Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Thursday, January 08, 2009

Psikologi Islam
at 9:06 PM 
Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa serta berkehendak dimana perilakunya mencerminkan apa yang difikir, yang dirasa dan yang dikehendakinya. Manusia juga makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus, disamping ia dapat menghayati perasaan keIslaman dirinya, ia juga dapat meneliti keberIslaman orang lain. Tetapi apa makna Islam secara psikologis pasti berbeda-beda, karena Islam menimbulkan makna yang berbeda-beda pada setiap orang. Bagi sebagian orang, Islam adalah ritual ibadah, seperti salat dan puasa, bagi yang lain Islam adalah pengabdian kepada sesama manusia bahkan sesama makhluk, bagi yang lain lagi Islam adalah akhlak atau perilaku baik, bagi yang lain lagi Islam adalah pengorbanan untuk suatu keyakinan, berlatih mati sebelum mati, atau mencari mati (istisyhad) demi keyakinan.

Di sini kita berhadapan dengan persoalan yang pelik dan rumit, yaitu bagaimana menerangkan Islam dengan pendekatan ilmu pengetahuan, karena wilayah ilmu berbeda dengan wilayah Islam. Jangankan ilmu, akal saja tidak sanggup mengadili Islam. Para ulama sekalipun, meski mereka meyakini kebenaran yang dianut tetapi tetap tidak berani mengklaim kebenaran yang dianutnya, oleh karena tu mereka selalu menutup pendapatnya dengan kalimat wallohu a`lamu bissawab, bahwa hanya Allahlah yang lebih tahu mana yang benar. Islam berhubungan dengan Tuhan, ilmu berhubungan dengan alam, Islam membersihkan hati, ilmu mencerdaskan otak, Islam diterima dengan iman, ilmu diterima dengan logika.

Meski demikian, dalam sejarah manusia, ilmu dan Islam selalu tarik menarik dan berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau sama-sama kerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, Islam memandang ilmu sebagai sesat, sebaliknya ilmu memandang perilaku keIslaman sebagai kedunguan. Belakangan fenomena menunjukkan bahwa kepongahan ilmu tumbang di depan keagungan spiritualitas, sehinga bukan saja tidak bertengkar tetapi antara keduanya terjadi perkawinan, seperti yang disebut oleh seorang tokoh psikologi tranpersonal, Ken Wilber; Pernikahan antara Tubuh dan Roh, The Marriage of Sence and Soul.(Ken Wilber, The Marriage of Sence and Soul, Boston, Shambala,2000).

Bagi orang Islam, Islam menyentuh bagian yang terdalam dari dirinya, dan psikologi membantu dalam penghayatan Islamnya dan membantu memahami penghayatan orang lain atas Islam yang dianutnya. Secara lahir Islam menampakkan diri dalam bermacam-macam realitas; dari sekedar moralitas atau ajaran akhlak hingga ideologi gerakan, dari ekpressi spiritual yang sangat individu hingga tindakan kekerasan massal, dari ritus-ritus ibadah dan kata-kata hikmah yang menyejukkan hati hingga agitasi dan teriakan jargon-jargon Islam (misalnya takbir) yang membakar massa. Inilah kesulitan memahami Islam secara ilmah, oleh karena itu hampir tidak ada definisi Islam yang mencakup semua realitas Islam. Sebagian besar definisi Islam tidak komprehensip dan hanya memuaskan pembuatnya.

Sangat menarik bahwa Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa, kemulian seorang mukmin itu diukur dari Islamnya, kehormatannya diukur dari akalnya dan martabatnya diukur dari akhlaknya (karamul mu’mini dinuhu, wa muru’atuhu `aqluhu wa hasabuhu khuluquhu)(HR. Ibn Hibban). Ketika nabi ditanya tentang amal yang paling utama, hingga lima kali nabi tetap menjawab husn al khuluq, yakni akhlak yang baik, dan nabi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan akhlak yang baik adalah sekuat mungkin jangan marah, ( an la taghdlaba in istatha`ta). ( at Tarhib jilid III, h. 405-406).

