Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Thursday, November 08, 2012

Pemerintahaan Islam di Negara Sekuler
REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

''Kami ingin mendidik generasi muda kita sebagai generasi yang religius,'' kata Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan, di depan sidang parlemen negaranya beberapa bulan lalu. Kepada kaum oposisi, ia menegaskan, ''Apakah kalian ingin melihat dari partai demokrat konservatif seperti Partai Keadilan dan Pembangunan akan lahir generasi ateis? Bila hal itu yang kalian kehendaki, itu adalah urusan kalian. Urusan kami adalah melahirkan generasi demokrat konservatif yang meyakini nilai-nilai dan tradisi agama kita (Islam).'' Demikianlah jawaban Erdogan menjawab kritikan dari para politisi oposisi. Yang terakhir ini mengkhawatirkan Erdogan akan menjadikan Turki sebagai negara agama. Tepatnya negara Islam. Mereka menuduhnya telah mengkhianati asas sekularisme Republik Turki yang didirikan Kemal Ataturk pada 1923 lalu. Kritikan itu bukannya tanpa dasar. Sejak Partai Keadilan dan Pembangunan (PKP) yang ia pimpin berkuasa di Turki, yang pada Sabtu (03/11) lalu genap 10 tahun, sejumlah hal -- yang bisa saja dihubungkan dengan Islamisasi Turki --- telah dia ubah atau lakukan. Misalnya yang terkait dengan peran tentara. Selama ini militer menempatkan diri sebagai penjaga prinsip sekularisme Turki. Bila ada isyarat pemerintah melanggar prinsip sekuler, maka militer akan segera bertindak. Antara lain dengan kudeta. Sepanjang tahun 1960 hingga 1980, militer Turki telah melakukan tiga kali kudeta. Namun, tuduhan 'melanggar prinsip sekularisme' sering tidak jelas. Penafsirannya hanya sepihak. Yaitu pihak militer yang didukung partai sekuler. Dan, seringkali tuduhan itu mengarah pada partai Islam pemenang pemilu dan sedang memerintah. Termasuk partainyanya Erdogan, PKP. Karena itu, hubungan PKP/pemerintah dengan militer selalu diwarnai ketegangan. Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk 'menghabiskan' pengaruh militer Turki dalam politik. Dengan 'memanfaatkan' undang-undang dan standar nilai yang berlaku di Uni Eropa, sedikit demi sedikit pengaruh militer dikurangi. Puncaknya terjadi tahun lalu ketika Presiden Abdullah Gul, yang juga pimpinan PKP, menunjuk empat pimpinan tinggi militer negara itu. Ini merupakan pertama kalinya pemerintah sipil Turki memutuskan pimpinan komando tertinggi angkatan bersenjata. Sebelumnya, sejak 2008, ratusan perwira militer ditangkap dengan tuduhan berkomplot untuk menggulingkan pemerintah Erdogan, yang dinilai telah melenceng dari prinsip sekuler. Tuduhan lain Islamisasi Turki oleh Erdogan adalah soal jilbab. Sejak PKP berkuasa, pemerintah terus berupaya mengamandemen undang-undang larangan berjilbab di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintah. Meskipun amandemen itu terus menuai pro dan kontra, namun isteri PM dan Presiden yang berjilbab kini sudah mulai masuk ke istana. Pada acara peringatan 89 tahun berdirinya Republik Turki beberapa hari lalu, isteri Presiden Abdullah Gul dan isteri Perdana Menteri Erdogan untuk pertama kalinya menghadiri acara resmi kenegaraan di istana kepresidenan. Keduanya berdiri di samping komandan tertinggi angkatan bersenjata. Pada tahun-tahun sebelumnya, pejabat tinggi militer selalu menolak mengikuti acara yang juga dihadiri para istri pejabat partai PKP yang berjilbab. Karena itu, di setiap acara peringatan kenegaraan Presiden Gul selalu menggelar dua kali resepsi terpisah. Yang pertama untuk para perwira tinggi militer. Yang kedua untuk umum yang juga dihadiri istri para pejabat pemerintah yang berjilbab. Namun, tahun ini ia hanya menggelar sekali resepsi di istana kepresidenan yang dihadiri pejabat tinggi militer, sipil, dan juga istri-istri pejabat yang berjilbab. Namun, Erdogan membantah bila semua langkah dan keputusan pemerintahannya tersebut dalam rangka Islamisasi Turki. Dalam suatu kesempatan ia menegaskan 'Partai Keadilan dan Pembangunan akan selalu menjaga nilai-nilai Republik Turki, termasuk sekularisme.'' Dalam wawancara dengan televisi Mesir, ia juga menyatakan Mesir bisa mengadopsi sebuah konstitusi sekuler. Menurutnya, sekularisme bukan berarti meninggalkan ajaran agama. Dalam sebuah negara sekuler, tambahnya, setiap orang memiliki hak untuk memilih menjadi religius atau tidak. ''Dan, saya adalah perdana menteri Muslim untuk negara sekuler,'' katanya. Bagi Erdogan, sekuler atau tidak sebuah negara tampaknya tidak begitu penting. Yang lebih penting adalah bagaimana 'mengisi' negara itu. Yang terpenting adalah kontennya. Dan, ia telah membuktikan selama 10 tahun memimpin Turki, pemerintahannya adalah sangat Islami. Dengan kata lain, pemerintahan Islam di negara sekuler. Baginya, Islam bukan sekadar urusan pemakaian jilbab yang terus ia perjuangkan. Juga bukan sekadar simbol-simbol. Tapi, Islam juga adalah bagaimana memberikan kesejahteraan kepada rakyat, pendidikan yang baik, keamanan, kenyamanan, dan seterusnya. Keberhasilan PKP dan Erdogan memenangkan pemilu sebanyak tiga kali jelas menunjukkan rakyat puas terhadap kepemimpinannya. Pertumbuhan ekonomi Turki selama sepuluh tahun ini mencapai rata 8 persen, naik empat kali lipat dari sebelumnya. Sedangkan pendapatan per kapita naik tiga kali, dari 3.500 dolar AS pada 2002 menjadi 10.400 dolar pada 2011. Dalam pandangannya, beberapa tahun ke depan, pemerintahannya masih bisa meningkatkan hingga 25 ribu dolar per kapita, dan menjadikan Turki sebagai salah satu dari 10 besar kekuatan ekonomi dunia, yang sekarang baru di peringkat 16.

Read More
posted by : Mubarok institute

Thursday, November 01, 2012

Islamisasi Jawa (2)
 REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Azyumardi Azra

 Islamisasi Jawa jelas tak berjalan linear. Jika sejak Islamisasi mulai berlangsung pada abad ke-14 sampai awal abad ke-19 terjadi apa yang disebut sejarawan MC Ricklefs sebagai “sintesa mistik” antara tradisi spiritualisme Jawa dengan Islam, periode selanjutnya (1830-1930) ditandai dengan meningkatnya polarisasi masyarakat Jawa. Perkembangan ini tak lepas dari dinamika Islam di tingkat internasional, khususnya di Arabia, yang memengaruhi proses Islamisasi dan santrinisasi nusantara, termasuk di Jawa.

Kebangkitan gerakan Wahabiyah yang dinisbahkan pada Muhammad bin 'Abd al-Wahhab (masa hidup 1703-79) sejak pertengahan abad ke-18 mengubah arah gerakan pembaruan di kalangan pengikut Tarekat Syatariyah dan Naqsyabandiyah di Minangkabau yang mulai menemukan momentum pada 1870-an. Gerakan yang semula damai berubah menjadi gerakan Padri radikal-dengan paham dan praksis amat mirip Wahabi-setelah kembalinya tiga haji dari Tanah Suci pada awal abad ke-19. Konflik atau tepatnya “perang saudara” di antara barisan pendukung pembaruan damai dengan kelompok pemurnian radikal ala Wahabi berubah menjadi Perang Padri (1821-37) ketika Belanda campur tangan atas permintaan kaum adat. Di Jawa, pada waktu hampir bersamaan terjadi Perang Jawa yang dikenal sebagai Perang Diponegoro (1925-30). 

Selain karena kebijakan yang merugikan pribumi, perang ini terkait transformasi dan intensifikasi keislaman Pangeran Diponegoro. Seperti terungkap dalam penelitian Peter Carey, sejarawan Oxford University, Pangeran Diponegoro lewat lingkungan tarekat dan pesantren menempuh pengalaman keberagamaan sangat intens membuatnya tidak lagi bisa menerima kolonialisme Belanda kafir. Intensifikasi keislaman atau santrinisasi masyarakat Muslim Jawa selanjutnya terkait pertumbuhan jamaah haji dari kalangan kelas menengah Muslim yang mulai tumbuh. Meski statistik kolonial abad ke-19 tidak bisa terlalu dipercaya, menurut Ricklefs, sebagai gambaran pada 1850 hanya 48 pribumi Jawa pergi naik haji. Tetapi, pada 1858 meningkat menjadi 2.283 orang dan pada tahun-tahun akhir abad ke-19 berfluktuasi antara 1.500 sampai 5.000 orang. Dalam waktu bersamaan, jumlah pesantren meningkat: sebagian didirikan para haji yang kembali dari Tanah Suci. Memang pesantren sudah ada sejak masa awal penyebaran Islam di Jawa, tetapi baru pada abad ke-19 lembaga pendidikan ini menjadi salah satu “fenomena” utama Islam Jawa. 

Pada 1863, pemerintah kolonial mencatat hampir 65 ribu fungsionaris “profesional” keagamaan Islam (pengurus masjid dan guru agama) dan 94 ribu murid “sekolah agama” (pesantren). Menjelang 1872, jumlahnya masing-masing menjadi 90 ribu dan 162 ribu dan pada 1893 ada 10.800 pesantren di Jawa dan Madura dengan santri lebih dari 272 ribu. Proses santrinisasi juga didorong penguatan reorientasi syariah penganut tarekat, khususnya Naqsyabandiyah Khalidiyah, Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang diikuti tarekat lain. Perkembangan ini mengikuti kecenderungan sama yang terjadi pada tarekat-tarekat di Aceh, Palembang, dan Banjarmasin sepanjang abad ke-17 sampai abad ke-18. 

Tarekat-tarekat ini selain menekankan kesetiaan kepada syariah dan menolak kecenderungan antinomian dalam tarekat juga amat anti-Belanda dan terjun berjihad melawan kolonial-dan selanjutnya, seperti ditegaskan Ricklefs-bersikap anti-Kristen. Polarisasi dalam masyarakat Jawa dengan demikian terjadi tidak hanya di antara kelompok Muslim yang kian menjadi santri dengan golongan masyarakat Muslim yang tetap mempertahankan “sintesa mistik”, tetapi juga dengan kalangan warga Jawa yang beralih masuk Kristen. Seperti diungkapkan Ricklefs, untuk pertama kali, seusai Perang Jawa, misi Kristen mencapai sukses. Beberapa tokoh Jawa masuk Kristen, seperti Ky Ibrahim Tunggu Wulung dan Ky Sadrach. Hasilnya, menjelang akhir abad ke-19 terdapat sekitar 20 ribuan Kristen Jawa plus sejumlah “Kristen Londo” di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Dengan polarisasi terakhir ini, meminjam kerangka sejarawan terkemuka lainnya, Anthony Reid, terciptalah batas keagamaan lebih jelas dan tegas, baik di antara pemeluk Islam maupun penganut Kristen maupun di antara Muslim santri dengan Muslim pemegang sintesa mistik-atau “abangan”. Di tengah polarisasi itu, Islam secara keseluruhan terus menemukan momentum-menciptakan proses Islamisasi lebih intens karena berhadapan dengan kekuasaan kolonial yang mendorong Kristenisasi. 

Perlawanan dengan motif Islam juga meningkat. Contoh terbaik adalah KH Ahmad Rifa'i (1786-1876) yang setelah kembali ke Kali Salak, Batang, Jawa Tengah, dari belajar di Makkah, Madinah, dan Kairo menolak tunduk kepada otoritas kolonial Belada. Ia tidak mengakui keabsahan pernikahan yang dilakukan penghulu fungsionaris masjid yang diangkat Belanda. Ia menolak percampuran antara ajaran Islam dan tradisi Jawa dan mendorong penerapan Islam puritan dalam masyarakat Muslim Jawa.

Read More
posted by : Mubarok institute
Islamisasi Jawa (I)
REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Azyumardi Azra 

Islamisasi Jawa? Mengapa Islamisasi masyarakat Jawa merupakan subjek sangat penting? Pentingnya antara lain adalah karena suku Jawa merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di dunia Muslim. Dengan jumlah sekitar 100 juta dari hampir 250 juta penduduk Indonesia, etnis Jawa sekaligus merupakan suku terbesar di Indonesia. Karena kenyataan demografi ini, etnis Jawa memainkan peran penting dalam berbagai dinamika Indonesia sejak dari sosial, budaya, agama, ekonomi, politik, dan seterusnya dalam periodisasi sejarah nusantara. Meski demikian, pandangan stereotipe yang dipercayai banyak kalangan, baik di dalam maupun luar negeri, adalah sebagian besar Muslim Jawa hanyalah abangan atau Muslim nominal atau `Islam KTP'. Istilah `abangan' yang sudah lama beredar dalam masyarakat Jawa sendiri kemudian dipopulerkan ke lingkungan akademik internasional oleh antropolog Amerika, Clifford Geertz, dalam karya klasiknya "Religion of Java" (1960). Dengan judul seperti ini, Geertz menekankan apa yang dia sebut sebagai `agama Jawa' dan pada saat yang sama secara implisit menolak frasa semacam Javanese Islam atau Islam in Java. 

Masihkah absah anggapan bahwa sebagian besar Muslim Jawa abangan? Sejarawan terkemuka Merle Calvin Rick-lefs membantah anggapan itu secara meyakinkan dalam karya mutakhirnya "Islamisation and Its Opponents in Java: A Political, Social, and Religious History, c. 1930 to the Present" (Singapore: NUS Press, 2012, xxi 575 halaman). Karya ini merupakan sekuel ketiga atau terakhir dari dua karya sebelumnya, "Mystic Synthesis in Java: A History of Islamisation from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries" (2006) dan "Polarising Javanese Society: Islamic and Other Visions c. 1830-1930" (2007). Tidak ragu lagi, ketiga karya ini secara komprehensif membahas Islamisasi Jawa sejak abad ke-14 sam pai sekarang. Islamisasi masyarakat Jawa merupakan proses yang terus berlanjut sejak kemunculan Islam dalam masyarakat Jawa pada abad ke- 14. Mengamati proses dan dinamika Islamisasi masyarakat Jawa selama berabad-abad hingga sekarang, Ricklefs menyimpulkan, masyarakat Muslim Jawa melewati masa sulit sejak awal penyebaran Islam, penjajahan kolonialisme Belanda dan Jepang, periode kemerdekaan, pemerintahan Presiden Soekarno yang kacau, totalitarianisme Presiden Soeharto, dan demokrasi kontemporer. 

Menempuh berbagai perubahan, masyarakat Muslim Jawa kini menjadi contoh luar biasa dalam hal peningkatan religiositas keislaman. Kesimpulan Ricklefs ini senada dengan temuan para ahli sebelumnya, misal Harry J Ben da dalam karyanya tentang Islam Indonesia di masa Jepang, "The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation 1942-1945" (1958). Benda menyimpulkan, sejarah Islam Indonesia khususnya masyarakat Jawa, tidak lain adalah history of the expansion of santri culture. Jelas karya Benda telah outdated-keting- galan zaman. Bisa dipastikan, ketika Benda me nrbitkan karyanya, kaum abangan dalam ma syarakat Muslim Jawa masih amat dominan. Karena itu, "Islamisation and Its Opponents in Java" dan kedua karya Ricklefs sebelumnya jelas melampaui karya Benda dalam cakupan periodisasi dan proses sangat kompleks, yang menghasilkan `Islamisasi lebih dalam' (deeper Islamisation) masyarakat Jawa. Proses ini biasa saya sebut sebagai `santrinisasi' sangat intens. 

Tetapi, proses Islamisasi di Jawa, atau te pat nya `santrinisasi', yaitu kian menguatnya komitmen dan praktik keislaman masyarakat Muslim Jawa, tidak bergerak lurus (linear). Awalnya, seperti diungkapkan Ricklefs dalam buku pertamanya, manuskrip lokal mengisyaratkan dua hal kontradiktif. Pada satu pihak ada yang mengisyaratkan, Islam yang mulai menyebar sejak abad ke-14 menemukan `sintesis mistik' dalam lingkungan budaya Jawa. Tetapi, sebagian naskah lain menyiratkan tidak terjadinya `sintesis mistik' tersebut. Terlepas perbedaan perspektif naskah- naskah itu, jelas Islamisasi pada masa awal menampilkan adanya sinkretisme antara Islam, agama lokal, dan budaya Jawa. Bahkan, ada semacam ketidakcocokan antara keraton dan lingkungan masyarakat yang kian banyak memeluk Islam. Barulah ketika Sultan Agung (berkuasa 1613-1646) menjadi penguasa Mataram terjadi rekonsiliasi antara keraton dan tradisi Islam. Walau tetap setia pada Ratu Kidul, Sultan Agung membuat istananya lebih `Islami'. Ia rajin berziarah ke makam para wali, memperkenalkan literatur pokok tentang Islam semacam Kitab "al-Uslubiyah", dan mengirim utusan kepada penguasa Hijaz untuk mengakuinya sebagai `sultan' yang merupakan khalifatullah zhillullah fil ardhi. Hasilnya pada tahap Islamisasi ini adalah apa yang disebut Ricklefs sebagai `sintesis mistik' pada tiga hal pokok. Pertama, mewujudkan identitas keislaman yang kuat, menjadi orang Jawa sekaligus menjadi Muslim. Kedua, melaksanakan lima rukun Islam, dan ketiga, menerima realitas tradisi keagamaan dan budaya lokal yang menyangkut Ratu Kidul, Sunan Lawu, dan makhluk supranatural lainnya.

Read More
posted by : Mubarok institute

Thursday, October 18, 2012

Ambang Perang Suriah-Turki
REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Azyumardi Azra

Eskalasi perang saudara di Syria kian mencemaskan dalam beberapa pekan ini ketika aksi militer rezim Bashar Assad mulai melibatkan Turki. Pekan lalu, beberapa mortir Syria menghantam Akcakale, sebuah kampung Turki di wilayah perbatasan sebelah utara Syria, yang menewaskan lima warga sipil Turki. Di tengah seruan internasional agar menahan diri, militer Turki melakukan serangan balasan di daerah perbatasan. Pada saat yang sama, parlemen Turki menyetujui serangan lebih masif terhadap Syria jika perlu.

Perkembangan memprihatinkan ini dapat berujung pada perang terbuka antara Syria dan Turki yang merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Limpahan (spill over) operasi militer rezim Bashar Assad terhadap kekuatan perlawanan Syria juga dapat menjangkau ke selatan—perbatasan dengan Lebanon dan Yordania. Jika ini terjadi, kawasan barat Timur Tengah kembali menjadi kumpulan bara panas yang kian sulit dipadamkan.

Dengan demikian, sejak gejolak perlawanan terhadap Presiden Bashar Assad meningkat pada Maret 2011, penyelesaian krisis Syria terlihat makin jauh. Bahkan, Utusan Khusus PBB untuk (penyelesaian krisis) Syria, Lakhdar Brahimi, yang diangkat menggantikan Kofi Annan, juga kelihatan tidak berdaya apa-apa. Korban terus berjatuhan. Berbagai lembaga internasional memperkirakan sekitar 31 ribu orang—terutama warga sipil—tewas sejak pergolakan terjadi. Meski terlihat kekuatan perlawanan meningkat, mereka tampaknya sulit melawan kekuatan militer rezim Bashar Assad sehingga majalah Newsweek (17/9/2012) menyebutnya sebagai “David and Goliath in Syria”.

Meningkatnya krisis di Syria dan negara-negara di sekitarnya, yang umumnya adalah negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim, mencerminkan sejumlah hal tidak menguntungkan.

Pertama, kealotan rezim Bashar Assad, yang tidak sungkan mengorbankan para warga pembangkang demi mempertahankan kekuasaannya, yang cepat atau lambat pasti berakhir. Berbagai proposal dan skema penyelesaian damai yang disodorkan PBB, Liga Arab, dan kalangan internasional lain tidak mampu melunakkan hatinya.

Kedua, eskalasi perang di Syria, sekaligus pula memperlihatkan kegagalan mediasi internasional. Lembaga-lembaga internasional multilateral, seperti PBB, juga gagal menghentikan perang di Syria. Negara-negara di PBB pun terpecah belah. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa ingin memberlakukan tindakan internasional lebih keras dan tegas terhadap rezim Bashar Assad. Namun, ada pula blok Rusia dan Cina yang selalu menolak campur tangan internasional di Syria.

Ketiga, di tengah pembelahan kedua kubu itu, negara-negara Barat, AS dan sekutu-sekutunya, memilih untuk tidak mengerahkan kekuatan militer mereka ke Syria. Mengapa sikap mereka berbeda dengan ketika menghadapi krisis Lybia pada 2011? Ini terkait dengan krisis keuangan dan ekonomi yang terus berlanjut di banyak negara Eropa dan musim pemilu presiden di AS.

Presiden Barack Obama yang berkonsentrasi untuk bisa terpilih kembali, cenderung bersikap lunak (lenient) dalam banyak kebijakan luar negerinya sehingga menjadi sasaran kritik banyak pihak di AS sendiri, termasuk dari capres Partai Republik, Mitt Romney. Inilah sikap tipikal Partai Republik yang cenderung hawkish, galak seperti elang; berbeda dengan Partai Demokrat yang cenderung dovish, burung merpati yang lembut.

Keempat, krisis Syria juga mencerminkan konflik politik di antara negara-negara Arab khususnya. Arab Saudi dan Qatar, yang dilaporkan sebagai pemasok dana terbesar dalam kekuatan perlawanan terhadap Presiden Bashar Assad. Kedua negara ini menolak keterlibatan Iran dalam usaha penyelesaian konflik Syria, bukan hanya karena faktor Presiden Ahmadinejad yang tidak mereka sukai, melainkan adanya kekuatan Hizbullah (Syi'ah) di Lebanon, tangan kanan Bashar Assad, yang Syi'ah Allawiyah dan sekaligus Ba'athis-Sosialis. Di sini terlihat sektarianisme keagamaan turut menjadi motif tersembunyi dalam sikap Pemerintah Arab Saudi dan Qatar serta Pemerintah Syria.

Dalam kondisi tersebut, pemerintahan Presiden Mursi, Mesir, tidak berdaya menengahi konflik di antara Arab Saudi dan Qatar pada satu pihak dengan Iran di pihak lain. Hal ini terutama karena daya tekan (leverage) Mesir terhadap negara-negara Arab lain, apalagi terhadap Iran, berkurang secara signifikan karena kondisi politik yang masih belum stabil pada masa pasca-Mubarak.

Dalam situasi yang serba tidak menguntungkan itu, bisa dipastikan pihak yang paling diuntungkan adalah Israel. Krisis di Syria dan konflik di antara negara-negara Arab membuat rezim PM Netanyahu bisa lebih leluasa dalam menghadapi Palestina sehingga membuat perdamaian di tanah Palestina semakin jauh dari jangkauan. Pada saat yang sama, Israel meningkatkan tekanan kepada Iran yang diklaimnya terus melanjutkan pengayaan uranium untuk menghasilkan senjata nuklir. Jadi, hari-hari esok masih sangat sulit di Timur Tengah.


Read More
posted by : Mubarok institute
Imperium Amerika di Ujung Tanduk?
REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Ahmad Syafii Maarif

Imperium dari bahasa Latin menjadi empire dalam bahasa Inggris, yang berarti sekelompok negara atau negeri dengan wilayah kekuasaan yang luas di bawah otoritas tunggal. Dapat pula diartikan sebagai organisasi komersial raksasa yang dimiliki atau dipimpin oleh seseorang.

Amerika Serikat sejak akhir abad ke-19, dengan merebut Filipina dari tangan Spanyol pada 1898, sedang bergerak dalam proses awal mengukuhkan dirinya sebagai sebuah imperium yang puncaknya terjadi pada era pascaPerang Dingin. Tetapi, untuk berapa lama lagi? Pertanyaan inilah yang telah dijawab oleh beberapa penulis terkenal, seperti Francis Fukuyama, Emmanuel Todd (Prancis), Fareed Zakaria (warga Amerika kelahiran India), dan Johan Galtung (Norwegia). Untuk mendukung nafsu imperiumnya, Amerika telah menguras uang pajak rakyatnya sendiri dalam angka triliunan dan mengorbankan rakyat bangsa lain serta rakyatnya sendiri di medan pertempuran. Semuanya ini dilakukan dengan berbagai helat dan pembenaran, apakah untuk mengekspor demokrasi atau hak-hak asasi manusia. Dalam perspektif ini, Amerika memang adalah sebuah negara imperialis yang datang terlambat dibandingkan dengan negara-negara Eropa pada abad-abad yang silam.

Todd menulis karya After the Empire: The Breakdown of the American Order/terj dari bahasa Prancis oleh C Jon Delogu(London: Constable, 2004). Judulnya sendiri sudah menunjukkan, imperium Amerika sedang berada di ujung tanduk. Fareed Zakaria di bawah judul yang lebih lunak The Post American World (London: Penguin Books, 2008), juga sudah melihat bahwa imperium Amerika akan segera berakhir. Di antara penulis itu, adalah Galtung yang telah mematok tahunnya, yaitu pada 2120, menjadi tahun kejatuhan imperium Amerika dengan buku terbarunya, The Fall of the US Empire-and then What? Successors, Regionalization or Globalization? US Fascism or US Blossoming?
(Oslo: Transcend University Press, 2009).

Francis Fukuyama, yang karyanya akan disinggung sebentar lagi, membaca posisi Amerika sedang berada di persimpangan jalan, sebuah koreksi terhadap karya sebelumnya yang sarat dengan optimisme tentang sistem kapitalisme dan demokrasi liberal. Mohon Tuan dan Puan jangan salah raba.
Yang akan tumbang bukan Republik Amerika, melainkan Amerika Serikat sebagai imperium dengan politik luar negerinya yang imperialistik yang ternyata telah menebarkan kekacauan dan permusuhan di seluruh jagat raya, khususnya sejak pascaPerang Dunia (PD) ke-2.Juga, Tuan dan Puan jangan salah sangka. Semua penulis di atas adalah pencinta Amerika sebagai republik, sebagai bangsa, tetapi pembenci imperium Amerika, terutama terbaca dengan sangat jelas dalam karya Todd dan Galtung. Amerika sebagai bangsa dan negara, menurut para penulis itu, akan tetap utuh, bahkan mungkin semakin jaya karena petualangan politik luar negerinya yang menguras pajak rakyat Amerika itu akan terpaksa dihentikan.

Kita lihat optimisme Fukuyama. Setelah memenangi Perang Dingin dengan keruntuhan Uni Soviet pada 1989/1990, Amerika muncul sebagai satu-satunya adikuasa tanpa lawan yang berarti. Sistem komunisme Uni Soviet berantakan karena pembusukan dari dalam, sedangkan lawannya kubu kapitalisme seolah-olah telah jadi pemenang. Francis Fukuyama, filsuf sosial warga Amerika berdarah Jepang, mengukuhkan kemenangan ini dengan menulis buku The End of History and the Last Man (New York: Avon Books, 1992) yang ramai dibicarakan secara global. Seakan-akan kapitalisme dan demokrasi liberal merupakan puncak peradaban, tidak ada lagi yang unggul dari itu. Itulah capaian tertinggi dari sejarah. Kemudian, mengapa Fukuyama berubah pandangan?Dalam bacaan saya, jawabannya terkait dengan politik luar negeri Amerika yang jingoistik (cinta tanah air yang berlebihan) dan ekspansif. Akibatnya, pada era Presiden Bush terutama, selalu merasa terancam oleh kekuatan luar yang membahayakan negaranya, sesuatu yang sama sekali palsu. George Bush adalah seorang paranoid (hidup dalam ketakutan).

Suasana batin yang labil ini dimanfaatkan secara maksimal oleh gerakan Zionisme, demi eksistensi Israel yang sebenarnya tidak lain ialah sebuah negara teror. Berbeda dengan Todd dan Galtung yang anti-Zionisme, Fukuyama sendiri tampaknya tidak punya nyali yang cukup untuk berbicara terus terang tentang ideologis fasis ini.

Todd sekalipun menghindari menyebut Zionisme, tetapi melihat dengan jelas peran strategisnya dalam mencoraki politik Amerika, dalam dan luar negeri. Todd juga punya perasaan simpati atas nasib rakyat Palestina dalam cengkeraman kolonisasi Yahudi. Kita baca, “Ketidakadilan terhadap rakyat Palestina dari hari ke hari oleh kolonisasi Yahudi atas sisa-sisa tanah mereka dengan sendirinya adalah sebuah penyangkalan terhadap prinsip persamaan, yang menjadi fondasi demokrasi. Bangsa-bangsa demokrasi lain, terutama di Eropa, tidak punya simpati tanpa syarat terhadap Israel seperti yang dirasakan Amerika.” (Todd, hlm 114).

Adalah sebuah keheranan besar, penduduk Yahudi Amerika hanyalah sekitar 2.2 persen (Todd, hlm 115) dari total rakyat Amerika, mengapa perannya demikian menentukan? Dengan runtuhnya imperium Amerika, jawaban terhadap pertanyaan ini akan lebih mudah diperkirakan. Artinya, peta politik global akan berubah secara drastis, dan nasib Israel akan jadi taruhan, karena pelindung utamanya telah menarik diri sebagai sebuah imperium.

Dan, tidak tertutup kemungkinan Palestina akan muncul sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat. Jika ini terjadi, terorisme akan surut secara dramatis dan tiba-tiba, karena raison d'trê (pembenaran eksistensi) utamanya sudah tidak ada lagi. Perasaan aman secara global akan mengikutinya sebab biang kerok kekacauan ini tidak lain dari politik luar negeri Amerika yang paranoid di bawah pengaruh kuat Zionisme, yang memang “bukan bagian dari kemanusiaan”, tulis Gilad Atzmon (lihat Resonansi, 13 Januari 2009 dan 10 Juni 2010). Bagi Galtung, untuk mengakhiri terorisme, akhiri lebih dulu terorisme negara, maksudnya Amerika dan Israel. (Telusuri artikel Galtung dan Dietrich Fischer via Google, 20 September 2002, di bawah judul “To End Terrorism, End State Terrorism”).

Fukuyama yang semula adalah bagian kekuatan neo-konservatif berubah 180 derajat setelah Presiden George Bush menyerang Iraq dan menggantung Saddam Hussein. Maka beberapa tahun kemudian, muncullah buku keduanya di bawah judul "America at the Crossroads: Democracy, Power, and the Neoconservative Legacy" (New Haven-London: Yale University Press, 2006) sebagai ralat terhadap optimismenya yang berlebihan tentang hari depan kapitalisme dan demokrasi liberal.
Jika buku ini ditulis setelah krisis keuangan Amerika tahun 2008, tentu analisis Fukuyama akan lebih tajam lagi. Ternyata kapitalisme dengan doktrin pasar bebasnya punya penyakit kronisnya tersendiri, sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya oleh seorang Milton Friedman (31 Juli 1912-16 Nop. 2006), ekonom pro-pasar, pemenang Hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1976, yang pernah dipuja dunia itu, termasuk oleh pengikutnya di Indonesia.

Karya Fukuyama ini masih perlu kita bicarakan lagi, terutama yang menyangkut isu jihad yang kemudian semakin menyebabkan Presiden George Bush jadi gelap mata untuk menyerang negara-negara yang dikatakan sebagai pusat terorisme dan senjata kimia pemusnah massal, semula Afghanistan kemudian Iraq. Akibat serangan imperialistik itu, dua bangsa Muslim ini berantakan dengan korban jiwa ratusan ribu. Tetapi, akibatnya bagi Amerika tidak kurang fatalnya: mempercepat proses kerontokan imperiumnya yang baru saja mencapai titik puncaknya pada 1991 (Zakaria, hlm 4).Jika ramalan Galtung menjadi kenyataan nanti, daya tahan imperium Amerika hanyalah akan berumur setahun jagung, tidak bisa menandingi imperium Romawi kuno yang berlangsung selama lima abad. Apalagi, jika disandingkan dengan imperium Turki Usmani atau imperium Sriwijaya yang bertahan selama tujuh abad.Menurut Fukuyama, apa yang dikategori kan sebagai jihadisme modern dalam bentuk terorisme tidak ditemukan dalam tradisi asli Islam pada masa awal. Gagasan ini justru ber asal dari Barat untuk menciptakan sebuah doktrin baru yang bersifat universal sebagai sumber identitas dalam konteks dunia multikultural, membuana, modern. Ini merupakan upaya demi mengideologikan agama untuk tujuan politik. Dengan demikian, jihadisme lebih merupakan produk modernisasi, seperti halnya komunisme atau fasisme. Sekali lagi, banyak gagasan yang Islamis bukan datang dari Islam, melainkan justru berasal dari Barat yang dikalungi jubah serba Islam (lih, hlm 72-73).

Joseph E Stiglitz (9 Februari 1943), ekonom Amerika yang juga pemenang Nobel 2001, mengatakan, krisis finansial Amerika itu disebabkan oleh kemunafikan dan ketidak jujuran dalam pengelolaan keuangan. Stiglitz juga mengkritik keras peran IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia dalam memperburuk situasi ekonomi global. Korbannya cukup banyak, khususnya negara-negara berkembang, salah satu nya adalah Indonesia yang diberi resep salah oleh badan-badan keuangan dunia yang tidak lain merupakan perpanjangan tangan kapitalisme.

Apa yang kita kenal dengan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) terhadap bank-bank bermasalah yang sedang kelimpungan akibat krisis 1998 yang kemudian harus ditalangi dengan menguras uang rakyat Indonesia sekitar Rp 650 triliun itu adalah bagian dari resep badan keuangan dunia itu. Masalah dahsyat yang memiskinkan rakyat ini belum menemukan titik terang penyelesaian sampai hari ini. Kembali kepada Fukuyama. Serangan terhadap Irak tersebut, menurut Fukuyama dan beberapa pengamat lainnya, merupakan sebuah kesalahan karena didalangi oleh orang-orang pro-Zionis, misalnya, Paul Wolfowitz, Douglas Feith, dan Richard Perle untuk mengamankan pososi Israel di lingkungan dunia Arab yang memusuhinya. Sebagaimana kita ketahui, Wolfowitz pernah bertugas di Jakarta sebagai dubes Amerika dan banyak memiliki teman di sini.

Argumen yang terpisah atas serangan terha dap Irak dialamatkan kepada Leo Strauss, tokoh neokonservatif yang dijuluki sebagai “a champion of the ‘noble lie’/pelopor dusta yang terhormat”. Baginya, menjadi sebuah kewajiban untuk berdusta terhadap massa karena hanya segelintir elite sajalah yang secara intelektual pantas untuk mengetahui kebenaran. (Fukuyama, America, hlm 12-13). Selintas, mengingat kan kita kepada Adolf Hitler dalam karyanya Mein Kamps (Perjuanganku) yang mengatakan, dusta yang diulang-ulang akan diterima sebagai kebenaran.

Fareed Zakaria yang menghindari terminologi rontoknya imperium Amerika dengan judul bukunya The Post American World (Dunia Pasca- Amerika). Substansinya tidak banyak berbeda. Hanya, Zakaria menambahkan, semuanya itu terjadi karena “the Rise of the Rest” (bangkitnya negara-negara lain, terutama di dunia dagang), seperti Brasil, Meksiko, Korea Selatan, Taiwan, India, Cina, Argentina, Cile, Malaysia, dan Afrika Selatan. Sebagai migran India, Zakaria adalah orang yang menikmati sistem demokrasi Amerika, sesuatu yang sulit ditemukannya di dunia Arab. Dengan menyebarnya kekuatan ekonomi pada berbagai negara, Amerika sudah tidak punya kapasitas lagi untuk mendikte dunia se mau gue, sesuatu yang sangat terasa pada era selama beberapa tahun pas ca-Perang Di ngin.
Sebelum muncul seba gai se buah imperium, Ame rika dulunya, dikutip dari Todd, adalah protektor/pelindung kemudian malah berubah menjadi predator/pe mangsa. “Sekarang, hanya ada satu ancaman terhadap stabilitas dunia yang tak lain adalah Ame rika sendiri ….” (Todd, hlm 191). Pengamat politik global telah memperkirakan, setidaknya, mereka bertahan sampai bangunan imperiumnya roboh dalam tempo yang tak lama lagi.

Keresahan Johan Galtung dan Emmanuel Todd terhadap kelakuan imperium Amerika yang ditunggangi oleh Zionis global itu sebenarnya merupakan keresahan seluruh dunia beradab. Dengan porsi yang hanya 2,2 persen orang Ya hudi di Amerika (tidak semuanya pendukung Zionisme), dalam catatan Galtung, enam perusahaan Yahudi menguasai 96 persen media dan 70 persen profesor pada 20 universitas terpenting Amerika merupakan Yahudi. (Lih, Haarets, 30 April 2012 dan artikel Karin Abraham dalam The Times of Israel, 25 April 2012, berjudul “Jews control media, ‘peace’ professor Galtung claims”).

Akhirnya, saya sungguh berharap, perkiraan Galtung, Todd, dan yang lainnya akan menjadi kenyataan dalam tempo yang tak terlalu lama lagi demi membebaskan bumi dari petualangan politik ekspansif, keonaran, dan ketidaknyaman an oleh ulah imperium yang dikendalikan oleh kelompok minoritas Zionis yang menyatu dengan Israel. Sebagian bangsa Muslim sering menari sesuai dengan irama bunyi genderang yang di tabuh pihak lain.

Read More
posted by : Mubarok institute

Monday, October 08, 2012

Manajemen syahwat
Bagi orang awam syahwat selalu dikonotasikan dengan seks sehingga orang suka malu jika disebut sebagai orang yang besar syahwatnya. Sesungguhnya syahwat merupakan salah satu subsistem dalam sistem kejiwaan (sistem nafsani) manusia, bersama dengan akal, hati, dan hati nurani. Syahwat itu bersifat fitrah, manusiawi, normal, tidak tercela, bahkan dibutuhkan keberadaannya, sebab jika seseorang sudah tidak memiliki syahwat pasti ia tidak lagi memiliki semangat hidup. Yang diperlakukan adalah kemampuan meminij syahwat sehingga ia terkendali dan menjadi penggerak tingkahlaku secara proporsional. Memang syahwat yang tidak terkendali dapat berubah menjadi hawa (menurut bahasa Indonesia hawa nafsu) yang bersifat destruktip.

Pengertian Syahwat
       Kalimat syahwat berasal dari bahasa Arab syahiya-syaha yasyha - syahwatan, secara lughawi (bahasa) syahwat berarti menyukai dan menyenangi. Sedangkan definisi syahwat adalah ke­cenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya;, dalam bahasa Arab : nuzu' an nafs ila ma turiduhu. Dalam al Qur'an, kata syahwat terkadang dimaksudkan untuk obyek yang diinginkan, tapi di ayat yang lain digunakan untuk menyebut potensi keinginan manusia. Syahwat digunakan al Qur'an untuk menyebut hal-hal yang berhubungan dengan syahwat seksual, (Q/7:81, Q/27:55), berhubungan dengan mengikuti pendapat orang secara membabibuta (Q/4:27) dan berhubungan dengan keinginan manusia terhadap kelezatan serta kesenangan (Q/3:14, Q/19:59). Salah satu ayat yang menyebut adanya syahwat pada manusia adalah sbb (terjemahannya).
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). (Q/3:14)
       Ayat tersebut di atas menyebut syahwat sebagai potensi keinginan manusia. Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan kesenangan kepada wanita/lawan jenis (seksual), anak-anak (kebanggaan), harta kekayaan (kebanggaan, kesombongan dan kemanfaatan), kendaraan yang bagus (kebanggaan, ke­nyamanan dan kemanfaatan), binatang ternak (kesenangan dan kemanfaatan), dan sawah ladang (kesenangan, kemanfaatan). Dengan demikian maka kecenderungan manusia kepada kesenangan seksual, harta benda dan kenyamanan, menurut al Qur'an adalah manusiawi.
Jika manusia  memperoleh hal-hal tersebut di atas merasa senang, maka sebaliknya kegagalan dalam memperolehnya bagi orang yang sangat menginginkan adalah suatu penderitaan, apalagi jika apa yang sudah dimiliki dan sedang dinikmati tiba-tiba hilang dari tangannya. Bagi orang yang kapasitas jiwanya kecil, tidak terpenuhinya dorongan syahwat dapat menggerakkan perilaku menyimpang.

Watak Syahwat
       Karena syahwat merupakan fitrah manusia dan manusia merasa indah jika syahwatnya terpenuhi maka syahwat menjadi penggerak tingkah laku. Jika seseorang sedang lapar atau haus maka tingkahlakunya selalu mengarah kepada tempat dimana dapat diperoleh makanan dan minuman. Jika yang sedang dominan syahwat seksual maka perilakunya juga selalu mengarah kepada hal-hal yang memberi kepuasan seksual. Begitulah seterusnya, perilaku manusia sangat dpengaruhi oleh syahwat apa yang sedang dominant dalam dirinya; syahwat seksual, syahwat politik, syahwat pemilikan, syahwat kenyamanan, syahwat harga diri , syahwat kelezatan dan lain-lainnya.. Syahwat itu wataknya seperti anak-anak, jika dilepas maka ia akan melakukan apa saja tanpa kendali, karena anak-anak hanya mengikuti dorongan kepuasan, belum mengerti tanggung jawab.Jika dididik, maka jangankan anak-anak. Binatangpun tingkahlakunya bisa dikendalikan. Syahwat yang dimanjakan akan mendorong orang  pada pola hidup glamour dan hedonis.

Mengendalikan syahwat
       Dalam agama Budha dikenal adanya ajaran bagaimana mengendalikan syahwat dengan konsep samsara. Rumusannya adalah sebagai berikut:
(1)    Hidup adalah samsara (B.Indonesia: sengsara,/penderitaan),
(2)    Samsara disebabkan karena adanya keinginan.
(3)    untuk menghilangkan samsara dilakukan dengan cara meng­hilangkan keinginan,
(4)    dan untuk menghilangkan keinginan harus mengikuti metode delapan jalan kebenaran, yaitu ; pengertian yang benar, pikiran yang benar, ucapan yang benar, berbuatan yang benar, mata pencaharian yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar dan semedi (perenungan) yang benar.)
       Sedangkan dalam Islam metode pengendalikan syahwat, dilakukan secara sistemik dalam ajaran yang terkemas dalam syari`ah dan akhlak.

1.    Pengendalian syahwat seksual dilakukan dengan anjuran menikah, menutup aurat tubuh, larangan pergaulan bebas antar jenis, dan “puasa” (puasa mata, telinga dan perut). Hidup melajang tidak direkomendasi meski hak azasi
2.    Pengendalian syahwat perut dilakukan dengan anjuran; jangan makan kecuali lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, disamping puasa wajib dan puasa sunat
3.    Pengendalian syahwat kekayaan dilakukan dengan pola hidup sederhana dan kewajiban membayar zakat, dan anjuran infaq dan sadaqah. Sederhana tidak identik dengan miskin, sederhana adalah mengkonsumsi sesuai dengan standar kebutuhan universal. Jadi orang boleh punya sebanyak-banyaknya tetapi yang dikonsumsi (makanan, pakaian, kendaraan, rumah dsb) adalah sekedar yang dibutuhkan menurut standar kebutuhan uversal. Banyak orang kaya hidupnya sederhana dan tak jarang orang miskin hidup bermewah-mewah.
4.    Syahwat politk dikendalikan dengan penekanan bahwa pada hakikatnya seorang pemimpin adalah pelayan dari orang banyak yang dipimpin (sayyid al qaum khodimuhum). Politik adalah medan pengabdian, pemimpin adalah pejuang yang berpegang pada prinsip untuk memberi perlindungan dan kesejahteraan orang banyak yang dipimpin.
5.     Syahwat gengsi dikendlikan dengan kesadaran akan fungsi, bahwa mobil adalah alat transportasi, pakaian adalah pelindung badan dan penutup aurat, rumah adalah tempat tinggal dan istirahat, harta adalah alat untuk menggapai keutamaan.

Syahwat dan Hawa Nafsu
       Orang tertarik kepada lawan jenis dalah wajar dan tidak tercela. Jika ia men follow up i dengan pendekatan , melamar dan menikah maka itu menjadi keutamaan, menjadi ibadah dan berpahala. Tetapi jika men follow up i dengan merayu, menipu dan memperkosanya atau berzina, maka syahwat itu sudah berubah menjadi apa yang dalam al Qur’an disebut hawa, yang dalam bahasa Indonesia menjadi hawa nafsu.
Demikian juga orang boleh ingin terkenal, ingin jadi bupati, anggauta DPR atau bahkan ingin jadi presiden, itu semua adalah syahwat politik yang wajar, manusiawi, dan tidak tercela. Demikian juga orang yang ingin menjadi milyader atau konglomerat, adalah wajar-wajar saja. Dorongan syahwat jika diikuti dengan tetap memperhatikan nilai-nilai moral, maka ia bernilai positip. Nah jika dorongan syahwat dituruti tanpa kendali moral, maka ia berubah menjadi dorongan hawa nafsu yang bersifat destruktip. Ingin kaya dengan cara korupsi atau menipu, ingin menjadi pejabat dengan cara menyuap, nah itu semua ujungnya pasti destruktip.
Watak Hawa nafsu
       Syahwat yang terkendali oleh akal sehat dan hati yang bersih, apalagi jika juga didasarkan nurani yang tajam, maka syahwat berfungsi sebagai penggerak tingkah laku atau motif dan menyuburkan motivasi kearah keutamaan hidup. Dalam kondisi demikian syahwat seperti energi yang selalu menggerakkan mesin untuk tepap hidup dan hangat. Keseimbangan itu menjadikan orang mampu menekan dorongan syahwat pada saatnya harus ditekan (seperti rem mobil), dan memberinya hak sesuai dengan kadar yang dibutuhkan.
       Sedangkan hawa nafsu memiliki tabiat menuntut pemuasan seketika tanpa mempedulikan dampak bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Begitu kuatnya dorongan hawa nafsu, maka al Qur’an mengibaratkan kedudukan hawa nafsu bagi orang yang tidak mampu mengendalikannya seperti tuhan yang harus disembah (ittakhodza ilahahu hawahu). Pengabdi hawa nafsu akan menuruti apapun perilaku yang harus dikerjakan, betapapun itu menjijikkan. Jika orang memanjakan syahwat dapat terjerumus pada glamourism dan hedonis, maka orang yang selalu mengikuti dorongan hawa nafsunya pasti akan terjerumus pada kesesatan, kejahatan dan kenistaan. Wallohu a`lamu bissawab.







Read More
posted by : Mubarok institute
Internasionalisasi Kajian Islam Indonesia
REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Azyumardi Azra

Bagaimana Kajian Islam (Islamic Studies) pada tingkat global dewasa ini? Berbagai kejadian sejak peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat, kemudian pengeboman di London, Madrid, Bali, dan seterusnya meningkatkan mispersepsi dan distorsi di kalangan masyarakat Barat terhadap Islam dan masyarakat Muslim.

Kedua entitas ini sering dipandang masyarakat Barat sebagai entitas yang mengandung potensi kekerasan yang bisa meledak sewaktu-waktu, bukan hanya di AS dan Eropa, tetapi juga bahkan di negara-negara Muslim sendiri.

Perkembangan tidak menyenangkan ini mendorong banyak kalangan universitas dan pusat kajian Islam pada tingkat internasional untuk melihat kembali keadaan kajian Islam dalam rangka memberikan perspektif lebih akurat tentang Islam dan masyarakat Muslim.

Dalam konteks itu, terlihat relevansi pokok simposium tentang The State of Islamic Studies' yang diselenggarakan Consortium of Humanities Centers and Institutes (CHCI) yang berpusat di Duke University, AS, bekerja sama dengan Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS), Oxford, Inggris, pada 26-28 September 2012 lalu.

Pembahasan tentang keadaan Kajian Islam terutama dilihat dari perspektif perkembangan ilmu-ilmu humaniora (humanities), seperti sejarah, teologi, kajian agama (religious studies), literatur dan sastra, dan antropologi. Ilmu-ilmu humaniora sendiri juga mengalami banyak perkembangan paradigma dan praktik, khususnya karena meningkatnya interaksi dan adopsi paradigma yang berkembang pula dalam ilmu-ilmu sosial, seperti ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik.

Hasilnya, berbagai perkembangan dalam ilmu-ilmu humaniora ini membuka peluang besar untuk lebih memaju - kan kajian Islam, baik pada tingkatan normatif --teologis dan praktik ritual-- maupun pada tingkatan tradisi dan pengalaman historis, wacana, dan realitas masyarakat-masyarakat Muslim.

Adopsi berbagai perkembangan humaniora mengharuskan adanya kajian ulang terhadap paradigma dan praktik Kajian Islam yang sebenarnya sejak awal 1980-an, di berbagai tempat di Barat dan juga di Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Korea, misalnya, mengalami banyak perkembangan signifikan.

Di Dunia Barat, pergeseran paradigma dimulai dengan penerbitan buku karya Edward Said, Orientalism (1978), tokoh Palestina yang sekaligus guru besar di Columbia University New York yang membongkar `kebusukan' motif, paradigma, dan praktik orientalisme dalam Kajian Islam. Singkatnya, Kajian Islam yang dilakukan para orientalis dimotivasi berbagai kepentingan kolonialisme, misionaris - meKristen, dan hegemoni budaya.

Walhasil, sejak awal 1980-an itu pula, istilah `orientalisme' kian jarang digunakan di kalangan para ahli dan pengkaji Islam. Hal ini tidak lain karena ia mengandung konotasi pejoratif. Banyak kalangan Barat yang mengkaji Islam kemudian lebih senang disebut sebagai Islamisis' daripada `orientalis'.

Bagi saya, paradigma dan praktik kajian Islam di berbagai negara dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kecenderungan utama. Pertama, kajian Islam di Barat pascaorientalisme yang menggunakan banyak paradigma humaniora dan ilmu sosial yang umumnya kritis-analitis.

Meski tidak lagi bersifat orientalistis, kajian Islam di Barat --seperti juga terungkap dalam Simposium Oxford-- cenderung mengabaikan sensitivitas normativisme keagamaan dan spiritualitas. Karena itulah dalam Simposium Oxford, nyaring suara tentang perlunyanya para Islamisis Barat untuk juga mempertimbangkan sensitivitas normatisme keagamaan Islam dan kaum Muslimin.

Kedua, kajian Islam di Dunia Arab yang di dominasi paradigma teologis normatif doktrinal dengan cenderung mengabaikan paradigma humaniora dan ilmu sosial. Karena itu, kajian Islam di Dunia Arab umumnya lebih bertumpu pada pengungkapan normativisme Islam dalam bidang kalam, tafsir, hadis, fikih dan seterusnya. Pada saat yang sama, pendekatan analitis-kritis cenderung tidak digunakan. Meski demikian, untuk kajian Islam normatif, universitas di dunia Arab tetap merupakan lokus pokok.

Ketiga, kajian Islam di Indonesia yang mengombinasikan antara kerangka teologis normatif dengan paradigma humaniora dan ilmu sosial. Kajian Islam yang bersifat normatif tetap menduduki tempat penting, misalnya, dalam lembaga pendidikan semacam UIN/IAIN/STAIN, PTN, dan PTS serta lembaga-lembaga riset. Namun, pada saat yang sama, berbagai paradigma hu maniora dan ilmu sosial --yang diperlakukan secara kritis-- sejak awal 1970-an kian banyak pula diterapkan. Sebab itu, kajian Islam di Indonesia tidak terperangkap belaka ke dalam normativisme agama --yang tentu saja juga penting-- pada tingkatan teologis-doktrinal, sekaligus juga melihat dinamika Islam historis, yang hidup dalam lingkungan masyarakat Muslim tertentu.

Dengan demikian, Kajian Islam di Indonesia memiliki distingsinya sendiri, yang sekaligus menjadi kekuatannya. Tetapi sayang, distingsi kajian Islam di Indonesia itu tidak banyak diketahui kalangan Barat dan Timur Tengah. Hal ini terkait dengan masih adanya sisa anggapan tentang identikasi Islam dengan Arab. Karena itu pula, kajian Islam di Indonesia masih cenderung diabaikan. Padahal, kajian Islam di Indonesia melibatkan sistem pendidikan tinggi Islam yang terbesar di muka bumi ini, seperti diwakili UIN/IAIN/STAIN dan PTAIS.

Berkaca pada kondisi tersebut, masih banyak hal yang harus dilakukan para pemikir dan praktisi kajian Islam di Indonesia. Tantangan mereka bukan hanya lebih memajukan Kajian Islam di negeri ini, tetapi sekaligus juga lebih memperkenalkannya ke dunia internasional. Sebab itu pula, internasionalisasi Kajian Islam Indonesia merupakan urgensi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Read More
posted by : Mubarok institute

Friday, September 28, 2012

Krisis Ekonomi Politik Eropa
REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Azyumardi Azra

Berulang kali bolak-balik ke berbagai negara Eropa sejak pertengahan 1990-an, barulah dalam dua tahun terakhir ini saya menyaksikan dan mengalami sendiri krisis keuangan dan ekonomi euro zone. Kian parah lagi, krisis dalam bidang tersebut dengan segera mengalir ke dalam krisis sosial-politik.
Kemerosotan ekonomi terjadi di hampir seluruh negara di kawasan Eropa Selatan, mulai dari Yunani, Italia, Spanyol, dan Portugal.

Sementara kawasan Eropa Utara, Jerman, negara-negara Skandinavia seperti Swedia, Norwegia, Finlandia, lalu Belanda dan Belgia terlihat belum turut terlanda krisis ekonomi.
Karena itu negara-negara ini, khususnya Jerman, menjadi pihak yang memberikan paling banyak talangan (bail out) bagi Yunani dan Spanyol agar krisis tidak menyebar ke Eropa Utara atau dunia secara keseluruhan.

Tetapi, bayang- bayang krisis ekonomi tetap menghantui negara-negara Eropa Utara.
Karena itu, di kalangan masyarakat negara-negara tersebut belakangan ini muncul dan menguat sikap antiimigran, khususnya Muslim dan gypsies dari Eropa Timur. Keadaan ini segera memberikan momentum bangkitnya partai-partai ultra kanan di berbagai negara Eropa.

Di tengah belum terlihatnya tanda perbaikan ekonomi di Eropa Selatan, kalangan masyarakat di Eropa Utara kian kritis dan makin enggan membantu. Dalam beberapa percakapan dengan sejumlah warga Belanda dan Jerman, saya menemukan nada kejengkel an mereka terhadap warga Yunani, misalnya. Mereka menganggap orang Yunani lebih ba nyak santai daripada bekerja keras. Tetapi, dengan gaya hidup santai itu masyarakat Yunani justru menikmati gaji, tunjangan, dan insentif lebih besar.Karena itu, banyak kalangan warga Belanda dan Jerman komplain, "Kita bekerja keras dan membayar pajak. Tidak fair kalau dana pajak kita digunakan untuk mem-bail out negara yang masyarakatnya enggan bekerja keras." Profesor Paul Nieuwenburg dari Universitas Leiden seperti dikutip koran International Herald Tribune(12/9/2012) membenarkan meluasnya sentimen itu di kalangan warga Belanda, "Euroskeptisisme terus menguat dan di kalangan warga juga meningkat sentimen bahwa kami membayar pajak dan mereka tidak".

Friksi, fragmentasi, dan bahkan separatisme kembali menguat di Eropa --mengingatkan `perang' politik dan agama di antara negara-negara Eropa pada abad pertengahan dan pramodern. Bahkan, juga membangkitkan ingatan pada disintegrasi Uni Soviet dan Eropa Timur pada 1990-an.

Krisis ekonomi dan sosial dewasa ini mem- berikan momentum bagi kebangkitan kembali separatisme Catalunia --kawasan timur laut Spanyol dengan Barcelona yang sekaligus menjadi episentrum politik, sosial, budaya, dan sekaligus sepak bola. Kini kian banyak warga Catalan yang tidak lagi betah berada dalam kesatuan dengan Spanyol.

Gejala ini tecermin, misalnya, dari perubahan sikap Jordi Pujol, presiden Generalitat yang menguasai pemerintahan Catalan antara 1980- 2003. Selama berkuasa, Pujol merupa kan pemimpin paling aktif menentang separatisme Catalunia dan menekankan kesatuan de ngan negara Spanyol. Dalam wawancara dengan Financial Times, London (12 September 2012), Pujol menegaskan, ia kini tidak lagi punya argumen tersisa menolak kemerdekaan Catalunia.Spanyol bertanggung jawab atas krisis sekarang, "Sehingga membuat Catalunia menderita dan karena itu kami tidak lagi bisa terus menerima keadaan se perti ini".

Meningkatnya kembali separatisme Catalunia sebenarnya sudah terlihat sejak akhir tahun lalu.
Dalam pembicaraan saya dengan beberapa figur pemerintahan Spanyol di Madrid pada November 2011 terlihat kecemasan yang kian meningkat terhadap gejala kembali menguatnya separatisme Catalunia.

Beberapa polling sepanjang 2012 ini mengungkapkan, mayoritas warga Catalunia ingin kemerdekaan dari Spanyol. Pengungkapan sentimen ini mencapai puncaknya dalam rapat akbar warga Catalunia memperingati `Diada' hari nasional Catalunia pada 11 September 2012. Tidak kurang terdapat baner yang berbunyi: "Catalunia: Sebuah Negara Baru di Eropa".

Hikmah apa yang bisa diambil Indonesia dari perkembangan yang tidak menggembirakan di banyak negara Eropa tersebut? Indonesia belum menunjukkan tanda krisis ekonomi, meski terdapat gejala menurunnya pertumbuhan ekonomi karena merosotnya ekspor --tetapi sebaliknya impor masih terus meningkat. Pelambatan pertumbuhan di Cina dan India serta berlanjutnya krisis keuangan dan ekonomi di Eropa dan belum membaiknya ekonomi AS, bisa membuat Indonesia terkena im basnya.Menyimak berbagai keadaan tidak kondusif itu, pemerintahan Presiden SBY sepatutnya melakukan antisipasi secara lebih fokus dan serius. Terlalu banyak energi dihabiskan pada kontestasi politik, termasuk ancang-ancang menuju Pemilu 2014 yang bisa mengakibatkan kegagalan pemerintah memberikan respons yang tepat terhadap krisis ekonomi dan politik pada tingkat internasional tadi, sehingga mendorong kian menguatnya kejengkelan sosial di kalangan warga yang bisa meledak sewaktu- waktu.


Read More
posted by : Mubarok institute
Kelatenan Terorisme
Republika.co.id 
Oleh: Azyumardi Azra


Terorisme masih laten di negeri ini, seperti terlihat dari penyergapan di Solo dan Depok da lam pekan terakhir Agustus dan awal September 2012. Polisi bahkan juga menduga ledakan besar yang terjadi di Beji, Depok, akhir pekan lalu ter kait dengan Thoriq, seorang terduga teroris yang buron pascapenyergapan Solo.

Korban nyawa kembali jatuh; dua terduga teroris yang masih muda, Farhan dan Mukhlis yang berusia 19 tahun. Tewas pula Briptu Suherman dalam baku tembak di Solo. Polisi kemudian menyergap anak muda lain, Bayu Setiono, di Karanganyar, Jawa Tengah, dan Firman di Depok. Menurut Bayu Setiono, dari enam komplotan Solo, lima adalah alumni Pondok al- Mukmin Ngruki, Solo.
Kasus-kasus terakhir ini selain menunjukkan terus latennya terorisme di Indonesia sekaligus memperlihatkan terjadinya regenerasi sel-sel teror. Jelas kelihatan, mereka yang ter duga dan terkait dengan aksi terorisme ini kian berusia muda-rata-rata ber umur anak tamatan SMA/MA. Mereka ini bisa dipastikan memiliki sema ngat bernyala-nyala yang dapat diarahkan kalangan lebih tua untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, yang mereka sendiri sangat boleh jadi tidak paham sepenuhnya. Cuci otak dan indoktrinasi akhirnya membuat mereka rela mengorbankan nyawa milik paling berharga setiap anak manusia.

Karena itu, jika ada pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian anak-anak muda itu adalah kalangan guru, ustaz, murabbi, atau kiai mereka yang menanamkan pemahaman jihad yang keliru kepada murid-murid mereka. Jelas pula, kalangan pengajar ini tidak sanggup melakukan terorisme dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebaliknya, justru anak anak muda yang masih naif dalam hal kompleksitas ideologis keagamaan dan politis yang mereka asung membunuh orang lain sekaligus diri mereka sendiri.

Terorisme tetap menjadi laten jika tetap ada kalangan pengajar di lembaga pendidikan mana pun yang memendam dan mengajarkan ideologi kemarahan, kebencian, dan dendam kepada pihak lain, seperti aparat kepolisian—khususnya Densus 88—lingkungan pejabat negara dan boleh jadi juga kalangan umat Muslimin arus utama. Selama ideologi seperti masih diajarkan melalui pencucian otak, indoktrinasi, dan rezimentasi, selama itu pula warga Indonesia lain yang cinta damai harus hidup di tengah ancaman terorisme yang dapat muncul sewaktu-waktu kapan Memang tidak pada tempatnya mengaitkan lembaga pendidikan tertentu, semacam Pesantren Ngruki, dengan aksi-aksi teror yang dilakukan sejumlah alumninya. Apalagi, mengaitkannnya dengan seluruh pesantren di Tanah Air, yang jumlahnya lebih daripada 20.000. Tetapi, jika ada lembaga pendidikan yang satu demi satu alumninya masih saja terkait dengan aksi kekerasan dan terorisme, wajar belaka jika ada ka langan mempertanyakan tentang apa yang sebenarnya yang diajarkan kepada para murid.

Sangat boleh jadi, kurikulum yang digunakan lembaga pendidikan tersebut adalah kurikulum yang ditetapkan Kemdikbud dan Kemenag. Karena itu, secara formal tidak ada yang salah de ngan kurikulum lembaga pendidikan bersang kutan dan ketika diselidiki, instansi pendidikan berwenang tidak menemukan penyimpangan dalam kurikulum.

Masalahnya kemudian, proses pendidikan dan pembelajaran juga melibatkan “kurikulum tersembunyi” (hidden curri culum) dengan muatan tertentu—termasuk ideologi kekerasan keagamaan—yang bisa disampaikan kalangan guru atau ustaz tertentu. Sering pula hidden curriculum itu masuk melalui kegiatan “ekskul” OSIS atau rohis yang ada di lembaga pendidikan.

Karena itu, pihak-pi hak yang bertanggung jawab dalam proses pendidikan dan pembelajaran—dalam hal Kemdikbud dan Kemenag—semestinya berusaha memantau hidden curriculum tersebut. Jika melakukan pemantauan dan bahkan penelitian terhadap proses pendidikan dan pembelajaran di lembaga pendidikan manapun, sepatutnya mereka tidak berhenti hanya pada penerapan kurikulum formal be laka. Mereka harus bergerak lebih jauh dengan menyelidiki “kurikulum tersembunyi” yang disampaikan kepada para murid.Lebih daripada itu, sepatutnya pula para penanggung jawab pendidikan di negeri ini menatar kembali para pimpinan lembaga pendidikan dan para guru dengan subjek-subjek penting menyangkut negara, bangsa, dan agama. Ditengah kebebasan informasi dan pertarungan ideologis yang ditandai meningkatnya intrusi dan infiltrasi berbagai corak paham dan gerakan transnasional, penataran semacam itu dapat memberikan perspektif lebih jelas tentang kebangsaan, agama, kedamaian, dan peradaban.

Pendidikan merupakan satu-satunya cara untuk melahirkan generasi muda yang mencintai negara-bangsanya dan juga agamanya. Pendidikan juga merupakan sarana paling strategis untuk membangun generasi muda yang berilmu, beriptek, beriman, beramal, dan berakhlak mulia. Melalui pendidikanlah dapat dibangun peradaban bangsa lebih maju. Karena itu, jika ada kalangan yang terus menerapkan kurikulum tersembunyi dengan muatan ideologi kebencian dan kemarahan, yang menjadi korban bukan hanya kalangan generasi muda bangsa, tetapi sekaligus peradaban dan kemanusiaan.

Read More
posted by : Mubarok institute

Tuesday, May 01, 2012

Jeffrey Lang: Profesor Matematika itu Menjadi Pribadi yang Baik Berkat Shalat
 REPUBLIKA.CO.ID,
Atas seluruh rangkaian perjalanannya, Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya pada Islam. Ia percaya Tuhan berada dekat dengannya dan selalu mengarahkan hidupnya. “Aku tahu Ia menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun Ia juga tetap meninggalkan pilihan yang krusial.

Setelah berislam, profesor Matematika University of Kansas itu menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim Amerika Serikat. Buku-buku itu, Struggling to Surrender (1994); Even Angels Ask (1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (2004), berisi pengalaman dan pemikirannya tentang Islam. Selain itu, Jeffrey juga kerap menjadi pembicara dalam konferensi Islam.

Menikahi seorang wanita Arab, Jeffrey dikaruniai tiga orang anak—Jameela, Sarah, dan Fattin—yang mewarisi kekritisannya. “Kini aku harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti yang kulontarkan pada ayah dulu,” katanya.

Suatu hari, seperti ditulisnya dalam salah satu bukunya, usai shalat Ashar bersama putri sulungnya yang berusia delapan tahun, Jeffrey disodori sebuah pertanyaan yang mengejutkannya, “Ayah, mengapa kita shalat?”

“Karena Tuhan menginginkannya,” jawab Jeffrey, yang disambut Jameela dengan satu pertanyaan lain, “Tapi, apa manfaat dari shalat?”

Jeffrey menjawabnya dengan uraian yang ditulisnya secara lengkap dalam bukunya Even Angels Ask. Ia berkata, “Tuhan adalah sumber dari segala bentuk kasih sayang, kebaikan, dan kearifan yang kita alami dan rasakan, seperti matahari yang menjadi sumber cahaya pada siang hari,” ujar Jeffrey mengawali penjelasannya.

“Kasih sayang yang ayah rasakan padamu, adik-adikmu, dan ibumu adalah pemberian Tuhan. Kita tahu Tuhan itu baik dan murah hati dengan semua yang diberikan-Nya pada kita. Jika kita shalat, kita tidak hanya tahu namun juga merasakan kasih sayang, kebaikan, dan kemurahan Tuhan itu, dengan cara yang istimewa.”

“Apakah shalat membuatmu menjadi ayah yang baik?” tanya putrinya lagi.

“Ayah harap begitu, karena ketika kamu mendapat sentuhan kasih sayang dan kebaikan Tuhan lewat shalat, itu terasa sangat indah dan kuat hingga kamu merasa perlu membaginya pada orang-orang di sekitarmu, terutama keluargamu. Ketika ayah pulang kerja dan merasa sangat lelah, ayah ingin menyendiri untuk beristirahat.”

“Ketika ayah merasakan kasih sayang Tuhan dalam shalat, ayah akan segera teringat bahwa kalian adalah pemberian istimewa Tuhan bagi ayah, bahwa ayah mendapatkan kebahagiaan dengan menjadi ayah kalian dan suami ibu kalian. Ayah yakin ayah tidak akan menjadi ayah yang baik tanpa shalat,” Jeffrey mengakhiri penjelasannya yang disambut pelukan Jameelah. “Aku sayang ayah,” katanya.

Read More
posted by : Mubarok institute
Jeffrey Lang: Takjub dengan Alquran, Profesor Matematika itu Memeluk Islam
REPUBLIKA.CO.ID, Senin, 30 April 2012
 Oleh: Devi Anggraini Oktavika

Sikap kritisnya terhadap logika keberadaan Tuhan membawanyanya pada atheisme di usia remaja. Namun, kekalahan logikanya oleh Alquran sepuluh tahun kemudian membimbing profesor Matematika ini pada Islam, agama yang pernah hadir dalam mimpinya.
"Ayah, apakah surga itu benar-benar ada?" Jeffrey Lang kecil bertanya kepada ayahnya saat berjalan-jalan bersama anjing peliharaannya di pantai, sekitar 50 tahun lalu.

Kini, Jeffrey adalah seorang profesor Matematika yang memperoleh gelar master dan doktor dari Purdue University, West Lafayette, Indiana pada 1981. Pertanyaan yang pernah dilontarkannya saat masih kanak-kanak itu kini terjawab sudah. Dosen dan peneliti di Universitas Kansas Amerika Serikat ini menemukannya dalam Islam, 32 tahun lalu.

Lahir pada 30 Januari 1954 di Bridgeport, Connecticut, Jeffrey dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan Katolik Roma. Selama 18 tahun pertama dalam hidupnya, ia belajar di sekolah-sekolah Katolik, di mana ia bertemu pendeta dan teman-teman dari latar belakang agama yang sama.

Hidup di lingkungan Katolik tak begitu saja menjadikan Jeffrey seorang pemeluk agama yang taat. Sikap kritis yang dimilikinya sejak kecil justru menjauhkannya dari agama keluarganya itu. Diskusi-diskusi yang dibangunnya dengan orang tua, pendeta sekolah, dan teman-teman sekolahnya tak pernah berhasil menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Tuhan.

“Pada masa itu, aku sudah mulai banyak bertanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik secara politik, sosial, maupun keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan untuk memperdebatkan hal itu, termasuk dengan pemuka gereja Katolik,’’ tulisnya dalam salah satu buku tentang perjalanannya menemukan Islam.

Menjelang kelulusannya dari sekolah Notre Dam Boys High, saat usianya 18 tahun, Jeffrey merasa kebuntuan logika tentang Tuhan hanya menyisakan satu pilihan baginya; menjadi atheis. Sang ayah yang marah dengan pilihan Jeffrey berkata, "Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey."

Ucapan ayahnya benar-benar terjadi. Jeffrey tertunduk dan bersimpuh di hadapan Tuhan pada suatu malam, dalam sebuah mimpi.

Dalam mimpinya, Jeffrey berada di dalam sebuah ruangan kecil yang tenang dan hening. “Tak ada perabot apapun, tidak juga hiasan apapun di dindingnya yang berwarna putih keabuan. Hanya ada karpet bermotif dengan warna dominan merah dan putih menutupi lantai ruangan,” katanya.

Jeffrey menambahkan, dirinya tak sendiri di dalam ruangan itu. Ia dan beberapa orang lainnya berada dalam beberapa barisan. “Aku ada di barisan ketiga. Tak ada perempuan di sana, hanya laki-laki. Kami semua duduk di atas tumit-tumit kami, menghadap sebuah jendela kecil yang membawa cahaya yang terang benderang ke dalam ruangan.”

Jeffrey merasa asing karena tak mengenal siapapun, namun melakukan gerakan ruku’ dan sujud bersama dan seirama. “Tenang sekali, seolah seluruh suara dimatikan,” katanya. Masih dalam mimpinya, di tengah keheningan itu, Jeffrey tersadar bahwa mereka dipimpin seseorang yang berdiri paling depan di bagian tengah ruangan. “Ia berada di sisi kiriku, tepat di tengah ruangan, terpisah dari barisan.”

“Aku hanya sempat melihatnya sekilas, pria itu memakai jubah panjang putih. Di kepalanya terdapat sebuah kain putih dengan motif merah. Saat itulah aku terbangun dari mimpiku.”

Mimpi itu berulang kali menghampiri Jeffrey di sepanjang 10 tahun kehidupan tanpa Tuhan yang dijalaninya. Karena sama sekali tak mengerti, Jeffrey mengabaikannya. Hanya saja, satu hal yang tak dilupakan Jeffrey, “Aku selalu merasa nyaman setiap terbangun dari mimpi aneh itu.”

                                                                       ***

Sepuluh tahun kemudian, di hari pertamanya mengajar di University of San Fransisco, Jeffrey bertemu seorang mahasiswa Muslim di kelas Matematika yang diampunya. Dalam rentang waktu yang cukup singkat, Jeffrey telah menjalin pertemanan dengan mahasiswa Muslim itu, juga keluarganya. Keduanya sering berbincang dan berdiskusi, namun tak pernah membahas soal agama.

Hingga pada suatu waktu, salah seorang keluarga mahasiswa Muslim itu memberi Jeffrey sebuah salinan Alquran. Karena tak sedang mencari agama, dan sebagai seorang ateis, Jeffrey membacanya dengan berbagai prasangka di otaknya.

Jeffrey pun segera terlibat dalam apa yang disebutnya pergulatan. “Alquran menyerangku secara langsung dan personal, mengkritik, mempermalukan, dan menantangku. Sejak awal, kitab itu menorehkan garis peperangan, dan aku berada di wilayah yang berseberangan,” katanya.

“Anda tidak bisa hanya membaca Alquran. Tidak akan bisa jika Anda melakukannya dengan serius. Pilihannya (ketika Anda membaca Alquran) adalah, pertama, Anda telah menyerah padanya atau, kedua, Anda menantangnya.”

Jeffrey kewalahan. Ia kebingungan. “Aku menderita kekalahan parah. Karena saat membacanya, sangat jelas kurasakan bahwa Penulisnya (Allah SWT) mengetahui tentangku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri,” ujarnya takjub.

Ketakjuban itu bertambah. Ketika Jeffrey memunculkan pertanyaan dan sanggahan baru dalam otaknya setiap selesai membaca Alquran hingga bagian tertentu, ia segera memperoleh jawabannya saat meneruskan bacaannya. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku.”

“Alquran selalu berada jauh di depan pemikiranku. Ia menghapus rintangan yang telah kubangun bertahun-tahun lalu dan menjawab semua pertanyaanku,” katanya. Semakin keras ia mencoba melawan dengan sanggahan dan pertanyaan, semakin jelas ia memperoleh kekalahan dalam pergulatan itu. “Aku dituntun ke sebuah sudut di mana hanya ada satu pilihan.”

                                                                        ***

Tahun 1982, Jeffrey mendapati sejumlah kecil mahasiswa Muslim memanfaatkan sebuah ruangan kecil di basement gereja untuk shalat. Ia memberanikan diri mengunjungi tempat itu pada suatu hari. Setelah beberapa jam di ruangan kecil itu, Jeffrey keluar dengan sebuah identitas baru; Muslim.

Ia telah bersyahadat di sana, beberapa saat menjelang tengah hari. Memasuki waktu Dzuhur ia berbaur dan berdiri dalam barisan bersama para mahasiswa, dipimpin seorang bernama Ghassan. Jeffrey menunaikan shalat pertamanya.

Jeffrey terlarut dalam setiap gerakan shalat yang diikutinya. Saat menyelesaikan gerakan sujud dan melakukan duduk iftirasy, Jeffrey melihat ke arah depan dan melihat Ghassan. “Ia berada di sisi kiriku, di tengah-tengah di depan sana, di bawah jendela yang menghujani ruangan dengan cahaya. Ia terpisah dari barisan, mengenakan jubah putih, dengan selendang putih bermotif merah di kepalanya.”

“Mimpi itu!,” teriaknya dalam hati. Setelah berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia tak sedang bermimpi, Jeffrey disergap rasa hangat yang mendamaikan hatinya.

Ia berlutut dengan kening menyentuh lantai. Bagian tertinggi raganya yang penuh dengan berbagai pengetahuan dan intelektualitas berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT. Pipi Jeffrey basah oleh air mata.

Read More
posted by : Mubarok institute

Monday, March 26, 2012

Anggito Abimanyu Berbicara tentang BBM
Ahad lalu beredar pesan yang mencengangkan melalui layanan pesan  singkat (SMS dan BlackBerry Messenger) bahwa pemerintah dikatakan melakukan manipulasi adanya dana surplus atas operasi minyak dan gas. Pesan yang disebarluaskan melalui jejaring sosial tersebut juga menyebutkan, pemerintah tidak transparan dan menyembunyikan surplus serta dikatakan APBN tidak jebol dan dengan demikian harga BBM tidak perlu dinaikkan.Hal yang membuat saya tertegun dan terperanjat ialah analisis perhitungan dengan kesimpulan tersebut tertulis dilakukan oleh Kwik Kian Gie dan saya, Anggito Abimanyu. Sontak banyak pertanyaan tertuju kepada saya mengenai kebenaran pesan tersebut.Jawaban saya sangat tegas dan lugas. Pertama, tidak benar saya berkolaborasi dengan Kwik Kian Gie (KKG).Dan kedua, juga tidak benar pernyataan bahwa pemerintah melakukan manipulasi dan menyembunyikan dana atas hasil operasi migas.

Meskipun sudah berada di luar pemerintahan, saya dapat bersaksi tentang tidak adanya dana surplus migas yang dimanipulasi dan disembunyikan. Seluruh dana yang terkumpul melalui pajak, bukan pajak, royalti, baik migas maupun nonmigas, dan pendapatan lainnya serta dana yang berasal dari utang dan pembiayaan nonutang dicatat dan disimpan di kas negara, dibicarakan secara transparan dalam proses APBN, dan dipertanggungjawabkan melalui auditor eksternal, yakni Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Pertemuan saya terakhir dengan KKG terjadi pada acara live "Kabar Petang" dan "Jakarta Lawyers Club (JLC)", keduanya di TVOne kira-kira 10 dan 14 hari yang lalu. KKG seperti biasanya menyampaikan hasil analisis yang menyimpulkan bahwa APBN memperoleh surplus/ sisa uang tunai atas operasi migas meskipun harga BBM tidak dinaikkan. Perhitungan operasi migas dituangkan dalam sembilan butir analisis, mulai dari hasil penjualan BBM Premium oleh Perta mina, kemudian pengeluaran Pertamina, kekurangan uang Pertamina yang diistilahkan subsidi dari pemerintah, serta kesimpulan adanya kelebihan uang dalam APBN 2012 sebesar Rp 97,955 triliun.


Menurut KKG, "Ini arti nya APBN tidak jebol. Justru yang jadi pertanyaan, di mana sisa uang keuntungan SBY menjual BBM sebesar Rp 97,955 triliun? Kesimpul an sisa uang keuntungan SBY menjual BBM sebesar ...." Itu sangat bernada provokatif dan sama sekali tidak ber dasar karena surplus mi gas sudah terjadi sejak zaman pemerintahan Orde Baru, pemerintahan Gus Dur, Mega wati, hingga SBY dan hingga kini tidak berubah.Dalam acara JLC, KKG membandingkan hasil perhitungannya dengan lembar analisis net impact (surplus) migas yang saya lakukan secara terpisah yang ternyata angkanya mirip, yakni Rp 97,6 triliun. Saya mengguna kan metode perhitungan ang garan yang lazim digunakan dalam perhitungan fiskal di internal pemerintah maupun dengan DPR.


Dalam kedua kesempatan live di TVOne tersebut, saya tidak membantah hasil perhitungan KKG yang menyata kan telah terjadi surplus ope rasi migas. Saya menggunakan metode perhitungan
surplus, yakni selisih antara penerimaan migas (penerimaan negara bukan pajak/ PNBP) dikurangi dengan subsidi BBM. Namun, penjelasan mengenai surplus migas perlu diberikan catatan tambahan, yakni, pertama, angka surplus tersebut semakin kecil apabila harga minyak dunia meningkat karena status Indonesia sebagai net importir migas.Kedua, surplus tersebut telah dimanfaatkan untuk membayar gaji PNS, belanja barang, belanja infrastruktur, belanja kemiskinan dan lain-lain, tidak ada uang sisa, bahkan APBN kita mengalami defisit.Dengan kata lain, surplus hanya terjadi pada sektor migas. Apabila ditambah belanja dana bagi hasil migas dan subsidi listrik, dalam RAPBN Perubahan 2012 telah terjadi defisit.Tuduhan mengenai adanya manipulasi dan penyembunyian dana surplus migas sangat tidak beralasan. Selama 10 tahun saya mengelola APBN (2000-2010), seluruh besaran pokok APBN telah termuat dalam nota keuangan dan dibahas bersama dengan DPR secara detail dan transparan. Sektor migas merupakan sektor yang dibahas paling intensif melibatkan Komisi VII yang membawahkan energi dan sumber daya alam dan badan (dahulu panitia) anggaran.Pemerintah dan BPK juga membahas kebenaran pelaksanaan angka-angka realisasi meliputi penerimaan migas, baik pajak maupun PNB, ter masuk cost-recovery, dan subsidi BBM. Jika terdapat manipulasi angka, bahkan uang yang tidak disetor ke kas negara, pasti akan menjadi temuan BPK.
Jadi, di mana letak manipulasi dan penyembunyian dana surplus migas tersebut?Perhitungan penerimaan migas menggunakan asumsi dasar, yakni harga minyak dan gas dunia, lifting minyak dan gas, juga nilai tukar. Sementara perhitungan subsidi BBM menggunakan asumsi volume BBM bersubsidi, selisih harga antara harga keekonomian (dihitung dengan referensi harga BBM di Singapura plus alpha, biaya distribusi, dan margin) dengan harga di tingkat SPBU. Jika terdapat perbedaan dalam realisasi itu karena deviasi antara asumsi atau rencana dan realisasi, dan bukan merupakan unsur manipulasi. Deviasi terjadi karena rencananya bisa jadi terlalu optimistis atau pesimistis dan realisasinya justru sebaliknya.


Adanya faktor internal (kebijakan energi, perkembangan ekonomi, dan sosial dalam negeri) serta eksternal (perkembangan dunia, harga minyak, pasar dunia) yang menyebabkan adanya deviasi dalam realisasi tersebut. Halhal tersebut dibicarakan bersama DPR dan dipertanggungjawabkan melalui hasil audit untuk kemudian dibahas bersama DPR pula.Setuju kenaikan harga BBM Sejak awal 2011, saya juga sudah menyatakan per setujuan adanya kenaikan harga BBM bersubsidi dengan tujuan, pertama, menghemat anggaran. Kedua, mendorong alternatif bahan bakar gas (BBG) yang murah dan ramah lingkungan. Ketiga, mengantisipasi adanya kenaikan harga minyak dunia. Dalam studi UGM, UI, dan ITB pada 2011 telah diusulkan adanya kenaikan BBM bertahap sebesar Rp 500 pada 2011 dan 2012 supaya tidak memberatkan masyarakat.


Pada 2011, harga keekonomian BBM baru mencapai sekitar Rp 7.000 per liter, jadi subsidi per liter adalah Rp 3.500 per liter. Sementara, sekarang harga keekonomian Premium sudah berada di atas Rp 9.000 per liter, maka dengan harga Premium di tingkat SPBU Rp 4.500 terjadi subsidi sebesar minimal Rp 4.500 per liter. Apabila volume konsumsi Premium bersubsidi 40 juta kiloliter, besaran subsidi Premium menjadi Rp 4.500 x 40 juta kiloliter atau sebesar Rp 180 triliun. Kalau harga BBM dinaikkan Rp 1.000 per liter,penghematan yang terjadi adalah Rp 1.000 x 40 juta kiloliter, yakni sebesar Rp 40 triliun atau Rp 30 triliun dalam sembilan bulan tahun 2012. Jika sesuai dengan usulan pemerintah Rp 1.500, penghematan tahun 2012 adalah sekitar Rp 45 triliun. Dana tersebut direncanakan untuk membiayai kompensasi kenaikan harga BBM kepada 18,5 juta rumah tangga (RT) sebesar Rp 25,6 triliun selama sembilan bulan. Dan, tiap RT mendapat Rp 150 ribu per bulan sehingga dapat diman faat kan untuk mempertahan kan tingkat kehidupannya.


Menurut perhitungan sa ya, kenaikan yang wajar ada lah Rp 1.000 per liter dengan alasan daya beli dan menjaga momentum pertumbuhan seperti yang telah saya sampaikan di berbagai peristiwa.Persoalannya apakah kenaikan Rp 1.500 atau Rp 1.000 lebih merupakan perdebatan substansi, dampak penghematan APBN, kemampuan daya beli rumah tangga, insentif BBG, dan keseluruhan tujuan kebijakan itu sendiri.Apakah APBN akan jebol jika tidak ada kenaikan harga BBM? Jawabannya bergantung pada cara apa yang dilakukan untuk menutup tam bahan subsidi BBM tersebut.Kenaikan harga BBM jelas akan mengurangi subsidi BBM dan menolong APBN. Cara lain adalah memotong anggaran yang merugikan ekspansi perekonomian atau menambah utang berarti akan memberikan beban pa da generasi yang akan datang.


Selama tidak ada tuduhan manipulasi dan penyeleweng an, perdebatan mengenai pi lihan kebijakan tersebut ada lah sesuatu yang sehat karena keduanya memiliki tujuan kesejahteraan masyarakat.Adanya fitnah dan tuduhan tak berdasar tersebut bukan merupakan tujuan kita ber negara yang demokratis dan menjunjung asas kesantunan dan saling menghormati.

Read More
posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Consultation

Name :
Web URL :
Message :



Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger