam membayangkan kematian dan bayangan berpisah dengan yang selama ini menemaninya. Orang yang takut mati, setiap kali ia melihat ancaman kematian, dari manapun datangnya, ia merasa tertekan dan takut. Penyakit al wahm biasanya juga disertai oleh penyakit kikir atau bakhil.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-3059242698295700170?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/3059242698295700170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=3059242698295700170' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3059242698295700170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3059242698295700170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/jenis-jenis-gangguan-jiwa-6.html' title='Jenis-jenis Gangguan Jiwa (6)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-HyR-P-ZMd94/TdthFP6QOZI/AAAAAAAABmY/P1II8MSALio/s72-c/iri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-5429744850180449870</id><published>2011-05-23T00:02:00.000-07:00</published><updated>2011-05-23T00:19:48.171-07:00</updated><title type='text'>Jenis-jenis Gangguan Jiwa (5)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perilaku Seks Menyimpang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perilaku seks m&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-qrTd2WSF5CI/TdoIQcvJbNI/AAAAAAAABmI/uotBs1HW-Rk/s1600/tafakur.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 187px; height: 158px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-qrTd2WSF5CI/TdoIQcvJbNI/AAAAAAAABmI/uotBs1HW-Rk/s200/tafakur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609805364528245970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;enyimpang sudah dikenal sejak zaman purba. Kitab Taurat menyebut apa yang dikenal dengan Sodom dan Gomorah. Al Qur’an juga, menyebut penyimpangan seksual yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth. Peristiwa pembunuhan sadis atas 12 anak di Jakarta yang dilakukan oleh Robot Gedeg (sudah divonis mati), ternyata juga berhubungan dengan perilaku seks menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk dari gangguan jiwa berupa perilaku seks menyimpang adalah perilaku seksual yang dilakukan secara tidak lazim, baik teknisnya maupun pasangannya. Perilaku seksual menyimpang yang paling sederhana adalah onani, sedangkan yang paling berat adalah perilaku seks sadis.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Onani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Onani adalah kegiatan seksual yang dilakukan tanpa pasangan. Pada kaum wanita, praktek ini disebut masturbasi. Onani bisa merupakan gejala gangguan jiwa, tetapi juga bisa merupakan hal yang wajar. Onani sudah menjadi gejala gangguan jiwa manakala pelakunya merasa terus menerus ketagihan, tetapi bersamaan dengan itu ia juga dibayangi rasa bersalah. Di satu sisi ia merasa takut, tetapi di sisi lain ia terus menerus melakukannya. Dari konflik batin itu maka lahir perasaan gelisah, susah tidur, mudah tersinggung, cepat marah, merasa rendah diri dan cepat curiga kepada pembicaraan orang lain. Praktek onani biasanya mulai dilakukan sejak remaja, boleh jadi dirangsang oleh buku-buku bacaan porno, film, atau karena patah hati. Kebiasaan onani bisa berlangsung sebentar tetapi bias juga berlangsung puluhan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Homo Seksual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perilaku menyimpang yang sudah dimulai membahayakan adalah homo seksual. Yakni hubungan seksual antar sejenis (laki-laki) dan untuk wanita disebut lesbian. Hubungan sejenis ini bisa dilandasi cinta sejenis, bisa juga tidak. Keinginan untuk melakukan hubungan sejenis ini biasanya timbul pada orang-orang yang lama hidup terpisah dari jenis lain, atau karena sehari-harinya hanya bergaul dengan teman sejenis, seperti penghuni penjara,asrama atau bahkan pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pecandu praktek hubungan sejenis biasanya timbul rasa benci kepada orang lain yang mempunyai pasangan mesra dari jenis lain. Pasangan sejenis yang sudah terikat perasaan cinta biasanya mudah dibakar cemburu, dan kecemburuan itu justeru lebih berbahaya karena dapat mendorong perilaku sadis, baik kepada pasangannya maupun kepada rivalnya. Gangguan jiwa ini menyebabkan penderita tidak pandai bergaul, gelisah, merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa seakan semua orang telah mengetahui ketidak normalan seksnya. Penderita gangguan jiwa ini sering mengalami konflik batin, antara ingin kembali normal, tetapi tidak sanggup melawan ketagihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Hubungan Seksual Sadis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melalui media informasi, banyak diketahui tentang peristiwa sadis dalam hubungan seksual, ada yang pasangannya dibunuh, ada yang hanya disiksa saja dan ada yang disekap dalam kamar berhari-hari tanpa diberi makan, satu perilaku yang rasanya tidak masuk akal, tetapi benar-benar terjadi. Seks sadis bisa berhubungan dengan cinta, bisa juga tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, ada orang yang terpuasi kehidupan seksnya jika ia menyakiti atau membunuh pasangan seksnya. Ada yang cukup terpuasi jika membuat pasangannya kelelahan, ada yang baru puas kalau melukai dan ada yang baru puas jika telah membunuh orang yang baru disetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya praktek penyimpangan seksual sangat banyak bentuknya, ada yang disebut anal seks (melalui dubur) oral seks (dengan mulut), memperkosa secara rame-rame dan sodomi (dengan binatang). Penyimpangan-penyimpangan perilaku seksual ini bisa berhubungan dengan ruwetnya persoalan hidup, bias juga tidak, tetapi bimbingan hidup sehat kepada anak-anak muda teruatama dalam keluarga dapat mengurangi perluang-peluang penyimpangan seksual.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-5429744850180449870?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/5429744850180449870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=5429744850180449870' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5429744850180449870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5429744850180449870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/jenis-jenis-gangguan-jiwa-5.html' title='Jenis-jenis Gangguan Jiwa (5)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-qrTd2WSF5CI/TdoIQcvJbNI/AAAAAAAABmI/uotBs1HW-Rk/s72-c/tafakur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-6388293221514840959</id><published>2011-05-19T19:59:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T21:13:59.965-07:00</updated><title type='text'>Jenis-jenis Gangguan Jiwa (4)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tabawwul dan Psikopat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tabawwul&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-K4UItFGgiBY/TdXZ0Xc9tkI/AAAAAAAABmA/ZvxJ83STZqQ/s1600/psikopat%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 184px; height: 158px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-K4UItFGgiBY/TdXZ0Xc9tkI/AAAAAAAABmA/ZvxJ83STZqQ/s200/psikopat%2B1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608628404631746114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika anak kecil ngompol (buang air kecil ketika tidur) maka orang tua akan memakluminya karena hal itu umum berlaku, tetapi jika umur 10-11 tahun masih juga ngompol, maka ia diduga terkena gangguan jiwa. Psikologi anak yang usia 10 tahunan masih ngompol biasanya berhubungan dengan perasaan tertekan dan ketidak puasan, misalnya pada anak yang kurang diperhatikan dibanding kakak-kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang harus ingat bahwa memuji secara terang-terangan secara terus menerus kepada salah satu anaknya sementara yang lain justeru dibodoh-bodohkan secara tidak sadar telah menjerumuskan anaknya pada problem kejiwaaan. Ngompol merupakan bentuk keinginan untuk diperhatikan oleh orang tuanya, oleh anak yang merasa kecewa tetapi tidak bisa mengemukakan kekecewaan dan keinginannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepribadian Psikopat (Psychopath)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diantara gangguan jiwa paling berat adalah psychopath. Psychopath adalah satu tipe kepribadian dimana seseorang tidak bisa menyesuaikan diri, dan ketidak sanggupan menyesuaikan diri itu seperti kronis dan mendalam. Ciri-ciri menonjol dari orang yang mengidap kepribadian psikopat adalah tidak pernah merasa bersalah, karena setiap kesalahan yang dilakukan selalu ditimpakan kepada orang lain. Setiap kegagalan atau kekeliruan yang dilakukan selalu disebutnya gara-gara si A saya jadi begini. Semua perasaan tidak puas, konflik batin, tekanan perasaan dan sebagainya tidak dapat ditahan atau diobatasi secara wajar, tetapi diungkapkannya dalam bentuk kelakuan yang menyebabkan orang lain terganggu. Kata-kata kotor dan caci maci mudah sekali dari mulutnya, dan tindak-tanduknya selalu mengusik ketenangan orang lain. Ia bersifat agresif dan tidak peduli kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri dari orang yang berkepribadian psikopat antara lain :&lt;br /&gt;a)    Tidak bisa diberi tanggung jawab,&lt;br /&gt;b)    Tidak bisa diberi kepercayaan karena tidak jujur,&lt;br /&gt;c)    Kurang mempunyai rasa malu,&lt;br /&gt;d)    Kelakuannya anti sosial,&lt;br /&gt;e)    Kurang mempunyai pertimbangan dan tidak mempunyai rasa kasih sayang, termasuk kepada orang tua dan kakak-adik,&lt;br /&gt;f)    Karena ia sangat egois, maka hubungannya dengan orang lain tidak hangat,&lt;br /&gt;g)    Ia juga tidak dapat mengikuti suatu rencana dalam hidupnya,&lt;br /&gt;h)    Seleranya cenderung konsumtip secara utopis (mimpi yang muluk-muluk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala psikopat biasanya mulai tumbuh pada usia puber (13-21 tahun) dan berlangsung seumur hidup. Jika anak itu berasal dari keluarga islam taat, maka salatpun tidak ia jalankan kecuali jika disuruh. Ia tidak bisa tinggal sekamar dengan kakak atau adik atau pamannya karena ia merasa terganggu oleh keberadaan orang lain. Membaca buku atau membaca al Qur’an juga paling banyak hanya bertahan membaca secara terus-menerus setengah atau satu halaman. Disiplin hidupnya hanya pada hal-hal yang sifatnya hiburan, misalnya nonton televisi, dan pada makanan kesukaannya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-6388293221514840959?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/6388293221514840959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=6388293221514840959' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/6388293221514840959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/6388293221514840959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/jenis-jenis-gangguan-jiwa_19.html' title='Jenis-jenis Gangguan Jiwa (4)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-K4UItFGgiBY/TdXZ0Xc9tkI/AAAAAAAABmA/ZvxJ83STZqQ/s72-c/psikopat%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-1658724152538305340</id><published>2011-05-18T21:37:00.000-07:00</published><updated>2011-05-18T21:58:25.500-07:00</updated><title type='text'>Jenis-jenis Gangguan Jiwa (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Psychastenia dan Gagap Bicara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan jenis &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-221DQxMLCuM/TdSep38Y4UI/AAAAAAAABl4/5DvE1mcs5P4/s1600/phobia.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 184px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-221DQxMLCuM/TdSep38Y4UI/AAAAAAAABl4/5DvE1mcs5P4/s200/phobia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608281878212174146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ini adalah salah satu keadaan dimana integritas seseorang tidak sempurna sehingga ia tidak memiliki rasa percaya diri untuk memutuskan sesuatu, oleh karena itu segala yang harus dilakukan terasa sebagai suatu paksaan. Setiap saat penderita gangguan ini merasa selalu dipaksa dan takut dipaksa. Gejala dari penyakit ini antara lain  rasa takut yang tidak masuk akala (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;phobia&lt;/span&gt;), fikiran yang tidak bisa dihindarkan (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;obsesi&lt;/span&gt;), dan merasa dipaksa mengerjakan sesuatu (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kompulsi&lt;/span&gt;).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Phobia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Phobia adalah perasaan takut yang tidak beralasan, artinya apa yang ditakuti itu sebenarnya tidak mempunyai potensi menakutkan atau membahayakan apa-apa, dan oleh karena itu orang lain biasanya menertawakan rasa takutnya itu, dan tertawaan orang itu malah menambahnya menjadi semakin cemas. Bermacam-macam hal ditakuti oleh penderita phobia, ada yang takut kepada gambar ulat, takut kepada ketinggian, takut kepada gelap, takut kepada ruangan yang luas dan takut kepada benda yang besar.&lt;br /&gt;Pengidap phobia terhadap benda besar misalnya, ketika ia sedang memandang gedung tinggi, tiba-tiba terbayang gedung yang tinggi itu berkepala, matanya melotot dan mulutnya terbuka mau menerkam, dan ketika perasaan itu tiba, ia merinding dan mengkirig ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Obsesi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Obsesi adalah sejenis gangguan jiwa dimana seseorang dikuasai oleh suatu pikiran yang tidak bisa dihindarinya. Setiap saat apa yang dipikirkan itu selalu ada dalam fikirannya sehingga ia sulit untuk memikirkan hal lain yang justeru lebih perlu. Pikiran yang mengganggu itu bisa berupa perasaan sengsara, fikiran membunuh, fikiran ditinggal kekasih. Penderita yang mengidap obsesi sengsara, maka setiap melihat sesuatu rasanya akan mengantarkannya pada kesengsaraan. Jika naik mobil terbayang mau kecelakaan, jika melihat sungai besar terbayang mau tenggelam dan hanyut, jika mempunyai uang terbanyak mau dirampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan penderita obsesi mau membunuh, maka dalam pikiran berkecamuk perasaan ingin membunuh, jika berduaan dengan seseorang di tempat yang sepi, maka bayangannya ia sedang membunuh temannya itu tanpa ada yang mengetahui. Jika sedang naik kereta api misalnya, maka terbayang mendorong temannya hingga jatuh ke bawah dan mati, jika sedang di kolam renang maka terbayang ia mencekik orang di dalam air hingga mati. Adapun penderita obsesi ditinggal kekasih, maka jika kekasihnya pergi terbayang untuk tidak kembali, jika suaminya pergi naik motor, terbayang suaminya akan mengalami kecelakaan dan mati, jika sedang duduk berdua dengannya maka terbayang bahwa yang dipikiranya kekasihnya bukan dirinya tetapi orang lain yang akan diajak pergi meninggalkan dia.Penyebab obsesi pada umumnya adalah pengalaman pahit dimana dia tidak mampu menyesuaikan diri dengan realita.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kompulsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kompulsi adalah jenis gangguan jiwa dimana seseorang  merasa harus mengerjakan sesuatu, baik hal itu masuk akal atau tidak. Perasaan harus melakukan itu sangat membelenggu dirinya sehingga jika ia tiak melakukannya maka ia merasa sangat gelisah karena menyalahi apa yang menurut perasaannya harus dikerjakan. Kecemasan dan kegelisahan itu baru hilang jika ia telah mengerjakan hal tersebut. Gejala kompulsi bermacam-macam, misalnya ada :&lt;br /&gt;(1) orang yang merasa harus mengulang-ulang pekerjaan, padahal ia tahu pekerjaan itu telah sempurna (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;repenitive compulsive&lt;/span&gt;). Gejala kompulsi jenis ini bisa menimpa pada pegawai bank yang tugasnya menghitung uang. Meskipun ia tahu bahwa hitungannya sudah benar, tetapi ia gelisah jika tidak mengulangi hitungannya lagi. Gejala lain dari kompulsi adalah pada&lt;br /&gt;(2) keharusan urut-urutan pekerjaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;serial compulsive&lt;/span&gt;). Ada seseorang yang jika makan, piringnya harus ditengkurapkan dulu baru sendok garpu ditaroh, kemudian makan sop dulu baru makan nasi. Jika kebiasaan urutan itu tidak dilakukan maka ia merasa terganggu perasaannya. Ada juga kompulsi berupa ;&lt;br /&gt;(3) keharusan aturan-aturan tertentu (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;compulsive orderlinese&lt;/span&gt;), misalnya seseorang merasa terganggu jika susunan pakaian di lemari atau buku di raknya diubah, atau susunan meja dan kursi dipindah. Perubahan itu membuatnya gelisah, bukan karena menjadi kurang rapi tetapi karena dipaksa harus seperti itu.&lt;br /&gt;(4) ada kompulsi yang bersifat magic, yakni merasa harus membaca kata-kata tertentu (mantra atau doa). Jika mengerjakan sesuatu tanpa bacaan itu maka ia merasa gelisah dan merasa harus menguangi pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompulsi anti sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyakit jenis kompulsi yang paling buruk adalah kompulsi anti sosial (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anti Social Compulsive&lt;/span&gt;), yaitu penderita dihinggapi perasaan dipaksa melakukan hal-hal yang sifatnya anti sosial atau merugikan orang lain atau masyarakat.&lt;br /&gt;Gejala dari kompulsi anti sosial ada tiga macam :&lt;br /&gt;1)&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    Kleptomania&lt;/span&gt;, yaitu merasa dipaksa untuk mencuri, meskipun tidak memerlukan benda itu. Kasus tertangkap masahnya anggauta parlemen Indonesia mencuri sebuah celana dalam di sebuah supermarket inggris dapat diduga sebagai bentuk kleptomania.&lt;br /&gt;2)    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fetitisme&lt;/span&gt;, yaitu perasaan harus mencuri dan mengumpulkan benda-benda tertentu sebagai sesuatu yang mempunyai nilai seksual atau kesaktian, misalnya mencuri celana dalam wanita untuk kemudian disimpan secara rapi di lemari atau di kopernya. Dan ia merasa menikmati perasaan tertentu dengan simpanannya itu.&lt;br /&gt;3)    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompulsi&lt;/span&gt;, yang berhubungan dengan seksual, misalnya senang mengintip aurat orang lain, atau senang memamerkan kemaluannya kepada oran lain, dan ia memperoleh kenikmatan dengan perilakunya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Gagap Bicara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gangguan jiwa jenis ini biasanya menimpa anak-anak. Anak-anak pengidap gangguan ini bicara gagap, terputus-putus, tertahan nafas dan diulang-ulang. Ia kelihatan sangat berat untuk mengucapkan kata-kata. Gagap bicara bisa juga berhubungan dengan gangguan fisik seperti tenggorokan, amandel, tetapi jika fisiknya ternyata sehat maka gagap bicara itu berhubungan dengan kejiwaan. Anak yang dimanjakan di rumah tetapi kemudian kehilangan tempat bermanja di sekolah, sementara keluarga di rumah tidak menyadari hal itu, dapat menimbulkan gangguan jenis ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-1658724152538305340?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/1658724152538305340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=1658724152538305340' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/1658724152538305340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/1658724152538305340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/jenis-jenis-gangguan-jiwa-3.html' title='Jenis-jenis Gangguan Jiwa (3)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-221DQxMLCuM/TdSep38Y4UI/AAAAAAAABl4/5DvE1mcs5P4/s72-c/phobia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-444214256889272505</id><published>2011-05-17T22:01:00.000-07:00</published><updated>2011-05-17T22:16:04.116-07:00</updated><title type='text'>Jenis-jenis Gangguan Jiwa (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hysteria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara sepint&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-JQBGiATTTs8/TdNTURuk4JI/AAAAAAAABlo/sVvN02MMzDw/s1600/histeria.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 143px; height: 159px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-JQBGiATTTs8/TdNTURuk4JI/AAAAAAAABlo/sVvN02MMzDw/s200/histeria.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5607917568827646098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;as, hysteria pada tingkatan tertentu mirip dengan orang yang terkena epilepsi atau penyakit ayan, tetapi sebenarnya sangat berbeda. Penanganan epilepsi dilakukan oleh dokter, sedangkan hysteria diatasi dengan terapi psikologis. Gejala-gejala hysteria ada yang berhubungan dengan fisik dan ada pula yang berhubungan dengan mental. Secara umum hysteria disebabkan karena adanya problem psikologi, yaitu merasa tidak mampu menghadapi kesulitan yang disebabkan karena konflik batin, sulit mengambil keputusan dalam situasi “maju kena mundur kena”, sehingga orang itu merasa tertekan, gelisah dan cemas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ia lemah tidak mampu mengambil keputusan, padahal di satu pihak ia harus mengambil keputusan maka terjadilah proses psikologi dimana beberapa fungsi fisik atau mental tidak bekerja, sehingga sepertinya orang itu merasa tertolong, yakni terbebas dari keharusan melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu karena terhalang oleh tidak berfungsinya anggauta fisik atau mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang sehat mental, kesukaran itu merupakan tantangan dan dengan semangat ia berusaha menaklukannya. Jika kesulitannya bersifat norma atau etika, maka ia akan berusaha membuat rumusan baru yang logis dan etis untuk membenarkan langkah yang akan diambil, sehingga hatinya terbebas dari rasa bersalah atau rasa serba salah. Akan tetapi bagi orang yang lemah mental, ia tidak memandang kesukaran secara wajar, sebaliknya ia justeru ingin lari dari tanggung jawab, dan akhirnya tanpa disadari ia terkena gejala-gejala hysteria yang tidak wajar.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk hysteria antara lain:&lt;br /&gt;a) Tiba-tiba lumpuh, disebut Lumpuh Histeria,&lt;br /&gt;b) Tiba-tiba kram, disebut Cram Histeria,&lt;br /&gt;c) Tiba-tiba kejang, disebut Kejang Histeria,&lt;br /&gt;d) Tia-tiba bisu, tidak bisa bicara, disebut Mutisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lumpuh Histeria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gejala lumpuh hysteria biasanya berupa lumpuh salah satu anggauta badannya, bias kaki saja, tangan saja atau jari saja. Kelumpuhan itu merupakan puncak dari ketidakmampuan mengambil keputusan, karena ia tidak ingin melakukan sesuatu tetapi ia juga tidak bias menolak untuk tidak mengerjakan sesuatu. Seorang seniman yang halus jiwanya dan ia sangat mencintai kehidupan manusia, tiba-tiba dalam kecamuk perang saudara ia harus mengangkat senjata. Dalam peperangan ia bertemu dengan musuh dimana ia mempunyai peluang untuk menembaknya, tetapi ia mengenal orang yang akan ditembak itu yaitu temannya sesame seniman yang sebelum perang merupakan teman akrab dan saling setia. Secara psikologis ia tidak mampu membunuh teman, tetapi jika ia tidak menembak, rekan-rekan prajurit dari pihaknya akan terkena tembakan. Posisinya sama dengan ungkapan “maju kena mundur kena”, atau “makan buah simalakama”. Dari ketidak mampuan mengambil keputusan itu tiba-tiba jarinya lumpuh sehingga ia tidak mampu menarik pelatuk senjata. Nah dengan kelumpuhan itu ia merasa tertolong, yakni bias bersembunyi dibalik kelumpuhannya itu buntuk tidak menembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ini juga bisa menimpa seorang gadis yang tidak mampu memutuskan untuk ikut kekasihnya kawin tanpa direstui, atau menuruti kemauan orang tua untuk menikah dengan pria yang tidak ia cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cram Histeria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab keram hysteria hampir sama dengan lumpuh hysteria, yaitu rasa tertekan atau bosan dalam mengerjakan sesuatu karena merasa pekerjaannya tidak akan membawa hasil. Seorang penulis jika terkena gangguan jenis ini biasanya cram pada jarinya, atau seorang pemain biola cram pada tangannya, pokoknya cram pada bagian-bagian dimana pekerjaan yang membosankan itu harus dikerjakan dengan anggauta badan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kejang Histeria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gejala kejang hysteria mirip dengan epilepsi atau penyakit ayan, yakni tiba-tiba jatuh, atau pingsan dan setelah siuman Nampak kebingungan. Kejang hysteria bukan termasuk penyakit fisik, tetapi merupakan puncak emosi kesedihan dan kekecewaan yang datang seketika, ketika mengingat penderitaan yang pernah dialami. Gangguan ini bisa datang di tengah-tengah pesta, di lapangan ketika sedang upacara bendera atau di tempat lain yang mengingatkan penderita pada pengalaman sedihnya.Gangguan jiwa seperti ini tidak memerlukan pengobatan khusus, bahkan sebaiknya dibiarkan saja, pura-pura tidak tahu, karena setelah sembuh ia akan kembali normal seperti sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mutisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mutisme adalah gangguan jiwa berupa tiba-tiba tidak bisa berbicara. Ada dua macam mutisme, yaitu tidak bisa bicara secara keras, dan yang kedua tidak bias berbicara sama sekali, mutisme bukan disebabkan oleh keruksakan alat percakapan seperti pita suara atau tenggorokan, tetapi biasanya akibat dari tekanan perasaan, kecemasan, putus asa, merasa hina, gagal, dan sebagainya, yang disebabkan karena merasa tidak berdaya, yakni tidak menyukai apa yang dilihat atau apa yang menimpa, tetapi ia tidak sanggup melawan sama sekali. Seorang gadis kecil yang melihat ibunya diperkosa dan dibunuh dengan sadis bersama ayahnya oleh perampok di depan matanya, biasa terancam mutisme.&lt;br /&gt;Demikian juga orang kecil yang merasa tinggal di rumahnya sendiri sejak lahir, tetapi dikalahkan oleh pikah lain dalam sengketa yang tidak ia fahami dan kemudian ia digusur oleh regu kamtib, nah orang kecil yang tidak faham dengan apa yang terjadi tetapi ia tidak sanggup melawan juga dapat terkena mutisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyembuhan mutisme biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Mutisme disebabkan melihat kejadian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadism&lt;/span&gt; terkadang justeru sembuh ketika secara tidak sengaja melihat peristiwa kejam lain yang mengingatkan pengalaman mengerikan msa kecilnya.&lt;br /&gt;Gangguan Histeria dalam bentuk lain&lt;br /&gt;Disamping empat macam gangguan diatas, ada juga gangguan mental dalam bentuk lain, yaitu hilang ingatan (Amnesia), kepribadian kembar, Mengelana secara tidak sadar dan jalan-jalan di waktu tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amnesia&lt;/span&gt;. Pernah terjadi seorang muballigh mengidap penyakit aneh, yaitu lupa kepada banyak hal, dan bahkan lupa kepada bacaan salat. Banyak orang tidak percaya, tetapi hal itu benar-benar terjadi. Penyebab dari hilangnya ingatan dari muballigh itu tidak terungkap, tetapi dua bulan kemudian ia sembuh. Penyakit serupa juga pernah menimpa seorang ilmuan, professor, doktor dan penulis dari sejumlah buku-buku ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis terkenal itu kembali seperti orang bodoh yang buta huruf, seperti komputer yang dicabut memorinya. Hilang ingatan semacam ini bukan sakit ingatan atau gila, tetapi hilangnya ingatan yang disebabkan oleh peristiwa mengerikan yang ia tidak sanggup membayangkannya, atau dari rasa bersalah yang ia tidak sanggup membayangkan akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kasus muballigh, kasus ilmuan yang hilang ingatan hampir selama lima bulan itu dapat diketahui  sebab-sebabnya. Menurut pengakuan setelah ia sembuh, suatu hari terjadi kebakaran disebelah rumahnya. Sang professor ketika melihat api menjilat-jilat rumah sebelah langsung membayangkan bahwa sebentar lagi rumahnya yang sekaligus perpustakan pribadi dimana didalamnya terdapat segala macam naskah yang berhubungan dengan keahliannya pasti segera akan musnah terbakar, karena ia merasa tidak ada waktu lagi untuk menyelamatkannya. Itulah ingatan terakhir dari sang professor. Kebakaran rupanya dapat dipadamkan (karena segera datang pemadam kebakaran), dan rumah professor dengan seluruh perpustakan selamat tanpa terjilat api sedikitpun, tetapi sang professor yang begitu cinta kepada buku dan tidak sanggup membayangkan kehilangan naskah dari khazanah keilmuannya ternyata terlanjur terganggu system memorinya hingga kemudian tak berfungsi. Berangsur-angsur melalui tahap-tahap terapi, sang professor pulih kembali, dan setelah itu konon menjadi taat menjalankan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Double Personality&lt;/span&gt;.   Gangguan jenis ini, yakni kepribadian kembar adalah satu gejala dimana seseorang dapat melakukans esuatu yang sangat berbeda dari kepribadian yang diperlihatkan sehari-harinya, dan ia sendiri tidak menyadari apa yang telah dilakukannya itu.&lt;br /&gt;Contoh dari kasus seperti ini adalah sebagai berikut ; Seorang kyai menjumpai isterinya berpakaian ngetrend memasuki diskotik. Ia tidak percaya atas apa yang dilihatnya, maka ia pulang ke rumah dengan harapan bahwa ia salah lihat dan menjumpai isterinya di rumah. Di rumah, isterinya memang tidak ada. Setelah agak malam isterinya pulang dengan berpakaian rapih, berjilbab sebagaimana biasanya. Ketika ditegor bahwa ia terlihat masuk diskotik sang istri dengan polos dan menyatakan tidak masuk ke diskotik. Suaminya akhirnya yakin bahwa ia tadi salah lihat. Akan tetapi kejadian itu terulang empat bulan kemudian, dan kali ini sang suami ikut menyelinap masuk ke diskotik dan ia melihat dengan kepala sendiri isterinya sedanga ajojing. Dengan istighfar ia keluar dan pulang menunggu kepulangan isterinya. Setelah isterinya pulang ditegur dan bahkan dimarahi dengan keras, sang isteri kebingungan dan dengan wajah jujur mengatakan tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya karena ia merasa tidak pernah pergi ke diskotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pa kyai yang kebetulan mempunyai adik seorang psikolog kemudian meminta bantuan adiknya untuk mencari tahu ada apa sebenarnya dibalik kelakuan isterinya yang anggun dan alim itu. Dari hasil “investigasi” psikolog tersebut akhirnya diketahui bahwa isteri pa kyai itu terkena gangguan kepribadian kembar. Dari riwayat hidupnya dapat diketahui bahwa ketika remaja, wanita itu sebenarnya jago diskotik. Ketika orang tua memaksanya nikah dengan seorang kyai, sebenarnya ia nggak siap karena merasa memiliki hobi berat yang bertentangan dengan dunia santri, tetapi hati kecilnya merasa bangga akan menjadi isteri kyai. Setelah benar-benar menjadi isteri kyai, ia berpakaian muslimah secara rapih dan memang merasa senang menjadi isteri terhormat dan dihormati orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja kadang-kadang timbul kerinduannya untuk ajojing seperti ketika masih gadis. Setiap kali kerinduan itu muncul maka ia tekan habis-habisan karena ia merasa tidak pantas untuk melakukan hobinya itu. Nah rupanya  jalan keluar dari konflik batin itu muncul dalam bentuk kepribadian kembar, yakni ia terpenuhi kerinduannya kepada hobi lama, tetapi ia juga terpenuhi keharusannya menjaga kesopanan sebagai isteri seorang kyai karena ketika ia pergi ke diskotik, yang pergi bukan isteri pa kyai, tetapi kepribadian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengelana secara tidak sadar&lt;/span&gt;. Ketika musim haji, di Makkah sering kali ada orang yang hilang dari kelompoknya, ada yang tersesat, ada yang kebingungan arah, dan ada yang pergi tanpa tujuan. Demikian juga di kapal laut ada jamaah haji yang tanpa difahami oleh orang lain tiba-tiba meloncat terjun ke laut. Ketika siuman setelah diselamatkan, ia justeru bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya apa yang baru terjadi. Gejala ini disebut fugue.&lt;br /&gt;Jalan-jalan ketika sedang Tidur. Surat kabar pernah memberitakan kasus penganiyayaan seorang bapak terhadap anaknya. Si anak mengaku kepada polisi bahwa ia yang tidur dibalai-balai depan rumahnya tengah malam didatangi ayahnya yang langsung memukulinya dengan kayu hingga ia jatuh pingsan. Tetapi sang ayah yang tidurnya di ruang dalam kepada polisi juga menyatakan secara polos bahwa tidak mungkin ia menganiyaya anaknya seperti itu, apalagi anak itu adalah anak kesayangannya. Akan tetapi isterinya bersaksi bahwa antara sadar dan tidak ia secara samar-samar melihat suaminya keluar kamar, mendengar suara agak gaduh di luar, kemudian suaminya masuk kembali ke kamar dan terus tidur. Dalam kasus ini suami tidak bohong. Secara psikologis ia sedang dikuasai oleh sejumlah pikiran dan kenang-kenangan yang berhubungan satu sama lain. Satu sisi ia menyayangi anaknya, tapi di sisi lain ada hal yang ia tidak suka terhadap anaknya, tetapi tidak mungkin untuk mengeluarnkannya, karena takut menyinggung perasaan anaknya, maka konflik batin itu memperoleh jalan keluar melalui perbuatan yang dilakukan dalam tidurnya. Gejala ini disebut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;somnambulism&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian seperti itu bukan hal yang mustahil, karena jangankan sedang tidur,kasus seorang petinju di kota Malang yang memukuli anaknya yang masih kecil hingga tewas membuktikan bahwa gangguan jiwa menyebabkan seseorang tidak menyadari apa yang dilakukannya. Kata sang petinju yang sedang frustasi itu, bahwa ia tidak merasa membunuh anaknya, yang dipukuli sampai mati menurut pengakuannya adalah seorang kucing.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-444214256889272505?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/444214256889272505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=444214256889272505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/444214256889272505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/444214256889272505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/jenis-jenis-gangguan-jiwa-2.html' title='Jenis-jenis Gangguan Jiwa (2)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-JQBGiATTTs8/TdNTURuk4JI/AAAAAAAABlo/sVvN02MMzDw/s72-c/histeria.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-7698536109064580106</id><published>2011-05-11T22:37:00.000-07:00</published><updated>2011-05-17T22:01:17.892-07:00</updated><title type='text'>Jenis-jenis Gangguan Jiwa (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Neurasthenia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan dan kon&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-6PXhbZPMbqs/Tctx33GOg2I/AAAAAAAABlg/atoOnavNOTE/s1600/gila.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 173px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-6PXhbZPMbqs/Tctx33GOg2I/AAAAAAAABlg/atoOnavNOTE/s200/gila.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605699365689525090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;seling Agama diperlukan bagi orang-orang yang terkena gangguan kejiwaan. Jenis gangguan jiwa ini cukup banyak, sementara terapi psikologis harus tepat, oleh karena itu setiap konselor harus mengerti jenis dan karakteristik dari masing-masing jenis gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas jenis-jenis gangguan jiwa terlebih dahulu harus jelas tentang perbedaan gangguan jiwa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;neurose&lt;/span&gt;) dengan sakit jiwa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;psychose&lt;/span&gt;). Orang yang terkena gangguan jiwa atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;neurose&lt;/span&gt; pada umumnya masih menyadari kesulitan yang diderita. Ia tetap sadar akan realitas sekelilingnya, dan ia sadar pula bahwa ada sesuatu yang mengganggu jiwanya, yang oleh karena itu ia juga merasa bingung apa yang harus dilakukan. Meski jiwanya terganggu ia masih memiliki kepribadian, meskipun boleh jadi integritas dirinya kurang sempurna.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang terkena sakit jiwa, ia adalah orang yang biasanya sudah dianggap gila. Meski ia dalam kesulitan tetapi ia tidak menyadari kesulitan yang ada pada dirinya. Ia juga sudah tidak menyadari terhadap realitas dirinya dan alam sekitarnya sehingga ia terkadang tertawa sendiri atau bahkan tak bisa membedakan apakah ia berpakaian menutup aurat atau tidak. Kepribadiannya dari segala sudut (tanggapan, perasaan, emosi dan motivasinya) sangat terganggu sehingga ia tidak lagi memiliki integritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang sakit jiwa perlu dirawat di Rumah Sakit Jiwa, maka penderita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;neurose&lt;/span&gt; cukup dilayani dengan program konseling. Namun demikian, menurut teori kesehatan mental, keduanya disebut ketidaknormalan mental juga, yang satu sangat parah, yang lain tidak. Jika orang gila tidak merasakan penderitaan gilanya, maka ciri-ciri orang yang menderita gangguan jiwa antara lain ; ketegangan batin (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tension&lt;/span&gt;), murung, merasa putus asa, cemas dan gelisah, merasa tidak beredaya, hysteria, mimpi buruk dan merasa terpaksa melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, jenis-jenis gangguan jiwa dapat dikelompokan menjadi tujuh mcam, yaitu : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Neurasthenia&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hysteria&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;psychasthenia&lt;/span&gt;, gagap bicara, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tabawwul&lt;/span&gt; atau ngompol, psikopat dan kelainan seksual. Disamping itu ada juga gangguan jiwa yang disebabkan karena seseorang memiliki akhlak yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Neurasthenia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gangguan jiwa dalam bentuk ini sepintas seperti orang yang menderita sakit syaraf, yakni penyakit yang disebabkan oleh lemahnya syahwat, karena penderita sangat peka terhadap bising dan gerak. Jika benar gangguan itu karena lemahnya syahwat, maka pengobatan yang terbaik baginya adalah istirahat total di tempat tidur (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bed rest&lt;/span&gt;), dijauhkan dari semua keributan dan bahkan dari cahaya terang, sambil meminum obat penenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi gejala &lt;span style="font-style: italic;"&gt;neurasthenia&lt;/span&gt; bukan hanya peka terhadap bising dan cahaya, ia merasa tidak semangat, seluruh hidupnya merasa letih, jika mengerjakan sesuatu cepat merasa cape, perasaan tidak enak, ingin marah-marah, dan tidak bisa konsentrasi fikiran disamping tidak nafsu makan, sensitip terhadap cahaya dan bunyi-bunyian, bahkan terhadap bunyi detik jam, sehingga ia merasa selalu gelisah dan juga susah tidur. Begitu banyak keluhan pada penderita neurasthenia sampai jenis gangguan jiwa ini oleh Dr. Zakiah Darajat disebut sebagai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyakit Payah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang penyebab timbulnya sakit syaraf, para ahli banyak mengemukakan pendapat, menurut Dr. Zakiah Darajat, dan juga Dr. Abd. Rahman Isawi, gangguan jiwa jenis ini disebabkan karena terlalu lama menekan perasaan, konflik batin, cemas dan terlalu lama merasa tidak mampu mencapai tujuan serta merasa tidak mempunyai peluang untuk bersaing. Kasus seperti ini bisa terjadi pada orang yang memiliki riwayat hidup sebagai seorang anak yang paling lemah diantara sepuluh bersaudara yang kuat dan sukses, dimana ayahnya mendidiknya secara keras dan mengharuskan anak yang lemah itu sukses seperti Sembilan saudaranya yang lain, atau pada orang lemah yang hidup dalam sistem yang tidak memberinya peluang untuk eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika akar masalahnya sudah diketahui, maka istirahat total di tempat tidur belum menyelesaikan masalah. Ia memerlukan sentuhan halus berupa bantuan psikologis agar mengenali secara jelas siapa dirinya dan agar ia dapat menempatkan pengalaman hidupnya di masa lalu secara proporsionil. Jika penderita orang yang taat beragama, maka penekanan makna ridla, syukur dan sabar akan membantu membangkitkan semangat hidup, atau sekurang-kurangnya menerima realitas secara ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-7698536109064580106?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/7698536109064580106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=7698536109064580106' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7698536109064580106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7698536109064580106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/jenis-jenis-gangguan-jiwa.html' title='Jenis-jenis Gangguan Jiwa (1)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-6PXhbZPMbqs/Tctx33GOg2I/AAAAAAAABlg/atoOnavNOTE/s72-c/gila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-2103280625785872650</id><published>2011-05-11T00:56:00.000-07:00</published><updated>2011-05-11T01:03:05.125-07:00</updated><title type='text'>Pengaruh Motif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-y9EbugMe7dE/TcpB0r1_YaI/AAAAAAAABlQ/MxlLY5VsCgQ/s1600/kerja%2Bkeras.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 169px; height: 184px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-y9EbugMe7dE/TcpB0r1_YaI/AAAAAAAABlQ/MxlLY5VsCgQ/s200/kerja%2Bkeras.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605365059594183074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perilaku manusia secara umum memang dipengaruhi oleh motif-motif kepada hal-hal tertentu.&lt;br /&gt;Hanya orang yang sedang terganggu tingkat kesadarannya yang melakukan sesuatu tanpa motif yang jelas. Ada juga orang yang kehilangan motivasi yang selama ini menggerakan aktifitasnya, dan sulit menemukan motivasi baru yang memadai sebagai pengganti yang lama. Seseorang ketika menjabat suatu jabatan, ia bekerja keras dan dedikatip, tetapi setelah tidak menduduki jabatan itu boleh jadi ia kehilangan motivasinya sehingga ia tidak mau atau tidak bisa mengerjakan sesuatu yang sebenarnya ia sanggup melakukannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya jabatan yang disandang selama ini cukup dominan sebagai faktor penggerak tingkah laku. Hilangnya jabatan menyebabkan hilang pula faktor dominan yang menggerakan perilaku, karena motivasi yang lain kurang kuat. Dalam keadaan seperti inilah layanan konseling Agama dibutuhkan, yaitu membantu mencarikan motivasi baru agar ia tetap prima dan bekerja secara optimal pada bidang-bidang yang ia mampu. Seseorang telah menemukan motivasi yang kuat, maka ia dapat bekerja secara maksimal dan dapat berhasil secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pensiunan pejabat tinggi yang menemukan motivasi baru adalah sebagai berikut : Seorang pejabat eselon I dalam birokrasi, selagi ia duduk dalam jabatannya sering berhubungan dengan Yayasan-yayasan pendidikan dan  sosial. Hubungan ini menumbuhkan rasa hormat kepada orang yang disibukan dengan kegiatan sosial, membantu orang miskin, bukan hanya dengan tenaganya tetapi juga dengan hartanya. Perasaan hormat itu kelamaan berkembang menjadi obsesi, menjadi sesuatu yang selalu ada dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah pejabat itu pensiun ia merasa menemukan moment yang sangat tepat untuk terjun langsung dalam kegiatan yang telah menjadi obsesinya. Dengan penuh semangat ia berusaha menemukan cara-cara membantu pakir miskin dan memajukan dunia pendidikan bagi mereka. Dalam pekerjaan sosial itulah ia kemudian menemukan kebahagiaan yang luar biasa, merasa hidupnya bermakna, lebih dibanding ketika masih aktip sebagai pejabat tinggi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-2103280625785872650?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/2103280625785872650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=2103280625785872650' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2103280625785872650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2103280625785872650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/pengaruh-motif.html' title='Pengaruh Motif'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-y9EbugMe7dE/TcpB0r1_YaI/AAAAAAAABlQ/MxlLY5VsCgQ/s72-c/kerja%2Bkeras.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-4592139509518621258</id><published>2011-05-09T19:37:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T19:41:39.469-07:00</updated><title type='text'>Ciri-Ciri Bangsa Bermartabat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-k3nPeGLOKcY/Tcik3znLDhI/AAAAAAAABlI/cej3nApzKqM/s1600/bangga.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 199px; height: 154px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-k3nPeGLOKcY/Tcik3znLDhI/AAAAAAAABlI/cej3nApzKqM/s200/bangga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604911014916853266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jika suatu bangsa mampu mandiri, maka ia berpeluang untuk menjadi bangsa yang terhormat, dan bermartabat. Martabat suatu bangsa dicapai manakala bangsa itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Rakyatnya memiliki taraf hidup yang layak dari segi sandang, pangan, papan dan kesehatan.&lt;br /&gt;2.    Rakyatnya hidup dalam keadaan aman dan damai, terlindung dari tindak kekerasan dan kejahatan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3.    Hak azazi manusia dijamin, bebas mengeluarkan pendapat dan bebas memilih sepanjang untuk kepentingan bangsa.&lt;br /&gt;4.    Memiliki program pembangunan yang berkesinambungan, tidak terganggu oleh pergantian kepemimpinan nasional. Jika setiap ganti Presiden berganti pula orientasi pembangunan nasionalnya, maka stabilitas bangsa itu mudah diganggu oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;intervensi&lt;/span&gt; asing.&lt;br /&gt;5.    Pemerintah bersih dari praktek-praktek kotor, sebangsa KKN sehingga dinamika politik dan ekonominya terukur.&lt;br /&gt;6.    Peduli kepada pendidikan generasi, dimana sistem pendidikan yang dijalankan menjamin kualitas generasi sebagai sumber daya yang dibutuhkan, apalagi jika Uniersitas-universitasnya menjadi rujukan mahasiswa asing.&lt;br /&gt;7.    Lingkungan hidupnya sehat dan tertib, limbah terkelola dan ketertiban terjaga.&lt;br /&gt;8.    Memiliki prestasi internasional dalam bidang-bidang tertentu, misalnya olah raga, seni, lomba ilmiah.&lt;br /&gt;9.    Mampu melindungi wilayah negaranya dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;intervensi&lt;/span&gt; asing, musuh, penyelundupan, pencurian, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;spionase&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;10.    Mampu menunjukan jati diri kebangsaannya di dunia internasional, terutama kebudayaan dan karakter kebangsaan. Bangsa yang tidak memiliki kebudayaan yang dibanggakan. Apalagi jika sudah lebur dengan budaya asing, atau selalu merendahkan jati diri kebangsaan sendiri, maka ia akan kehilangan martabat kebangsaannya. Dan&lt;br /&gt;11.    Berpegang teguh pada etiket dan moral, baik dalam interaksi internalnya dengan sesama warga bangsa maupun dalam berhubungan dengan bangsa-bangsa lain. Dengan etiket dan moral yang kuat, maka bangasa itu disegani oleh bangsa lain.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-4592139509518621258?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/4592139509518621258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=4592139509518621258' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4592139509518621258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4592139509518621258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/ciri-ciri-bangsa-bermartabat.html' title='Ciri-Ciri Bangsa Bermartabat'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-k3nPeGLOKcY/Tcik3znLDhI/AAAAAAAABlI/cej3nApzKqM/s72-c/bangga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-2534036132250294630</id><published>2011-05-09T01:32:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T01:38:16.076-07:00</updated><title type='text'>Ciri-ciri Bangsa Maju</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-eSqYphO6bwU/TcemuKMpN6I/AAAAAAAABlA/uBjsOOY3Xwo/s1600/jepang.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 176px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-eSqYphO6bwU/TcemuKMpN6I/AAAAAAAABlA/uBjsOOY3Xwo/s200/jepang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604631573227452322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kekayaan alam suatu bangsa tidak serta merta menjadikan bangsa itu maju, sebagaimana juga Negara yang tidak memiliki sumber daya alam tidak serta merta terhalang untuk menjadi bangsa maju. Kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi oleh kecerdasan dan keuletan manusianya. Jepang yang tidak memiliki kekayaan alam bisa menjadi Negara maju menyaingi Amerika yang dulu meluluh lantakannya dengan bom atom.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bangsa Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam ternyata tertinggal oleh Jepang, karena manusianya belum memiliki karakter Negara maju. Ada Negara maju tetapi tidak bermartabat, sebaliknya ada Negara yang tidak masuk kategori Negara Maju atau Negara kaya tetapi bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri bangsa yang maju adalah :&lt;br /&gt;1.    Memiliki kebanggaan terhadap bangsanya, tidak merendahkna bangsa sendiri, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;right or wrong my country&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2.    Memiliki etos kerja yang diwujudkan dalam sistem sehingga hanya orang yang bekerja keraslah yang mempunyai peluang untuk mencapai kesejahteraan tinggi.&lt;br /&gt;3.    Memiliki keseimbangan antara mengadopsi nilai-nilai universal dengan pemeliharaan nilai-nilai kearifan lokal sebagai jati diri kebangsaan.&lt;br /&gt;4.    Memiliki program pendidikan sebagai sistem peningkatan kualitas sumber daya manusia.&lt;br /&gt;5.    Membudayakan fanatisme nasional meski tetap berkomitmen kepada problem global.&lt;br /&gt;6.    Memiliki sistem kepemimpinan nasional yang kuat sehingga menjamin berjalannya konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan 6 ciri tersebut diatas, suatu bangsa bisa membangun kemandirian. Kemandirian suatu bangsa dapat dilihat pada indikator-indokator :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Mampu mengelola sumber daya alam yang dimiliki. Jika sumber daya alam dikelola oleh Negara Asing, maka mereka yang lebih memperoleh manfaat, sementara pemiliknya hanya menampung limbah.&lt;br /&gt;2.    Mampu menyediakan sendiri kebutuhan dasar (terutama pangan) bagi rakyatnya. Ketahanan pangan akan dapat menghindarkan bangsa dari dampak krisis global, sebaliknya ketergantungan pangan kepada Negara asing akan melemahkan ketahanan masyarakat dari godaan anarkisme.&lt;br /&gt;3.    Tidak memiliki ketergantungan absolut kepada Negara lain. Ketergantungan absolut kepada Negara lain akan membuat bangsa itu mudah didikte oleh Negara lain. Sedangkan saling ketergantungan antar Negara tidak bisa dihindarkan, sepanjang tidak absolut.&lt;br /&gt;4.    Tidak terjerat hutang LN melebihi batas kemampuan.&lt;br /&gt;5.    Tidak bisa didikte oleh Negara lain.&lt;br /&gt;6.    Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), terutama yang diperlukan dalam pengelolaan sumber daya alam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-2534036132250294630?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/2534036132250294630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=2534036132250294630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2534036132250294630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2534036132250294630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/05/ciri-ciri-bangsa-maju.html' title='Ciri-ciri Bangsa Maju'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-eSqYphO6bwU/TcemuKMpN6I/AAAAAAAABlA/uBjsOOY3Xwo/s72-c/jepang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-5794688359492446010</id><published>2011-04-24T21:32:00.000-07:00</published><updated>2011-04-24T21:53:21.837-07:00</updated><title type='text'>GURU : digugu dan ditiru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ycPNm0DnfI4/TbT5hUZDs2I/AAAAAAAABk4/L-1oNNavdX8/s1600/guru.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 170px; height: 157px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ycPNm0DnfI4/TbT5hUZDs2I/AAAAAAAABk4/L-1oNNavdX8/s200/guru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599374587533177698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Manusia adalah makhluk budaya. Kebudayaan adalah konsep, gagasan dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat, dan gagasan itu kemudian memandu tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari.  Tanpa perubahan konsep maka tingkah laku tidak berubah. Masyarakat kita 50 tahun lalu tidak pernah membuat WC di dalam rumah, karena menurup konsep mereka, WC adalah tempat kotoran, oleh karena itu harus dijauhkan dari rumah. Karena tempat kotoran maka WC tidak dibuat bagus. Kini telah terjadi perubahan konsep masyarakat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WC bukan hanya tempat kotoran, tetapi adalah kebutuhan hidup, karena setiap saat orang memerlukan WC.  Karena kebutuhan, maka WC didekatkan kepada penggunanya.Maka kini WC berada di dalam rumah, bahkan di dalam kamar tidur. Mengapa masih banyak orang yang korupsi ? karena  korupsi masih dipandang sebagai keberhasilan. Lihat saja berita Koran, yang selalu menyebut; bupati A berhasil membobol anggaran daerah. Kepala Sekolah berhasil menyunat dana BOS. Karena  dalam konsepnya korupsi masih dipandang sebagai keberhasilan, maka orang berusaha menggapainya.  Lain halnya jika korupsi dipandang sebagai najis, maka semua orang tidak mau menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ada masyarakat atau bangsa yang sudah berbudaya tinggi dan ada yang masih berbudaya rendah. Masyarakat yang berbudaya tinggi selalu memelihara nilai-nilai budayanya, seperti kejujuran, kesetiaan, kedisiplinan, kesehataan dan kemajuan.  Sedangkan masyarakat yang berbudaya rendah mudah berbohong, mudah berkhianat, mudah melanggar janji dan tidak menghargai harkat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Nah, proses pembudayaan masyarakat dan bangsa itu melalui pendidikan. Pendidikanlah yang membuat suatu masyarakat atau bangsa menjadi bermartabat, dan guru adalah pilar utama dalam proses pendidikan. Hanya saja ada guru yang baru berada pada tingkat pengajar dan ada guru yang sudah berada pada tingkat pendidik. Guru pengajar perhatiannya hanya pada proses transfer ilmu pengetahuan. Pokok dating mengajar kemudian muridnya rapotnya bagus. Guru pengajar biasanya belum memiliki rasa cinta kepada pendidikan, oleh karena itu pusat perhatiannya masih pada honor mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika honornya besar ia rajin, jika honornya kecil ia malas. Sedangkan guru pendidik perhatiannya adalah pada transfer budaya, transfer perilaku. Ia sangat sedih jika ada murid yang mempunyai kebiasaan mencontek, karena mencontek merupakan  perwujudan dari budaya yang rendah. Guru pendidik merasa bangga terhadap muridnya yang berakhlak baik, apalagi jika prestasinya juga baik. Guru pengajar akan mengalami disebut sebagai bekas guru saya oleh muridnya, sedangkan guru pendidik, seumur hidup oleh muridnya tetap disebut guru saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam budaya  Jawa, guru disebut sebagai kependekan dari yang digugu dan yang ditiru, yakni guru adalah figur yang terpercaya dan menjadi teladan bagi orang banyak.&lt;br /&gt;      Nah inilah tantangan dari organisasi guru seperti , PGRI,  ASOSIASI GURU BERSATU INDONESIA, dll. yakni bagaimana organisasi ini bisa membangun komunitas pendidikan yang bekerja membudayakan bangsa dengan kebudayaan yang tinggi. Tugas inilah yang membuat guru disebut sebagai Pahlawan  Tanpa Tanda Jasa.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-5794688359492446010?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/5794688359492446010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=5794688359492446010' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5794688359492446010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5794688359492446010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/04/guru-digugu-dan-ditiru.html' title='GURU : digugu dan ditiru'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ycPNm0DnfI4/TbT5hUZDs2I/AAAAAAAABk4/L-1oNNavdX8/s72-c/guru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-7233463587697490115</id><published>2011-04-17T19:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-17T20:02:48.654-07:00</updated><title type='text'>Akhlak Terhadap Rumah Tuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-LSTy3p6Vt6Q/Tauouy61bfI/AAAAAAAABkw/2JKStvc6AuI/s1600/mesjid%2Bmegah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 179px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-LSTy3p6Vt6Q/Tauouy61bfI/AAAAAAAABkw/2JKStvc6AuI/s200/mesjid%2Bmegah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596752483833966066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Yang dimaksud dengan rumah Tuhan adalah suatu tempat yang dibangun secara khusus untuk melakukan amaliah ibadah, tempat dimana manusia memuja dan menyembah Allah. Bagi orang Islam, tempat peribadatan adalah masjid. Masjidil Haram di Makkah termasyhur disebut sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baitullah&lt;/span&gt; yang artinya rumah Allah. Demikian pula masjid-masjid lain meski tidak disebut sebgai Baitullah, tetapi dalam perspektif ini mempunyai pengertian yang sama dengan masjidil Haram.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid besar yang digunakan untuk salat Jum’at disebut masjid Jamik, sedangkan mesjid kecil yang tidak digunakan untuk salat Jum’at disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mushalla&lt;/span&gt; yang artinya tempat salat. Secara teologis, masjid dibangun semata-mata untuk tujuan taqwa kepada Allah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lamasjidun ussisu ‘ala at taqwa&lt;/span&gt;). Secara sosial, masjid seperti yang terjadi pada masa Nabi di Madinah bisa difungsikan sebagai pusat pengembangan masyarakat, spiritualnya, dan sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak manusia kepada rumah Tuhan (dalam hal ini masjid) dapat dibedakan dari dua sudut, umum dan khusus :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)    Ketika membangun, hendaknya dilakukan semata-mata bermotivasi ketakwaan kepada Tuhan. Nabi pernah menyuruh membongkar masjid yang dibangun seseorang dengan tujuan batil (kasus masjid Dhirar).&lt;br /&gt;b)    Dalam membangun masjid tidak mengutamakan kemegahan fisik dan melupakan substansinya sebagai tempat beribadah, tempat merendahkna diri kepada tuhan.&lt;br /&gt;c)    Tidak menghiasi masjid dengan asesoris yang berlebihan&lt;br /&gt;d)    Dijaga kesuciannya dari najis dan dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketakwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Khusus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)    Setiap Muslim dianjurkan untuk mengutamaka salat di masjid&lt;br /&gt;b)    Meluangkan waktu untuk beri’tikaf di dalam masjid.&lt;br /&gt;c)    Ketika masuk ke masjid hendaknya dalam keadaan suci, baik dari najis maupun hadas.&lt;br /&gt;d)    Setiap kali ke masjid dianjurkan mengenakan pakaian yang indah dan sopan.&lt;br /&gt;e)    Tidak melakukan bisnis duniawi di dalam masjid.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-7233463587697490115?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/7233463587697490115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=7233463587697490115' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7233463587697490115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7233463587697490115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/04/akhlak-terhadap-rumah-tuhan.html' title='Akhlak Terhadap Rumah Tuhan'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LSTy3p6Vt6Q/Tauouy61bfI/AAAAAAAABkw/2JKStvc6AuI/s72-c/mesjid%2Bmegah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-705871602749110858</id><published>2011-04-14T21:13:00.000-07:00</published><updated>2011-04-14T21:23:16.093-07:00</updated><title type='text'>AKHLAK TERHADAP UTUSAN TUHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-nNNDW7QrFZ8/TafGvHXI1FI/AAAAAAAABko/HqCWrvpLuwU/s1600/matahari.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 154px; height: 154px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-nNNDW7QrFZ8/TafGvHXI1FI/AAAAAAAABko/HqCWrvpLuwU/s200/matahari.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595659574763377746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Allah menurunkan wahyu yang merupakan petunjuk bagi ummat manusia melalui utusan-utusan atau Rasul-Nya. Selanjutnya para Rasulullah yang membimbing ummat manusia ke jalan yang diridhai-Nya. Para nabi yang menjadi utusan Allah itu ada yang menampilkan sosok pemimpin masyarakat seperti nabi Nuh dan Nabi Saleh, ada yang menampilkan diri sebagai sosok oposisi yang mengedepankan nilai-nilai universal seperti Nabi Ibrahim, ada Nabi ang menampilkan diri sebagai pejuang pembela keadilan melawan tirani seperti Nabi Musa, ada yang tampil sebagai penguasa politik seperti nabi Daud dan Sulaiman, ada nabi yang tampil sebagai&lt;span style="font-style: italic;"&gt; figure&lt;/span&gt; asketik penyebar cinta kasih seperti nabi Isa, dan ada nabi yang tampil secara komprehensif sebagai pemimpin dengan multi peran seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad S.a.w. dalam perspektif ini maka seorang utusan allah adalah pemegang otoritas keagamaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penampilannya, seorang utusan Tuhan sering membawakan nilai-nilai baru yang justru bertentangan dengan nilai-nilai yang sedang dianut oleh masyarakatnya, karena tugas seorang Rasul memang meluruskan penyimpangan nilai-nilai kebenaran. Alasan diturunkannya seorang Nabi ke suatu entitas masyarakat justru karena pada entitas masyarakat tersebut sedang berlangsung penyimpangan nilai-nilai kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu hampir semua Nabi pada awalnya pasti dimusuhi dan diusir oleh masyarakatnya, terutama oleh kelompok mapannya, karena kehadiran seorang Nabi dalam jangka pendek pasti merugikan kelompok mapan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut al Qur’an, seorang  Rasul hadir di tengah-tengah masyarakat manusia dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (Q/61:9), diperkuat dengan otoritas dan bukti (Q/11:96), berbicara dengan menggunakan bahasa masyarakatnya (Q/14:4), aktif menyampaikan seruan (Q/2:51), secara seimbang menyamaikan kabar gembiran dan memberikan peringatan (Q/2:119), memberikan keteladan yang sangat tinggi (Q/33:21) dan misinya bersifat rahmat bagi seluruh manusia (Q/21:107).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu maka pengiriman Rasul itu tak lain dimaksud agar dipatuhi oleh manusia (Q/4:64) , sejajar dengan kepatuhannya kepada Allah (Q/4:59). Kepada manusia diingatkan agar percaya kepada Rasul (Q/24:62), merespon secara positif seruan Rasul (Q/8:34), tidak berkhianat kepada Rasul (Q/8:27), tidak memperolok-olok (Q/15:11), tidak menyakiti (Q/ 33:53), tidak melawan (Q/ 58:5), tidak mendahulukan selain Rasul (Q/ 49:1), tidak menyepelekan (Q/24:63) dan bahkan ketika berbicara dengan Rasul pun hendaknya tidak dengan suara yang lebih keras dibanding suara Rasul (Q/49 :2). Akhlak tersebut di atas hanya mngkin dimiliki oleh orang yang percaya (iman) dan cinta kepada Rasul. Dalam sejarah dan riwayat dapat diketahui bahwa pada masa hidupnya, setiap Rasul banyak menghadapi orang yang tidak percaya, menentang, melecehkan, mengusir, dan bahkan membunuh Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita yang tidak hidup sezaman dengan Rasul maka, iman dan kecintaan kepada Rasul diwujudkan dalam mengapresiasi ulama menjadi pewaris para rasul, mengikuti sunnah-sunnahnya, membaca salawat kepadanya, menziarahi makamnya dan hal-hal lain yang sifatnya memuliakan namanya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-705871602749110858?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/705871602749110858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=705871602749110858' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/705871602749110858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/705871602749110858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/04/akhlak-terhadap-utusan-tuhan.html' title='AKHLAK TERHADAP UTUSAN TUHAN'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nNNDW7QrFZ8/TafGvHXI1FI/AAAAAAAABko/HqCWrvpLuwU/s72-c/matahari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-5382398416544468087</id><published>2011-04-13T20:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-13T20:55:48.771-07:00</updated><title type='text'>Akhlak Manusia Kepada Tuhan (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tauhid&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; dan Tawakkal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tauhid&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-03vYmVC-eXY/TaZteM0zYkI/AAAAAAAABkg/nnxC5DhWsOQ/s1600/twakal.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 165px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-03vYmVC-eXY/TaZteM0zYkI/AAAAAAAABkg/nnxC5DhWsOQ/s200/twakal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595279952660619842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertauhid artinya menggesakan Tuhan, memandang dan memperlakukan Tuhan sebagai satu-satunya Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengatur, Yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, yang pantas disembah dan sifat-sifat kesempurnaan lainnya. Dalam peribadatan, bertauhid artinya hanya menyembah Allah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;iyyajka na’budu&lt;/span&gt;), sedangkan dalam bermu’amalah, bertransaksi, meski prosedurnya berurusan dengan sesame manusia, tetapi di dalam hatinya ia hanya memohon pertolongan kepada Allah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;iyyaka nasta’in&lt;/span&gt;). dalam memahami pasang surut kehidupan, seseorang yang bertauhid merasa yakin, bahwa apa yang diperoleh dan apa yang sesunguhnya Allah-lah Pelaku sebenarnya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;la fa’ila illallah&lt;/span&gt;).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berkontemplasi seorang yang bertauhid bahkan merasa bahwa dirinya adalah nonsen, karena sebenarnya tidak ada eksistensi kecuali Allah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;la maujuda Illallah&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Lawan dari tauhid adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;syirk&lt;/span&gt;, pelakunya disebut musyrik. Seorang musyrik dalam beribadah disamping mengakui adanya kekuasaan dari Tuhan Sang Pencipta ia menyembah juga kepada makhluk ciptaan-Nya, seperti patung berhala, matahari, api atau bahkan manusia. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syirk&lt;/span&gt; model ini disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;syirk jaliy&lt;/span&gt;, yakni &lt;span style="font-style: italic;"&gt;syirk&lt;/span&gt; yang nyata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;syirk&lt;/span&gt; yang Nampak di mata. dalam kehidupan sehari-hari seorang musyrik mempercayai hal-hal tertentu atau benda-benda tertentu yang diyakini secara gaib dapat menentukan takdir kehidupan, misalnya percaya bahwa memelihara ayam putih dapat membuat dagangan laris, atau mengatakan; jika bukan aku yang menolong pasti dia sudah mati, atau meyakini seyakin-yakinnya bahwa segala sesuatu dapat diatur dengan uang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syirk&lt;/span&gt; seperti ini disebut&lt;span style="font-style: italic;"&gt; syirk khofiy&lt;/span&gt;, atau syirk tersamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tawakkal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tawakal artinya berpasrah diri kepada Allah setelah melakukan upaya-upaya secara maksimal. Manusia di dunia jika menginginkan sesuatu maka ia harus berusaha untuk menggapainya. Meski demikian, usaha manusia tidak sepenuhnya menentukan, karena banyak faktor kebetulan, faktor yang dipercaya sebagai keberuntungan, faktor doa dan sebagainya.&lt;br /&gt;Orang yang menyombongkan keberhasilannya sebagai usaha sendiri termasuk orang yang buruk akhlaknya terhadap Tuhan, dan bahkan bisa terperangkap ke dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;syirk khofiy&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang bertawakal kepada Allah adalah orang yang bekerja keras untuk menggapai apa yang diinginkannya dengan mengikuti prosedur yang wajar (menggunakan management usaha), teteapi ia tetap meyakini bahwa keberhasilan usahanya ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Pengatur. Ia yakin betul bahwa upaya dan kekuatan itu tidak efektif tanpa seizin Allah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;la haula wala quwwata illa billah al’Aliy al ‘Aziem&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian tawakal diahami dari hadis yang berbunyi  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I’qilha wa tawakkal&lt;/span&gt;. Dikisahkan bahwa ada seseorang baru datang dri luar kota menemui Rasululla. Beliau menanyakan apakah ontanya diikat (di parker secara benar dan dikunci). Orang itu menjawab: tidak Ya rasulullah, saya tawakal saja kepada Allah. Rasul lalu menegurnya; (jangan begitu), ikat dulu untamu secara benar, baru engkau bertawakal kepada Allah. Dari hadist ini dapat dipahami bahwa kepercayaan kepada Allah sebagai yang Maha Kuasa, Maha pengatur dan maha Penentu tidak mengurangi profesionalitas dan rationalitas usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kemampuan seseorang untuk bertawakal kepada Tuhan berhubungan juga dengan tingkat ketauhidannya. Imam Ghazali menggambarkan tingkat-tingkat tawakkal dengan perumpaan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Jika engkau mau pergi ke padang pasir gersang, maka engkau harus mempersiapkan segala kebuthan yang diperlukan disana, makanan, minuman, tenda, kendaraan dan sebagainya. Jika sudah lengkap berangkatlah anda dan bertawakalah kepada Allah. Jika tidak lengkap jangan berani nekat, karena di sana alamnya sangat kejam. Ini adalah tawakal tingkat terendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Jika engkau akan pergi ke hutan tetapi tidak ada bekal makanan, yang ada hanya alat berburu (senapan, pisau, korek dan termos air), berangkat sajalah dengan tawakal kepada Allah. Insya Allah anda bisa menemukan bahan makanan disana. Ini adalah bentuk tawakal orang yang telah memiliki keterampilan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.    Jika anda tidak memiliki bekal apapun, tetapi anda harus pergi juga ke suatu tempat, maka pergilah dengan tawakkal kepada Allah, asal tempat yang anda tuju itu masih ada atau banyak orang. Tawakkal tingkat ini masih rationil karena sifat sosial masyarakat akan dapat menjadi tumpuan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.    Meski anda tidak mempunyai bekal apapun, dan tempat yang anda tuju tidak juga ada persediaan bekal, sedang anda tidak bisa menghindar dari keharusan untuk pergi ke tempat itu, maka pergilah dengan bertawakkal kepada Allah. Insya Allah Dia akan memberi apa yang anda butuhkan. Tawakal tingkat ini adalah tawakkal kaum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khowash&lt;/span&gt;, orang yang sebenar-benarnya bertauhid, karena ia telah mencapai tingkat ma’rifat yang meyakini betul bahwa Tuhan Yang maha kuasa mengadakan yang tiada, mengembalikan yang hilang, memberi rizki kepada seluruh hamba-Nya dimanapun ia hidup, dan maha pengasih lagi Penyayang kepada makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal merupakan wujud akhlak manusia kepada Tuhan, yang oleh karena itu perbuatan itu bernilai ibadah. Secara psikologis, orang bertawakal dapat terhindar dari perasaan kecewa berkepanjangan jika menghadapai kegagalan, dan terhindar dari rasa sombong jika memperoleh keberhasilan. Karena ia menempatkan diri sebagai hamba yang berprasangka baik terhadap kehendak Tuhan. Orang yang sudah bisa bertawakkal, jika ia sukses dalam suatu hal, disamping mengucapkan syukur kepada Tuhan, ia juga bertanya-tanya dalam hatinya, jangan-jangan kesuksesan ini merupakan coban dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya jika setelah bekerja keras secara benar untuk menggapai apa yang diinginkan tetapi mengalami kegagalan, maka ia menyalahkan diri sendiri dan mengembalikan persoalannya kepada Tuhan Yang Maha Pengatur serasa berprasangka bahwa kegagalan itu merupakan rahmat Tuhan, karena boleh jadi dimata Tuhan ia belum layak menerima apa yang diinginkannya. Di satu sisi, tawakkal adalah juga merupakan bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tawaddu’&lt;/span&gt; atau rendah hati seorang hamba kepada Tuhannya. Orang yang bertawakal pada umumnya juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ridla&lt;/span&gt; (puas) atas apapun yang diterimanya dari Tuhan, baik yang bersifat peningkatan maupun yang bersifat penurunan, karena ia memahami makna pemberian Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-5382398416544468087?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/5382398416544468087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=5382398416544468087' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5382398416544468087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5382398416544468087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/04/akhlak-manusia-kepada-tuhan-2.html' title='Akhlak Manusia Kepada Tuhan (2)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-03vYmVC-eXY/TaZteM0zYkI/AAAAAAAABkg/nnxC5DhWsOQ/s72-c/twakal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-4895499540891529303</id><published>2011-04-12T20:10:00.000-07:00</published><updated>2011-04-13T20:55:18.165-07:00</updated><title type='text'>Akhlak Manusia kepada Tuhan (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akhlak kepada Tuhan dengan Ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menciptakan&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-nPdGhvmTZNM/TaUUu-1RafI/AAAAAAAABkY/Cbr9j1GMc14/s1600/akhlak%2Bkepada%2BTuhan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 158px; height: 145px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-nPdGhvmTZNM/TaUUu-1RafI/AAAAAAAABkY/Cbr9j1GMc14/s200/akhlak%2Bkepada%2BTuhan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594900909450684914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; manusia bukan tanpa maksud. Menurut al Qur’an, Tuhan, tidak menjadikan manusia dan jin kecuali untuk menyembah-Nya (Q/51 :56). Hubungan manusia dengan Tuhan adalah hubungan antara makhluk dan khaliqnya, antara yang dicipta dengan Sang Pencipta. Tuhan mensifatkan diri-Nya sebagai Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sementara manusia, meski ia sebagai hamba dengan dianugerahi Tuhan dengan berbagai kelebihan,  yang selanjutnya menjadi faktor pembeda dengan makhluk yang lain, kelebihan manusia dibanding makhluk yang lain ialah bahwa ia memiliki jiwa dengan desain yang sempurna, memiliki potensi untuk mengetahui kebaikan dan kejahatan, memiliki akal yang bisa berpikir, hati yang bisa memahami, hati nurani yang memiliki ketajaman pandangan dan nafsu yang bisa menggerakan motivasi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan seperangkat elemen kejiwaan itu manusia diberi kemerdekaan untuk berpikir, bersikap dan berbuat. Sebagai konsekuensi dari fasilitas yang begitu banyak, manusia diberi beban memikul amanat, yakni dituntut untuk bertangungjawab dan mempertanggungjawabkan segala yang dilakukannya , kepada dirinya, kepada masyarakat, dan terutama Tuhan. Nah hubungan dengan Tuhan juga ada etikanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AKHLAK KEPADA TUHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan di muka bahwa Tuhan menciptakan manusia dan jin agar mereka menyembah kepada-Nya, maka akhlak manusia kepada Tuhan yang pertama kali adalah menyembah Tuhan atau beribadah. Disamping itu manusia juga harus bertawakal disamping tidak boleh menyekutukan-Nya dengan makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IBADAH&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ibadah berasal dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘abada ya’budu&lt;/span&gt; yang artinya menyembah. Dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘abdun&lt;/span&gt; yang artinya hamba dan dalam bahasa jawa menjadi abdi yang artinya sahaya, dan kata pengabdian dalam bahasa Indonesia yang mengandung arti melakukan sesuatu dengan maksud member dan berdasar patuh serta hormat kepada yang diberi dan berdasar merupakan perintah Tuhan kepada seluruh manusia (Q/2:21). Kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘abd&lt;/span&gt; sekurang-kurangnya mengandung tiga arti ;&lt;br /&gt;a)    Tumbuhan yang beraroma harum&lt;br /&gt;b)    Anak panah, dan&lt;br /&gt;c)    Sesuatu yang dimiliki (hamba sahaya atau budak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia dalam status sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘abd&lt;/span&gt;  seharusnya menggambarkan tiga makna itu, yaitu memberi suasana indah dan harum lingkungannya, sigap seperti anak panah dan merasa menjadi milik penuh pemiliknya (Tuhan). Etika beribadah haruslah bernuansa tiga semangat tersebut. Ketika ia menjalankan ibadah shalat misalnya, maka ia harus mencerminkan permormance sebagai manusia yang bermakna kepada lingkungannya karena shalatnya telah menjelma menjadi perilaku yang jauh dari perbuatan keji dan munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan ritualnya ia sigap dan disiplin sesuai dengan syarat rukunnya seperti sigapnya anak panah yang dilepas busurnya. Dalam hal makna salat, ia sama sekali tidak merasa bahwa salatnya merupakan prestasi dirinya, tetapi diserahkan sepenuhnya kepada penilaian Tuhan yang memiliki dirinya (khusyuk). Demikian pula ketika membayar zakat,  berpuasa,haji, dan sebagainya. Dalam surat al Fatihah disebutkan ayat yang berbunyi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;iyyaka na’budu wa iyya ka nasta’in&lt;/span&gt;, hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu pula aku mohon pertolongan. Ayat ini mengandung makna bahwa semangat ibadah (pengabdian kepada Tuhan) bukan hanya ketika menjalankan ritual, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, berekonomi, berpolitik dan berbudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang beribadah melalui kegiatan perekonomian, ia akan menciptakan suasana indah dan harum di lingkungannya, disiplin menunaikan apa yang menjadi kewajibannya, dan sadar betul bahwa prestasi bisnisnya semata-mata karena rahmat Allah, yang oleh karena itu ia tidak menyombongkan diri. Orang yang beribadah dalam aktifitas politik, melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manuver&lt;/span&gt; politik yang menyejukan masyarakat, disiplin terhadap komitmen yang dibuatnya dan sadar betul bahwa Tuhanlah yang memberikan kekuasaan politik kepada seseorang dan Dia pula yang mencabutnya dari seseorang (Q/3:26).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-4895499540891529303?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/4895499540891529303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=4895499540891529303' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4895499540891529303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4895499540891529303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/04/akhlak-manusia-kepada-tuhan-1.html' title='Akhlak Manusia kepada Tuhan (1)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-nPdGhvmTZNM/TaUUu-1RafI/AAAAAAAABkY/Cbr9j1GMc14/s72-c/akhlak%2Bkepada%2BTuhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-3763851360746711263</id><published>2011-04-11T22:23:00.000-07:00</published><updated>2011-04-11T22:30:24.248-07:00</updated><title type='text'>AKHLAK KEPADA ALAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-M08sG69Xmgc/TaPhx2AQ8_I/AAAAAAAABkQ/K6bok94XTw8/s1600/alam%2Bsemsesta.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 182px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-M08sG69Xmgc/TaPhx2AQ8_I/AAAAAAAABkQ/K6bok94XTw8/s200/alam%2Bsemsesta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594563408550753266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kita diajarkan doa munajat yang berbunyi :&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Robbana ma kholaqta haza batila&lt;/span&gt;, Ya Tuhan kami, tak satupun makhluk ciptaan-Mu ini yang tak berguna (Q/3:191). Ayat ini mengandung arti bahwa Tuhan menciptakan ala ini dengan konsep yang sangat sempurna. Suatu makhluk meski sekecil bakteri pun, telah di desain oleh Sang Pencipta sebagai bagian sari ekosistem alam. Sebagaimana yang telah disebutkan di depan bahwa dalam sistem alam ini, manusia diberi predikat oleh Allah sebagai khalifah-Nya dimana manusia diberi wewenang dan tanggung jawab mengelola alam ini bagi kehidupannya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kewenangan tanggung jawab, pastilah di dalamnya terkandung hak dan kewajiban. Oleh karena itu amanah Tuhan kepada manusia sebagai khalifah-Nya ialah bahwa manusia dibebani kewajiban, dan bersamaan dengan itu manusia diberi hak, termasuk hak pemanfaatan alam. Dalam al Qur’an, jelas sekali disebutkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi ini untuk manusia (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;huwa allazi khalaqa lakum ma fil ardhi jami’an&lt;/span&gt;) (Q/2:29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia diberi hak utnuk mengelola alam ini, mengkomsumsi yang dibutuhkan, tetapi di tangan manusia pula diletakan tanggung jawab pemeliharaan kelestarian alam. Oleh karena tu manusia tidak boleh sewenang-wenang terhadap alam, karena akan berdampak merusak ekosistem yang pada gilirannya akan menyulitkan kehidupan manusia itu sendiri. Dalam perspektif ilmu akhlak, maka manusia pun harus berakhlak kepada alam. Masuk dalam kategori alam adalah hewan (makhluk yang bernyawa) dan alam fisik, seperti bumi, air, dan tumbuh-tumbuhan. Berakhlak kepada Alam alah bagaimana merperlakukan hewan dan alam fisik dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara akhlak kepada binatang adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)    Tetap member ruang habitat yang memadai terhadap hewan, misalnya hutan bagi satwa hutan, terumbu karang bagi ikan di laut, pohon-pohonan bagi unggas dan sebagainya. Hewan ciptaan Tuhan, meski secara mikro ada binatang yang berbahaya (ular misalnya), tetapi secara makro dalm ekosistem alam, sebenarnya memiliki peran-peran tertentu dalam pelestarian alam.&lt;br /&gt;2)    Tidak memasung hewan piaraan dalam kerangkeng yang menyiksa, apalagi jika kurang menyediakan makanannya.&lt;br /&gt;3)    Member hak istirahat kepada hewan yang dipergunakan sebagai alat angkut (misalnya kuda, kerbau, atau sapi) dan tdak membebaninya dengan beban yang melampaui batas kewajaran.&lt;br /&gt;4)    Jka mengkomsumsi hewan, hendaknya memilih yang dihalalkan dan melalui proses penyembelihan berdasarkan syari’at agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan akhlak kepada alam lingkungan antara lain:&lt;br /&gt;1)    Tidak mengekspoitasi sumber daya alam secara berlebihan yang berpotensi merusak tatanan siklus alamiah.&lt;br /&gt;2)    Tidak membuang limbah secara sembarangan yang dapat merusak lingkungan alam.&lt;br /&gt;3)    Secara lebih detail dan individual, agama misalnya melarang binatang atau di bawah pohon yang rindang (karena membuat tidak nyaman orang yang bernaung dibawahnya).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-3763851360746711263?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/3763851360746711263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=3763851360746711263' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3763851360746711263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3763851360746711263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/04/akhlak-kepada-alam.html' title='AKHLAK KEPADA ALAM'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-M08sG69Xmgc/TaPhx2AQ8_I/AAAAAAAABkQ/K6bok94XTw8/s72-c/alam%2Bsemsesta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-5709143399879612855</id><published>2011-03-29T20:18:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T20:04:44.404-07:00</updated><title type='text'>Akhlak manusia Terhadap manusia (8)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Akhlak Manusia Terhadap Diri Sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-zJpmTI8uQps/TZKhsmnAY9I/AAAAAAAABkA/thtoaWhINTI/s1600/merenung.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 142px; height: 135px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-zJpmTI8uQps/TZKhsmnAY9I/AAAAAAAABkA/thtoaWhINTI/s200/merenung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589707875170673618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebagaimana telah disebutkan di muka bahwa akhlak adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir dengan mudah tanpa difikir untung ruginya. Keadaan batin yang sehat akan melahirkan perbuatan yang benar dan sehat, sebaliknya keadaan batin yang kacau apalagi yang gelap akan melahirkan perbuatan yang kacau dan buruk. Kualitas akhlak seseorang mencerminkan kecerdasan emosi dan rohaninya, dan berhubungan dengan cara berfikir dan cara merasa yang dipergunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang cara berfikirnya benar cenderung akan sangat berhati-hati dalam mempertimbangkan suatu perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya, sementara cara merasa yang benar akan membuat orang memiliki kepekaan atas orang lain terhadap perbuatan yang ia lakukan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu orang yang berakhlak mulia, bagaikan matahari yang bukan saja dapat menghangatkan orang lain, tetapi dirinya memiliki derajat panas yang lebih tinggi, atau seperti minyak wangi yang bukan hanya bisa mengharumkan orang tetapi dirinya memang harum. Bagi orang yang berakhlak mulia, berbuat baik bukan hanya kepentingan orang, tetapi lebih kepada kepentingan diri sendiri, berterima kasih kepada orang lebih kepada mensyukuri diri sendiri dan menghormati orang lebih pada menghormati diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbuat baik ia tidak membutuhkan penghargaan dari orang lain, karena ia melakukannya untuk dirinya, seperti matahari yang memanasi dirinya, atau minyak wangi yang mengharumkan dirinya. Di antara akhlak manusia kepada diri sendiri adalah: Sabar, jujur, iffah, qana'ah, syukur, tawaddlu' dan sebagainya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.1. Sabar. Menurut Imam Gazali, sabar ialah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan dalam waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan. jadi urgensi sabar adalah pada pencapaian tujuan. Oleh karena itu orang yang bisa sabar hanyalah orang yang selalu sadar akan tujuan yang sedang dicapai. Demi perhatiannya pada tujuan maka ia tidak mengeluh ketika harus menghadapi rintangan, dan demi tercapainya tujuan maka ia mampu bertahan terhadap proses waktu yang harus dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak ingin melakukan jalan pintas yang belum pasti hasilnya, dan ia juga tidak putus asa serta menyerah di tengah jalan. Ia juga selalu sadar untuk tidak melakukan hal yang justeru bertentangan dengan tujuan yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al Qur'an kesabaran manusia diuji ketika mengalami rasa takut, ketika lapar, kekurangan atau kehilangan harta benda, kehilangan/ditinggal mati keluarga, dan kekurangan bahan makanan (Q/2:155). Kesabaran diuji, baik ketika menghadapi kesulitan yang datang dari luar dirinya (seperti bencana) atau dari dalam dirinya (sakit misalnya) (Q/2:177). Kesabaran juga diuji ketika harus mendengar caci maki orang (Q/73:10), ketika dalam posisi kalah perang dan ketika dalam posisi menang dalam perang (Q/16:126).dan ketika harus menjalankan secara konsekwen hukum Tuhan (Q/76:24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri orang sabar ialah ketika mengalami musibah ia mengembalikan persoalannya kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan mengucap Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Q/2:156). Kesabaran menempatkan seseorang pada kedudukan yang tinggi, mengantar pada derajat taqwa. Oleh karena itu dikatakan bahwa Allah selalu menyertai orang yang sabar (Q/2:153) dan kita diperintahkan untuk selalu saling mengingatkan yang lain agar bersabar dalam kebenaran dan kasih sayang (Q/90:17 dan Q/ 103:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian paling berat dalam sabar adalah ketika mula pertama mendapati sesuatu yang tidak diinginkan, atau ketika menghadapi gempuran pertama (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;as sobru 'inda as shodmat al ula&lt;/span&gt;). Jika pada gempuran pertama seseorang tabah menghadapinya maka pada tahapan berikutnya beban itu menjadi lebih ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2. jujur (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amanah&lt;/span&gt;). Dalam bahasa sehari-hari, karakteristik orang jujur sering digambarkan sebagai orang yang tidak suka bohong, bisa dipercaya dan gaya hidupnya lurus. Kebalikan dari sifat jujur adalah suka dusta dan berkhianat yang oleh karena itu gaya hidupnya penuh dengan tipu daya. Dalam perspektip ilmu akhlak, sifat ini disebut amanah, dan contoh orang jujur yang disebut Al Qur'an adalah Nabi Muhammad dan Nabi Musa. Pada masa mudanya, yakni sebelum menjadi Rasul, Muhammad diberi gelar oleh masyarakatnya dengan sebutan al Amin, Muhammad al Amin, artinya orang yang amanah, yang dapat dipercaya. Predikat ini diberikan oleh masyarakat karena mereka belum pernah menjumpai Muhammad berdusta. Apapun yang dikatakan oleh Muhammad, masyarakat pasti percaya, karena selama hidupnya Muhammad tak pernah dijumpai berdusta. Nabi Musa juga disebut Al Qur'an sebagai sosok yang kuat dan jujur (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al qawiyyu al amin&lt;/span&gt;/ Q/al Qasas:26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab, maupun dalam istilah syara', amanah mengandung banyak arti, tetapi secara umum seorang yang berakhlak amanah atau jujur adalah orang yang bisa memelihara hak-hak Allah dan hak-hak manusia pada dirinya, yang dengan itu ia tidak pernah menyia-nyiakan tugas yang diembannya, baik tugas ibadah maupun tugas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mu'amalah&lt;/span&gt;. Amanah juga berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak dan patut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian ini maka secara lebih rinci, karakteristik orang jujur atau amanah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;(a)    Bisa memikul tanggung jawab dari apa yang menjadi kewajibannya.&lt;br /&gt;(b)    Menempatkan orang dalam tugas sesuai dengan kapabilitasnya, bukan karena pertimbangan mengambil keuntungan tersembunyi, materiil atau nepotis.&lt;br /&gt;(c)    Jika diberi titipan ia bisa menjaga apa yang dititipkan dalam keadaan utuh.&lt;br /&gt;(d)    Jika menjalankan tugas ia tidak mengambil keuntungan pribadi dari tugasnya itu (korupsi).&lt;br /&gt;(e)    Tidak menyembunyikan apa-apa yang semestinya dibayarkan, baik menyangkut hubungannya dengan Tuhan (zakat), dengan negara (pajak) maupun keluarga (nafkah).&lt;br /&gt;(f)    Mampu menyimpan apa yang harus dirahasiakan, baik rahasia tugas maupun rahasia kehormatan.&lt;br /&gt;(g)    Jika berjanji ia menunaikan janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujuran merupakan nurani yang ada di dalam batin, bukan pengetahuan yang ada di fikiran. Oleh karena itu pengetahuan agama, pengetahuan tentang nilai kejujuran tidak cukup untuk membuat orang menjadi jujur. Kejujuran tidak berlangsung begitu saja tetapi membutuhkan dukungan infrastruktur yang kondusif untuk itu . Tak jarang orang baik yang benar-benar jujur kemudian hilang kejujurannya ketika ia memikul tanggung jawab tugas yang menggoda tanpa sistem pengawasan yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Managemen kejujuran. Meskipun fitrah manusia pada dasarnya baik, jujur, lugu , berketuhanan dan memiliki rasa keadilan , tetapi ia juga memiliki syahwat dan nafsu yang cenderung menuntut pemuasan mendesak. Sudah menjadi sunnah kehidupan bahwa daya tarik keburukan itu lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan.Untuk menggapai kebaikan, orang harus berfikir dengan skala jauh, sementara keburukan justeru menggoda dengan argumen praktis dan langsung, dengan slogan; yang penting sekarang. Banyak orang mendalami ilmu kebaikan dalam kurun waktu yang panjang hingga menguasai teori dan hukum-hukumnya, tetapi tiba-tiba ia terjerumus kepada keburukan yang barn saja dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara individu, manusia harus meminij hidupnya secara amanah, membiasakan tingkahlaku yang termonitor oleh keluarga, yang dengan itu suasana menjadi kondusip untuk jujur. Secara nasional, kejujuran juga dapat disosialisasi dan direkayasa melalui sistem politik, ekonomi, sosial budaya dan seterusnya. Tentang mamangemen kejujuran secara nasional akan dibahas secara lebih terperinci di bab belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Iffah dan Qana'ah&lt;/span&gt;. Diantara kelengkapan psikologis manusia adalah syahwat, yakni kecenderungan terhadap apa yang diinginkan. Secara fitri sebagaimana disebutkan Al Qur'an bahwa manusia dihiasi dengan keinginan kepada lawan jenis, anak-anak, perhiasan emas perak, kendaraan yang bagus, kebun yang luas dan hewan ternak (Q/3:14). Jika manusia menuruti dorongan syahwatnya maka keinginan itu tak pernah terpuasi berapapun besarnya yang telah tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu syahwat harus dikendalikan hingga sekedar mendorong manusia untuk bekerja, bercita¬cita dan berkehendak.&lt;br /&gt;Sifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;iffah&lt;/span&gt; atau&lt;span style="font-style: italic;"&gt; 'afaf&lt;/span&gt; adalah bersihnya hati dari menginginkan apa yang ada pada orang lain, sedangkan qana'ah adalah perasaan menerima apapun yang diberikan Tuhan kepadanya sehingga hatinya merasa kaya dengan apa yang dimilikinya.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; 'Iffah&lt;/span&gt; terkadang diterjemahkan dengan suci hati, sedangkan qana'ah diterjemahkan dengan kaya hati&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Qana'ah&lt;/span&gt; akan membuat pemiliknya hidup dengan tenteram dan selalu berfikir untuk memberi karena merasa kaya meski yang dimilikinya sedikit, sedangkan sifat 'ffah dapat meredam perasaan iri dan dengki kepada orang lain karena ia memang tidak tertarik dan tidak mengharap apa yang telah dimiliki oleh orang lain itu. Kebalikan qana'ah dan 'iffah adalah serakah, yakni merasa yang dimilikinya masih sedikit dan menginginkan setiap apa yang telah dimiliki oleh orang lain. Orang serakah sama sekali tak sempat berfikir untuk memberi meski yang telah dimilikinya sangat banyak, karena pusat perhatiannya terletak pada bagaimana merebut apa yang ada pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.4. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tawaddlu'&lt;/span&gt; atau Rendah Hati. Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Rendah diri merupakan sifat negatip, yaitu tidak percaya diri atau minder dalam pergaulan. Sedangkan rendah hati adalah secara sadar merendahkan dirinya di hadapan orang lain.Rendah diri merupakan kelemahan, tetapi merendahkan diri hanya bisa dilakukan oleh orang kuat. Kebalikan dari rendah hati adalah sombong atau takabbur. Takabbur adalah merasa dirinya besar dan memandang orang lain lebih rendah darinya. Seorang yang rendah hati senantiasa menghormati orang lain, karena ia menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempuma. Seseorang bisa nampak rendah (penampilannya) tetapi, boleh jadi ia memiliki kelebihan yang justeru disembunyikannya dari penglihatan orang lain. Sementara orang yang rendah hati itu tahu persis kelemahan dirinya meski orang lain boleh jadi tidak mengetahuinya.&lt;br /&gt;Adapun sifat takabbur, merasa dirinya besar, hanya milik Allah, karena memang sebenarnyalah Tuhan itu Maha Besar, oleh karena itu salah satu nama Allah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al Asma al Husna&lt;/span&gt;) adalah al Mutakkbir, yang merasa diri Nya Besar. Manusia yang merasa dirinya besar pastilah keliru, disamping sebagai wujud tidak tahu diri, senya¬tanya diatas orang kaya ada yang lebih kaya, di atas orang pandai ada yang lebih pandai, di atas orang kuat ada yang lebih kuat, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Akhlak mengajarkan logika terbalik. Barang siapa ingin terhormat, ia justeru harus merendahkan dirinya, tetapi barang siapa ingin terpuruk jatuh, silahkan menyombongkan diri (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;man tawa dlo'a rofa'ahullah, waman takabbara wado'ahullah&lt;/span&gt;/Hadis). Artinya Barang siapa merendahkan dirinya, Allah akan memuliakan derajatnya, dan barang siapa menyombongkan dirinya, Allah akan menjatuhkannya. Keharusan merendahkan diri ditujukan terhadap sesama manusia, apa lagi terhadap Tuhan. Larangan takabbur juga terhadap sesama manusia, terlebih-lebih terhadap Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-5709143399879612855?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/5709143399879612855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=5709143399879612855' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5709143399879612855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/5709143399879612855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia-8_29.html' title='Akhlak manusia Terhadap manusia (8)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zJpmTI8uQps/TZKhsmnAY9I/AAAAAAAABkA/thtoaWhINTI/s72-c/merenung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-177451368358804988</id><published>2011-03-28T19:59:00.000-07:00</published><updated>2011-03-28T20:16:04.000-07:00</updated><title type='text'>Imam Politik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-zN3luLaBbkA/TZFLITj_qTI/AAAAAAAABj4/BU5j6bsEC8M/s1600/gurun%2Bpadang%2Bpasir.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 179px; height: 135px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-zN3luLaBbkA/TZFLITj_qTI/AAAAAAAABj4/BU5j6bsEC8M/s200/gurun%2Bpadang%2Bpasir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589331218605779250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam bahasa Arab, pemimpin politik bisa disebut dengan istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imam&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amir&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khalifah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;qa’id&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;za’im&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rais&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;malik&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sulthan&lt;/span&gt;, tetapi dalam sejarah perpolitikan klasik Islam, gelar imam politik yang dominan adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al Imam, khalifah&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amir al mu’minin&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Pertama, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Imâm&lt;/span&gt;. Bagi kalangan Syiah, imam berarti seorang pemimpin atau orang yang berada di muka.&lt;br /&gt;Menurut Thaba’thaba’i, imam adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang memegang pimpinan masyarakat dalam suatu gerakan sosial, atau suatu ideologi politik, atau suatu aliran pemikiran keilmuan atau keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Murtadha Muthahhari berpendapat, bahwa imam adalah pribadi yang memiliki beberapa pengikut, terlepas dari kenyataannya apakah dia saleh atau tidak. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam-imam yang memberi petunjuk dengan seizin Kami.” (Al-Anbiyâ’: 73).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiah, imam adalah seorang pemimpin.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Imâm&lt;/span&gt; berarti orang yang diikuti, baik sebagai kepala, jalan, atau sesuatu yang membuat lurus dan memperbaiki perkara. Selain itu, ia juga bisa berarti Al-Qur’an, Nabi Muhammad, khalifah, panglima tentara, dan sebagainya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâm&lt;/span&gt; memiliki banyak makna. Yaitu, bisa bermakna: maju ke depan, petunjuk dan bimbingan, kepantasan seseorang menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;uswah hasanah&lt;/span&gt;, dan kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâm&lt;/span&gt; banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Misalnya; “(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami memanggil setiap umat dengan pemimpinnya ….” (Al-Isrâ’: 71); “… dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada Kitab Musa sebagai imam (pedoman) dan rahmat …?” (Hûd: 17); “… dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqân: 74); “Dan (ingatlah) tatkala Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan kami imam (pemimpin) bagi seluruh manusia ….” (Al-Baqarah: 124); “Dan kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub sebagai suatu anugerah (dari Kami) dan masing-masing Kami jadikan orang-orang saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami telah wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat ….” (Al-Anbiyâ’: 72-73); “Dan Kami ingin memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang yang mewarisi (bumi)” (Al-Qashash: 5); “dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (Al-Qashash: 41); dan “…, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar mereka berhenti.” (Al-Tawbah: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas, kita bisa memetik dua pengertian dari makna &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâm&lt;/span&gt;, yaitu: (1) Kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâm&lt;/span&gt; tersebut yang sebagian besar digunakan dalam Al-Qur’an membuktikan adanya indikasi yang bermakna “kebaikan”. Pada sisi lain—pada dua ayat terakhir di atas, bahwa kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâm&lt;/span&gt; menunjukkan makna jahat. Karena itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâm&lt;/span&gt; berarti seorang pemimpin yang diangkat oleh beberapa orang dalam suatu kaum. Pengangkatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâm&lt;/span&gt; tersebut mengabaikan dan tidak memperdulikan, apakah ia akhirnya akan berjalan ke arah yang lurus atau arah yang sesat. (2) Kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâm&lt;/span&gt; dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu bisa mengandung makna penyifatan kepada nabi-nabi: Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, dan Musa—sebagaimana juga menunjukkan kepada orang-orang yang bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Al-Khalîfah&lt;/span&gt;. Gelar ini sangat berkaitan dengan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam. Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat berkumpul untuk memilih dan memutuskan seorang yang akan menjadi pengganti kepemimpinannya. Dan, Abu Bakar terpilih untuk menggantikan Rasulullah dalam memimpin dan memelihara kemaslahatan umat Islam pada masa-masa berikutnya. Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, yang berarti penerus atau pengganti untuk mengurus masalah umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar menegaskan, “Aku bukan khalifah Allah, melainkan khalifah Rasulullah.” Jadi, Abu Bakar diangkat oleh para sahabat sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Rasulullah. Gelar khalifah setelah Rasulullah digunakan untuk menjadi antitesis dari sistem kekisraan dan kekaisaran—sebuah pemerintahan individu yang otoriter, zalim dan keji, yang berkembang pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amîr Al-Mu’minîn&lt;/span&gt;. Gelar ini diberikan kepada khalifah kedua: Umar ibn Khathtab—setelah menggantikan Khalifah Abu Bakar yang wafat. Dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Muqaddimah&lt;/span&gt;, Ibnu Khaldun menjelaskan sebab pemberian nama ini. Ia menulis, “Itu adalah bagian dari ciri khas kekhalifahan dan itu diciptakan sejak masa para khalifah. Mereka telah menamakan para pemimpin delegasi dengan nama amir; yaitu wazan (bentuk kata) fa’il dari imarah. Para sahabat pun memanggil Sa’ad ibn Abi Waqqash dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amîr Al-Mu’minîn&lt;/span&gt; karena ia memimpin tentara Islam dalam Perang Qadisiyyah. Pada waktu itu, sebagian sahabat memanggil Umar ibn Khathtab dengan sebutan yang sama juga: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amîr Al-Mu’minîn&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, ketiga gelar di atas menunjukkan keharusan adanya kepemimpinan dalam Islam. Bagi suatu kaum atau ummat, keberadaan seorang pemimpin merupakan suatu keharusan yang tak mungkin dipungkiri. Menurut Imam Al-Mawardi dalam karyanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Ahkâm Al-Sulthâniyyah wa Al-Wilâyât Al-Dîniyyah&lt;/span&gt;, dalam lembaga negara dan pemerintahan, seorang kepala atau pemimpin wajib hukumnya menurut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ijma’&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, karena  kepala lembaga dan pemerintah dijadikan sebagai pengganti fungsi kenabian dan menjaga agama serta mengatur urusan dunia.&lt;br /&gt;Al-Mawardi menyebut tujuh syarat yang harus dipenuhi calon kepala negara (seorang pemimpin). Syarat-syarat itu, antara lain: keseimbangan atau keadilan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-‘adâlah&lt;/span&gt;); punya ilmu pengetahuan untuk berijtihad; punya panca indera lengkap dan sehat; anggota tubuhnya tidak kurang untuk menghalangi gerak dan cepat bangun; punya visi pemikiran yang baik untuk mendapatkan kebijakan yang baik; punya keberanian dan sifat menjaga rakyat; dan punya nasab dari suku Quraisy. Persyaratan terakhir ini dapat dibandingkan dengan UUD 45 yang mensyaratkan Presiden harus warga Negara Indonesia asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum Al-Qur’an tidak menentukan corak kepemimpinan politik  tertentu yang harus diambil oleh ummat Islam, oleh karena itu pada era modern, Pemerintahan negeri-negeri Islam mengambil bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan probabilitasnya. Negeri-negeri Sunni kebanyakan memilih bentuk Republik seperti negeri kita, sebagian memilih bentuk kerajaan, baik dalam bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mamlakah&lt;/span&gt; yang dipimpin oleh malik, atau kesultanan di bawah seorang sulthan, atau emirat di bawah seorang amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Iran sebagai satu-satunya negeri kaum Syi’ah, memiliki sistem politik yang didasarkan atas konsep wilayat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al faqih&lt;/span&gt; dimana &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ayatul-lah ‘uzma&lt;/span&gt; memiliki otoritas keagamaan dan politik sekaligus.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-177451368358804988?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/177451368358804988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=177451368358804988' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/177451368358804988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/177451368358804988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/imam-politik.html' title='Imam Politik'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zN3luLaBbkA/TZFLITj_qTI/AAAAAAAABj4/BU5j6bsEC8M/s72-c/gurun%2Bpadang%2Bpasir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-1465571645589648704</id><published>2011-03-27T20:32:00.000-07:00</published><updated>2011-03-27T20:49:00.941-07:00</updated><title type='text'>Imam: Tinjauan Akhlak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Ka47GoVLkUw/TZADQeKkE1I/AAAAAAAABjw/Z5j4lv1wDZM/s1600/muhammad.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 166px; height: 153px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Ka47GoVLkUw/TZADQeKkE1I/AAAAAAAABjw/Z5j4lv1wDZM/s200/muhammad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588970719076946770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seseorang dapat menjadi pemimpin (imam) dari orang banyak manakala ia memiliki (a) kelebihan dibanding yang lain, yang oleh karena itu ia bisa memberi (b) memiliki keberanian dalam memutuskan sesuatu, dan (c) memiliki kejelian dalam memandang masalah sehingga ia bisa bertindak arif bijaksana. Secara sosial seorang pemimpin (imam) adalah penguasa, karena ia memiliki otoritas dalam memutuskan sesuatu yang mengikat orang banyak yang dipimpinnya. Akan tetapi menurut etika keagamaan, seorang pemimpin pada hakekatnya adalah pelayan dari orang banyak yang dipimpinnya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;sayyid al-qaumi khodimuhum&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang akhlaknya rendah  pada umumnya lebih menekankan dirinya sebagai penguasa, sementara pemimpin yang berakhlak baik lebih menekankan dirinya sebagai pelayan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari keputusan seorang pemimpin akan sangat besar implikasinya pada rakyat yang dipimpin. Jika keputusannya tepat maka kebaikan akan merata kepada rakyatnya, tetapi jika keliru maka rakyat banyak akan menanggung derita karenanya. Oleh karena itu pemimpin yang baik disebut oleh Nabi dengan sebutan pemimpin yang adil (imamun ‘adilun), sementara pemimpin yang buruk digambarkan Al-Quran, dan juga hadis, sebagai pemimpin yang zalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan sebaliknya zalim artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Hadis Riwayat Bukhari menempatkan seorang Pemimpin yang adil dalam urutan pertama dari tujuh kelompok manusia utama. Hadis Riwayat Muslim menyebutkan bahwa pemimpin yang terbaik adalah  pemimpin yang dicintai  rakyatnya dan iapun mencintai rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pemimpin yang terburuk menurut Nabi, adalah pemimpin yang dibenci rakyatnya dan iapun membenci rakyatnya, mereka saling melaknat satu sama lain. Hadis lain menyebutkan bahwa dua dari  lima golongan yang dimurkai Tuhan adalah (1) Penguasa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;amir&lt;/span&gt;) yang hidupnya ditopang oleh rakyat (sekarang-pajak), tetapi ia tidak memberi manfaat kepada rakyatnya, dan bahkan tidak bisa melindungi keamanan rakyatnya. (2) Pemimpin kelompok (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;za‘im&lt;/span&gt;) yang dipatuhi pengikutnya tetapi ia melakukan diskriminasi terhadap kelompok kuat atas yang lemah, serta berbicara sekehendak hatinya (tidak mendengarkan aspirasi pengikutnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis Riwayat Dailami bahkan menyebut pemimpin yang sewenang-wenang (imam jair) sebagai membahayakan agama.&lt;br /&gt;Kisah Al-Qur’an yang menyebut Nabi (Raja) Sulaiman yang memperhatikan suara semut mengandung pelajaran bahwa betapa pun seseorang menjadi pemimpin besar dari negeri besar, tetapi ia tidak boleh melupakan kepada rakyat kecil yang dimisalkan semut itu. (Q/27:16). Meneladani kepemimpinan Rasulullah, akhlak utama yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah keteladanan yang baik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;uswah hasanah&lt;/span&gt;), terutama dalam kehidupan  pribadinya, seperti; hidup bersih, sederhana dan mengutamakan orang lain. Tentang betapa tingginya nilai keadilan pemimpin, Hadis Riwayat Tabrani menyebutkan bahwa waktu satu hari dari seorang imam yang adil setara dengan ibadah tujuh puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-1465571645589648704?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/1465571645589648704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=1465571645589648704' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/1465571645589648704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/1465571645589648704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/imam-tinjauan-akhlak.html' title='Imam: Tinjauan Akhlak'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Ka47GoVLkUw/TZADQeKkE1I/AAAAAAAABjw/Z5j4lv1wDZM/s72-c/muhammad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-4400269546838614118</id><published>2011-03-24T19:50:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T00:34:58.210-07:00</updated><title type='text'>Imam: Tinjauan Akidah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;Konsep &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâmah&lt;/span&gt; da&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-z2WEgnC-rN4/TYwHUOMMuXI/AAAAAAAABjo/QaMZJt-2_FU/s1600/Allah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 138px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-z2WEgnC-rN4/TYwHUOMMuXI/AAAAAAAABjo/QaMZJt-2_FU/s200/Allah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587849281647982962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;lam Islam dapat dipelajari dari tiga perspektif yang berbeda, yaitu, masing-masing:&lt;br /&gt;(1) dari perspektif pemerintahan , (2) dari perspektif pengetahuan dan ketentuan-ketentuan Islam, serta (3) dari perspektif kepemimpinan dan bimbingan pembaharuan kehidupan kerohanian. Berikut penjelasannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; imâmah&lt;/span&gt; dari perspektif pemerintahan . Ketika dikaitkan dengan masalah kenegaraan, konsep&lt;span style="font-style: italic;"&gt; imâmah&lt;/span&gt; memunculkan perbedaan pendapat di dalam kalangan umat Islam: Sunni dan Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari Sunni, kalangan Syiah, khususnya yang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Imamiyah&lt;/span&gt;, menyebutkan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâmah&lt;/span&gt; adalah masalah utama dan bagian dari rukun iman. Masalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâmah&lt;/span&gt; bukan termasuk kepentingan umum, tapi menjadi tiang agama dan dasar Islam yang telah digariskan oleh Allah melalui ayat-ayatnya dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalangan Syiah, seperti disebutkan Murtadha Muthah hari, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâmah&lt;/span&gt; bisa berarti pimpinan umum suatu masyarakat. Salah satu tugas yang lowong pada masa setelah Rasulullah wafat adalah kepemimpinan masyarakat. Lalu, siapa yang berhak menggantikan Nabi? Di sinilah masalah khilafah muncul. Kaum Syi`ah mengklaim bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imamah&lt;/span&gt; adalah hak preogratip keturunan Nabi lewat Alibin Abi Talib, disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ahl al bait&lt;/span&gt;. Klaim inilah yang membuat Iran, satu-satunya negeri Syi`ah bisa dikontrol oleh para mullah yang masuk kategori &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ahl albeit&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara manurut kaumSunni, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imamah&lt;/span&gt; merupakan kebudayaan,oleh karena itu diserahkan kepada masyarakat untuk memilih dan menentukan bentuknya, boleh dipilih oleh lembaga perwakilan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ahl alhalli waal`aqdi&lt;/span&gt;) atau dipilih secara demokratis oleh rakyat. Terbukti ketika Nabi wafat,masyarakat sepakat memilih Abu Bakar Siddik menjadi khalifah, dan selanjutnya melalui berbagai bentuk variasi terpilih penggantinya, Umar bin Khattab (melalui dekrit) ,Usman bin `Affan (melalui tim ahli yang didektritkan) dan Ali bin Abi Thalib (aklamasi terbatas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah periode ini yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Khulafa rasyidin&lt;/span&gt;, masyarakat memilih sistem yang berbeda meski masih bernama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khilafah&lt;/span&gt;,yakni khilafah Umayyah yang berpusat di Damaskus, kemudian khilafah Abbasiah yang berpusat di Baghdad. Kini setiap bangsa muslim memilih sistem yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan regional,ada yang memilih bentuk kerajaan absolute, kerajaan konstitusionil, atau republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâmah&lt;/span&gt; dari perspektif pengetahuan dan ketentuan-ketentuan Islam. Kalangan Syi'ah tidak hanya membatasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâmah&lt;/span&gt; pada kepemimpinan politis. Mereka mengatakan, bahwa imâmah juga berkaitan dengan pengertian kepemimpinan religius. Menurut kalangan Syi'ah, sebelum wafat, Nabi Muhammad telah mendidik Imam Ali, penggantinya, sebagai seorang berilmu yang luar biasa dan mengajarkan kepadanya segala sesuatu tentang Islam. Imam Ali adalah salah seorang sahabat Nabi yang paling menonjol. Imam Ali suci sebagaimana Nabi juga suci. Dengan alasan ini, maka yang paling pantas menggantikan Nabi setelah wafat adalah Imam Ali. Ali menerima ilmu secara langsung dari Nabi, dan para imam berikut juga memperoleh ilmu melalui Imam Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kalangan Syi'ah percaya adanya dua belas imam. Yaitu, Ali ibn Abi Thalib, Hasan ibn Ali, Husain ibn Ali, Ali ibn Husain, Muhammad ibn Ali, Ja’far ibn Muhammad, Musa ibn Ja’far, Ali ibn Musa, Muhammad ibn Ali, Ali ibn Muhammad, Hasan ibn Ali, dan Mahdi. Sementara menurut kaum Sunni, keulamaan tidak berhubungan dengan nasab, maka siapa saja yang memiliki kapasitas keilmuan (Islam) dan akhlak yang prima, mereka menempati kedudukan sebagai ulama, yakni pemimpin dalam bidang keilmuan dan keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imâmah&lt;/span&gt; dari perspektif kepemimpinan dan bimbingan pembaharuan kehidupan kerohanian, yakni  imâmah yang berkaitan dengan pengertian wilayah atau kewalian. Wilayah menjadi fokus utama para sufi , sama seperti persoalan mengenai manusia sempurna dan wali zaman. Kalangan sufi Syiah percaya bahwa wali dan imam adalah pemimpin zaman. Dan wali itu selalu ada, dan karena itu mereka percaya akan selalu ada seorang manusia sempurna di dunia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-4400269546838614118?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/4400269546838614118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=4400269546838614118' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4400269546838614118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4400269546838614118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia-9.html' title='Imam: Tinjauan Akidah'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-z2WEgnC-rN4/TYwHUOMMuXI/AAAAAAAABjo/QaMZJt-2_FU/s72-c/Allah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-3822576387683315585</id><published>2011-03-23T22:13:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T00:35:50.724-07:00</updated><title type='text'>PEMIMPIN DALAM BERIBADAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;Sebagai makhluk s&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-cO6DHEy_1aE/TYrU_C4ZJNI/AAAAAAAABjg/hirpgldjBA0/s1600/imam%2Bshalat%2BII.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 145px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-cO6DHEy_1aE/TYrU_C4ZJNI/AAAAAAAABjg/hirpgldjBA0/s200/imam%2Bshalat%2BII.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587512467276768466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;osial budaya, manusia mengenal lembaga kepemimpinan, termasuk ketika menjalankan ritual ibadah. Dalam bahasa Arab, pemimpin disebut dengan istilah imam, amir, za`im, ra’is, dan qa’id, tetapi istilah imam dipergunakan untuk menyebut kepemimpinan secara umum,  termasuk dalam ritual ibadah. Dalam menjalankan salat jamaah kaum muslimin juga dipimpin oleh seorang imam. Layaknya kepemimpinan dalam masyarakat, dalam salat jamaah juga dikenal kriteria-kriteria (a) siapa yang layak menjadi imam salat, (b) apa etika seorang imam, (c) apa kewajiban makmum, dan (d) hak-hak makmum.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fiqhiyyah, siapa saja dengan syarat-syarat tertentu bisa menjadi imam salat, tetapi pada hakekatnya, karena salat merupakan amal ibadah dimana manusia menghadap, melapor dan berdialog dengan Tuhan Yang Maha Agung, maka hanya orang-orang tertentu yang layak menjadi imam salat jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali dalam  Ihya ‘Ulum ad Din, kitab fiqh yang sufistik, menyebut enam kriteria persyaratan etis seorang imam.&lt;br /&gt;(1) Mempunyai kredibilitas moral dan senioritas keilmuan agama; Bermakmum kepada orang yang dikenal rendah kredibilitasnya akan membuat makmum tidak dapat tuma’ninah&lt;br /&gt;(2) Tidak boleh rangkap jabatan, sebagai muazzin dan imam sekaligus,&lt;br /&gt;(3) Sang imam sendiri harus terbiasa disiplin salat awal waktu setiap harinya,&lt;br /&gt;(4) Imam harus ikhlas menjalankan amanah Allah,&lt;br /&gt;(5) Sebelum bertakbir harus meyakinkan dirinya bahwa barisan makmum di belakangnya telah berbaris rapih, dan&lt;br /&gt;(6) Bertakbir dengan suara lantang serta membaca Al-Qur’an dengan fasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salat berjamaah melambangkan sistem kepemimpinan dalam masyarakat, oleh karena itu, karena seorang imam akan menjadi panutan yang diikuti secara patuh oleh makmum di belakangnya, maka seorang imam harus mengerti aspirasi makmum di belakangnya. Seorang imam salat berjamaah tidak boleh beruku’ atau sujud berlama-lama, karena belum tentu semua makmum di belakangnya sanggup melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tidak boleh membaca ayat Qur’an terlalu panjang sekiranya ia tahu bahwa jamaah di belakangnya sedang berpacu dengan berbagai urusan pekerjaan. Imam juga harus memberi peluang makmum menggenapi kekurangannya, yakni diam sejenak sebelum membaca ayat Qur’an, memberi kesempatan makmum yang belum sempurna membaca Fatihah. Layaknya sistem kepemimpinan, makmum harus patuh total mengikuti gerak imam yang sudah dipilih secara syah, tidak boleh pula mendahului gerakan imam, tetapi jika  imam melakukan kekeliruan, makmum diberi hak untuk mengingatkan, yakni dengan mengucapkan kalimat Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai imbangan dari keharusan makmum mematuhi imam, seorang imam  secara sportif langsung harus mengundurkan diri jika di tengah-tengah salat ia terkena hadas, buang angin misalnya, karena buang angin membatalkan wudu, dan batalnya wudu membuat salatnya tidak sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jabatan” Imam salat sangat tinggi kedudukannya dalam agama, melebihi jabatan muazzin. Tetapi profesi imam bukan bersifat duniawi, oleh karena itu banyak orang justru merasa tidak layak menjadi imam salat jamaah. Para sahabat dulu juga tidak berebutan untuk menjadi imam, sebaliknya justru saling dorong-mendorong yang lain. Seorang imam salat yang ideal adalah imam yang bisa meneladani perilaku Rasulullah dan sahabat model Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Imam salat adalah teladan bagi makmum, karena semua gerakan imam akan diikuti oleh makmum di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Imam Ghazali membuat bab tentang imam dengan judul (al-bab fi al imamah wa al qudwah) Bab tentang keimaman dan keteladanan di dalam buku karya utamanya Ihya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-3822576387683315585?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/3822576387683315585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=3822576387683315585' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3822576387683315585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3822576387683315585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia-7_1719.html' title='PEMIMPIN DALAM BERIBADAH'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-cO6DHEy_1aE/TYrU_C4ZJNI/AAAAAAAABjg/hirpgldjBA0/s72-c/imam%2Bshalat%2BII.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-2659066449552114826</id><published>2011-03-22T20:37:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T22:13:08.769-07:00</updated><title type='text'>Akhlak Manusia Terhadap manusia (7)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Akhlak Manusia Kepada Pemimpin (Etika Struktural)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah m&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-EmCXYkRinr8/TYlyBGjnAkI/AAAAAAAABjA/aSEjwXIj9yg/s1600/imam%2Bdlm%2Bshalat.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 169px; height: 151px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-EmCXYkRinr8/TYlyBGjnAkI/AAAAAAAABjA/aSEjwXIj9yg/s200/imam%2Bdlm%2Bshalat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587122175995216450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;akhluk social disamping sebagai makhlukyang unik. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki tabiat suka kerjasama dan bersaing sekaligus. Untuk mencapai tujuan bersama manusia biasa melakukan kerjasama agar pencapaian tujuan bersama bisa lebih dipercepat. Tetapi dalam bekerja sama manusia juga memiliki tabiat bersaing untuk memperebutkan posisi yang tertinggi, misalnya untuk menjadi Ketua, bupati, gubernur atau presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bersaing manusia terkadang bertindak fair,  terkadang tidak. Jika persaingan berlangsung fair maka kehidupan masyarakat menjadi dinamis tetapi tetap indah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika persaingan berlangsung curang dan licik maka harmoni sosial terganggu,bahkan bisa menjurus kepada konflik sosial. Oleh karena itu pada tatanan masyarakat dimanapun selalu dikenal adanya lembaga kepemimpinan , yakni mereka yang bertindak memelihara ketertiban sosial, menengahi konflik dan membimbing masyarakat pada peningkatan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga kepemimpinan masyarakat itu dalam al Qur'an disebut uli al amri, dan kewajiban mematuhi perintah ulil amri disebutkan senafas dengan kewajiban mematuhiTuhan dan Rasul, athi`ulloh wa athi`ur rasul wa uli alamri minkum (Q/…..) Bahkan dalam menjalankan ibadah kepada Tuhanpun dikenal adanya imam yang bertugas memimpin ritus ibadah agar berlangsung tertib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-2659066449552114826?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/2659066449552114826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=2659066449552114826' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2659066449552114826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2659066449552114826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia-7.html' title='Akhlak Manusia Terhadap manusia (7)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-EmCXYkRinr8/TYlyBGjnAkI/AAAAAAAABjA/aSEjwXIj9yg/s72-c/imam%2Bdlm%2Bshalat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-7622501714569732753</id><published>2011-03-21T19:43:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T00:15:16.495-07:00</updated><title type='text'>Akhlak Manusia terhadap manusia (6)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Akhlak Kepada Kemanusiaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-QU_pnCV57wI/TYgRGaXlh8I/AAAAAAAABiw/xLb5pzPwc7A/s1600/korban%2Bkemanusiaan%2Bi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 144px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-QU_pnCV57wI/TYgRGaXlh8I/AAAAAAAABiw/xLb5pzPwc7A/s200/korban%2Bkemanusiaan%2Bi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586734139608238018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa. Fikiran yang dimiliki memungkinkannya mencapai kemajuan kehidupan di muka bumi dengan peradaban yang tinggi. Dengan fikirannya pula manusia dapat memanfaatkan kekayaan alam secara optimal untuk kepentingan hidupnya. Di sisi lain, manusia dengan perasaannya, baik perasaan yang bersumber dari hati maupun hati nuraninya menyebabkan manusia memiliki martabat kemanusiaan, yang mengerti tentang makna hidup dan mengenal apa yang disebut peri kemanusiaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaannya pula manusia mengenal harga diri dan kehormatan sebagai manusia yang terhormat, sehingga manusia bisa merasa terhormat, tersanjung, disamping terhina dan teraniaya. Kesadaran akan harga diri kemanusiaan bisa datang dari dalam diri manusia itu sendiri sebagai produk dari perenungan falsafi atas hakikat dirinya, bisa juga datang dari pengetahuan yang diterima dari luar dirinya, dari ajaran agama misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam misalnya memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap manusia dengan memberikannya predikat sebagai khalifah Allah, sebagai wakil Allah di muka bumi. Predikat ini membawa implikasi yang sangat besar kepada manusia, yaitu bahwa manusia diberi tanggung jawab atau amanah untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran di tengah-tengah kehidupan manusia, dan untuk itu manusia diberi hak untuk mengelola bumi dan kekayaannya sebagai fasilitas hidup. Dari wacana kemanusiaan itulah lahir pemikiran-pemikiran yang substansinya bermaksud melindungi eksistensi manusia dengan segala kehormatannya di muka bumi ini, seperti apa yang disebut dengan HAM (Hak Azazi Manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak manusia kepada kemanusiaan adalah dimaksud untuk meningkatkan martabat kemanusiaan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara akhlak manusia kepada kemanusiaan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Memperlakukan manusia sebagai manusia, tanpa membeda-bedakan jender, suku, keyakinan agama, maupun warna kulit, terutama dalam kasus-kasus murni kemanusiaan ; menyangkut kebutuhan kesehatan dan pangan.&lt;br /&gt;6.2. Melindungi Hak-Hak Kemanusiaan. Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa tujuan syariah agama (magasid as syari'ah) adalah untuk melindungi lima aspek kemanusiaan (Ushul al Khamsah);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a)    Melindungi jiwa raga manusia (khifdz an nafs)&lt;br /&gt;(b)    Melindungi akalnya (khifdz al 'aql)&lt;br /&gt;(c)    Melindungi keyakinannya (khifdz addin)&lt;br /&gt;(d)    Melindungi hartanya (khifdz al mg])&lt;br /&gt;(e)    Melindungi keturunannya (khifdz an nasl).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh manusia sebagai anugerah Tuhan dimana jiwa bersemayam adalah sempurna, oleh karena itu penyiksaan yang merusak tubuh sangat dilarang. Demikian juga mengubah bagian tubuh (dengan operasi plastik misalnya) yang bukan disebabkan karena tidak berfungsinya bagian tubuh tersebut merupakan perbuatan yang tak terpuji. Sedangkan operasi plastik yang dimaksud untuk menyempurnakan kekurangan, misalnya operasi bibir sumbing dan sebangsanya tidaklah dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga perbuatan menghilangkan nyawa (membunuh) tanpa hak merupakan perbuatan dosa besar. Hukuman mati bagi pembunuh (qisas) adalah wujud perlindungan kepada jiwa manusia, karena seorang pembunuh akan sangat mudah membunuh kembali. Meskipun hukuman mati diperbolehkan, tetapi etika pelaksanaannya harus diikuti, yaitu dengan proses yang tidak menyiksa, yakni mematikan dengan proses yang cepat. Perbuatan sadis terhadap jenazah merupakan perbuatan terlarang, karena tidak menghormati raga manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal sebagai wujud aktifitas psikologis juga harus dilindungi. Melarang orang untuk mengemukakan fikiran dan pendapatnya merupakan kezaliman, karena pada dasarnya setiap manusia secara kodrati memiliki kemerdekaan untuk berpendapat. Meminum minuman keras yang memabukkan merupakan bentuk pelecehan terhadap akal, karena orang yang mabuk justeru akalnya menjadi tidak berfungsi secara baik. Demikian juga penggunaan obat-obat terlarang, narkoba dan zat adiktip lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan agama dan akidah juga merupakan hak azazi yang harus dilindungi, tak seorangpun boleh memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Tuhan sendiri membebaskan manusia untuk beriman atau kafir (faman sya'a fal yu'min waman sya'a fal yakfur (Q/ 18:29)), dan Tidak boleh ada paksaan dalam agama (la ikraha fid din (Q/ 2:256)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta milik manusia juga harus dilindungi. Pelaku pencurian dan perampokan boleh dihukum secara setimpal, dan mati karena membela hartanya yang halal dari kejahatan orang, dihukumkan mati syahid.&lt;br /&gt;Kesucian keturunaan juga perlu dilindungi, karena hal itu menyangkut jatidiri seorang manusia,. Manusia yang tidak mengenali jati dirinya sebagai makhluk bermartabat akan mengalami konflik batin dan bias jatidiri. Oleh karena itu untuk melindungi manusiadari krisis jati diri perzinaan di-haramkan, bayi tabung dengan sperma bukan suami dilarang, ter¬masuk kloning dan hal-hal lain yang mengkacaukan silsilah terlarang hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Akhlak Terhadap Orang Yang Telah Mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Tuhan (walaqad karromna bani adam(Q/17:70), oleh karena itu agama mengajarkan agar manusia, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, tubuhnya dan jiwanya, dihormati secara wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1. Secara fisik jenazah manusia, siapapun dia tidak boleh diperlakukan secara tidak terhormat, dicampakkan begitu saja atau dikubur begitu saja seperti hewan, tetapi harus "diselenggarakan" jenazahnya sesuai dengan kehormatan martabat manusia. Jika ada bagian tubuhnya yang terpisah , maka ia hams disatukan kembali dalam kuburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Agama Islam bahkan memberikan tuntunan penyelenggaraan jenazah dengan sangat terhormat; dimandikan, dikafani, disalati dan dikubur, di talqin, diantar dengan azan dan iqomah serta doa orang yang masih hidup. Hanya orang mati syahid yang dikubur tanpa dimandikan dan dikafani, melainkan dengan pakaian dan darah dimana ia gugur syahid. Jika manusia mati di daratan maka ia dikubur di tanah, dan jika mati di lautan maka ia ditenggelamkan ke dalam laut dengan perangkat penyelenggaraan yang sama dengan penguburan di darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.3. Etikanya, jika seseorang meninggal dunia, maka segera diselenggarakan jenazahnya, jangan ditunda penguburannya hingga esok, kecuali jika ada hal-hal yang sangat prinsip.&lt;br /&gt;7.4. Dianjurkan ikut mengiringkan jenazah orang yang kita kenal ke kubur.&lt;br /&gt;7.5. Secara spiritual orang yang masih hidup dianjurkan mendo'akan kepada orang yang sudah mati agar diampuni Tuhan, terlebih jika yang sudah meninggal itu orang tua atau kerabat. Bagi seorang anak juga diwajibkan meneruskan tradisi baik orang tuanya yang sudah meninggal, termasuk bersilaturrahmi dengan handai tolan orang tuanya, dan menyelesaikan urusan perdata (hutang piutang) kepada pihak lain.&lt;br /&gt;7.6. Ahli waris orang yang meninggal hendaknya tidak bersengketa tentang pembagian waris, sebaliknya dapat mewakafkan sesuatu yang monumental dengan nama orang yang meninggal.&lt;br /&gt;7.7. Adapun tentang kuburan, tidak ada anjuran untuk membangun monumen diatasnya selain sekedar tanda kuburan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-7622501714569732753?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/7622501714569732753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=7622501714569732753' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7622501714569732753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7622501714569732753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia_21.html' title='Akhlak Manusia terhadap manusia (6)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-QU_pnCV57wI/TYgRGaXlh8I/AAAAAAAABiw/xLb5pzPwc7A/s72-c/korban%2Bkemanusiaan%2Bi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-8581766818378161547</id><published>2011-03-20T21:22:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T00:15:38.950-07:00</updated><title type='text'>Akhlak manusia Terhadap manusia (5)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Akhlak Terhadap Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya ma&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-LUQh6DoJink/TYbVNiyLNaI/AAAAAAAABio/VDMxvJsqpr4/s1600/tolong%2Bmenolong.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 147px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-LUQh6DoJink/TYbVNiyLNaI/AAAAAAAABio/VDMxvJsqpr4/s200/tolong%2Bmenolong.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586386816451949986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;nusia adalah makhluk sosial (al insanu ijtima'iyyun bi at tob'i). Integritas manusia dapat dilihat secara bertingkat, integritas pribadi, integritas keluarga dan integritas sosial. Diantara ketiga lembaga; pribadi, keluarga dan masyarakat terdapat hubungan saling mempengaruhi. Masyarakat yang baik terbangun oleh adanya keluarga-keluarga yang baik, dan keluarga yang baik juga terbangun oleh individu-individu anggauta keluarga yang baik, sebaliknya suasana keluarga akan mewarnai integritas individu dan suasana masyarakat juga mewarnai integritas keluarga dan individu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antar anggauta masyarakat ada yang diikat oleh faktor domisili pertetanggaan, ada juga yang diikat oleh kesamaan profesi, atau kesamaan asal usul dan kesamaan sejarah. Oleh karena itu disamping ada masyarakat lingkungan juga ada masyarakat pers, masyarakat pendidikan, masyarakat ekonomi, masyarakat politik dan sebagainya, juga ada masyarakat etnik dan masyarakat bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektip ini kita mengenal ungkapan yang mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah anak zaman, artinya kualitas masyarakat seperti apa akan melahirkan pemimpin seperti apa. Seorang penulis juga anak dari zamannya, artinya pemikiran yang muncul dari seorang penulis mencerminkan keadaan masyarakat zamannya. Bagi orang yang sadar akan makna dirinya sebagai makhluk sosial maka ia bukan hanya dibentuk oleh masyarakatnya, tetapi secara sadar berusaha membangun masyarakat sesuai dengan konsep yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara berencana ia membangun institusi-institusi yang akan menjadi pilar terbangunnya masyarakat yang diimpikan, satu pekerjaan yang sering disebut dengan istilah rekayasa sosial, social enginering. Islam mengajarkan bahwa antara individu dengan individu yang lain bagaikan struktur bangunan (ka al bun yan), yang satu memperkuat yang lain. Masyarakat yang ideal adalah yang berinteraksi secara dinamis tetapi harmonis, seperti yang diumpamakan oleh Nabi bagaikan satu tubuh (ka al jasad al wahid), jika satu organ tubuh menderita sakit maka organ yang lain ikut merasakannya dan keseluruhan organ tubuh melakukan solidaritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut tanggung jawab anggauta masyarakat, suatu masyarakat itu diibaratkan Nabi dengan penumpang perahu, jika ada seorang penumpang di bagian bawah melubangi kapal karena ingin cepat memperoleh air, maka penumpang yang di bagian atas harus mencegahnya, sebab jika tidak, yang tenggelam bukan hanya penumpang yang di bawah, tetapi keseluruhan penumpang perahu, yang bersalah dan yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi disamping setiap individu memiliki HAM yang perlu dilindungi, dan setiap keluarga memiliki kehidupan privacy yang perlu dihormati, maka suatu masyarakat juga memiliki norma-norma dan tatanan sosial yang harus dipelihara bersama. Pelanggaran atas norma-norma sosial akan berakibat terjadinya kegoncangan sosial yang dampaknya akan dirasakan oleh setiap keluarga dan setiap individu. Akhlak terhadap masyarakat adalah bertujuan memelihara keharmonisan tatanan masyarakat agar sebagai lembaga yang dibutuhkan oleh semua anggauta masyarakat ia berfungsi optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam lingkungan masyarakat yang baik, suatu keluarga akan berkembang secara wajar, dan kepribadian individu akan tumbuh secara sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara akhlak terhadap masyarakat adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Memelihara perasaan umum. Masyarakat yang telah terjalin lama akan memiliki nilai-nilai yang secara umum diakui sebagai kepatutan dan ketidakpatutan. Setiap individu hendaknya menjaga diri dari melakukan sesuatu yang dapat melukai perasaan umum, meski perbuatan itu sendiri halal, misalnya berpesta di tengah kemiskinan masyarakat, memamerkan kemewahan di tengah masa krisis ekonomi, menunjukkan arogansi kekuasaan di tengah masyarakat yang lemah, menyelenggarakan kegiatan demontratif yang mengganggu kekhustyu'an orang beribadah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Berperilaku disiplin dalam urusan publik. Disiplin adalah mengerjakan sesuatu sesuai dengan kemestiannya, menyangkut waktu, biaya, dan prosedur. Seorang yang disiplin, datang dan pulang kerja sesuai dengan jadwal kerja, membayar atau memungut bayaran sesuai dengan tarifnya, menempuh jalur urusan sesuai dengan prosedurnya. Pelanggaran kepada disiplin, misalnya' menyuap atau menerima suap, meski dirasa ringan secara ekonomi, tetapi bayarannya adalah rusaknya tatanan dan sistem kerja. Demikian juga nepotisme dalam menggolkan urusan, meski tidak terbukti secara administratip, tetapi sebenarnya merusak aturan main, yang pada gilirannya akan menjadi bom waktu. Korupsi waktu sebenarnya juga suatu perbuatan yang merugikan orang lain, meski tak diketahui secara pasti siapa yang dirugikan. Mark up atau manipulasi biaya/kualitas dari suatu proyek pelayanan publik pada dasarnya merupakan perbuatan penghancuran terhadap masa depan generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Memberi kontribusi secara optimal sesuai dengan tugasnya. Ulama dan cendekiawan menyumbangkan ilmunya, Pemimpin (umara) mengedepankan keadilan dan tanggungjawab(amanah), pengusaha mengutamakan kejujuran, orang kaya mengoptimalkan infaq dan sedekah, orang miskin mengutamakan keuletan, kesabaran dan doa, politisi memelihara kesantunan dan kelompok profesional mengedepankan profesionalitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.4. Amar makruf nahi munkar. Setiap anggauta masyarakat harus memiliki kepedulian terhadap hal-hal yang potensil merusak masyarakat, oleh karena itu mereka harus aktip menganjurkan perbuatan baik yang nyata-nyata telah ditinggalkan masyarakat dan mencegah perbuatan buruk yang dilakukan secara terang terangan oleh sekelompok anggota masyarakat&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-8581766818378161547?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/8581766818378161547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=8581766818378161547' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8581766818378161547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8581766818378161547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia-5.html' title='Akhlak manusia Terhadap manusia (5)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LUQh6DoJink/TYbVNiyLNaI/AAAAAAAABio/VDMxvJsqpr4/s72-c/tolong%2Bmenolong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-3123709113253074705</id><published>2011-03-17T19:58:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T00:16:10.087-07:00</updated><title type='text'>Akhlak Manusia Terhadap manusia (4)</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Akhlak Kepada Tetangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidup&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-XMwF5MQC7x0/TYLNrVlhtRI/AAAAAAAABiY/PpsJXseRemo/s1600/sosial.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 184px; height: 140px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-XMwF5MQC7x0/TYLNrVlhtRI/AAAAAAAABiY/PpsJXseRemo/s200/sosial.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5585252632305448210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;an sosial, tetangga merupakan orang yang yang secara fisik paling dekat jaraknya dengan tempat tinggal kita. Dalam tatanan hidup bermasyarakat, tetangga merupakan lingkaran kedua setelah rumah tangga, sehingga corak sosial suatu lingkungan masyarakat sangat diwarnai oleh kehidupan pertetanggaan. Pada masyarakat pedesaan, hubungan antar tetangga sangat kuat hingga melahirkan norma sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga pada lapisan masyarakat menengah kebawah dari masyarakat perkotaan, hubungan pertetanggaan masih sekuat masyarakat pedesaan. Hanya pada lapisan menengah keatas, hubungan pertetanggaan agak longgar karena pada umumnya mereka sangat individualistik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi ke Islaman memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembentukan norma-norma sosial hidup bertetangga. Adanya lembaga salat berjamaah di masjid atau mushalla, baik harian lima waktu, mingguan Jum'atan maupun tahunan Idul Fitri dan Idul Adha cukup efektip dalam membentuk jaringan pertetanggan. Demikian juga tradisi sosial keagamaan, seperti tahlilan, ratiban, akikah, syukuran, lebaran dan sebagainya sangat efektip dalam mempertemukan antar tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang betapa besarnya makna tetangga dalam membangun komunitas tergambar pada hadis Nabi yang memberi petunjuk agar sebelum memilih tempat tinggal hendaknya lebih dahulu mempertimbangkan siapa yang akan menjadi tetangganya, al jaru qablad dar, bahwa faktor tetanga itu harus didahulukan sebelum memilih tempat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya akhlak bertetangga diajarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;(a) Melindungi rasa aman tetangga. Kata Nabi, ciri karakteristik seorang muslim adalah, orang lain (tetangga) terbebas dari gangguannya, baik gangguan dari kata-kata maupun dari perbuatan fisik.&lt;br /&gt;(b) Menempatkan tetangga (yang miskin) dalam skala prioritas pembagian zakat.&lt;br /&gt;(c)    Memberi salam jika berjumpa.&lt;br /&gt;(d)    Menghadiri undangannya.&lt;br /&gt;(e)    Menjenguk tetanggga yang sakit.&lt;br /&gt;(f)    Melayat atau mengantar jenazah tetangga yang meninggal dunia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-3123709113253074705?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/3123709113253074705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=3123709113253074705' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3123709113253074705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3123709113253074705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia.html' title='Akhlak Manusia Terhadap manusia (4)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-XMwF5MQC7x0/TYLNrVlhtRI/AAAAAAAABiY/PpsJXseRemo/s72-c/sosial.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-4061015643925036173</id><published>2011-03-16T20:55:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T00:19:35.390-07:00</updated><title type='text'>Akhlak Manusia terhadap manusia (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Akhlak Terhadap Guru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-J9bMgBJb14U/TYGHK_DUQ8I/AAAAAAAABiQ/1NZKOBXrpTE/s1600/guru.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 156px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-J9bMgBJb14U/TYGHK_DUQ8I/AAAAAAAABiQ/1NZKOBXrpTE/s200/guru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584893635709912002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dengan guru ialah orang yang berjasa mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid. Dalam hal guru, bisa dibedakan antara guru pengajar dan guru pendidik. Pengajar adalah orang yang berjasa mentranfer ilmu pengetahuan, sedangkan pendidik adalah orang yang berjasa menanamkan pola tingkahlaku tertentu. Ukuran keberhasilan guru pengajar terletak pada kemampuannya mentransfer ilmu pengetahuan sehingga si murid menguasai ilmu yang diajarkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan ilmu oleh si murid dapat diketahui melalui metode ujian atau test, dan tingkat penguasaannya dapat dituangkan dalam bentuk nilai 0-100 atau indek prestasi 0-4. Sedangkan ukuran keberhasilan guru pendidik dapat dilihat pada ketrampilan, kedisiplinan dan konsistensi tingkahlaku anak didik sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan guru dan orang tua dari segi etik adalah sejajar. Orang tua berjasa membesarkan anak, sementara guru berjasa mengenalkan ilmu pengetahuan dan menanamkan pola tingkahlaku sehingga memungkinkan seseorang mengembangkan konsep dirinya beraktualisasi diri menjadi sosok manusia yang didambakan, baik oleh dirinya maupun oleh keluarganya atau bahkan oleh masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran orang tua dan peran guru bisa dilakukan oleh dua orang yang berbeda, bisa juga oleh orang yang sama. Maksudnya bisa terjadi seorang ayah atau ibu adalah juga seorang guru bagi anaknya, baik guru dalam bidang ilmu pengetahuan maupun guru dalam bidang kehidupan.&lt;br /&gt;Dalam dunia persilatan, seorang guru atau suhu sangat dihormati dan dipatuhi, baik secara teknis maupun secara etis. Kepatuhan adalah sikap mental, oleh karena itu seorang guru tidak otomatis dipatuhi oleh muridnya, melainkan terlebih dahulu harus membuktikan "kelebihan" yang dimilikinya di mata murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, seseorang dapat tiba-tiba menjadi pengajar dari suatu cabang ilmu pengetahuan, tetapi tidak untuk menjadi pendidik. Dari pengalaman penulis dalam dunia pendidikan menjadi guru di SD/SLP dan SLA, sepuluh tahun pertama penulis menjadi guru belum cukup mengantarnya menjadi pendidik. Baru pada tahun ke tiga belas, penulis merasa menjadi pendidik, bukan hanya sekedar menjadi pengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat perhatian seorang pengajar adalah pada transfer ilmu pengetahuan di kelas, dan kriterianya sudah diatur dalam metodologi pengajaran. Seorang pengajar merasa telah menyelesaikan tugasnya di kelas, dan apa yang terjadi di luar kelas merasa bukan menjadi bagian tugasnya. Oleh karena itu seorang pengajar pada umumnya hanya jengkel menghadapi problem murid, bukan memprihatinkannya. Perasaan seorang pengajar kepada murid lebih terfokus pada konteks dirinya sebagai petugas, bukan pada kontek murid sebagai anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pusat perhatian seorang pendidik adalah pada anak didik sebagai kesatuan pribadi manusia. Seorang pendidik akan sangat sedih jika melihat anak didiknya mengalami penurunan prestasi, dan ia berusaha mencari akar permasalahannya, tak peduli apakah permasalahannya di kelas atau di luar kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengajar akan dengan mudah tidak masuk kelas hanya karena merasa terganggu kesehatannya, tetapi seorang pendidik tetap akan berusaha hadir di kelas meski kesehatannya kurang mengizinkan.&lt;br /&gt;Penulis, pada tahun ke tigabelas menjadi guru, baru merasa menjadi pendidik setelah bertemu dengan dua pengalaman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: bergaul dengan seorang kepala sekolah yang sungguh sangat dedikatip dalam dunia pendidikan. Kepala Sekolah tersebut seorang yang sebenarnya berstatus sosial tinggi, tetapi perhatiannya kepada tugas kependidikannya sangat tinggi. Ia selalu menengok murid yang sakit, menjenguk guru yang sakit, hadir dalam setiap undangan hajatan wali murid, satu hal yang bagi penulis pada mulanya sangat merepotkan, tetapi lama-kelamaan ikut menghayati makna tugas kependidikan secara konprehensip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: setelah penulis berkenalan dengan tugas-tugas guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), atau Konseling pendidikan. Sebagai guru BP, penulis akhirnya mengetahui problem yang sebenarnya dari seorang murid sebagai anak manusia. Penulis menjumpai seorang murid yang sebenarnya cerdas, religius, tetapi terkadang tiba-tiba berperilaku aneh. Dari pendekatan yang selalu penulis lakukan akhirnya penulis tahu bahwa murid tersebut mengalami problem krisis identitas. la meragukan siapa jati dirinya setelah mengetahui dari guru biologinya bahwa dari golongan darah yang dimilikinya tak mungkin lahir dari dua orang yang selama ini dikenal sebagai ayah ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan galau itu menjadi lebih dalam setelah memperoleh informasi dari rumah sakit bahwa pada tahun-tahun kelahiran dirinya pernah terjadi kasus bayi tertukar. Krisis identitas itu ternyata berakibat sangat serius dalam hubungan interpersonalnya dengan keluarga-nya, yang dampaknya melebar ke prestasi belajarnya, dan integritas dirinya. Kasus lain pernah penulis jumpai, seorang murid perempuan, kelas tiga SLP sangat agresip kepada lelaki, termasuk kepada penulis. Penulis sering dibuat terkesima dan kikuk oleh agressifitas murid tersebut yang bernuansa seksual. Dari pendekatan yang penulis lakukan dapat diketahui bahwa anak tersebut ditinggal mati ayahnya ketika umur dua tahun dan sejak itu ibunya hidup menjanda. Gadis kecil itu rupanya tumbuh dalam rumah tangga yang sangat memprihatinkan. Karena rumahnya yang sempit ia sering memergoki ibunya berhubungan intim dengan lelaki kekasihnya yang tidak pernah menikahinya. Gadis belia itu telah teracuni oleh pemandangan yang tidak semestinya, tetapi keadaan tidak membantu mencarikan jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu rajin mengaji dan rajin menjalankan salat, dan prestasi sekolahnya juga tidak terlalu mengecewakan, tetapi alam bawah sadarnya sering datang muncul dalam wujud perilaku agressip, bahkan terhadap guru lelakinya seperti yang dia lakukan kepada penulis.&lt;br /&gt;Sebagai guru BP penulis bukan hanya berhubungan dengan murid tetapi juga dengan orang tua dari murid yang bermasalah, oleh karena itu penulis banyak sekali berjumpa dengan problem-problem "kemanusiaan" atau problem manusiawi, menyangkut murid, orang tua murid (masyarakat) dan juga rekan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia, penulis sering mengalami konflik batin dalam menangani kasus-kasus konseling, tetapi sebagai pendidik, keprihatinan seorang guru lebih dominan. Penulis sangat akrab dengan problem anak didik, begitu akrabnya hingga terkadang terjadi bias cinta, antara cinta seorang guru dan cinta seorang lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman berhubungan dengan problem anak didik (dan masyarakat) itu mengantar penulis pada keindahan perasaan seorang guru, baik ketika berhasil membantu orang lain maupun ketika menerima penghormatan yang tulus dari murid-murid. Sebagai pendidik, penulis sangat tertantang oleh problem yang dihadapi oleh murid (dan orang tuanya), seperti gairahnya seorang petinju menemukan lawan tanding yang seimbang atau lebih. Penulis sangat terharu ketika mengetahui bahwa ada sejumlah murid, meski tidak berjumpa selama lebih dari duapuluh tahun tetapi masih sering menyebut nama penulis sebagai gurunya ketika ia menasehati anaknya atau muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi Islam, akhlak seorang murid kepada guru diwujudkan dalam berbagai bentuk, misalnya silaturrahmi secara berkala kepada guru, memperioritaskan sedekah atau infaq materiil kepada nya, memberi nama anaknya dengan nama guru, mohon nasehat dan doa restu kepada guru setiap mempunyai hajat strategis, sampai kepada mengirim fatihah dan menempatkan nama guru dalam susunan orang-orang yang tercatat dalam teks doa setiap ba'da salat atau pada event-event tertentu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-4061015643925036173?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/4061015643925036173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=4061015643925036173' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4061015643925036173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4061015643925036173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia-3.html' title='Akhlak Manusia terhadap manusia (3)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-J9bMgBJb14U/TYGHK_DUQ8I/AAAAAAAABiQ/1NZKOBXrpTE/s72-c/guru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-2957280203019007500</id><published>2011-03-15T20:32:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T00:19:56.527-07:00</updated><title type='text'>Akhlak Manusia Kepada manusia (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Akhlak Kepada Orang Tua dan Kerabat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an secara &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-02s15bbRmaw/TYAv7YwZ_uI/AAAAAAAABiI/8NbqF108iL0/s1600/birrul%2Bwalidain.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 178px; height: 145px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-02s15bbRmaw/TYAv7YwZ_uI/AAAAAAAABiI/8NbqF108iL0/s200/birrul%2Bwalidain.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584516235243683554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tegas mewajibkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya (Q/17:23). Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan alkhoir, yakni nilai kebaikan yang secara universal diwajibkan oleh Tuhan. Artinya nilai kebaikan berbakti kepada orang tua itu berlaku sepanjang zaman dan pada seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi bagaimana caranya berbakti sudah termasuk kategori al ma'ruf, yakni nilai kebaikan yang secara sosial diakui oleh masyarakat pada suatu zaman dan suatu lingkungan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini al Qur 'an pun memberi batasan, misalnya seperti yang disebutkan dalam surat al Isra, bahwa seorang anak tidak boleh berkata kasar apalagi menghardik kepada kedua orang tuanya(Q/17:23). Seorang anak juga harus menunjukkan sikap berterima kasihnya kepada kedua orang tua yang menjadi sebab kehadirannya di muka bumi. Di mata Tuhan sikap terima kasih anak kepada orang tuanya dipandang sangat penting, sampai perintah itu disampaikan senafas dengan perintah bersyukur kepadaNya (anisykur li waliwa lidaika (Q/31:14)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, kepatuhan seorang anak kepada orang tua dibatasi dengan kepatuhannya kepada Tuhan. Jika orang tua menyuruh anaknya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Tuhan, maka sang anak dilarang mematuhi perintah orang tua tersebut, seraya tetap harus menghormatinya secara patut (ma'ruf) sebagai orang tua (Q/ 31:15). Seorang anak, oleh Nabi juga dilarang berperkara secara terbuka dengan orang tuanya di forum pengadilan, karena hubungan anak —orang tua bukan semata-mata hubungan hukum yang mengandung dimensi kontrak sosial melainkan hubungan darah yang bernilai sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu orang tua harus adil dalam memberikan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Diantara kewajiban orang tua kepada anak-anaknya adalah; memberi nama yang baik, menafkahi, mendidik mereka dengan agama (akhlak kehidupan) dan menikahkan jika sudah tiba waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika orang tua sudah meninggal, maka kewajiban anak kepada orang tua adalah (a) melaksanakan wasiatnya, (b) menjaga nama baiknya, (c) meneruskan cita-citanya, (d) meneruskan silaturahmi dengan handai tolannya, (e) memohonkan ampun kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Dalam hubungan dengan kerabat, secara umum semangat hubungan baiknya sejalan dengan semangat keharusan berbakti kepada orang tua. Paman, bibi, mertua dan seterusnya harus dideretkan dalam deretan orang tua, saudara misan yang muda dan seterusnya dideretkan pada saudara muda atau adik, yang tua dideretkan kepada kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spesifik kerabat harus didahulukan dibanding yang lain, misalnya jika seseorang mengeluarkan zakat, kemudian diantara kerabatnya ada orang miskin yang layak menerima zakat itu, maka ia harus didahulukan dibanding orang miskin yang bukan kerabat. Semangat etik hubungan kekerabatan diungkapkan oleh Rasulullah dengan kalimat menghormati kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda. (laisa minna man lam yuwagir kabirana wa lam yarham soghirana).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-2957280203019007500?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/2957280203019007500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=2957280203019007500' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2957280203019007500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/2957280203019007500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-kepada-manusia.html' title='Akhlak Manusia Kepada manusia (2)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-02s15bbRmaw/TYAv7YwZ_uI/AAAAAAAABiI/8NbqF108iL0/s72-c/birrul%2Bwalidain.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-4335043939277036735</id><published>2011-03-14T21:19:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T00:20:16.487-07:00</updated><title type='text'>AKHLAK MANUSIA TERHADAP MANUSIA (1)</title><content type='html'>&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Akhlak terhadap Nabi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-DSFWYJAEdzc/TX7tVwNbhYI/AAAAAAAABiA/Chr9qhNjXYE/s1600/akhlaq%2Bnabi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 149px; height: 139px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-DSFWYJAEdzc/TX7tVwNbhYI/AAAAAAAABiA/Chr9qhNjXYE/s200/akhlaq%2Bnabi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584161545960260994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Manusia sebagai obyek atau partner bermu`amalah yang mengharuskan adanya pertimbangan nilai-nilai akhlak dapat dikelompokkan menjadi enam kelompok. Pertama, karena adanya hubungan nasab seperti ayah ibu berikut kerabat yang menyertainya. Kedua, karena kedekatan tempat tinggal,yakni tetangga. Ketiga, karena adanya hubungan keilmuan seperti hubungan guru-murid, Ke empat, karena adanya hubungan strukrural atasan-bawahan. Kelima, karena adanya keyakinan yang bersifat sakral,seperti para Nabi dan wali,dan keenam, semata-mata karena hubungan kemanusiaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia dalam empat tingkatan. Yaitu (1) instink, (2) panca indera, (3) akal, dan (4) wahyu. Petunjuk pertama dan ke dua disamping kepada manusia juga diberikan kepada hewan. Petunjuk ke tiga, yakni akal adalah hal yang menyebabkan manusia berbeda dengan hewan. Dengan akalnya manusia bisa memecahkan masalah yang dihadapi (problem solving) sehingga manusia mampu merencana, mengevaluasi dan merekayasa apa apa yang diperlukan. Meskipun manusia memiliki keterbatasan fisik, misalnya tidak dapat terbang seperti burung atau tidak dapat menyelam seperti ikan tetapi dengan akalnya, manusia mampu mengatasi kekurangan itu. Dengan akalnya manusia mampu mengerjakan semua hal yang dikerjakan binatang. Dengan teknologi yang dibuatnya manusia mampu menguasai bumi dan atsmosfirnya bagi keperluan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping hal-hal yang bersifat teknis, manusia dengan akalnya dapat pula membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang secara etis harus dikerjakan dan mana yang tidak boleh dikerjakan. Oleh karena itu dengan akalnya manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatanya, baik kepada masyarakatnya sebagai sistem sosial maupun kepada Tuhan kelak di akhirat. Meski demikian, akal tidak bisa menentukan kebenaran universal, karena setiap orang berbeda pula akalnya. Kebenaran menurut akal sangat relatip, karena manusia masih dipengaruhi oleh hal-hal yang subyektip sehingga manusia tidak bisa mencapai kebahagiaan hakiki jika hanya menggunakan akal. Akal hanya bisa menemukan kebenaran, bukan menentukan.Untuk melengkapi rahmat Nya, Tuhan memberikan hidayah ke empat, yaitu wahyu. Wahyu adalah kebenaran universal yang diturunkan Tuhan untuk membimbing manusia mencapai kebahagiaan hakiki. Sesuai dengan tingkat kemampuan manusia menyerap informasi, maka Tuhan mengirimkan Nabi atau Rasul sebagai pembawa wahyu sekaligus sebagai contoh teladan hidup yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam agama Kristen Yesus dikatakan sebagai firman yang hidup, maka dalam Islam, nabi Muhammad dianggap sebagai perwujudan dari nilai-nilai kebenaran wahyu Al- Qur'an (kana khuluquhu al Qur'an) dan teladan utama manusia (uswah hasanah). Nabi adalah utusan Tuhan kepada masyarakat manusia. Ada Nabi yang diperuntukan bagi sekelompok masyarakat pada suatu zaman, ada yang diperuntukkan bagi ummat manusia secara keseluruhan dan sepanjang masa. Menurut pandangan Islam, Nabi Muhammad adalah nabi penutup atau Nabi terakhir yang ajarannya berlaku bagi seluruh ummat manusia hingga akhir zaman. Secara mendasar tidak ada pertentangan antara wahyu yang dibawa oleh Nabi terdahulu dengan yang dibawa oleh Nabi terkemudian, karena kesemuanya berasal dari sumber yang sama (min manba'in wahid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujud Akhlak manusia kepada Nabi. Ketika seorang Nabi masih hidup, maka secara etis dan rasionil, perilaku manusia yang hidup pada masanya dalam menyongsong kehadiran seorang utusan Tuhan adalah menerima dan menghormati serta percaya kepadanya. Dalam Al Qur'an disebutkan bahwa seorang mukmin harus percaya kepada Nabi (Q/ 7:157) tidak boleh mendustakan Nabi (Q/3:184), tidak boleh berbicara terlalu keras di hadapannya atau sopan (Q/49:2),tidak boleh menyakiti hatinya, (Q/33:53) apalagi membunuhnya (Q/3:21). Selanjutnya manusia diperintahkan untuk mencintai dan membelanya dan mengikuti sunnahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Nabi wafat, perilaku seorang mukmin terhadap Nabinya adalah:&lt;br /&gt;(a) Mengikuti sunnahnya. Sunnah mengandung pengertian lebih luas dibanding hadist. Sunnah Nabi adalah perilaku keseharian yang dicontohkan oleh Nabi, baik ketika beliau sedang menjalankan ibadah, sedang menjadi kepala keluarga, sedang menjadi kepala negara, sedang menjadi sahabat, menjadi warga masyarakat, menjadi panglima perang dan seterusnya. Yang sering diperdebatkan adalah apakah sunnah Nabi yang harus diikuti itu terbatas kepada perbuatan Nabi sebagai Rasul, atau juga perbuatan nabi sebagai basyar, sebagai manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumhur ulama berpendapat bahwa seluruh perilaku Nabi, baik ketika menjalankan tugas kerasulan maupun sebagai manusia biasa adalah sunnah yang harus diikuti, karena perbuatan Nabi sebagai manusia biasapun disinari oleh wahyu sehingga tidak ada satupun perbuatan Nabi yang tercela. Kritikan orientalist kepada perilaku Nabi Muhammad —tentang poligami misalnya— pada umumnya tidak cermat karena analisisnya tidak konprehensip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b) Mencintai Nabi. Wujud cinta kepada Nabi antara lain dalam bentuk mengikuti sunnahnya, membaca salawat kepada nya, memberi nama anak-cucu dengan nama-nama yang berhubungan dengan Nabi, dan mengutamakan mengikuti sunnah nabi dari mengikuti hal-hal lain. Salawat adalah doa ma'tsurah, doa yang diajarkan Nabi bahkan diperintahkan dalam al Qur'an. Bagi Nabi sendiri sebagai Rasul yang ma'sum sebenarnya doa ummatnya tidak berpengaruh apa-apa, tetapi salawat lebih merupakan kebutuhan orang yang membaca karena mengharap syafaat Nabi kelak di akhirat. Adapun memperingati maulid Nabi lebih merupakan kebudayaan dan kebutuhan sosial masyarakat Islam, bukan anjuran Nabi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-4335043939277036735?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/4335043939277036735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=4335043939277036735' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4335043939277036735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4335043939277036735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/03/akhlak-manusia-terhadap-manusia-1.html' title='AKHLAK MANUSIA TERHADAP MANUSIA (1)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-DSFWYJAEdzc/TX7tVwNbhYI/AAAAAAAABiA/Chr9qhNjXYE/s72-c/akhlaq%2Bnabi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-8407805263079025082</id><published>2011-02-25T00:17:00.000-08:00</published><updated>2011-02-25T00:51:56.949-08:00</updated><title type='text'>Menghayati  Kehidupan Keluarga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-gtr-QkuuhCs/TWdlwOqDa2I/AAAAAAAABhw/bpzqdezT1oo/s1600/islami.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 160px; height: 140px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gtr-QkuuhCs/TWdlwOqDa2I/AAAAAAAABhw/bpzqdezT1oo/s200/islami.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577538542764256098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada Pengalaman menarik ketika saya mengajar di program kajian  Paramadina, yaitu  banyaknya  orang berkonsultasi. Pada umumnya mereka berkonsultasi masalah-masalah kehidupan berkeluarga. Semakin lama, saya semakin tertarik untuk mendalami masalah-masalah kehidupan keluarga. Ketertarikan kepada masalah keluarga sesungguhnya sudah berlangsung lama dari  pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sewaktu dalam usia 19-20 tahunan saya belajar di pesantren, ada  santri-santri yang sudah berumah tangga. Yang mengherankan, kalau mereka punya persoalan rumah tangga, mereka mengadu kepada saya, padahal saya masih bujangan kala itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ketika berinteraksi  di lingkungan khusus yaitu di kalangan elite, saya memperoleh begitu banyak masukan tentang problem-problem rumah tangga. Bersamaan dengan itu, saya pun sering menghayati kehidupan rumah tangga sendiri yang telah lama dijalani karena sayapun sesunguhnya juga memiliki persoalan dalam kehidupan keluarga saya. Di satu sisi ia menghayati problem kehidupan dirinya, sedangkan di sisi lain ia selalu mendengar keluhan dari klien. Maka perhatiannya kepada masalah keluarga menjadi semakin besar dan penuh penghayatan. Akhirnya tanpa disengaja sayapun menjadi seorang konselor keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat nama saya sudah dikenal, BP4 (Badan Penyelenggara Penasihat Perkawinan dan Perceraian) pun selalu mengundang. Karena kedekatan saya dengan mahasiswa dan karena sering menjadi tempat berbagi, maka sayapun akrab sekali dengan problem-problem mahasiswa dan sering membantu mereka. Tidak jarang saya bertindak seperti orang tua; misalnya bila ada yang jatuh hati kepada seseorang sedangkan orang tuanya jauh, maka saya sering diminta untuk melamar. Ada pula mahasiswi-mahasiswi yang punya pikiran iseng, ingin menjadi isteri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya di kampus, di pengajian-pengajian pun saya akrab dengan peserta-peserta pengajian. Banyak di antara mereka yang sering mengeluarkan uneg-unegnya. Di antara pengajian yang suka mengundangnya adalah Namira, sebuah kelompok pengajian di Pondok Indah. saya juga sering mengisi program-program kuliah shubuh di di TVRI yang biasanya seputar kehidupan keluarga. Dari penghayatan itu saya  tergerak untuk menulis buku Psikologi Keluarga. Buku itu pun dipakai sebagai bahan kuliah Psikologi Keluarga di Pasca Sarjana UI dan saya pula yang mengajarnya. Puncak dari penekunan masalah keluarga tercapai ketika saya ditunjuk sebagai Ketua Tim Juri ”Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional” yang dimulai sewaktu Said Agil Al-Munawar menjabat Menteri Agama. Keterlibatannya dalam kegiatan ini telah  berlangsung selama tujuh tahun  tahun berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali pengalaman yang menarik ketika sebagai Ketua Tim Juri bersama anggota-anggota tim yang lain mewawancarai kandidat Keluarga Teladan. Peserta Pemilihan Keluarga Teladan ini adalah mereka yang sudah mempunyai pengalaman berkeluarga selama 40 tahun lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara pengalaman dalam mewawancarai mereka adalah kepada pasangan yang kemudian menjadi juara pertama, saya bertanya: ”Pak, selama ini Bapak memimpin rumah tangga atau Bapak menurut saja sama Ibu.?” Jawabannya, ”Ah, saya mengalahlah sama ibu.’” Ketika mewawancari istrinya, saya juga bertanya. ”Bu, selama ini Ibu diatur Bapak atau Ibu yang mengatur Bapak?” Jawabnya, ”Aduh! Saya ini kan istrinya, saya ini perempuan. Saya mengalahlah sama  Bapak.”  Nah ketika wawancara digabung, mereka ditanya, ”Bagaimana ini, katanya Bapak mengalah sama Ibu, tapi kata Ibu, ia mengalah sama Bapak. Sebenarnya Bapak yang mengalah sama Ibu atau Ibu yang mengalah sama Bapak?” Ternyata jawabannya demikian, ”barangkali dari dua sikap mengalah inilah yang akhirnya melahirkan kemenangan bersama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan yang menjadi pemenang pertama ini berasal dari Jawa Barat. Suaminya guru SMP, sedangkan istrinya guru SD. Anak mereka delapan orang, semuanya sarjana, yang menjadi doktor ada tiga orang.&lt;br /&gt; Ada lagi pasangan pedagang kecil dari Cilacap yang kemudian terpilih menjadi keluarga teladan III.. Suaminya hanya tamatan Sekolah Persamaan SMA (KPA) sedangkan istrinya tamatan SMP. Anaknya tiga orang menjadi doktor dan menantunya juga doktor dari luar negeri. Sang ibu berdagang kue dan rumahnya sederhana. Sebagai juri, saya berkata  kepadanya, ”Bapak hebat, bisa menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi semua.” Si ayah menanggapi begini, ’Oh! sesungguhnya saya hanya menyekolahkan mereka sampai SMA. Setelah tamat semuanya mendapatkan beasiswa. Malah sesudah mendapat beasiswa, setiap tahun mereka mengirimkan uang kepada kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran atas jawaban mereka, saya bertanya lagi, ”Tetapi mungkin Bapak punya rahasia, bagaimana dengan kehidupan yang sederhana, anda bisa melahirkan generasi yang bermutu?” Ia menjawab, ”Ya, ada kuncinya. Seingat saya, anak saya belum pernah saya kasih makan kecuali yang saya jamin halalnya. Itulah sebabnya istri saya sampai saat ini masih berjulan kue, karena jualan kue itu halal, tidak ada sangkut pautnya dengan korupsi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya lagi,”Anak-anak Bapak hebat-hebat semua. Kok tinggal di tempat seperti ini?” Ia menjawab, ’Sesungguhnya saya punya rumah besar, besar sekali. Rumah ini dibangun oleh anak-anak saya, namun saya malu untuk tinggal di rumah sebagus itu. Rumah itu hanya dipakai kalau anak-anak pulang atau ketika ada kepentingan sosial bagi masyarakat di sini.’” Dari keluarga teladan ke III ini dapat diambil kesimpulan bahwa  pengaruh nafkah halal itu ternyata luar biasa, satu hal yang sudah jarang diperhatikan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman tujuh tahun menjadi tim juri saya mendapati kenyataan bahwa kesuksesan keluarga itu tidak selalu sejalan dengan tingkat pendidikan! Tidak sedikit di antara mereka yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai tinggi dan mendapatkan prestasi yang membanggakan, padahal pendidikan mereka biasa-biasa saja, banyak pula yang tidak sarjana. Sementara tak jarang, keluarga yang sangat terpelajar ternyata gagal dalam mendidik anak-anaknya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga banyak tertarik masalah keluarga ketika bersentuhan dengan problem-problem murid saat menjadi guru BP. Dari melihat problem murid kemudian meningkat melihat problem keluarga , dan akhirnya ia mendalami masalah-masalah kehidupan keluarga.&lt;br /&gt;Meski pekerjaannya membantu problem orang, tidak selalu seorang konselor lancar-lancar saja dalam tugasnya dan tidak mengalami problem dalam dirinya berkaitan dengan tugasnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya pernah mendapatkan pengalaman yang berat, yakni jatuh cinta kepada klien. Awalnya sang klien sangat bergantung kepada saya. Lalu muncul godaan, sering kali saya merasa rindu, sampai kemudian bertanya-tanya kepada diri sendiri, sesungguhnya apa yang ia cari; apakah benar-benar ingin menolongnya ataukah rindu ingin bertemu dengannya? Beruntunglah saya selamat dari godaan dan tidak terjadi apa-apa. Dalam waktu lama, sekitar lima tahun, saya pernah surat-menyurat dengan klien meskipun isinya hanya nasihat, bukan ungkapan cinta. Celakanya, nasihat Mubarok betul-betul dijadikan sebagai pegangan suci bagi klien,  sehingga saya dianggap sebagai malaikat penolong. Sebenarnya saya hanya pernah bertemu sekali dengannya. Setelah itu tidak lagi  bertemu, kemudian dilanjutkan saling berkirim surat tetapi justru dengan surat-menyurat itulah ia tergoda. Sampai si klien berada di luar negeri pun tepatnya di Jerman ia terus saling berkirim surat . Akhirnya suatu saat ketika ia memberitahu sedang berada di tanah air karena didorong rasa kerinduan, saya mengejarnya ke Bandung. Lucunya, setelah bertemu, saya sama sekali tidak tertarik . Perasaannya biasa-biasa saja. Rupanya rasa kangen itu hanya tipuan komunikasi.  Ketika perjumpaan pertama, perempuan itu masih mempunyai suami, sehingga Mubarok tak berpikir apa-apa terhadapnya. Kemudian ia bercerai dengan suaminya. Selama masa krisis sebagai seorang janda, ia selalu berkonsultasi dengan Mubarok lewat surat. Begitulah seterusnya. Setelah pertemuan rasa cinta dan rindu itu hilang, saya kembali merasa murni menjadi konselor. Pada akhirnya sang klien menikah dengan seorang Eropa Muslim dan sering berpindah-pindah di luar negeri bersama suaminya. Ketika berada di Pakistan, ia bertemu dengan  mahasiswa saya. Menariknya, pada saat mahasiswa itu pulang, mantan kliennya menitipkan uang untuknya sebanyak 500 Dolar U$.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar betul  bahwa konselor rentan terhadap godaan meskipun sang klien tidak bermaksud menggoda. Interaksi konselor dengan klien dalam waktu yang lama seringkali memunculkan perasaan-perasaan tertentu yang terkadang tak disadari. Untuk menghindari itu tentu harus ada kiatnya. Saya  punya cara untuk itu. Maka saya  berusaha agar setiap konsultasi berlangsung harus ada orang lain yang hadir di ruangan itu meskipun tidak terlibat dalam konsultasi. Saya tak mau hanya berdua saja dengan klien di ruangan itu, karena kata hadis Nabi, jika dua orang laki perempuan hanya berdua di tempat sepi maka syaitan akan menjadi orang ketiganya...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-8407805263079025082?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/8407805263079025082/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=8407805263079025082' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8407805263079025082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/8407805263079025082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/02/menghayati-kehidupan-keluarga.html' title='Menghayati  Kehidupan Keluarga'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gtr-QkuuhCs/TWdlwOqDa2I/AAAAAAAABhw/bpzqdezT1oo/s72-c/islami.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-4869775264886039785</id><published>2011-02-06T20:11:00.001-08:00</published><updated>2011-02-06T20:49:22.983-08:00</updated><title type='text'>Krisis Mesir</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mungkinkah Nular ke Indonesia ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                                                                                                                              &lt;br /&gt;Banyak orang &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TU9yIMwg-JI/AAAAAAAABho/VTsL2uBoXjs/s1600/krisis%2Bmesir.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TU9yIMwg-JI/AAAAAAAABho/VTsL2uBoXjs/s200/krisis%2Bmesir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570796749269825682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tersentak oleh apa yang sedang berlangsung  di negeri  Al Azhar, atau di negeri Pyramid, atau ada yang menyebut di negeri Fir’aun, yakni Mesir atau Egypt. Presiden Husni Mubarak sedang digoyang oleh rakyatnya agar segera turun dari kursi  kepresidenan Mesir. Televisi dunia termasuk di Indonesia  terus menerus menyiarkan perkembangan mutakhir di negeri sungai Nil itu.  Timbul pertanyaan, fenomena Mesir satu hal yang mengejutkan atau tidak ? Apa dampak krisis Mesir terhadap negeri-negara tetangganya di TimurTengah ? bahkan ada yang meramalkan bahwa krisis Mesir bisa memantik krisis yang sama ke Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesir adalah negeri yang unik dan Indah di pojok benua Afrika. Mesir dapat disebut sebagai imamnya negeri-negeri Afrika karena dapat disebut sebagai negeri yang termaju dengan posisi geografis  yang  sangat strategis dan dengan warisan budaya kuno yang sangat kaya. Saya belum bisa melupakan betapa indahnya tepi sungai Nil ketika dulu saya mengambil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;short program&lt;/span&gt; di Universitas Al Azhar, salah satu Universitas tertua di dunia.Meski wilayahnya luas, tetapi wilayah real Mesir sesungguhnya hanya sekitar 15-20% saja ,yakni wilayah sepanjang aliran sungai Nil, karena sisanya adalah padang pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam krisis Timur Tengah, Mesir termasuk Negara yang potensial memegang kartu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;problem solving&lt;/span&gt; karena kekuatan militernya termasuk kuat dibanding negeri sekelilingnya, diluar Israel. Pada masa perang dingin, Mesir berada di blok Uni Soviet menghadapi Israel, anak emas Amerika. Perang enam hari tahun 73 membuktikan bahwa senjata Uni Soviet tak berdaya menghadapi  senjata Israel, dan  perang seminggu itu menyebabkan banyak wilayah Mesir dan Syria diduduki Israel. Lewat Perang  Yon Kipur yang ketika itu Husni Mubarak menjabat KSAU, dan juga lewat diplomasi yang panjang Mesir bisa mengambil kembali wilayah Gaza, tetapi krisis Arab Israel  terus berlangsung hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RuntuhnyaUni Sovyet memaksa Mesir harus pandai-pandai berdiplomasi dengan Amerika dalam memainkan peran “kunci” konflik Palestinavs Israel. Posisi itulah yang menyebabkan Mesir tidak bisa menghindar dari transaksi politik dan ekonomi denganAmerika, satu hal yang menjadi bara politik dalam  negeri Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Mesir yang sangat tergantung kepada subsidi roti juga politik perang dengan Israel memojokkan Mesir untuk menerima bantuan Amerika dalam jumlah besar. Amerika tidak menyia-nyiakan posisi sulit Mesir untuk melindungi anak emasnya, Israel. Setiap tahun Mesir menerima bantuan Amerika berupa gandum dan senjata, separoh dari nilai yang diterima oleh Israel. Bantuan gandum membuat Mesir stabil dari sudut subsidi roti untuk rakyatnya, tapi bantuan senjata Amerika membuat Mesir tak berdaya menghadapi Israel, dan inilah bara krisis yang selalu membayangi negeri pyramid itu. Presiden Anwar Sadat ditembak oleh aspiran fundamentalis berkaitan dengan “sentiment politik” dalam negeri terhadap Amerika. Husni Mubarak yang ketika itu menjadi wakil Presiden sesungguhnya juga ditolak oleh sebagian besar rakyat Mesir untuk menggantikan  Anwar Sadat, juga karena Mubarak dianggapnya sekedar bonekanya Anwar Sadat dalam konteks hubungan transaksional dengan Amerika. Husni Mubarak memang akhirnya berhasil mengukuhkan kekuasaannya sebagaiPresiden melalui pemilu, tetapi “sentiment politik” anti Amerika tak pernah surut hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MengapaHusni Mubarak digoyang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya krisis  Mesir hari ini bukan peristiwa yang mengejutkan, karena bersifat universal. Mubarak menduduki kursiPresiden Mesir selama 30 tahun, dan memerintah dengan tangan besi. Bisa saja peristiwa penggulingan Presiden Tunisia memberi inspirasi  kepada rakyat Mesir untuk melakukan hal yang sama, meski akar penyebabnya agak berbeda.Tetapi krisis hari ini sebenarnya merupakan ledakan bom waktu yang hanya menunggu pemicunya. Mesir tidak mungkin mengabaikan Amerika karena dukungan negeri lain, Saudi Arabia misalnya tak bisa diharap. Saudi Arabia sendiri juga lebih suka “berlindung” kepada Amerika dibanding membangun solidaritas  Negara-negaraTimur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anatomi Negara-negara Arab itu seperti padang pasir, mudah pecah dan mudah berpindah posisi.  Persatuan dan pertikaian itu begitu mudah bertukar tempat seperti mudah pindahnya gunungan pasir yang disergap angin. Atau seperti karakter bahasanya yang begitu mudah berubah mengikuti kaidah i’rab. Husni Mubarak tak punya pilihan lain kecuali bertransaksi dengan Amerika dan Israel, karena lawan Amerika setelah lenyapnya super power Uni Sovyet belum ada penggantinya. Berbeda dengan Gaddafi yang “cerdas” membuka pintu “demokrasi” melalui empat juta komputer (internet) yang dibagikan kepada seluruh rumah penduduk yang pada umumnya belum terlalu terpelajar,  penduduk Mesir pada umumnya sudah terpelajar dan disana banyak sekali tokoh intelektual dan ulama yang kritis. Transaksi politik Mubarak dengan Amerika (dan Israel)bagai  meniup “balon” ketidakpuasan rakyat Mesir yang merindukan kebanggaan sebagai bangsa yang kaya dengan peradaban kuno itu. Cepat atau lambat Mubarak akan jatuh, dan hari-hari ini tinggal menunggu momentumnya. Kehadiran mantan duta besar Amerika ke Kairo mengisyaratkan bahwa Amerika tidak akan menolong Mubarak. Presiden Barack Obama pun sudah mengatakan bahwa tidak ada kepentingan Amerika dalam krisis Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah menular ke Indonesia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang meramalkan bahwa krisis Mesir dapat menular ke Indonesia sesungguhnya lebih pada kegatelan politik yang bersangkutan. Mereka merasa senang melihat krisis menimpa negeri sendiri tanpa membayangkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cost&lt;/span&gt; yang harus dibayar. Kalau mau membandingkan dengan Indonesia maka kasusnya sudah terjadi yaitu krisis 1998. Ketika itu Suharto juga sudah kelamaan menduduki kursi Presiden RI, sama dengan Husni Mubarak. Ketika itu rakyat Indonesia juga sudah mulai muak dengan sandiwara demokrasi  orde baru disamping krisis moneter yang membuat Indonesia tertinggal di landasan, bukan tinggal landas seperti yang dijanjikan oleh Presiden Suharto. Kini Presiden SBY barusaha memulai periode kedua masa kepresidenannya, dan konstitusi sudah menjamin tidak akan mungkin naik jadi Presiden lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau toh ada kritik kepada Presiden SBY sebagai pemimpin yang peragu, lambat dan penakut, sesungguhnya itu juga bukan kritikan baru. Sejak tahun 2004, yakni pada masa periode pertama kepresidenannya, SBY sudah dituding seperti itu.Tetapi rakyat sudah menjawab, bahwa mereka lebih percaya kepada SBY sehingga pada pilpres 2009 SBY menang satu putaran dengan suara yang sangat signifikan (65%).Fenomena terakhir di Indonesia sesungguhnya lebih menampakkan sebagai bangsa yang sakit. Bayangkan anggauta DPR bisa melecehkan Presidennya dengan membuat koin untuk Presiden, padahal mereka tahu persis bahwa pernyataan Presiden tentang gaji bukan curhat juga bukan keluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang melakukan anak-anak LSM masih bisa difahami, karena anak2 LSM memang pintar-pintar dan kreatifitas nyentriknya merupakan ciri khas mereka. Begitu pun aksi tokoh “lintas agama” yang dipimpin Din Syamsudin. Manufer mereka tidak mencerminkan etika tokoh agama, karena mereka memang sesungguhnya lebih sebagai tokoh  intelektual yang berpolitik dan bahkan pernah menjadi pejabat. Lebih telanjangnya lagi karena Din dengan bangga menyatakan bahwa tokoh lintas agama diback up oleh 68 LSM yang selalu memasok data kebohongan pemerintah. Kita semua tahu bahwa LSM memang sangat pintar mengaudit orang, tetapi mereka sendiri tak pernah mau diaudit .Laporan LSM lebih diperuntukkan kepada pendonor dibanding kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika fenomena Mesir pindah ke Indonesia itu artinya bangsa ini terutama pemimpinnya memang bodoh  karena tak pernah sadar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cost&lt;/span&gt; yang harus dibayar, padahal baru pada Presiden SBY, suksesi nasional berlangsung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;smooth&lt;/span&gt;. Bung Karno dijatuhkan secara emosionil, Pak Harto Juga, Habibi juga, Gus Dur juga. Tahun2004, SBY naik dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;smooth&lt;/span&gt;, 2009 terpilih kembali  dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;smooth&lt;/span&gt;, masa kita tidak sabar menunggu 2014, padahal sudah dijamin konstitusi SBY tak mungkin naik lagi.  Menurunkan SBY di tengah jalan sama  dengan mengembalikan sejarah Indonesia ke titik nol lagi seperti tahun 1965 dan 1997.  Kita tak bisa melupakan kearifan para pendiri negeri ini yang menyatakan bahwa hanya atas berkat rahmat Allah dan didorongkan oleh keinginan luhur, bangsa ini dapat mencapai kemerdekaannya. Sekarangpun hanya keinginan luhur anak bangsa yang akan menjadi media datangnya berkat dan rahmat Alloh. Jika berkat dan rahmat Alloh datang, maka yang sulit akan berubah menjadi mudah, yang beku akan mencair dan seterusnya, dan seterusnya. Insyaalloh.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-4869775264886039785?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/4869775264886039785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=4869775264886039785' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4869775264886039785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4869775264886039785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/02/krisis-mesir_06.html' title='Krisis Mesir'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TU9yIMwg-JI/AAAAAAAABho/VTsL2uBoXjs/s72-c/krisis%2Bmesir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-28949247330236655</id><published>2011-01-31T20:13:00.001-08:00</published><updated>2011-02-01T00:26:16.700-08:00</updated><title type='text'>Makna Senyum( 3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemimpin : Pilar Budaya Masyarakat Bermartabat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="font-weight: bold;" src="file:///C:/DOCUME%7E1/Guest/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /&gt;&lt;img style="font-weight: bold;" src="file:///C:/DOCUME%7E1/Guest/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.png" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TUeJkRKyVzI/AAAAAAAABg0/PMeTLtTxiyA/s1600/presiden%2BRI.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 159px; height: 161px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TUeJkRKyVzI/AAAAAAAABg0/PMeTLtTxiyA/s200/presiden%2BRI.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568570720443848498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya pernah mengantar seorang guru spiritual dari Siprus,yaitu Syeh Nazim `Adil al Qubrusy menemui Presiden Abdurrahman Wahid pada bulan-bulan terakhir masa kepresidenannya. Banyak sekali joke yang disampaikan oleh Gus Dur, panggilan akrab Presiden di depan tokoh spiritual itu. Sesekali Syekh Nazim memang terkekeh mendengar joke itu,&lt;br /&gt;tetapi nampak sekali sorot mata keprihatinan beliau dalam bercanda dengan Presiden Gus Dur itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika keluar dari istana, rombongan kami berpapasan dengan demo mahasiswa dalam jumlah yang cukup besar. Dalam demo itu mahasiswa menyanyikan lagu-lagu yang liriknya menuntut Gus Dur, berbunyi ”wahai Gus Duuur, silahkan munduuuur , untuk cukup menjadi gubernuuuur, di Jawa Timuuuur. Yaahh mahasiswa melagukan kalimat itu dengan penuh cemooh. Seperti kita ketahui Jawa Timur memang basis dukungan fanatik kepada Presiden Gus Dur hingga Gus Fawaaid dari Pesantren Asembagus Situbondo ke Jakarta memimpin sendiri demo dukungan untuk Presiden Gus Dur. Syekh Nazim bertanya apa arti lagu-lagu yang diteriakkan oleh demonstran mahasiswa. Tapi yang sangat beliau perhatikan adalah ketika demonstran mengerek patung kertas Presiden Gus Dur dan kemudian membakarnya. Secara spontan Syekh Nazim berkata dalam bahasa Inggris yang sangat fasih. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bangsa yang menurunkan pemimpinnya secara tidak terhormat dijamin pemimpin yang menggantikannya tidak akan lebih baik dibanding pemimpin yang diganti&lt;/span&gt;. Ketika itu kami mendengarkan tetapi sekedar mendengar tanpa sempat merenungkan kedalaman maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ketika carut marut negeri tak kunjung berakhir barulah kata-kata guru spiritrual itu seperti terngiang-ngiang di telinga. Benar juga, kita semua sudah tahu kualitas pengganti Presiden Gus Dur. Bukan hanya itu, yang sangat memprihatinkan adalah pelecehan kepada pemimpin di semua tingkatan terus berlangsung hingga hari ini,bukan hanya dilakukan oleh demonstran mahasiswa, tetapi juga oleh orang-orang yang sesungguhnya sudah masuk dalam deretan pemimpin nasional. Mereka tidak sadar bahwa seorang pemimpin politik yang melecehkan pemimpin negara, pada gilirannya nanti sang pemimpin politik menjadi pemimpin negara juga akan dilecehkan oleh lawan-lawan politiknya. Mahasiswa yang suka melecehkan pemimpin pun nanti ketika menjadi ketua BEM akan dilecehkan oleh sesama mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan pelecehan kepada pemimpin negara yang sedang menjabat, bukanlah perbuatan orang terhormat apalagi jika pemimpin negara itu produk dari sistem konstitusi yang sah, Kehormatan seorang pemimpin melekat pada dirinya, baik ketika ia sedang menjabat (karena terpilih),maupun ketika menjadi oposisi (karena tidak terpilih). Memang tidak semua pemimpin yang kita hormati adalah orang terhormat. Sebaliknya seorang pemimpin yang terhormat, ia tetap terhormat meskipun tidak dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tengok sejarah pemimpin puncak negeri kita, hati menjadi masygul ketika melihat nasib semua Presiden kita setelah tidak menjabat. Ketika bencana tsunami melanda Aceh, Amerika yang sering dituduh sebagai masyarakat sekuler mengirim dua mantan Presidennya,Clinton dan Carter ke Aceh sebagai wakil resmi dari negara dan bangsa Amerika. Sungguh satu apresiasi yang sangat bermartabat dari bangsa Amerika kepada pemimpinnya, meski sudah tidak menjabat. Bangsa Indonesia yang sering disebut sebagai bangsa yang beragama ternyata tidak bisa mengapresiasi pemimpin bangsanya secara bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja,Bung Karno diturunkan secara emosional oleh MPR, Pak Harto yang ketika naik dielu-elukan juga disikapi secara emosional oleh MPR yang mengangkatnya, hingga jatuh. Baik Bung Karno maupun Suharto,keduanya setelah tidak menjabat sebagai presiden tidak lagi menerima penghormatan. Mereka berdua ”dikurung” secara politik dan sosial hingga akhir hayatnya. Pak Habibi pun diturunkan secara emosional oleh MPR, dan setelah tidak menjabat, beliau membutuhkan beberapa tahun untuk ”bersembunyi” di Jerman. Hanya Presiden Gus Dur yang meski juga diturunkan secara emosional oleh MPR yang mengankatnya, ia tetap tidak berubah, baik ketika menjadi Presiden maupun setelah menjadi mantan, karena beliau selalu mensikapi dengan kalimat cuek; Gitu aja kok repot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika SBY terpilih menjadi presiden ke VI menggantikan bu Megawati, nampak sekali SBY ingin mengakhiri kebiasaan tidak menghormati mantan Presiden. Beliau menunggu ucapan selamat dari Bu Mega agar bangsa ini tercerahkan oleh sikap legowo pemimpin yang kalah dalam pemilihan, tapi Bu Mega tidak hadir, bahkan hingga hari ini beliau tak pernah berkenan menghadiri upacara 17 Agustus di istana. Pak Hamzah Haz, mantan wakil presidennya Bu Mega yang diingatkan oleh wartawan untuk mengucapkan selamat kepada Presiden terpilihpun lebih memilih solidaritas kepada bu Mega daripada memulai dengan sikap elegan. Pak Hamzah Haz malah menjawab, kan tidak ada aturannya yang kalah harus mengucapkan selamat kepada yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika TV setiap hari menayangkan berita pelecehan kepada pemimpin, baik di daerah maupun di pusat, bahkan mahasiswa yang dalam demonya selalu mengusung issue kepentingan rakyat kecil juga melakukan tindak anarkis dan melecehkan pemimpin termasuk membakar foto Presiden dan Wakil Presiden (SBY-JK, dan SBY Budiono) pilihan rakyat langsung dan masih menjabat. Bagaimana jadinya nanti setelah tidak menjabat ? Keprihatinan ini kembali mengingatkan saya kepada Syekh Nazim, guru spiritual dari Siprus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari setelah kunjungan ke Presiden Abdurrahman Wahid, ketika beliau beristirahat setelah mengikuti dzikir khataman Khawajagan jamaah Tarikat Naqsyabandi Haqqani di Jl. Brawijaya, di depan kami-kami yang duduk disekelilingnya,beliau berkata; Pilar budaya masyarakat bermartabat itu ada tiga, menghormati orang tua, menghormati guru dan menghormati pemimpin. Jika yang satu dilecehkan, maka ketiganya akan terlecehkan. Ternyata kata-kata Syeh Nazim benar. Kini ketika semua pemimpin dilecehkan, gurupun sudah tidak bisa dipercaya untuk mengawasi Ujian Nasional murid-muridnya sehingga harus dikawal polisi. Betapa sedihnya kita semua, ketika nanti tiba giliran orang tuapun sudah tidak didengar nasehatnya oleh anak-anaknya, apalagi oleh cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat menarik apa yang belum lama berlangsung  di Amerika, Hillary Clinton dan Barack Obama bersaing dengan amat sangat sengit, terkadang tak terhindar keluarnya kata-kata yang saling merendahkan. Tetapi begitu sampai finish bahwa Barack Obamalah yang menang sebagai kandidat,langsung Hillary berteriak mendukung Obama, menyatu untuk tujuan bersama yang lebih besar. Begitupun Mcain setelah kalah dariObama.  Nah.... pemimpin2 kita....?, selama lima tahun masa kepresidenan , yang kalah tak pernah memberi dukungan kepada presiden terpilih demi untuk tujuan yang lebih besar yaitu tujuan nasional. Sepanjang lima tahun para pemimpin yang kalah tetap konsisten melecehkan yang menang, seperti persaingan abadi, pilpres abadi. Masih di tahun pertama 2010 sudah kampanye untuk pilpres 2014,  dan tak mengingat tujuan bersama hidup berbangsa dan bernegara. Sungguh.... perlu segera ada gagasan terobosan untuk mengembalikan martabat bangsa ini dengan menempatkan orang tua, guru dan pemimpin pada tempat yang dijamin terhormat dan dihormati dalam sistem hidup berbangsa dan bernegara.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-28949247330236655?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/28949247330236655/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=28949247330236655' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/28949247330236655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/28949247330236655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/01/makna-senyum-3.html' title='Makna Senyum( 3)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TUeJkRKyVzI/AAAAAAAABg0/PMeTLtTxiyA/s72-c/presiden%2BRI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-1211727806659266923</id><published>2011-01-30T20:12:00.001-08:00</published><updated>2011-01-31T06:09:17.484-08:00</updated><title type='text'>Makna Senyum (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Senyum Pak SBY  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Zaim Uchrowi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TUY3CkI9fII/AAAAAAAABf8/0Cb0aPXFUyc/s1600/senyum%2BSBY.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 153px; height: 155px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TUY3CkI9fII/AAAAAAAABf8/0Cb0aPXFUyc/s200/senyum%2BSBY.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568198506490723458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah lama Presiden kita tak tersenyum.  Tugas berat memang membuat otot pipi susah menarik bibir. Apalagi persoalan demi persoalan datang seperti tak mau jeda. Kemajuan di sana-sini terlihat jelas. Akan tetapi, banyaknya rakyat susah memang akan selalu mengusik perasaan. Kapan kehidupan rakyat bawah akan benar-benar terangkat? Pemimpin yang baik akan selalu memikirkan beban itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak SBY, Presiden kita, sudah mencoba untuk tak terjebak realitas tadi. Persoalan tak akan terselesaikan dengan mengernyitkan kening. Sebaliknya, tersenyum sering dapat membantu mengatasi masalah. Ilham acap datang ketika hati tersenyum, di tengah keadaan serumit apa pun. Untuk dapat membuat hati tersenyum, biasanya perlu dipancing dengan senyum bibir. Pak SBY tahu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cara-cara yang biasa dilakukan Pak Presiden buat memecahkan beban hati. Saat kunjungan, kadang Pak SBY meluangkan waktu buat menikmati suasana alam. Foto Pak SBY duduk di kursi menikmati pagi berkabut di perkebunan kopi di Jawa Tengah sulit terhapus dalam ingatan banyak orang. Foto itu bukan cuma indah. Foto itu juga memancarkan nuansa tenteram dan sejahtera yang sangat kuat. Suasana yang sungguh kita harapkan ada pada diri Pak SBY, dan tentu juga seluruh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain melepas penat Pak SBY adalah menyanyi dan bermusik. Beberapa kali ditayangkan televisi, Pak SBY menyanyi bersama 'grupnya'. Di antaranya dengan Heru Lelono, salah seorang staf terdekatnya yang dikaitkan dengan 'bensin air' blue water dan padi hebat supertoy. Terobosan yang dinilai membohongi publik itu. Ekspresi Pak SBY tampak lepas saat menyanyi. Hal yang memang semestinya demikian. Mungkin belakangan ini beliau makin tak punya waktu untuk bermusik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, di tengah beban berat, Pak SBY tak kehilangan selera humor. Di antaranya dengan berseloroh di hadapan orang-orang dekatnya. Saat suasana hati sedang nyaman, ketika memberi pidato sambutan pun Pak Presiden acap menyisipkan canda. Pak SBY cukup pandai untuk keluar dari pidato normatif. Bagi yang biasa mengikutinya, seloroh Pak Presiden soal gaji adalah soal biasa. Faktanya, memang gaji presiden sudah tujuh tahun tak naik. Dalam kehidupan ekonomi rumah tangga presiden, nilai gaji itu juga tak berarti sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, masyarakat kita masyarakat unik. Penanaman budaya feodalistik yang dilakukan penjajah benar-benar meresap. Dalam budaya feodalistik, menjadi pamong praja yang digaji merupakan impian. Sebagian besar rakyat menginginkan menjadi orang yang digaji. Beda dengan rakyat Cina yang lebih memimpikan bisa menggaji diri sendiri. Di negeri ini, gaji menjadi isu sensitif. Itu yang menghambat sistem gaji pemerintahan tak dapat dikembangkan ke standar profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, sebagian masyarakat kita juga begitu gandrung pada politik (model kuno). Sebuah kegandrungan yang dapat dimengerti. Politik (model kuno) saat ini terbukti menjadi jalan paling efektif buat melesatkan kekayaan diri. Banyak orang ingin 'basah', maka banyak orang menggarap politik. Gaji merupakan isu menarik buat dipolitikkan. Apalagi dikaitkan dengan presiden. Tak peduli itu hanya seloroh. Lalu, digarisbawahi bahwa seolah tidak pantas presiden berseloroh soal gaji di tengah kemiskinan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lelucon yang tidak lucu," kata Pak Achmad Mubarok, sesepuh Partai Demokrat, menanggapi gerakan 'Koin Presiden' untuk mengejek Pak SBY. Pak Mubarok benar. Bukan bangsa baik yang suka mengejek pemimpinnya sendiri, apa pun kekurangan yang dimiliki sang pemimpin. Selain itu, seluruh bangsa ini juga sudah saatnya membicarakan terbuka gaji pegawai publik. Sistem gaji pemerintah saat ini merupakan produk budaya hipokrit bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara formal, gaji ditetapkan sangat rendah untuk menghindari kecemburuan rakyat feodalistik kita yang bermimpi digaji. Penghasilan yang berlipat kali lebih besar diperoleh dari skema di luar gaji. Mempertahankan sistem penggajian sekarang sama halnya mengukuhkan kehipokritan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saat kita membangun era baru. Sekarang saat kaidah profesional makin intensif untuk disuntikkan ke tubuh bangsa ini. Untuk ukuran sekarang, gaji presiden Rp 10 miliar dan gaji menteri Rp 2 miliar sebulan sama sekali tidak berlebihan. Itu masih harus dipotong pajak. Berbagai uang lain-lain, seperti 'uang rapat', 'uang perjalanan dinas', dan 'honor panitia' harus dihapus dari sistem birokrasi. Memang banyak yang belum siap dengan format itu. Namun, kita berharap, Pak SBY berani membuat keputusan itu pada akhir masa jabatannya nanti, buat mewariskan pemerintahan masa depan yang benar-benar profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehipokritan bangsa yang menghambat maju selama ini harus dikurangi. Di antaranya melalui transformasi sistem gaji tadi. Itu perlu dibicarakan terbuka dengan tersenyum. Senyum selalu meringankan buat mengatasi masalah. Maka, kita berharap Pak SBY pun tersenyum seperti dulu. Walaupun mungkin senyumnya belum bisa lepas. Banyak warga masih sulit tersenyum. Kita berharap suatu hari nanti senyum Pak SBY benar-benar lepas karena seluruh warga sudah tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-1211727806659266923?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/1211727806659266923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=1211727806659266923' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/1211727806659266923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/1211727806659266923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/01/makna-senyuman-2senyum-pak-sby-oleh.html' title='Makna Senyum (2)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TUY3CkI9fII/AAAAAAAABf8/0Cb0aPXFUyc/s72-c/senyum%2BSBY.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-9142652214036563255</id><published>2011-01-27T22:46:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T20:12:17.055-08:00</updated><title type='text'>Makna Senyuman (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TUJo_49RSnI/AAAAAAAABf0/YgTX0liVM5Y/s1600/senyum.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 171px; height: 149px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TUJo_49RSnI/AAAAAAAABf0/YgTX0liVM5Y/s200/senyum.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567127536213772914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Senyuman pada umumnya difahami sebagai ekpressi keramahan, tetapi kita mengenal ada istilah senyum sinis, senyuman berbisa,  senyum getir disamping senyuman yang bernuansa positip. Pernah ada senyuman yang sangat menggoda Presiden Bush Amerika, yaitu senyuman Amrozi ketika divonis hukuman mati oleh pengadilan terorisme. Orang Amerika hanya bisa menyebut Amrozi sebagai teroris murah senyum.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkahlaku dan senyuman adalah ekpressi jiwa. Untuk memahami makna senyum dan aksi orang seperti Amrozi dibutuhkan Psikologi. Selama ini Psikologi difahami  sebagai Western Psychology yang mengasumsikan perilaku dan tingkahlaku manusia sebagai sesuatu yang universal, tetapi yang sesungguhnya Psychology Barat hanya benar untuk menganalisis manusia Barat, karena sesuai dengan kultur sekuler yang melatarbelakangi lahirnya ilmu tersebut.  Di belahan dunia lain, perilaku manusia dipengaruhi oleh sistem nilai yang berbeda dengan sistem nilai masyarakat Barat. Apa yang diklaim sebagai human universals, haruslah diuji sahih dengan multiple indigenous psychology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indigenous psychology dapat didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi, yang tidak trasported dari wilayah lain, dan memang didesain khusus untuk masyarakat itu. Dengan kata lain indigenous psychology adalah pemahaman yang berdasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami senyum Amrozi tidaklah cukup hanya dengan membandingkan senyuman orang Barat. Ia harus dicari akarnya pada kultur Jawa Timur, kultur santri, kultur pekerja wiraswasta dan kultur pejuang bersenjata (mujahid, muqatil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyuman Pak Harto dulu pernah dijadikan judul buku The Smiling General,  senyuman seorang General. Pak Harto adalah sosok pemimpin yang memimpin dengan hard power, seorang yang senyumnya Nampak malu-malu tetapi kemauannya sangat keras tidak boleh ada yang menghalangi, Berani menghalangi keinginan Pak Harto, orang akan merasakan betapa berat akibatnya, oleh karena itu tidak ada yang berani memandang sinis senyuman beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Pak Harto adalah pak SBY. Dua-duanya jenderal dan dua-duanya Presiden RI, Pak SBY meskipun tentara dan jenderal, karakternya soft dan memerintah dengan soft power. Apa saja yang dilakukan oleh Presiden SBY bisa dikomentari bahkan diplesetkan. Ada tulisan Zaim Ukhrowi di kolom resonansi Koran Republika 28 Januari tentang senyum SBY, saya kutip apa adanya&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-9142652214036563255?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/9142652214036563255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=9142652214036563255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/9142652214036563255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/9142652214036563255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/01/makna-senyuman-1.html' title='Makna Senyuman (1)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TUJo_49RSnI/AAAAAAAABf0/YgTX0liVM5Y/s72-c/senyum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-3691323683944281486</id><published>2011-01-17T20:06:00.000-08:00</published><updated>2011-01-17T20:10:24.304-08:00</updated><title type='text'>Kesulitan sebagai Sistem Hidup</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TTUR2vvn27I/AAAAAAAABfs/S-oJq8hnvLI/s1600/kesulitan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 148px; height: 146px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TTUR2vvn27I/AAAAAAAABfs/S-oJq8hnvLI/s200/kesulitan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563372546912934834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Syahdan ketika Adam dan Hawa masih berada di surga,Tuhan mempersilahkan kepada keduanya untuk menikmati semua fasilitas surga tanpa harus berjuang lebih dahulu, karena surga memang bukan medan perjuangan. Dari fasilitas kenikmatan surgawi yang tak terhitung jumlahnya, seperti disebut dalam al Qur’an, hanya satu yang dilarang oleh Tuhan, yaitu tidak boleh memetik buah khuldi, wala taqroba hadzihis syajarota fatakuna min al khosirin, jangan kalian dekati pohon ini, kalian berdua bisa rugi nanti.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya sudah menjadi skenario pembelajaran, bahwa manusia terkadang tidak pandai bersyukur. Sudah diperbolehkan mengambil semua kecuali yang satu ini, eh justeru larangan itulah yang menggodanya. Syetan menggoda Adam dengan menanamkan logika bahwa kunci keabadian itu ada dalam pohon yang terlarang itu . Semua fasilitas surgawi tak bermakna tanpa yang satu itu, rayu syaitan. Adam bersikukuh tak mau menyentuh yang dilarang. Namanya juga syaitan,gagal menggoda Adam, syaitan tak berputus asa, ia mendatangi Hawa isterinya. Rupanya juga sudah menjadi skenario, wanita lebih mudah tergoda untuk mengetahui rahasia dibalik larangan itu, maka Hawa lah yang merajuk merayu Adam supaya dipetikkan buah terlarang itu. Juga sudah menjadi skenario, laki-laki sering tak tahan berpegang kepada prinsip jika mendapat rayuan wanita, maka Adampun melanggar prinsip yang dianut, melanggar apa yang dilarang Tuhan, memetik buah khuldi demi menyenangkan isteri tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pelanggaran itu, babak baru kehidupan manusia dimulai. Adam dan Hawa terlempar dari surga yang segalanya serba mudah dan nikmat, lalu ditempatkan dimuka bumi sebagai khalifah Tuhan. Kata Tuhan, di bumi segalanya juga telah kusediakan untukmu, tetapi tidak ada yang gratis di sana. Segala kesenangan,kenikmatan bisa kalian peroleh setelah kalian berhasil berjuang menaklukkan kesulitan. Lama Adam dan Hawa harus beradaptasi dengan sunnatulloh kehidupan dibumi. Tapi Adam dan Hawa tidak bisa lari dari sistem hidup, Adam pun harus menghadapi kenyataan dua anaknya, Qabil dan Habil terlibat konflik hingga berbunuhan. Benarkah hidup di dunia ini tidak enak karena harus menghadapi kesulitan ? Ternyata, seperti yang disebut al Qur.an, bersama kesulitan ada kemudahan, inna ma`a al`usri yusro, dibalik kesulitan ada kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabiat Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia memiliki kodrat sebagai makhluk budaya (madaniyyun bi atthob`i) dan sebagai mahkluk sosial (ijtima`iyyun bi atthob`i). Sebagai makhluk budaya manusia memiliki konsep,gagasan dan keyakinan yang dianut, yang kemudian memandu dirinya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia punya konsep tentang keindahan, tentang kehormatan, tentang kebesaran dan tentang kehinaan. Sebagai makhluk budaya,manusia juga mengenal nilai-nilai teori, nilai ekonomi,nilai agama, nilai seni, nilai kuasa dan nilai solidaritas, dan dominasi nilai-nilai itu akan membentuk orang menjadi ilmuwan, ekonom, rohaniwan, seniman, politikus dan humanis. Bisa juga terjadi ada ilmuwan yang mistis, politisi pejuang, ulama rasionil, aktifis HAM yang korup, seniman yang failasuf, penguasa yang repressip dan sebagainya. Bagi manusia yang memiliki peradaban yang tinggi, ia merasa sangat terhina untuk meraih sukses diatas penderitaan orang lain, atau memperoleh kemenangan dengan kecurangan. Sedangkan orang yang berbudaya rendah, ia berbangga dapat memperdaya orang lain, memperdaya Pemerintah, dan memperdaya orang banyak. Bagi orang yang berperadaban rendah, keberhasilan adalah tujuan utama, sedangkan cara, itu hanya soal teknis,bukan nilai, sementara menurut orang yang berperadaban tinggi, keberhasilan yang bertumpu kepada cara yang tak bernilai adalah sebuah kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sebagai makhluk sosial memiliki keiinginan bekerjasama dan bersaing sekaligus. Manusia menyadari kelemahannya oleh karena itu ia ingin bekerjasama dengan manusia lainnya untuk mempercepat pencapaian tujuan bersama. Tetapi manusia juga memiliki keunikan, yakni setiap orang adalah dirinya, mempunyai fikiran,perasaan dan kehendak yang khas, dirinya berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu. ketika sedang bekerjasama ada yang benar-benar tulus bekerja sama untuk tujuan bersama, ada yang unik, yaitu memiliki agenda sendiri, ingin mencapai tujuan sendiri diluar tujuan bersama. Sesama orang yang memiliki agenda sendiri mereka bersaing, terkadang secara fair dan tak jarang tidak fair. Godaan untuk bersaing secara tidak fair menguat terutama dalam persaingan politik dan persaingan bisnis. Banyak orang demi tujuan politik dan tujuan bisnisnya melakukan sesuatu yang justeru merendahkan martabat dirinya sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Dalam Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al qur’an , perjuangan disebut dengan term jihad .Kata jihad dalam berbagai kata bentukannya disebut sebanyak 41 kali tersebar dalam 19 ayat. Sebagian turun di Makkah dan sebagian di Madinah. Secara lughawi, jihad nengandung arti memerangi musuh, mencurahkan segala kemampuan dan tenaga berupa kata-kata, perbuatan atau segala sesuatu yang disanggupinya. Kata jihad, bisa berarti perjuangan dalam bentuk perang melawan musuh, bisa juga berarti bekerja keras non perang. Dari akar kata jihad inilah kemudian ada kalimat ijtihad, yakni kerja keras secara intelektual, berjuang secara intelektual dan mujahadah an nafs, kerja keras secara ruhaniah , perjuangan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam hadis Nabi, kata jihad juga digunakan dalam kontek perjuangan spiritual ibadah haji, .Perintah jihad ada yang ditujukan kepada pribadi (mukhatab mufrad) dan kebanyakan ditujukan kepada kelompok (mukhatab jamak).. Perintah jihad juga ada yang disebut obyeknya, tetapi lebih banyak yang tidak menyebut obyeknya. Yang disebut justeru maknanya, yaitu jihad di jalan Allah, fi sabililah. Kaidah penafsiran mengajarkan bahwa jika suatu kata kerja transitip disebutkan dalam suatu ayat tanpa disertai penyebutan obyeknya, maka obyek kata kerja itu bersifat umum. Dengan demikian maka obyek jihad bukan hanya musuh dalam peperangan , tetapi segala hal yang tercakup dalam kalimat fisabilillah.misalnya memberi makan fakir miskin, membebaskan perbudakan (al Balad; 13-16) Dengan demikian maka jihad tidak mesti menggunakan senjata, tetapi bisa juga pena atau lisan. Dalam konteks ini, guru yang dengan kesejahteraan minimal tetapi optimal dalam mencerdaskan generasi bangsa adalah pejuang atau mujahidin, pekerja sosial yang bergelut mempertaruhkan segala kemampuannya untuk membantu mengangkat martabat masyarakat sesunguhnya adalah juga mujahidin atau pejuang. Ciri pejuang adalah gigih berpegang teguh kepada prinsip yang dianut meski beresiko mati.Nah orang yang tengah berjuang kemudian mati dalam perjuangannya disebut mati syahid (arti syahid = saksi) , maknanya kematian itu menjadi saksi atas kegigihan usahanya, dan itu merupakan taruhan dari kehormatannya. Untuk orang-orang terhormat, kata Nabi hanya ada dua pilihan; `isy kariman aw mut syahidan, hiduplah secara mulia atau mati sebagai syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Kesulitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kesulitan adalah persepsi. Sesuatu yang sulit dimata seseorang ternyata dipandang mudah oleh orang lain. Persepsi itu dipengaruhi oleh perhatian, konsep fungsional dan konsep struktural. Orang yang besar perhatiannya kepada nilai kejujuran maka ia tidak merasa sulit ketika harus menerima resiko seberat apapun, Seorang ibu merasa biasa-biasa saja ketika harus menghadapi kesulitan dalam mengasuh anak-anaknya yang bandel karena itu memang fungsi seorang ibu. Ada orang yang memandang kesulitan sebagai hambatan, tetapi orang lain memandang kesulitan yang sama hanya sebagai tantangan. Menghadapi hambatan membuat hati kesal dan lelah, sedangkan menaklukkan tantangan adalah sesuatu yang indah , nikmat dan semangat. Pada dasarnya manusia yang berbudaya tinggi menyukai tantangan, seorang petinju merasa terhormat jika memperoleh kesempatan bertarung melawan jagoan dan sang juara, dan merasa terhina ketika disodori petinju ayam sayur. Hidup tanpa kesulitan adalah membosankan, oleh karena itu orang-orang yang lama tidak menghadapi kesulitan yang sebenarnya, mereka kemudian membuat kesulitan buatan untuk menghibur diri. Pemanjat wall climbing atau panjat tebing adalah mereka yang sengaja mencari kesulitan sebagai hiburan sambil berspekulasi siapa tahu di belakang harus memanjat gunung beneran.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-3691323683944281486?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/3691323683944281486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=3691323683944281486' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3691323683944281486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/3691323683944281486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/01/kesulitan-sebagai-sistem-hidup.html' title='Kesulitan sebagai Sistem Hidup'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TTUR2vvn27I/AAAAAAAABfs/S-oJq8hnvLI/s72-c/kesulitan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-7589396231157225152</id><published>2011-01-16T19:51:00.000-08:00</published><updated>2011-01-16T20:06:39.361-08:00</updated><title type='text'>Problem Membangun Sebuah Society</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TTO9g0QsckI/AAAAAAAABfU/2EYHBjHuKfc/s1600/masyarakat.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 175px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TTO9g0QsckI/AAAAAAAABfU/2EYHBjHuKfc/s200/masyarakat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562998336214823490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada beberapa sebutan untuk menyebut  society (masyarakat), antara lain; masyarakat madani, atau komunitas ilmiah. Istilah masyarakat berasal dari bahasa Arab musyarakah. Dalam bahasa Arab sendiri masyarakat disebut dengan sebutan mujtama`, yang menurut Ibn Manzur dalam Lisan al `Arab mengandung arti (1) pokok dari segala sesuatu, yakni tempat tumbuhnya keturunan, (2) kumpulan dari orang banyak yang berbeda-beda . Sedangkan musyarakah mengandung arti berserikat, bersekutu dan saling bekerjasama. Jadi dari kata musyarakah dan mujtama` sudah dapat ditarik pengertian bahwa masyarakat adalah kumpulan dari orang banyak yang berbeda-beda tetapi menyatu dalam ikatan kerjasama, dan mematuhi peraturan yang disepakati bersama.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian itu maka dapat kita bayangkan bagaimana anatomi dari masyarakat yang berbeda-beda. Dapat dijumpai  misalnya ada; masyarakat desa, masyarakat kota, masyarakat Indonesia, masyarakat dunia, masyarakat Jawa, masyarakat Islam, masyarakat pendidikan, masyarakat politik dan sebagainya.Semua jenis masyarakat tersebut pastilah terdiri dari unsur-unsur yang berbeda-beda tetapi mereka menyatu dalam satu tatanan sebagai wujud dari kehendak bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena adanya dua atau beberapa kutub; yakni berasal dari unsur yang berbeda-beda tetapi bermaksud menyatu dalam satu tatanan, maka dari kutub pertama ke kutub ke dua ada proses yang membutuhkan waktu yang panjang.  Masyarakat Indonesia misalnya, sudahkah mereka menyatu dalam kesatuan ? ternyata setengah abad merdeka belum cukup waktu untuk menyatukan sebuah masyarakat Indonesia meski sudah diwadahi dengan istilah Bhineka Tunggal Ika. Abad pertama kemerdekaan Indonesia nampaknya masyarakat Indonesia sebagai satu kesatuan masih merupakan nation in making, masih dalam proses menjadi. Hambatan dari proses itu adalah adanya rujukan dan kepentingan yang berbeda-beda. Demikian juga masyarakat Islam Indonesia, masyarakat OKI dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat  Madani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah masyarakat madani terinspirasi dari nama kota Madinah al Munawwarah, yakni kota dimana terbangun masyarakat Islam generasi pertama dibawah “konstitusi” Piagam Madinah. Sebagaimana diketahui kota Madinah semula bernama Yatsrib, tetapi setelah Nabi Muhammad hijrah ke kota itu, Nabi mengubah namanya menjadi Madinah al Munawwarah. 0Lama tak ada orang yang menganalisis nama itu dalam perspektip  sosiologis modern. Ketika ramai-ramainya kajian tentang konsep Barat yang bernama  masyarakat sipil atau Civil Society, barulah nama Madinah al Munawwarah menjadi sangat menarik untuk dikaji, ada apa gerangan konsep dibalik nama itu. Kata Madinah berasal dari kata tamaddun yang artinya budaya, sementara al munawarah artinya yang disinari. Jadi konsep Madinah al Munawwarah adalah  kota yang penduduknya berbudaya tinggi dimana budayanya disinari oleh wahyu Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Apa buktinya ? Bayangkan betapa kuatnya kedudukan politik Nabi Muhammad, memiliki legitimasi horizontal dan legitimasi vertikal, tetapi Muhammad tidak tergoda untuk menjadi raja atau penguasa, padahal pada zaman itu hanya dikenal satu model kekuasaan yaitu kerajaan. Dalam posisi yang sangat kuat, Muhammad tetap memberdayakan tokoh-tokoh senior sebagai sahabat besar yang selalu dimintai pendapatnya dalam urusan-urusan umum layaknya di zaman demokrasi, dan para sahabat besar itu seperti anggauta parlemen yang ditunjuk, bukan pilihan rakyat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi juga mau mendengarkan kritik dan saran dari masyarakat seperti yang berlangsung pada masyarakat sipil. Muhammad mempunyai jatah rampasan perang (ghanimah) hingga 20 %, angka yang cukup untuk membuatnya sebagai orang kaya raya, tetapi beliau lebih memilih hidup sederhana. Pada era yang masih sangat tradisional, Nabi mengikat kerjasama sosial politik dengan semua golongan yang hidup di Madinah, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani serta komunitas suku-suku dalam apa yang disebut dengan piagam Madinah dimana semua warga memiliki kewajiban bersama dalam mempertahankan “kemerdekaan” kota Madinah, berikut sanksi bagi pelanggar piagam, satu model yang hanya dikenal oleh masyarakat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun etika peperangan, Muhammad benar-benar menghormati hak azazi manusia, dalam peperangan maupun  dalam memperlakukan tawanan perang, padahal ketika itu budaya perang yang berlangsung adalah budaya barbar.  Pada masa Nabi di Madinah belum ada sekolahan, belum ada buku, belum ada ilmu pengetahuan dalam pengertian sekarang, tetapi peradaban yang dikembangkan sudah sangat tingi melampaui zamannya. Dari itulah, Dr. Anwar Ibrahim dan juga Mahatir dari Malaysia menggunakan istilah masyarakat Madani ketika menyebut civil society dalam perspektip Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Ilmiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menyebut komunitas ilmiah yang dimaksud adalah kelompok masyarakat yang disatukan identitasnya oleh paradigma ilmiah, yakni mereka berfikir dan bertindak mengikuti panduan-panduan metodologi keilmuan dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan. Komunitas ilmiah bisa dikecilkan lagi pada komunitas yang lebih terbatas misalnya mereka yang tergabung dalam organisasi semisal Ikatan Dokter,  Persatuan Insinyur, himpunan ahli biologi dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sedangkan masyarakat  keilmuan (mujtama` al `ilmi) atau boleh juga disebut masyarakat terpelajar adalah masyarakat yang tumbuh dan berkembang dibawah panduan budaya keilmuan. Kebudayaan adalah konsep, gagasan, dan keyakinan yang dianut oleh suatu masyarakat dalam waktu lama, konsep mana kemudian memandu tingkah laku mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai kebudayaan bisa datang dari ajaran agama, dari cara kerja alam sekitar, bisa juga dari penghayatan dan persepsi dari interaksi sosial. Kebudayaan yang rendah biasanya hanya diilhami oleh tradisi setempat, sedangkan kebudayaan yang tinggi dilhami oleh nilai-nilai rasional dan nilai-nilai etik serta estetik. Kebudayaan bisa melahirkan ilmu pengetahuan, sementara ilmu pengetahuan bisa meninggikan kualitas kebudayaan. Ilmu berhubungan dengan nilai-nilai dan juga dengan teknik efisiensi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu masyarakat terpelajar biasanya rasional dan efisien. Pada sisi lain nilai-nilai estetik dan etik dari masyarakat terpelajar biasanya lebih bernalar dibanding nilai-nilai yang dianut masyarakat “tradisionil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tidak mudah membangun masyarakat terpelajar. Komunitas Pesantren di Indonesia sesungguhnya memiliki  kode etik “ilmiah” yang tingggi dimana mereka konsisten dalam mengikuti tradisi keilmuan klassik abad pertengahan Islam. Problemnya, santri dan sebagian kyai terputus hubungannya dengan dinamika dunia modern sehingga etos ilmiah mereka tidak terbarukan, padahal ilmu pengetahuan Barat justeru terilhami oleh  tradisi keilmuan klassik Islam’. Komunitas Pesantren tidak tahu bahwa ulama ahli ilmu hisab Al Hawarizmi yang mengajarkan teori persepuluhan dalam matematika ke dunia barat. Sesuai dengan tradisi keilmuan di Eropa, mereka mengabadikan ilmu itu dengan nama penemunya. Kesulitan lidah orang Eropa menyebut nama Arab Al Khawarizmi menggesernya menjadi AlGhorizme, lalu Algorisme, kemudian ke Indonesia menjadi Logaritma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Oleh karena itu membangun masyarakat muslim kontemporer yang terpelajar haruslah menguasai tradisi keilmuan klassik Islam, kemudian mempelajari sejarah dan proses perkembangan ilmu pengetahuan dari Barat ke  Islam kemudian pindah lagi ke Barat. Dengan mengetahui sejarah keilmuan itu maka masyarakat muslim kontemporer kembali merasa memiliki mutiara keilmuan yang sekarang ditumbuhkembangkan di Barat, untuk kemudian kembali kita Islamkan (Izlamization of Knowledge).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-7589396231157225152?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/7589396231157225152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=7589396231157225152' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7589396231157225152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/7589396231157225152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/01/problem-membangun-sebuah-society.html' title='Problem Membangun Sebuah Society'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TTO9g0QsckI/AAAAAAAABfU/2EYHBjHuKfc/s72-c/masyarakat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-6620380761945727767</id><published>2011-01-13T19:44:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T19:58:32.164-08:00</updated><title type='text'>Kekuatan Cinta (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TS_G2ShahcI/AAAAAAAABfM/0XQTnEPJdXs/s1600/love%2BAllah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 183px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TS_G2ShahcI/AAAAAAAABfM/0XQTnEPJdXs/s200/love%2BAllah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561882700813075906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menurut hadist Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Tuhan, maka ia lebih suka berbicara dengan Tuhan, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Tuhan dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Tuhan dari pada perintah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Menurut Imam Gazali ada empat tingkat kualitas cinta; (1) cinta diri, semua hal yang berhubungan cinta diukur dengan kesenangan diri sendiri, (2) cinta transaksional, yakni cinta kepada orang lain sepanjang orang yang dicintainya itu membawa keuntungan bagi dirinya, seperti cintanya pedagang kepada pembeli, (3) cinta kepada orang baik meski tak memperoleh keuntungan langsung, seperti cinta orang kepada ulama dan pemimpin, ia sanggup berkorban demi orang baik yang dicintainya. (4) cinta kepada kebaikan, terlepas dari siapa yang memiliki kebaikan itu, bahkan kebaikan yang ada pada musuhnya. Cinta jenis terakhir inilah yang bisa mengantar manusia ke tingkat cinta kepada Tuhan. Bagi sufi Rabi`ah al Adawiah, cintanya kepada Tuhan bahkan sudah tidak memberi ruang di dalam hatinya untuk membenci, bahkan untuk membenci syaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Karena cinta merupakan motiv atau faktor penggerak tingkah laku, maka kualitas cintanya akan mempengaruhi kualitas perilakunya. Cinta transaksional misalnya hanya mendorong pada perbuatan yang menurut hitungannya memberikan keuntungan. Jika keuntungan tidak terbayangkan maka perasaan cintanya berkurang dan mudah berpindah kepada orang lain yang menjanjikan keuntungan. Sedangkan cinta kepada tokoh idola dapat menggiring pada sifat cinta buta, yakni kesanggupan membela sampai titik darah penghabisan sang tokoh idola, meski belum tentu tahu substansi yang dibela. Ekpressi cinta ini dapat dilihat pada pengagum Bung Karno  yang berikrar dengan kalimat pejah gesang nderek Bung Karno, yakni hidup dan mati ikut Bung Karno.  Ikrar seperti ini sebenarnya hanya dibolehkan untuk Tuhan, karena Tuhan pasti benar, sedangkan manusia, meski ia pemimpin besar tetap saja subyektip. Orang Islam diajarkan untuk selalu ikrar inna salati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil `alamin, sesungguhnya salatku, ibadahku, bahkan hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, sekurang-kurangnya lima kali dalam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Karena cinta bersifat indah, maka orang yang sedang dimabuk cinta hatinya selalu berbunga-bunga, wajahnya berseri-seri, mempersepsi alam (misalnya bulan, gemerincik air,  langit biru , bentangan alam dan sebagainya)  sebagai dukungan atas cintanya, oleh karena itu ia mengerjakan pekerjaan dengan riang gembira.  Sebaliknya orang yang sedang menderita karena cinta, misalnya cintanya ditolak, maka hatinya menjadi gelap, dan semua pemandangan seperti mengejeknya, dan pekerjaan sebagai sesuatu yang menyebalkan. Hanya orang yang kuat kepribadiannya yang justeru dapat melupakan kegetiran cintanya dengan memindahkan konsentrasianya pada pekerjaan..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-6620380761945727767?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/6620380761945727767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=6620380761945727767' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/6620380761945727767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/6620380761945727767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/01/kekuatan-cinta-2.html' title='Kekuatan Cinta (2)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TS_G2ShahcI/AAAAAAAABfM/0XQTnEPJdXs/s72-c/love%2BAllah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-4501125902062443560</id><published>2011-01-12T19:50:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T20:28:01.134-08:00</updated><title type='text'>Kekuatan Cinta (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TS57jArvfEI/AAAAAAAABfE/Sv2U_w7PIRw/s1600/love.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 163px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TS57jArvfEI/AAAAAAAABfE/Sv2U_w7PIRw/s200/love.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561518431258246210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jika seribu orang diminta menyampaikan pemahamannya tentang cinta berdasar pengalaman hidupnya, maka akan ada seribu macam ungkapan tentang cinta, karena cinta itu indah, obyektip, juga subyektip serta misterius, bergantung pengalaman masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menyimpulkan bahwa  cinta itu motivator yang sangat kuat, yang lain mengatakan bahwa cinta itu keindahan yang susah diterangkan, yang lain mengatakan bahwa cinta itu adalah penderitaan yang yang sangat menyakitkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•     Ada orang yang termotivasi oleh dorongan cintanya sehingga ia menjadi orang yang sangat berani dan tak kenal menyerah dalam menghadapi tantangan,sehingga baginya, demi untuk cinta….gunung akan ku daki, lautanpun akan ku seberangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    Ada orang yang dapat merasakan keindahan cintanya sehingga semua yang Nampak; air, gunung, awan,  langit biru bahkan sampahpun terlihat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    Sebaliknya ada orang yang karena kegagalan cintanya membuat semua yang ada itu terasa menjengkelkan. Senyuman orang dirasakan sebagai ledekan, kemesraan pasangan di rumah sebelah terasa menyakitkan, kicauan burung terasa sebagai sindiran, pokoknya tidak ada sesuatupun yang indah. Penderitaan cinta membuat semua yang ada menambah penderitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jadi cinta itu apa ?     Sesungguhnya cinta yang ada pada manusia itu berasal dari sang Pencipta, yaitu Tuhan. Allah memiliki sifat kasih sayang, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ar Rohman ar Rohim. Limpahan kasih sayang Tuhan itu menjelma dalam ciptaannya, maka proses  reproduksi manusia selalu sarat dengan rasa cinta kasih, dari jatuh cinta, kemudian menjalin cinta, kontrak cinta (akad nikah), bermain cinta suami isteri, meneteskan gen di dalam garba kasih sayang (rahim ibu),  dan seterusnya lahir bayi dengan penuh fitrah kasih sayang, tumbuh kembang hingga dewasa kesemuanya diselimuti rasa cinta dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pun dalam berbagai bangsa dan budaya menyebut cinta dengan banyak ungkapan bergantung nuansanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Secara lebih spesifik, bahasa Arab menyebutnya dengan enam puluh istilah jenis cinta, seperti `isyqun (dalam bahasa Indonesia menjadi asyik), hilm, gharam (asmara), wajd, syauq, lahf dan sebagainya.  Al Qur’an sebagai firrman Tuhan yang Maha pengasih dan Penyayang  menyebut tujuh term cinta,yaitu; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mawaddah (Q/30:31), Mawaddah adalah jenis cinta yang mengebu-gebu, membara, bergelora dan “ngegemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Bagi orang yang dilanda cinta mawaddah, dunia adalah milik kita berdua, orang lain tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rahmah (Q/30;31), Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar  orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang  ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.  Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Nasehat perkawinan selalu ada doa dan harapan agar pasangan dikarunia cinta mawaddah dan rahmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mail,   jenis cinta yang ini memiliki karakteristik; untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an  disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Syaghaf,  cinta jenis ini sifatnya sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir ketika tergila-gila kepada bujangnya, Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat. Ketika orang yang dicintainya itu melakukan kesalahan, ia bukan saja tidak menghukum, malah membelanya. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2). Janganlah rasa kasihan menyebabkan keadilan tidak ditegakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdo'a agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Syauq (rindu), Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba.  Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori  ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin,  Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub),  dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kulfah, cinta jenis kulfah adalah perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika  menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28306728-4501125902062443560?l=mubarok-institute.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/feeds/4501125902062443560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28306728&amp;postID=4501125902062443560' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4501125902062443560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28306728/posts/default/4501125902062443560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mubarok-institute.blogspot.com/2011/01/kekuatan-cinta-1.html' title='Kekuatan Cinta (1)'/><author><name>Mubarok institute</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538517531005049389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://i68.photobucket.com/albums/i34/agussyafii/a-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TS57jArvfEI/AAAAAAAABfE/Sv2U_w7PIRw/s72-c/love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28306728.post-7992901689176732896</id><published>2011-01-04T18:28:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T18:46:12.210-08:00</updated><title type='text'>Psikologi Agama dan Perbankan (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TSPXbbnHe5I/AAAAAAAABe4/hOKeYHdJz80/s1600/bank%2Bvatikan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 169px; height: 128px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6uFkEt-oAoE/TSPXbbnHe5I/AAAAAAAABe4/hOKeYHdJz80/s200/bank%2Bvatikan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558523231373589394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Syahdan, ketika harga minyak dunia meroket dan Saudi Arabia menjadi kaya raya, beredar berita bahwa Raja-raja minyak itu menyimpan uang petro dollarnya di bank-bank Eropa dan Amerika. Perbankan Barat sangat diuntungkan karena orang Saudi itu tidak mau mengambil bunga simpanannya, karena menurut ajaran Islam bunga bank itu termasuk riba yang diharamkan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah geger gerakan Kristenisasi    di negeri-negeri Islam yang dilakukan oleh gereja-gereja Barat, dan diberitakan bahwa dana kristenisasi yang begitu besar itu berasal dari bunga bank dari simpanan raja-raja minyak Saudi Arabia yang tidak diambil (karena diharamkan agamanya) konon akhirnya mereka mengambil bunga bank itu untuk kepentingan sosial.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Lalu bagaimana di kalangan Gereja Katolik ? Gereja katolik dibawah kepemimpinan kepausan di Vatikan Roma termasuk atau satu-satunya lembaga keagamaan yang sangat kaya. Organisasi gerejanya sangat kuat dan rapih dalam sistem leadership, administrasi maupun finansialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Vatikan memiliki Bank sendiri, Bank Vatikan. Orang menganggap bahwa Bank di tahta Suci itu juga dipandang sebagai Bank Suci yang aktifitasnya pasti dipandu oleh ajaran agama katolik. Ternyata pengelolaan Bank Suci itu jauh dari keyakinan agama, sebaliknya bahkan bisa menjadi fasilitator kejahatan perbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada dua tulisan yang menarik di Koran Republika tanggal 21 dan 22 Desember 2010, oleh Siwi Tri Puji yang berbicara tentang skandal Bank Vatikan, dan betapa sulitnya hukum menembus ke dalamnya. Berikut ini tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skandal Bank Vatikan; Dari “Bank Suci” Menjadi Bank Cuci Uang (Bagian I)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bank yang tak biasa: mesin ATM menggunakan bahasa Latin. Para pastur memiliki pintu masuk khusus. Sebuah potret Sri Paus  Benediktus XVI ukuran besar tergantung di dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, instansi berplang The Institute for Religious Works, adalah sebuah bank. Kini bank itu berada dalam pengawasan setelah kasus yang melibatkan tuduhan pencucian uang  mencuat. Tak tanggung-tanggung, total nilai simpanan yang statusnya abu-abu itu 30 juta dolar AS. Kritikus mengatakan kasus ini menunjukkan bahwa  Bank Vatikan ini kental dengan kerahasiaan dan skandal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vatikan menyebut penyitaan aset-aset sebagai sebuah "kesalahpahaman" dan menyatakan optimisme itu akan cepat diselesaikan. Tapi dokumen pengadilan menunjukkan bahwa jaksa mengatakan Bank Vatikan sengaja mencemooh undang-undang anti-pencucian uang "dengan tujuan menyembunyikan kepemilikan, tujuan dan asal dana." Dokumen juga mengungkapkan kecurigaanbahwa para pastor mungkin telah bertindak sebagai tameng untuk pengusaha korup dan mafia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumen menentukan dua transaksi yang belum dilaporkan: satu tahun 2009 yang melibatkan penggunaan nama palsu, dan satu lagi di 2010 di mana Bank Vatikan menarik  860 ribu dolar AS dari rekening bank Italia tetapi mengabaikan permintaan bank untuk mengungkapkan kemana uang itu akan ditujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan ini, seperti dilaporkan Washington Times, memberikan harapan baru bagi korban Holocaust yang mencoba untuk menuntut di Amerika Serikat, menyatakan bahwa jarahan Nazi disimpan di Bank Vatikan. Namun selalu gagal.&lt;br /&gt;Koran ini mencatat, ini bukan skandal Bank Vatikan yang pertama. selama berabad-abad, bank ini kental dengan nuansa skandal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1986, seorang penasihat keuangan Vatikan meninggal setelah minum kopi -- diduga diracun -- di penjara. Yang lain ditemukan tergantung di tali bawah  jembatan Blackfriars London pada tahun 1982, dengan saku diisi dengan uang dan batu. Insiden ini menghitamkan reputasi bank, menimbulkan kecurigaan hubungan dengan mafia, dan menimbulkan biayaratusan juta dolar dalam bentrokan hukum dengan pihak berwenang Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 21 September, polisi menyita aset keuangan dari rekening Bank Vatikan di Credito Artigiano SpA. Investigator mengatakan Vatikan telah gagal untuk memberikan informasi mengenai asal atau tujuan dana seperti yang dipersyaratkan oleh hukum Italia.&lt;br /&gt;Sebagian besar uang,  26 juta dolar AS ditujukan  untuk JP Morgan di Frankfurt, dan sisanya untuk Banca del Fucino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaksa menuduh Vatikan mengabaikan peraturan bahwa bank-bank asing harus berkomunikasi dengan otoritas keuangan Italia tentang asal uang itu. Semua bank menolak memberikan komentar.&lt;br /&gt;Dalam kasus lain, polisi keuangan di Sisilia mengatakan pada akhir Oktober bahwa mereka menemukan pencucian uang yang melibatkan penggunaan rekening Bank Vatikan oleh seorang pastor di Roma yang paman terkait dengan asosiasi mafia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak berwenang mengatakan  331 ribu dalam kasus itu adalah ilegal yang diperoleh dari pemerintah daerah Sisilia untuk sebuah perusahaan perikanan, dikirim kepadapastor oleh ayahnya sebagai "sumbangan amal," kemudian dikirim kembali ke Sisilia dari akun Bank Vatikan  menggunakan serangkaian  operasi perbankan untuk membuat hal itu sulit untuk dilacak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor kejaksaan menyatakan dalam dokumen pengadilan bulan lalu bahwa paraktik itu sesuai dengan standar internasional. "Tidak ada tanda bahwa lembaga-lembaga dari gereja Katolik bergerak ke arah itu."&lt;br /&gt;Namun,  penyelidikan yang dilakukan justru menemukan sebaliknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skandal Bank Vatikan ( Bagian 2)&lt;br /&gt;Sulitnya Proses Hukum menembus kedalamnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Proses hukum menjadi hal yang tidak mudah lantaran status khusus vatikan sebagai negara merdeka di dalam wilayah Italia. Untuk Bank Vatikan, para penyelidik Italia sebenarnya dapat memperkarakan bank ini karena dikategorikan sebagai institusi keuangan asing yang beroperasi di Italia. Namun dalam praktik, itu juga bukan perkara gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulitnya proses hukum itu setidaknya dilihat pada salah satu skandal yang terjadi pada 1980. Saat itu, Gubernur Bank Vatikan, Paul Marcinkus, didakwa sebagai kaki tangan yang menyebabkan kebangkrutan bank ini. Namun, aparat hukum tak dapat menahan uskup asal AS ini karena pengadilan tinggi Italia menyatakan dia memiliki hak imunitas (kekebalan).&lt;br /&gt;   Uskup Marcinkus, yang meninggal pada 2006, selalu menyatakan dia tak bersalah. Asal tahu saja, kasus marcinkus menginspirasi sutradara Francis Ford Coppola untuk memunculkan tokoh Uskup Gilday dalam film besutannya, Godfather III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait kasus-kasus yang melibatkan Bank Vatikan, pemerintah Vatikan berjanji untuk mematuhi standar keuangan Uni Eropa dan membentuk sebuah lembaga pengawas.&lt;br /&gt;Namun, Gianluigi Nuzzi, penulis vatican SpA, buku terbitan tahun 2009 yang menggambarkan banyaknya transaksi curang di Bank Vatikan, pesimistis dengan janji itu.&lt;br /&gt;“mungkin saja Vatikan serius, tapi saya sendiri tidak yakin, “ katanya. “setelah skandal-dkandal besar yang  terjadi, tiba-tiba mereka bilang mau berubah. Butuh waktu lama untuk melakukan itu, “ sambung Nuzzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, struktur dan kultur di Bank Vatikan tak memungkinkan terjadinya perubahan dalam waktu cepat. Di bank ini, kata Nuzzi, para pemilik rekening punya kekuasaan yang besar. Mereka dapat menekan pihak manajemen. Sementara sejumlah manajer bank ini, menurut Nuzzi, tergolong orang yang tak menghendaki perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja para nasabah Bank Vatikan? Itu rahasia. Namun, seperti ditulis Washington Times, Bank Vatikan memiliki 40 ribu nasabah, terdiri atas para jamaah dan tokoh Gereja Vatikan, para pejabat pemerintah Vatikan, dan masyarakat biasa yang punya hubungan dengan Vatikan.&lt;br /&gt;Sejak tahun ini, upaya untuk menjadikan Bank Vatikan lebih bersih dengan menerapkan aturan perbankan internasional mulai dilakukan Gubernur Bank Vatikan, Ettore Gotti Tedeschi. Dalam pernyataan kepada publik, berkali-kali Tedeschi memuji sistem keuangan yang diterapkan berdasarkan moralitas. Selain menjadi pucuk pimpinan Bank Vatikan, Tedeschi juga memimpin Banco Santander’s di Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia (Tedeschi) ingin mejual citra baru tanpa tahu apa sebenarnya yang ada di dalam bank ini. Semuanya masih seperti dulu. Transper-transper dana tanpa nama masih berlangsung, “ komentar Nuzzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, Tedeschi dan orang nomor dua di Bank Vatikan, Paolo Cipriani, juga terjerat masalah hukum. Mereka diduga melanggar undang-undang pencucian uang. Pada 30 September lalu, mereka diinterogasi oleh para penyidik di Roma, meski belum ada tuduhan resmi yang dilayangkan untuk dua pimpinan Bank Vatikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br