Jadi pengertian Islam itu sangat kompleks. Psikologi Islam mencoba menguak bagaimana Islam mempengaruhi perilaku manusia, tetapi keberIslaman seseorang juga memiliki Islam corak yang diwarnai oleh berbagai cara berfikir dan cara merasanya. Seberapa besar Psikologi mampu menguak keberIslaman seseorang sangat bergantung kepada paradigma psikologi itu sendiri. Bagi Freud (mazhab Psikoanalisa) keberIslaman merupakan bentuk ganguan kejiwaan, bagi mazhab Behaviorisme, perilaku keberIslaman tak lebih sekedar perilaku karena manusia tidak memiliki jiwa. Mazhab Kognitip sudah mulai menghargai kemanusiaan, dan mazhab Humanisme sudah memandang manusia sebagai makhluk yang mengerti akan makna hidup yang dengan itu menjadi dekat dengan pandangan Islam. Dibutuhkan paradigma baru atau mazhab baru Psikologi untuk bisa memahami keberIslaman manusia.

Psikologi Barat yang diassumsikan mempelajari perilaku berdasar hukum-hukum dan pengalaman kejiwaan universal ternyata memiliki bias culture, oleh karena itu teori psikologi Barat lebih tepat untuk menguak keberIslaman orang yang hidup dalam kultur Barat. Psikologi Barat begitu sulit menganalisis fenomena Revolusi Iran yang dipimpin Khumaini karena keberIslaman yang khas Syi’ah tidak tercover oleh Psikologi Barat, sebagaimana juga sekarang tidak bisa membedah apa makna senyum Amrozi ketika di vonis hukuman mati. KeberIslaman seseorang harus diteliti dengan the Indigenous Psychology, yakni psikologi yang berbasis kultur masyarakat yang diteliti. Untuk meneliti keberIslaman orang Islam juga hanya mungkin jika menggunakan paradigma The Islamic Indigenous Psychology.

Psikologi sebagai ilmu baru lahir pada abad 18 Masehi meski akarnya menhunjam jauh ke zaman purba. Dalam sejarah keilmuan Islam, kajian tentang jiwa tidak seperti psikologi yang menekankan pada perilaku, tetapi jiwa dibahas dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu yang muncul bukan Ilmu Jiwa (`ilm an nafs), tetapi ilmu Akhlak dan Tasauf. Meneliti keberIslaman seorang muslim dengan pendekatan psikosufistik akan lebih mendekati realitas keberIslaman kaum muslimin dibanding dengan paradigma Psikologi Barat. Term-term Qalb, `aql, bashirah (nurani), syahwat dan hawa (hawa nafsu)yang ada dalam al Qur’an akan lebih memudahkan menangkap realitas keberIslaman seorang muslim.

Kesulitan memahami realitas Islam itu direspond The Encyclopedia of Philosophy yang mendaftar komponen-komponen Islam. Menurut Encyclopedia itu, Islam mempunyai ciri-ciri khas (characteristic features of religion) sebagai berikut :

1. Kepercayaan kepada wujud supranatural (Tuhan)
2. Pembedaan antara yang sakral dan yang profan.
3. Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral
4. Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan
5. Perasaan yang khas (takjub, misteri, harap, cemas, merasa berdosa, memuja) yang cenderung muncul di tempat sakral atau diwaktu menjalankan ritual, dan kesemuanya itu dihubungkan dengan gagasan Ketuhanan.
6. Sembahyang atau doa dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan
7. Konsep hidup di dunia dan apa yang harus dilakukan dihubungkan dengan Tuhan
8. Kelompok sosial seiman atau seaspirasi.

Urgensi pendekatan Indigenous Psychology bukan saja karena Islam itu sangat beragam, bahkan satu Islampun, Islam misalnya memiliki keberIslaman yang sangat kompleks. Orang Islam ada yang sangat rational, ada yang tradisional, ada yang “fundamentalis” dan ada yang irational. KeberIslaman orang Islam juga ada yang konsisten antara keberIslaman individual dengan keberIslaman sosialnya, tetapi ada yang secara individu ia sangat saleh, ahli ibadah, tetapi secara sosial ia tidak saleh. Sebaliknya ada orang yang kebeIslamanya mewujud dalam perilaku sosial yang sangat saleh, sementara secara individu ia tidak menjalankan ritual ibadah secara memadai.


posted by : Mubarok institute

Anonymous Anonymous said.. :

Assalamualaikum,

mencermati artikel tentang Psikologi Islam yang ditulis oleh Bp. Prof. Dr. AChmad Mubarok MA, ada beberapa hal dalam tulisan ini yang menurut saya kritis:

Dalam Artikel ini penulis telah memaknai Islam terlalu sempit. secara implisit penulis hanya menggambarkan seolah-olah islam itu berisi ajaran yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Sang Khaliq (atau menurut Bp. Prof. Mubarok degan "Tuhannya"). dalam hal ini penulis mengatakan:
"...Islam berhubungan dengan Tuhan, ilmu berhubungan dengan alam, Islam membersihkan hati, ilmu mencerdaskan otak, Islam diterima dengan iman, ilmu diterima dengan logika..."
"...Secara lahir Islam menampakkan diri dalam bermacam-macam realitas; dari sekedar moralitas atau ajaran akhlak hingga ideologi gerakan, dari ekpressi spiritual yang sangat individu hingga tindakan kekerasan massal, dari ritus-ritus ibadah dan kata-kata hikmah yang menyejukkan hati hingga agitasi dan teriakan jargon-jargon Islam (misalnya takbir) yang membakar massa..."

Seperti kita semua tahu bahwa Islam (tidak seperti agama2 lain) adalah agama yang holistik dan komprehensip. Islam tidak hanya mengatur hal-hal yang berhubungan dengan ahlak dan akidah manusia, lebih dari itu Islam meyediakan perangakat aturan hidup semesta alam; yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia (atar individu) serta hubungan manusia dengan Alam. Kesempurnaan Islam yang holistik ini secara real termanifestasi dalam ajaran Alquran dan Hadith yang memberi petunjuk tentang hal-hal dari mulai ibadah, ilmu pemerintahan sampai kepada fenomena2 alam semesta.

penulis juga menggambarkan seakan-akan nilai2 islam banyak bertabrakan dengan teorema2 ilmu. disini penulis juga menurut saya kembali melakukan pemaknaan islam yang terlalu sempit:

"...Di sini kita berhadapan dengan persoalan yang pelik dan rumit, yaitu bagaimana menerangkan Islam dengan pendekatan ilmu pengetahuan, karena wilayah ilmu berbeda dengan wilayah Islam...",". ..Meski demikian, dalam sejarah manusia, ilmu dan Islam selalu tarik menarik dan berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau sama-sama kerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, Islam memandang ilmu sebagai sesat, sebaliknya ilmu memandang perilaku keIslaman sebagai kedunguan... "

Sekali lagi, Bukankah Islam dengan isi ayat-ayat Al-Qurannya banyak menyajikan rahasia alam yang justru menjadi bahan kajian manusia di berbagai disiplin ilmu, sehingga sampai sekarang banyak para ilmuan yang baru menyadari atau membuktikan kebenaran Alquran tentang berbagai fenomena alam semesta. Misalnya teori penciptaan alam semesta, teori perkembangan janin manusia, astronomi, perbankan dan berbagai macam teori lainnya.

Hal ini bisa kita lihat misalnya di dakwahnya Dr. Zakir Naik atau Harun Yahya. Tokoh2 ini via karya2nya dan dakwahnya yang semuanya bersumber pada keterangan ayat2 alquran dan hadith telah banyak menumbangkan teori2 ilmuan barat yang keliru (silahkan lihat video Dr. Zakir Naik di youtube.com) .
Jadi rasaya kurang pas menurut saya kalu kita mengatakan bahwa wilayah keislaman berseberangan dengan ilmu pengetahuan, apalagi apabila ilmu memandang islam sebagai suatu kedunguan... sepertinya pencetus tesis seperti itu harus berusaha meningkatkan tingkat kecerdasas daya analisanya mengenai Islam..

hal berikutnya yang menurut saya kritis dari artikel ini ada lah sulitnya Islam untuk dipahami secara ilmiah:
"...inilah kesulitan memahami Islam secara ilmah, oleh karena itu hampir tidak ada definisi Islam yang mencakup semua realitas Islam. Sebagian besar definisi Islam tidak komprehensip dan hanya memuaskan pembuatnya.. .."
Seperti saya gambarkan sebelumnya, Allah dalam ayat2 Alquran telah menunjukan kepada manusia kebenaran Ilahi yang dibuktikan oleh berbagai kajian Ilmu (terutama yang sering muncul ilmu alam). Oleh karena itu adalah lucu kalo diaktakan bahwa Islam tidak Ilmiah. Walaupun demikian tentu saja ajaran dalam Islam tidak seluruhnya bisa dipahami dengan tataran "ilmiah" sejauh kita memahami "ilmiah" itu sebagai sesuatu yang berhubungan dengan materi dan logika manusia. Karena apabila semua rahasia Ilahi bisa diterangkan dengan logika manusia yang "ilmiah" atau kepintaran manusia yang hanya setai kuku, maka apa lebihnya Allah sebagai sang pencipta dibanding dengan manusia??

Sekian tanggapan saya tentang Psikologi Islam tulisan Prof. Dr. AChmad Mubarok. Semoga bermanfaat.

wassalam
Dadang

1:29 AM  
Blogger Mubarok institute said.. :

mas Dadang,
kritik anda benar menurut satu perspektip, saya juga sependapat dengan kritik anda. Tulisan ini sesungguhny bertajuk Psikologi agma, bukan psikologiIslam, yakni bagaimana psikologi orang memahami agama, bukan pandangan saya. Apa yang saya sebut dalam tulisan ini adalah realitas sosial,bukan akidah.
OK, terima kasih atas komentar anda. AM

5:47 AM  
Anonymous A. Marconi said.. :

Assalammu'alaikum wr wb,

Artikel Bp. Prof. Dr. Achmad Mubarok MA tentang Psikologi Islam yang menunjukkan "sulitnya" Islam difahami melalui sains pada hemat saya yang bodoh ini kurang serius.

Memahami Islam atau Al-Dinu al-Islam atau Dinul Islam perlu memberiksa terlebih dahulu titik tolak berfikir yang dipergunakan. Ada titik tolak utama yang selalu menjadi perdebatan di kalangan para pemikir, yaitu titik tolak subyektif yang mengedepankan manusia sebagai pusat segalanya dan titik tolak obyektif yang mengedepankan realitas mandiri di luar diri-biologis manusia sebagai pusat segalanya, di mana manusia biologis merupakan bagian lembut dan tak terpisahkan dari realitas tersebut(ingat dekatnya Allah swt dengan manusia). Wahyu Qurani menganjurkan dan memberi petunjuk agar manusia yang beriman menjadikan realitas mandiri obyektif sebagai titik tolak dalam berfikir bagi manusia. Dari petunjuk inilah pada hampir semua permulaan Surah Qurani dibuka dengan kalimat Basmalah.

Dalam tataran pergumulan pemikiran semenjak Wahyu Qurani diturunkan, di kalangan cerdik-pandai Muslimin berlangsung pertarungan antara dasar pemikiran tradisional manusia yang dibingkai dengan doktrin dan dogama melawan dasar pemikiran Wahyu Quraniyah. Dan sejarah peradaban Muslimin yang diwariskan kepada generasi sekarang adalah sejarah "teologi Islam". Teologi adalah penyimpulan pengalaman manusia dalam memahami keberadaan dan tujuan hidup manusia di Bumi dengan mengedepankan ritual pengorbanan diri manusia sebagai pusat dari segalanya yang membuahkan konsepsi pemikiran dalam model fantasi, imajinasi, dugaan dan harapan yang bermuara pada kultivasi terhadap konsepsi pemikiran manusia sendiri. Kultus demikian ini pada gilirannya menjadi tradisi pemikiran manusia yang setiap kali berubah-rubah sebagaimana diceritakan dalam ayat-ayat Qurani mengenai pengenalan para nabi dan rasul terhadap Allah swt.

Ketika manusia tidak dapat memcahkan problema hidupnya melalui teologi, manusia maju selangkah melalui penggunaan pemikiran arif-bijaksana yang dikenal melalui tradisi Yunani sebagai Filsafat. Filsafatpun secara mendasar dengan mempergunakan seluruh perangkat logis-rasional pemikiran manusia tidak sanggup memecahkan problematika kehidupan yang dihadapi manusia. Barulah pada paro kedua abad XV-XVI hitungan tahun Gregorian manusia beranjak maju ke pemikiran Sains, yaitu setelah para saintis Muslimin meretas jalan bagi perletakkan dasar-dasar sains modern sesuai dengan petunjuk Wahyu Qurani.

Dari coretan sejarah pemikiran sederhana pemikiran manusia di atas kita dapat melihat dan mempertimbangkan kembali: Tepatkah kita menerima Dinul Islam di dalam bingkai-bingkai teologi (theological frame of references)?

Dasar-dasar pemikiran Islami yang difirmankan dalam Surah Al-Baqoroh(2) ayat 1-5 dengan tegas menunjukkan bahwa yang dinamakan sebagai manusia beriman kepada Allah swt adalah manusia yang mengimani realitas obyektif yang mandiri dan bukan manusia yang mengimani fantasi, imajinasi, dugaan dan angan-angannya sendiri.

Jadi, pada hemat saya Dinul Islam hanya dan hanya akan dapat kita fahami sesuai petunjuk Wahyu Qurani dengan mempergunakan Sains dan bukan teologi dan filosofi. Demikian pula sebaliknya, pengenalan manusia terhadap alam semesta akan menghasilkan sains apabila kesimpulan pengenalannya sesui dengan petunjuk Al-Quran. Dalam hubungan ini psikologi harus menerapkan hukum-hukum Kwantum fisika dan fisika energi tinggi agar sanggup memecahkan problematika kejiwaan manusia. Al-Nafs adalah sebutan bagi medan elektro-magnetik dan medan gravitasi serta medan gaya inti-atom kuat yang mengikat tubuh biologis manusia tidak runtuh menjadi partikel kembali. Karena tubuh manusia yang sungguh sempurna dan indah bentuknya terbuat dari partikel, atom dan molekul yang dihasilkan oleh reaksi inti-atom Hydrogen di pusat-pusat bintang di alam semesta.

Wassalam,

5:15 AM  
Anonymous sommerset said.. :

Nice site you have here..
Thanks for the info..I'll use this a lot

9:35 AM  
Anonymous Saka said.. :

Bacaan yang sangat menarik, namun sepertinya cukup sulit dipahami bagi sebagian orang, contohnya seperti sdr Dadang dan sdr A.Marconi. Seolah2 seperti Pa Mubarok mengatakan 1+1=2, sementara mereka ngotot bahwa 2+2=4, dua2nya benar, namun seolah mereka mengira Pa Mubarok mengatakan 2+2=7, heheE..

Memang jika dicermati dengan seksama sesungguhnya cukup banyak hal permasalahan yang timbul hanya karena keliru dalam meletakkan "level topik" dari lawan bicara kita. Topik pembicaraan yang ditangkap bisa saja sama namun "level topik" lah yang berbeda yang ternyata pada titik ini seringnya terjadi bias persepsi, terlebih lagi jika menggunakan media tulisan dalam alat bantu penyampaian tersebut. Dan yang parahnya adalah terkadang hal tersebut terjadi berlarut-larut, terlebih lagi jika topik pembicaraan termasuk dalam kategori hal yang sensitif..

Salam kenal Pa Mubarok. Salam sukses Bro! Mampir2 juga ke blog saya y..

Terimakasih. :)

www.san9saka.blogspot.com

9:12 AM  

Post a Comment

Home

My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger