Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Friday, May 15, 2015

Manusia Pembelajar Yang Cerdas dan Berbudi Luhur (2)

      
Banyak orang terpelajar tidak menjamin kemudahan dan ketertiban, buktinya orang-orang yang sekarang tersandung masalah hokum kebanyakan orang-orang terpelajar. Ada nilai lain yang membuat menudsia pembelajar yang cerdas itu membawa manfaat, yaitu berakhlak mulia atau berbudi luhur. Bahkan Berbudi Luhur lebih bernilai disbanding kecerdasan intelektual. Orang yang proporsional kecerdasannya, intelektual, emosional dan spiritual, merekalah yang berpotensi menjadi manusia pembelajar yang cerdas dan berbudi luhur.
·         Bahasa agama dari budi luhur adalah akhlaq mahmudah atau akhlak mulia. Akhlak bukan perilaku, tetapi keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perilaku. Perilaku orang yang berakhlak mulia bersumber dari batinnya (bukan hanya dari fikirannya) dan bersifat konsisten . Sedangkan orang yang akhlaknya buruk  bisa jadi suatu waktu bisa melakukan suatu perbuatan baik sebagai strategi dalam mencapai tujuannya. Ia bisa menutupi “wajah” aslinya dengan topeng. Saking seringnya memakai topeng hingga suatu saat ia lupa wajah sendiri. Akhlak ada yang bersifat batin dan ada yang bersifat lahir (sopan santun). Penipu biasanya sangat sopan. Kontek akhlak ada dengan sesame manusia, dengan alam , dengan Tuhan dan dengan diri sendiri.
·          Nilai kebaikan ada yang disebut dengan kata al khoir dan ada yang disebut dengan al ma`ruf. Al khoir adalah kebaikan yang bersifat universal, diakui oleh semua manusia, semua agama se-panjang masa. Sumber nilai al khoir adalah Tuhan. Sedangkan al ma`ruf adalah sesuatu yang secara social dipandang baik, sumbernya adalah budaya. Sedangkan nilai keburukan ada yang disebut dengan fakhisyah dan ada yang disebut dengan al munkar.Fakhisyah adalah sesuatu yang secara universal dipandang buruk, keji. Zina termasuk fahisyah, oleh karena itu seorang pezinapun tersinggung ketika isterinya dizinai orang. Sedangkan alma`ruf adalah keburukan yang ditutupi dengan logika akal-akalan. Contoh suap disebut sebagai pelican, korupsi disebut sebagai komisi. Jika al khoir dan fakhisyah bersifat universal, al ma`ruf dan al munkar bersifat regional.
Pengajar dan Pendidik
·         Guru ada yang baru memiliki kualifikasi pengajar, ada yang sudah menjadi pendidik. Tugas pengajar hanya transfer kognitip, pusat perhataiannya lebih pada honor atau apresiasi yang lain. Sedangkan pendidik bekerja mentransfer perilaku, mentransfer budaya. Pusat perhatiannya adalah pada bagaimana membentuk karakter murid. Ia mencintai tugasnya dan mencintai muridnya. Guru pengajar biasanya dikenang muridnya sebagai bekas gurunya, sedangkan guru pendidik bukan saja tetap dikenang sebagai guru, bahkan selalu menjadi inspirasi, meski sang guru telah tiada. Proses seorang pengajar hingga menjadi pendidik biasanya membutuhkan waktu pan  jang, sekitar sepuluh tahunan bahkan lebih.
·         Manusia Pembelajar yang Cerdas dan Berbudi luhur pastilah seorang guru pendidik. Kekuatannya bukan hanya di kelas, seluruh perilakunya, bahkan diamnya pun mempunyai kekuatan edukasi, mempunyai magnit keteladanan. Dalam budaya jawa, kata guru adalah singkatan dari di gugu dan di tiru, yakni sosok yang terpercaya dan menjadi panutan.



Manusia magnit
·         Keberhasilan suatu dakwah, penerangan atau sosialisasi gagasan berhubungan dengan tingkat persuasifnya. Pendekatan persuasive membuat orang banyak  mengikuti ajakan dakwah tetapi merasa sedang melakukan sesuatu atas kemauan sendiri. Meski demikian, keberhasilan ajakan itu boleh jadi lebih pada (a) pesona da’I, atau (b) ajakan itu memang relefan dengan yang diinginkan, atau (3) karena masyarakat memang sedang bingung atau sakit yang sangat mendambakan hadirnya tokoh penyembuh, atau  (4) karena  kemasan yang menarik.
·         Secara umum, seorang tokoh atau guru bisa menjadi magnit yang kuat daya tariknya  jika memiliki criteria-kriteria yang dipandang positip oleh masyarakat, antara lain:
1.       Memiliki kualifikasi akademis di bidang yang disampaikan
2.       Memiliki konsistensi antara amal dan ilmunya
3.       Memiliki kesantunan dan lapang dada
4.       Memiliki sifat pemberani
5.       Dikenal sebagai orang yang memiliki sifat `iffah atau tidak mengharap pemberian
6.       Qona`ah atau kaya hati
7.       Memiliki kemampuan berkomunikasi
8.       Memiliki ilmu bantu yang relevan
9.       Memiliki sifat Percaya diri dan rendah hati
10.   Punya selera tinggi,
11.   Sabar
12.   Memiliki nilai lebih, dan anggun
·         Sedangkan keanggunan seorang tokoh dapat dilihat tanda-tandanya , antara lain:
1.       Tidak terlalu banyak bicara, yang perlu saja
2.       Tidak juga terlalu banyak tingkah
3.       Bisa menjadi pendengar yang baik dari lawan bicaranya
4.       Jika menjawab pertanyaan tidak spontan, tetapi diam sejenak sebelum menjawab
5.       Tidak terlalu banyak bercanda
6.       Menjaga jarak pergaulan dengan orang yang dikenali sebagai orang tidak baik
7.       Menjaga diri dari citra negatip tertentu


Read More
posted by : Mubarok institute
Menjadi Manusia Pembelajar Yang Cerdas dan Berbudi Luhur (1)

Mengenali Manusia
       Manusia adalah makhluk yang suka mempertanyakan diri sendiri, dan pertanyaan tentang manusia itu sudah berlangsung sepanjang sejarah manusia itu sendiri, tetapi pembicaraan tentang manusia ini hingga kini dan seterusnya akan tetap menarik . Daya tarik pembicaraan tentang manusia itu adalah karena pengetahuan tentang makhluk hidup dan terutama manusia belum mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan lainnya. Pertanyaan tentang manusia pada hakikatnya hingga kini masih tetap tanpa jawaban.
·         Manusia adalah makhluk yang  diciptakan Tuhan dengan desain kejiwaan yang sangat sempurna, tetapi ia berpeluang  jatuh terjerembab menjadi makhluk yang terendah (laqad koholaqna alinsan fi ahsani taqwim, tsumma rodadnahu asfala safilin)
·         Secara fisik manusia adalah yang paling “cakep” dimuka bumi dan paling “manis” gerak geriknya.
·         Meski keahlian tehnis dikalahkan oleh binatang tertentu, misalnya tidak bisa terbang seperti burung, tetapi potensi psikisnya bisa melengkapi kekurangannya sehinggga manusia dengan teknologi bisamengarungi angkasa  dan bisa menjelajahi  kedalaman air.
·         Keunggulan manusia dibanding makhluk lain adalah karena manusia dilengkapi dengan perangkat kejiwaan, yang membuat manusia mampu berfikir, berperasaan dan berkehendak.
·         Jiwa manusia sebagai system (system nafsani) terdiri dari akal (`aql), hati (qolb), hati nurani (bashiroh), syahwat dan hawa nafsu, masing-masing sebagai subsistem dimana hati menjadi menejernya.
·         Akal kerjanya berfikir, produknya adalah rasionalitas. Hati kerjanya memahami realitas dengan perasaan. Hal-hal irrational yang tidak bisa difahami oleh akal bisa difahami oleh hati. Kandungan hati sangat  kompleks , dari titik ektrim kiri hingga ekstrim kanan, dari sadar hingga lupa, dari mesra hingga benci, dan dari tenang hinggga  gejolak. Sesuai dengan namanya qolb, karakter hati adalah tidak konsisten. Hati nurani atau bashiroh adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Ia disebut juga sebagai cahaya ketuhanan yang ditempatkan didalam hati. Oleh karena itu berbeda dengan hati yang berkarakter inkonsisten, nurani berkarakter konsisten, dan tidak bisa diajak kompromi dengan kebohongan. Syahwat adalah dorongan terhadap apa yang dinginkan. Syahwat merupakan penggerak perilaku yang membuat hidup menjadi dinamis, sepanjang proporsionil. Sedangkan hawa nafsu adalah dorongan kepada sesuatu yang sifatnya rendah, maunya sekarang, yang penting enak, gak peduli akibat.
·         Setiap manusia berbeda subsistem mana yang paling dominan. Jika akalnya yang kuat maka hidupnya rationil, tetapi terkadang kering. Jika hati yang dominan maka ia menjadi perasa dan penuh maklum. Jika nurani yang dominan maka dijamin pilihannya benar dan langkahnaya tepat. Jika syahwat yang dominan, maka ia mudah terjerumus ke hedonism. Jika hawa nafsu yang dominan, maka pilihannya mudah  keliru dan langkahnyapun sesat. Menejemen qalbu adalah mensinergikan subsistem dalam  mempersepsi stimulus maupun dalam mengambil keputusan serta dalam bertindak sehingga ouputnya adalah perilaku yang indah , harmoni, bahkan suci. Sedangkan mismenejemen qalbu akan melahirkan perilaku menyimpang.
Manusia Sebagai Makhluk Pembelajar
·         Manusia adalah satu-satunya  makhluk yang  suka mempertanyakan diri sendiri  disamping mempertanyakan yang lain. Dalam berkomunikasi  melewati proses pentahapan (a) menerima stimulus, kemudian (b) mengolah informasi, kemudian (c) menyimpan informasi, dan (4) menghasilkan kembali informasi, proses ini disebut system komumnikasi intra personal dimana prosesnya meliputi sensasi, persepsi, memori dan berfikir. Dalam proses itu banyak sekali hal-hal yang mempengaruhinya. Persepsi misalnya dipengaruhi oleh perhatian. Perhatianpun dipengaruhi oleh factor-faktor penarik perhatian, seperti gerakan, kontras, kebaruan dan perulangan
·         Manusia merasa harus berfikir karena ia harus  menjawab pertanyaan, harus mengatasi masalah atau dituntut kreatip. Ada beberapa kualitas berfikir, yaitu (a)melamun, (b) berfikir, (c) bertafakkur, dan (d) bertadabbur. Produk berfikir  berbeda dengan produk tafakkur dan berbeda pula dengan produk tadabbur. Berfikir obyeknya di depan langsung, bertafakkur obyeknya jauh di depan dan jauh dibelakang, sedangkan bertadabbur obyeknya menukik kedalam.
·         Manusia dalam mempersepsi orang lain atau orang lain mempersepsi kita (disebut system komunikasi interpersonal) dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya situasi yang berbeda, pengalaman,juga  konsep diri, baik konsep diri positip maupun konsep diri negatip.
·         Faktor-faktor itu semua mempengaruhi cara belajarnya maupun hasil dari belajarnya., sehingga ada orang yang pandai mengambil pelajaran dan ada juga orang yang tidak bisa mengambil pelajaran. Ada yang cepat tanggap ada yang lambat, ada yang cermat dan ada yang gegabah, ada yang orientasinya hari ini, ada yang orientasinya jauh di masa depan.
Tingkat kecerdasan Manusia
·         Kecerdasan ideal adalah sifat Nabi, yaitu Shiddiq, amanah, fathonah dan tabligh, benar, dapat dipercaya, cerdas dan peduli
·         Ada orang `alim dan ada orang `arif. ~alim artinya mengetahui, sedangkan `arif artinya mengenal. Banyak orang tahu ada Tuhan, tetapi hanya sedikit yang mengenal Tuhan. Bahkan ada seorang isteri yang sudah puluhan tahun sekasur  dengan suaminya ternyata ia baru benar-benar mengenali suaminya pada usia perkawinan yang ke 40 dan setelah itu ia mengambil keputusan bercerai. Tingkatan pengetahuan juga dapat difahami melalui `ilmul yaqin, kemudian `ainal yaqin, dan baru haqqul yaqin.
·         Kita sudah mengenal ada istilah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan ada kecerdasxan spirtitual.
·         Orang cerdas pasti jujur. Dibawah cerdas ada orang yang disebut cerdik, orang cerdik biasanya sudah agak kurang jujur. Dibawahnya ada orang pintar, dan orang pintar bisa  minteri atau “ngerjain”orang lain. Dibawah orang pintar ada orang lihai, dan dibawah lihai adalah orang yang licik. Sedangkat tingkatan kejujuran , yang tertinggi adalah jujur, dibawahnya ada lugu, dan dibawahnya ada bodoh.

Read More
posted by : Mubarok institute

Sunday, May 10, 2015

Psikologi Kepemimpinan Politik(2)

  Sunnatulloh sejarah adalah berputar. Pada zaman kejayaan Islam Daulah Abbasiah yang berpusat di Bagdad, perbedaan Timur dan Barat sangat menyolok. Di Bagdad sudah ada universitas, ada kolam renang umum, di Eropah masih hidup di abad gelap (blue age).Di  Istana raja Perancis yang ratusan kamar ternyata hanya ada satu kamar mandi, maknanya di Barat belum mengenal budaya mandi. Ketika duta besar Bagdad memberikan hadiah jam air kepada raja, Raja bertanya, sihir apa yang menggerakkan jam ini. Tetapi tiga empat abad kemudian keadaan berbalik, dunia Islam mengalami kemunduran, Eropah bangkit, dan Napoleon malah bisa menjaklukkkan Mesir. Ketika Napoleon berkunjung ke Universitas Al Azhar, ia menjumpai seorang profesor sedang mengajar di kelas dengan jumlah mahasiswa yang banyak tetapi hanya ada satu buku, yakni yang dipegang sang guru besar. Napoleon bertanya, kenapa buku hanya satu padahal mahasiswa banyak. Dijawab, kan sulit menulisnya (dengan tulisan tangan). Napoleon berkata, bolehkah saya membantu saya tuliskan buku itu menjadi duaratus supaya semua mahasiswa punya.  Sang Guru Besar bertanya, berapa puluh tahun anda akan menyelesaikan tulisan itu ? antara 3 sampai 4 bulan, kata Napoleon. Sang Guru besar Mesir sama sekali tidak percaya dan menganggap Napoleon takabbur. Maka dengan datar dan sinis gurubesar Mesir itu berkata, ya silahkan , mudah2an selesai.
       Ternyata hanya dalam waktu tiga bulan benar-benar diantar 200 exp buku teks itu, maka sambil terperangah, guru besar Mdesir itu bertanya, tuan Napoleon, sihir apa yang bisa menulis secepat itu ? Napoleon senyum-senyum saja, dan dia tahu betul bahwa bangsa Mesir belum mengenal mesin percetakan. Begitulah sejarah berputar termasuk dalam perputaran kepemimpinan politik.
Kepemimpinan Islam Kontemporer
      Ada tiga  Istilah pemimpin pada awal sejarah Islam yaitu: imam, khalifah dan amir al mu’minin. Imam adalah istilah pemimpin secara umum, termasuk al Qur’an juga disebut sebagai imam (waj`alhu lana imaman wa nuron wa rohmah). Nama Khalifah muncul ketika Abu Bakar Shiddiq dibai’at sebagai pemimpin menggantikan Rasulullah yang baru saja wafat, maka jabatan itu disebut khalifatu rasulillah. Amir al mu’minin (panglima kaum mu’min) diberikan kepada pengganti Abu bakar, yakni Umar bin Khatthab sebagai pengganti istilah khalifatu Rasulillah karena secara bahasa tidak elok menyebut khalifatu khalifati rasulillah, tetapi istilah khilafah tetap melekat sepanjang sejarah politik Islam.      Siapa yang layak menjadi imam, filosofinya dapat diambil dari kriteria rekruitmen imam shalat, yakni (1) yang fasikh bacaannya, (2) faham syarat rukun dan (3) telah berusia/senior. Jika diterapkan dalam kepemimpinan politik maka kriteria rekruitmenyya adalah orang yang (1) pandai mengkomunikasikan gagasannya, (2) faham konstitusi, dan (3) punya jam terbang pengalaman memimpin. Siapapun yang terpilih menjadi imam maka makmum harus taat. Jika imam melakukan kekeliruan maka makmum boleh menegur imam tetapi dengan lembut. Jika imam batal maka ia langsung harus mengundurkan diri.
       Dalam praktek, karena politik adalah ekpressi kerjasama dan bersaing, sementara banyak yang bersaing bukan untuk mengejar nilai-nilai luhur, maka sejarah Islam sejak awal (pasca khulafa rasyidin) menampilkan konflik politik yang bukan saja tidak fair, tetapi penuh dengan intrik-intrik jahat, sehingga pemimpin yang ideal jarang sekali muncul. Fenomena itu dijadikan pijakan teori sosiologi oleh Ibnu Khaldun bahwa jatuh bangunnya suatu bangsa ditandai dengan lahirnya tiga generasi, yaitu (1) generasi pendobrak, (2) generasi pembangun, dan (3) generasi penikmat, yaitu mereka yang sibuk menikmati tanpa berfikir membangun. Jika generasi penikmat sudah dominan maka akan muncul generasi ke (4) yaitu generasi yg tak peduli masa lalu dan tak peduli masa depan, mereka tidak menghargai pahlawan yang telah lalu dan tidak memikirkan nasib generasi anak cucu,  dan itu pertanda bangsa itu akan runtuh. Menurut Ibnu Khaldun, zaman emas dari kepemimpinan suatu bangsa selalu minoritas antara 5-10 tahun dalam satu abad.
        Sejak runtuhnya khilafah Usmaniyah, tidak lagi muncul kepemimpinan Islam kontemporer dalam pentas sejarah kecuali sedikit indikator. Pada era global sekarang, kepemimpinan suatu bangsa bukan saja harus mermiliki kedaulatan nasional yang kuat, tetapi juga harus pandai bermain di pentas global, karena teknologi informasi telah menghapus perbatasan (fisik) suatu negara. Pemimpin muslim Nasional bagaimanapun harus memiliki
 1.  integritas yang melekat pada dirinya,
2.  memiliki kompetensi dalam bidang kepemimpinannya, yang diwujudkan dalam menejemen organisasi pemerintahnya dan
3.  memiliki komitmen yang kuat dalam meningkatkan kualitas hidup rakyatnya, antara lain  bisa memilih secara tepat skala prioritas dalam membangun bangsanya sehingga pemerintahannya menjadi efektip (effective government).
        Se kharismatis apapun pemimpin Islam jika gagal dalam membangun pemerintahan yang efektip maka ia tidak akan diakui kepemimpinannya. Sangat menarik jargon politik dalam fiqh politik yang substansinya mengatakan, bahwa kekuasaan politik tak akan runtuh hanya karena pemimpinya kafir (tetapi adil), sebaliknya kekuatan politik akan runtuh manakala  pemimpinnya zalim (meskipun ia muslim), yabqa almulku ma`al kufri wala yabqa ma`a al dhulmi. Dewasa ini dari dunia Islam hanya Turki dan Iran yang potensil eksis di era global.,sedangkan di Timur Tengah fenomena politiknya sudah seperti tanahnya yang berupa pasir, mudah tercerai berai. Indonesia sebagai mayoritas muslim terbesar di dunia juga masih belum bisa dibayangkan masa depan kedaulatannya, termasuk belum terbayang pemimpin dari Partai Islam yang potensil menjadi pemimpin politik kharismatis yang sekaligus menjadi pemimpin yang  efektip secara nasional, apalagi global..
Problem Politik Era Global
       Isim fa`il dari siyasah (politik) adalah sais. Orang Betawi menggunakan kata sais untuk menyebut kusir sado atau pengendali kereta kuda. Mengapa ? karena politik dan kuda itu sama-sama power, maka ukuran kekuatan mesin mobil juga disebut dengan istilah tenaga kuda atau horse power. Politik adalah kendaraan untuk menggapai tujuan kekuasaan, kuda dan keretanya adalah juga power untuk mengantar ke tempat tujuan. Pengendali politik harus memiliki kepandaian seperti pengendali kuda, kapan harus berlari cepat, kapan harus lambat, kapan belok dan kapan berhenti. Watak politik dan kuda juga sama, yaitu liar, maka seorang sais secara sengaja memasang kacamata kuda agar kuda tidak melihat kiri kanan atau belakang, tetapi fokus tujuan ke depan. Jika tidak mengenakan kacamata kuda, maka kuda menjadi liar tidak mudah dikemndalikan, dan bahkan bisa mencelakakan sais berikut kereta dan penumpangnya.
       Problemnya, era global adalah era keterbukaan. Pada era global nyaris tidak ada sesuatu yang bisa disembunyikan, oleh karena itu barbarika politik mudah sekali terjadi. Barbarika politik juga akhirnya menyeret pengendali politik dari partai apapun berperilaku barbar dalam berpolitik. Menurut penelitian psikologi, 83% perilaku manusia dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar dan 6% sisanya oleh berbagai stimuluis campuran. Ceramah da`i yang mengutip al Qur’an hanya memiliki kekuatan efektip sebesar 11%, sementara uang dan rekayasa melalui media (TV dan jejaring sosial) justeru memiliki tingkat efektifitas sebesar 83%.
 Kesimpulan
       Pada era dimana globalisasi dengan teknologi informasi merupakan kenyataan yang tidak bisa dibendung, maka Kepemimpinan Islam kontemporer hanya mungkin efektip jika para pemimpin Islam disamping memiliki integritas tinggi yang melekat dan menguasai mmenejemen organisasi juga menguasai teknologi informasi, sehingga IT menjadi media dakwah yang bisa mengalahkan informasi lainnya yang negatip. Wallohu a`lamu bissawab.


Read More
posted by : Mubarok institute

Thursday, April 30, 2015

Psikologi Kepemimpinan Politik (1)
Banyak  yang berkata bahwa fenomena politik nasional dewasa ini sangat menyebalkan. Konflik koalisi  KMP vs KIH di Parlemen, konflik DPR dengan Pemerintah, konflik internal Partai Politik, ada DPR tandingan, Kongres tandingan, Gubernur tandingan dipertontonkan secara terbuka kepada public. Belum lagi skandal korupsi pimpinan Partai Politik, kesemuanya itu membuat ada yang berkesimpulan bahwa politik memang kotor, politik memang jahat. Benarkah politik itu jahat ?
Manusia Sebagai Makhluk Politik
       Suka atau tidak suka terhadap politik tetapi manusia adalah memang makhluk politik (zon politicon atau siyasiyyun bitthob`I dalam bahasa Arabnya). Perilaku politik adalah perilaku manusiawi, oleh karena itu kualitas politik bukan bergantung kepada politiknya tetapi kepada kualitas manusianya. Sebagai makhluk psikologis, manusia itu berfikir dan merasa, fikirannya mempengaruhi perasaannya dan perasaannya mempengaruhi  pikirannya. Jadi kualitas perilaku politik seseorang bergantung kualitas fikirannya (akalnya) dan kualitas perasaannya(hatinya) bahkan hati nuraninya. Oleh karena itu ada partai politik yang menggunakan hati nurani sebagai inspirasinya, yaitu Partai Hati Nurani Rakyat atau Hanura.
       Naluri politik adalah kekuasaan, tetapi konsep kekuasaan bagi setiap orang berbeda-beda, ada yang ingin menguasai orang lain, yakni manusianya,  ada yang lebih tertarik kepada kekayaan atau ekonomi, yang lain memilih keluasan wilayah dan ada yang lebih tertarik untuk menguasai hati dan fikiran orang lain.  Perbedaan pusat perhatian politik ini mempengaruhi perilaku politik seorang politisi, ada yang repressip, ada yang culas, ada yang rakus dan ada yang sportip,santun dan arif.
       Sebagai makhluk social manusia membutuhkan orang lain dan menjadi apa dan siapa bergantung dengan siapa mereka bergaul, bekerjasama dan belajar. Untuk mengejar kekuasaan politik maka makhluk social itu melakukan kerjasama untuk menggapai tujuan bersama, dan bersaing untuk menggapai agenda subyektip masing-masing. Oleh karerna itu lahirlah organisasi,  ada ormas, orpol atau Partai Politik bahkan Negara dan pemerintahan (termasuk juga Universitas) yang kesemuanya itu merupakan wadah kerjasama dan wajah persaingan sekaligus.  Di Partai Politik mereka bersama-sama membangun organisasi, tetapi di kongres masing-masing bersaing merebut jabatan tertinggi/ketua umum (contoh paling segar adalah Kongres PPP dan Golkar). Begitupun dalam pemerintahan dan dalam Negara, bahkan dalam organisasi dunia PBB. Kualitas perilaku dalam persaingan sangat erat dengan target apa yang ingin dicapai. Jika orang bersaing untuk merebut nilai-nilai keutamaan, kebajikan dan ketaqwaan, maka mereka pasti bersaing secara sportip, jujur dan bermartabat. Tetapi jika mereka bersaing untuk memperebutkan hal-hal yang sifatnya rendah (harta,tahta,wanita,gengsi) maka para politisi sangat mudah tergoda melakukan cara-cara kotor, seperti fitnah, intimidasi,terror, korupsi dan sebagainya.
       Menurut teori psikoanalisa, ekpressi manusia merupakan sinergi dari tiga pilar kepribadian, id, ego dan super ego, dimensi hewani, dimensi akal dan dimensi moral. Politisi yang berkepribadian hewan maka ia bersaing seperti hewan, serakah, tak sabar dan sadis. Politisi yang mengedepankan akal maka berpolitik secara cerdas, ia bisa bermain cantik dan mampu melakukan rekayasa politik,meski belum tentu bermoral. Sedangkan type politisi yang bermoral, ia hanya bersaing secara fair,berpegang teguh kepada prinsip-prinsip moral, mengacu kepada cita-cita politik yang dituju dan tabah menderita ketika harus melalui tahapan-tahapan yang berat, dan tidak mau melakukan praktek dagang sapi.
       Sebagai suatu persaingan, kemenangan politik tidak selalu sejalan dengan karakteristik sang politisi. Amin Rais yang Profesor Doktor dalam bidang ilmu politik ternyata tidak dijamin menang dalam politik, sebaliknya sebagai ketua MPR ia malah harus melantik Megawati yang tidak sarjana menjadi Presiden menggantikan Gus Dur. Idealisme politik tidak menjamin kemenangan actual, dan memang idealisme justeru menguat ketika sering berhadapan dengan realita politik yang terlalu pragmatis. Dibutuhkan kearifan, kecerdasan, keuletan dan kesabaran serta keberanian dalam menghadapi realitas politik yang cenderung pragmatis.
Politik dan Agama
       Agama mempunyai struktur vertical ke Tuhan Yang Maha Kuasa, sementara politik lebih berdimensi horizontal bersaing antar manusia. Tetapi nyatanya ada partai politik yang berbasis agama, Partai Islam, Partai Kristen dan sebagainya. Di Indonesia ada PKS, PPP, PKB, PBB yang jelas sekali warna ke Islamannya. Bagaimana sesungguhnya konsep polit5ik dalam Islam ?
Dalam bahasa Arab, politik disebut dengan istilah siyasah. Ilmu agama (Islam) yang berbicara tentang politk disebut fiqh as siyasah atau fiqih politik. Secara akademik ilmu politik berdekatan dengan ilmu ushuluddin atau teologi, oleh karena itu di IIUM (International Islamic University Malaysia) misalnya jika seorang mahasiswa S2 mengambil program mayornya ilmuUshuluddin,maka program minornya adalah ilmu politik. Jadi jika seorang sarjana alumnus Fakultas Ushuluddin (Teologi) kemudian aktif dalam dunia politik, itu sudah berada pada jalur yang benar. Politik berbicara tentang kekuasaan, sumber kekuasaan adalah Tuhan,dan Ushuluddin atau Teologi adalah ilmu yang berbicara tentang ketuhanan. Jadi berpolitik adalah juga ekpressi agama (ibadah) karena manusia adalah khalifatulloh (wakil Tuhan) di muka bumi yang bertugas menegakkan hukum-hukum Tuhan kepada ummat manusia di bumi. Oleh karena itu partai politik yang berbasis agama harus tunduk kepada akhlak mulia dalam berpolitik. Jika melanggar ekhlak al karimah dalam berpolitik, ia bukan saja diancam penjara di dunia tetapi diancam dengan hukuman neraka di akhirat nanti.
Politik dan Psikologi
      Definisi yang bersifat terapan menyatakan bahwa Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mnegendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia. ”psychology is the sciense that attempts to describe, predict, and controle mental and behavioral events”. Jadi psikologi juga bisa digunakan untuk memprediksi suatu peristiwa sosial politik dan bahkan bisa digunakan untuk mengendalikan kekuatan politik. Dengan psikologi seorang pemimpin bisa mengamankan kedudukan politiknya sehingga tujuan-tujuan besar politik jangka panjang bisa tercapai. Pengabaian terhadap psikologi bisa menyebabkan seorang pemimpin jatuh hanya dikarenakan oleh kesalahan kecil  tetapi berdampak  (negatip) besar.  Pengendalian politik  sangat berhubungan dengan persepsi politik publik. Kesalahan pendekatan psikologis dalam politik bisa melahirkan misspersepsi yang solusinya juga hanya bisa dilakukan dengan membangun persepsi baru. Publik terkadang bisa ditipu dengan politik pencitraan, tetapi persepsi yang terbangun oleh plitik pencitraan biasanya sarat dengan bom waktu politik. Oleh karena itu seorang pemimpin seyogyanya harus memenuhi persyaratan integritas, kompetensi dan komitmen kuat yang dibuktikan dengan mampu memilih skala perioritas, yang dengan itu citra politi8k akan terbangun secara real, bukan membangun politik pencitraan.
Psikologi Barat dan Psikologi Islam
        Psikologi sebagai ilmu (lahir abad 18) adalah produks dari peradaban Barat yang sekuler, oleh karena itu Psikologi Barat atau Psikologi modern tidak mengenal Tuhan, akhirat bahkan tidak mengenal baik dan buruk. Yang dikenali dalam Psikologi barat adalah sehat dan tidak sehat secara psikologi. Kenapa ?  karena psikologi Barat hanya bersumber dari renungan intelektuil dan penelitian empirik (laboratorium psikologi). Oleh karena itu wajar saja ketika teori psikoanalisanya Freud dibantai habis oleh teori Behaviorisme, selanjutnya disalip oleh teori Psikologi Kognitip dan baru muncul teori Psikologi Humanisme yang sudah agak berdekatan dengan teori-teori Islam.
         Sesungguhnya didalam al Qur’an dan hadist banyak sekali disebut kata nafs (jiwa), tetapi para ulama generasi awal lebih memandang jiwa dalam konteks hubungan vertikal dengan Tuhan. Oleh karena itu ilmu yang lahir adalah ilmu akhlak dan ilmu tasauf, dimana dapat dijumpai istilah nafs al muthma’innah ( jiwa yang tenang), nafs lawwamah (jiwa yang selalu menyesali diri), nafs al musawwilah (jiwa yang secara umum sudah tenang kecuali dalam menghadapi satu dua hal) dan nafs al ammarah (jiwa yang condong kepada keburukan). Munculnya istilah Psikologi Islam justeru di Barat (1950), yakni ketika mahasiswa muslim dari negeri2 Islam studi di Barat, dan ketika berjumpa dengan ilmu Psikologi sebagaimana dikatakan oleh  Prof. Malik Badri mengalami fase2 : (1) infantuasi, kemudian (2) rekonsiliasi dan (3) fase emansipasi, yakni dari terkagum-kagum, kemudian berusaha mencocdok-cocokkan dengan teori2 Islam dan akhirnya kritis terhadap pandangan-pandangan psikologi modern. Di Indonesia sendiri muncul istilah nafsiologi, kemudian Psikologi Islami, baru kemudian Psikologi Islam.
       Perbedaan Psikologi moderen (Barat) dengan Psikologi Islam terletak pada wilayah dan metodolginya. Jika Piskologi Barat wilayahnya hanya (1) menguraikan (2) memprediksi (3) mengendalikan perilaku manusia, maka Psikologi Islam menambah dengan (4) membentuk perilaku yang baik dan (5) mendorong jiwa agar merasa dekat dengan Tuhan. Demikian juga dari segi sumber, jika Psikologi Barat  bersumber dari renungan intelektuil dan laboratorium empirik, Psikologi Islam bersumber dari apa kata Sang Pencipta tentang manusia, seperti yang terkandung dalam al Qr’an dan dijelaskan oleh hadis. Metode yang digunakan adalah tafsir maudhu`i atau tafsirf tematik Sudah barang tentu teori2 Psikologi Barat juga digunakan sebagai pembanding dan pembantu dalam memahami teks.

Read More
posted by : Mubarok institute

Wednesday, April 29, 2015

Tasawuf Nusantara (2)
Pada umumnya orang memandang tarekat itu hanya sebagai fenomena keagamaan tardisionil yang terbatas wilayah perhatiannya. Tetapi dalam keadaan tertentu tarekat juga tak bisa menghindar dari situasi social politik yang sedang berlangsung sehingga tarekat dan politik bisa menjadi senafas, bahkan berhubungan jiuga dengan Negara.
   Tarekat dan Negara
Pada tahun 1998 saya mengadiri perhelatan tarekat Naqsyabandi di Washington Amerika Serikat, dalam acara yang dikemas dengan nama Second International Conference of Islamic Unity, diselenggarakan oleh masyikhah Tarekat Naqsyabandi Haqqani, dihadiri oleh 100 negara. Sebelumnya (1995, 1996 dan 1998) saya diundang dalam Multaqa aTasawwuf al `Alamy atau International Sufisme Meeting, di Tripoli, Benghazi dan  Baidho Libia. Pada tahun 1988, saya juga hadir pada festifal Ashab at Thuruq di Kairo. Jarang yang mengetahui bahwa Libia adalah satu-satunya Negara modern yang didirikan oleh Tarekat, yaitu Tarekat Sanusiyah. (Ingat Umar Mukhtar, tokoh Lion of the dissert). Sewaktu di Washington saya sempat berjumpa dengan Presiden Chehnya, Jenderal Aslan Mashadov. Juga jarang yang tahu bahwa Chehnya adalah satu-satunya Negara yang menyebut Tarekat Naqsyabandi sebagai tarekat Negara. Uni Sovyet dibuat sangat repot oleh Mujahidin Chehnya karena mujahidin Chehnya ini bukan hanya pejuang bersenjata tetapi juga pengamal tarekat sufi.
Jejak Tasauf di Indonesia
         Tahun 1998, Indonesia sedang berada pada masa transisi. Gerakan reformasi 1998 tak jelas arahnya, bahkan mengkhawatirkan, karena tidak ada contohnya dalam sejarah reformasi ekonomi dan politik yang dilaksanakan bersama yang berhasil. Uni Sovyet, Negara super power, gara-gara melakukan Glasnot dan Perestoika, reformasi ekonomi dan politik sekaligus, hasilnya bubar. Yugoslavia juga bubar. Dalam keadaan sedang galau itu, saya di Washington mohon doa restu untuk bangsa Indonesia kepada Syekh Nazim, Adil al Qubrusy, mursyid tarekat Naqsyabandi Haqqani yang pusatnya di Turki. Dalam bahasa Inggris yang terbata-bata, jawaban Syekh Nazim ternyata sangat mengusik perasaan. Beliau menjawab sebagai berikut. Iya, sekarang ini para auliya sedang sangat sibuk mendoakan negeri anda, karena negeri anda Indonesia, dulu itu didesain oleh para wali. Itu yang membuat Indonesia berbeda dengan Andalus.
Beberapa hari sesudah itu fikiran selalu terusik oleh pernyataan Mursyid tarekat Naqsyabandi itu. Dari rekaman sejarah ternyata memang nampak jelas perbedaan bagaimana Islam masuk ke Andalus (Spanyol) dan ke Indomnesia . Islam masuk ke Andalus dengan pedang, sehingga meski 700 tahun politik Islam sempat  bercokol di Andalusia Eropa bahkan kota Paris nyaris ditaklukkan. ketika kekuatan politiknya runtuh maka Islamnyapun terusir tak bersisa dari bumi Andalus. Sedangkan Islam ke Indonesia dibawa oleh para wali dengan pendekatan akulturasi budaya yang membuat orang Indonesia (baca Jawa) menjadi Islam tanpa disadari. Tradisi masyarakat Jawa dipertahankan bentuknya tetapi isinya diganti, seperti tradisi tahlilan hari ke 3, 7, 40, dan 100  setiap ada orang meninggal. Makanan tumpeng juga menjadi symbol konsep tauhid. Pertunjukkan wayang juga digunakan untuk berdakwah secara amat halus. Kokohnya tradisi “Islam” itu menjadi benteng yang sangat kuat, sehingga meski pernah mengalami sejarah kolonialisme barat lebih 300 tahun, tetapi Islam tetap utuh di bumi Indonesia.
Tokoh pembawa Islam ke Indonesia terkenal dengan sebutan para wali yang kemudian disebut wali songo. Jika berbicara  wali maka pastilah itu menjadi domainnya tarekat dan tasauf. Dan para wali bukan seperti bayangan awam, karena ternyata mereka bahkan aktip dibelakang kekuasaan politik real. Sunan Kalijaga misalnya adalah penasehat raja Mataram. Begitupun di kerajaan Demak dan Pajang. Oleh karena itu tidak aneh ketika gerakan perlawanan kepada penjajah Belanda juga banyak yang dimotori oleh gerakan tarekat. Syekh Maulana Yusuf sampai harus diasingkan ke Afrika Selatan karena pengaruhnya yang sangat kiuat terhadap gerakan perlawanan kepada penjajah. Hingga hari ini sesungguhnya “cengkeraman gaib” sufisme dan tarekat masih cukup kuat di masyarakat Indonesia. Kota Rokan Hulu Jambi bahkan hingga hari ini masih disebut sebagai kota seribu suluk. Sebagaimana fenomena awal dimana tasauf muncul karena ada krisis materialism di kalangan umat Islam generasi pertama, di Indonesia setiap kali ada krisis social maka fenomena Sufism dan tarekat mengemuka. Istilah tarekat Nusantara bisa dibenarkan karena ekpressi tarekat di Indonesia berbeda dengan ekpressi tarekat di Mesir, Libia atau Afrika.
Pengalaman bertarekat
Ayah, paman dan kakek saya adalah mursyid tarekat naqsyabandi. Irama tawajuhan yang bernuansa Jawa sangat akrab di telinga saya karena selalu mendengar sejak kecil, baik  pada musim suluk maupun rutin mingguan. Tahun 1965 saya hijrah ke Jakarta. Ada beberapa pengalaman yang sangat mengesankan dalam kaitan hidup bertarikat yang saya alami.
·       Dalam kesempatan yang tidak disengaja saya bertemu dengan seorang kyai kampong, seorang mursyid tarekat Naqsyabandi dari daerah Banten. Tanpa saya minta beliau menubuatkan/meramalkan tiga hal ramalan menyangkut diri saya, yaitu jodoh, ekonomi dan traveling. Setelah puluhan tahun ternyata ketiga ramalan tersebut terbukti. Pertama, saya diramal bahwa pernikahan saya yang pertama akan berakhir dengan perceraian, hubbun ya`qibuhu firoq, kata beliau dalam bahasa Arab yang artinya cinta yang akan diakhiri dengan perceraian. Ternyata setelah 18 tahun usia perkawinan , perceraian tidak bisa dihindar. Kedua; garis ekonomi saya putus. Ini juga terbukti, saya menjadi direktur sebuah perusahaan, setelah lima tahun saya tidak sanggup meneruskan karena konflik batin, disatu sisi saya adalah guru agama dan da`I, tapi perusahaan itu ternyata menjadi alat korupsi pejabat, karena pemilik perusahaan itu adalah bendaharawan di suatu departemen. Ketika perusahaan itu di puncak kemajuannya, saya mengundurkan diri. Ketiga saya diramal akan mengelilingi hamper seluruh belahan dunia termasuk ziarah makam Rasul. Ini juga terbukti, saya sudah mengunjungi 28 negara Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.
·       Pada tahun 1968 ketika duduk di bangku kuliah tingkat dua saya mengalami semacam frustasi, karena tidak bisa memahami gaya hidup kyai di Jakarta, yang sangat berbeda dengan persepsi saya selama ini tentang kyai di pesantren kampung. Perasaan frustasi itu berkembang menjadi tidak bisa menghormati dosen, dan juga tidak bisa menghormati ilmu. Akhirnya saya malas kuliah, dan lebih senang bepergian kemana saja mencari “udara” segar. Dalam pengembaraan itulah saya berjumpa dengan beberapa mursyid tarekat, dan melalui ru`ya al haqq akhirnya saya dipertemukan dengan mursyid tarekat Syadziliyyah yang kemudian saya dibai`atnya. Ternyata jalur tarekat itulah yang mengantar saya pada jalan ilmu, karer, bisnis dan traveling. Tak disangka ramalan traveling mursyid tarekat dari Banten pada tahun 1968 itu menjadi kenyataan mulai dari tahun 1988 hingga hari ini. Sudah 27 negara saya kunjungi Asia, Eropa, Afrika dan Amerika, melalui jaringan tarekat.
·       Pada tahun 1997 melalui internet saya mengenal Syekh Hisyam Kabbani, masyikhah Tarekah Naqsyabandi Haqqani Amerika. Yang menarik dari guru tarekat ini adalah etosnya yang sangat berbeda dengan etos guru tarekat Nusantara. Etos beliau adalah “dengan semangat salafi menembus globalisasi”.  Hampir 50% waktunya digunakan untuk safar, mengunjungi murid-muridnya diseluruh dunia, dan setiap berkunjung ke suatu negeri pasti ada agenda ketemu Presidennya, termasuk Presiden Putin (Rusia). Tahun 2003, Pak SBY (ketika itu menko Polkam) saya perkenalkan dengan Syekh Hisyam, dan akhirnya Pak Sby berbai`at tarekat Naqsyabandi. Selanjutnya hamper setiap ke Indonesia selalu ada agenda ke istana.

·       Tahun 1968 saya bai`at tarekat, tetapi baru pada tahun 1995 saya berceritera kepada orang lain bahwa saya menganut tarekat, setelah pada tahun 1995 sayalah satu-satunya orang Indonesia yang dengan “keajaiban” menghadiri sarasehan guru tarekat se dunia di Tripoli. Ternyata selanjutnya perjalanan hidup saya tidak pernah terlepas dari sufisme dalam semua aspek kehidupan saya. Di akademik, saya menjadi profesor pertama di dunia dalam bidang Psikologi Islam, yang hakikatnya adalah pendekatan psychosufistik. Dalam bidang bisnis juga keberhasilan saya justeru karena melalui pendekatan sufistik, yang terambil dari nasehat sufistik; man akhodza addunya kullaha tarokaha kullaha, wa man tarokaha kullaha akhodzaha kullaha, fa akhdzuha bi tarkiha, (orang yang obsessinya uang ia akan ditinggal lari oleh uang, sedangkan orang yang tidak pernah berfikir uang, ia akan dikejar-kejar uang, jadi kalau ingin punya uang caranya jangan memikirkan uang).). Dalam bidang politik saya juga menggunakan etika sufistik dari maqalah sufistik yang berbunyi. La an tajlisa fi al juz’i al kholfi wa tuqoddimuka annas khoirun min an tajlisa fi aljuz’I al amami wa tu’akhhiroka annas (bahwa duduk dibelakang kemudian disuruh maju kedepan itu lebih baik daripada nekad duduk di depan tetapi kemudian disuruh pindah kebelakang). Wallohu a`lamu bissawab

Read More
posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger