Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Monday, July 31, 2006

Perekat Tali Perkawinan
at 7:13 PM 
Untuk memperoleh sakinah atau ketentraman dalam hidup pernikahan, dua orang pasangan suami isteri itu harus bisa menyatu dalam satu ikatan. Menurut al Qur’an surat ar Rum diatas, tali temali perekat pernikahan itu adalah mawaddah dan rahmah, cinta dan kasih sayang. Yang ideal adalah jika antara suami dan isteri diikat oleh perasaan mawaddah dan rahmah sekaligus. Dalam bahasa Arab, mawaddah mengandung arti kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Jadi cinta mawaddah adalah perasaan yang mendalam, luas, dan bersih dari pikiran serta kehendak buruk. Sedangkan rahmah mengandung pengertian dorongan psikologis untuk melindungi orang yang tak berdaya.Rumah tangga yang direkat oleh mawaddah dan rahmah adalah pasangan dimana masing-masing secara naluriah memiliki gelora cinta mendalam untuk memiliki, tapi juga memiliki perasaan iba dan sayang dimana masing-masing terpanggil untuk berkorban dan melindungi pasangannya dari segala hal yang tidak disukainya.

Mawaddah dan rahmah itu sangat ideal.Artinya sungguh betapa bahagianya jika pasangan rumah tangga itu diikat oleh mawaddah dan rahmah sekaligus. Sesuatu yang ideal biasanya jarang terjadi. Bagimana jika tidak? Seandainya mawaddahnya putus, perasaan cintanya tidak lagi bergelora, asal masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu masih terpelihara dengan baik. Betapa banyak suami isteri yang sebenarnya kurang dilandasi oleh cinta membara, tetapi karena masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu tetap berjalan baik dan melahirkan generasi yang terpuji. Rahmah yang terpelihara pada akhirnya memang benar-benar mendatangkan rahmat Tuhan berupa mawaddah.

Di samping mawaddah dan rahmah, Nabi menggaris bawahi dengan pernyataan bahwa pernikahan adalah amanah. Kata Nabi wa akhaztumuhunna bi amanatillah, artinya: Kalian mengambil pasanganmu sebagai isteri (atau suami) adalah berdasar amanah Allah.

Dalam Al Qur’an, amanah diterangkan oleh para ahli tafsir sekurang-kurangnya mengandung tiga arti, yaitu: (1) titipan, (2) tanggung jawab, dan (3) kepatuhan kepada hukum Allah. Amanah mengandung arti tanggungjawab dengan berlaku adil dan rationil seraya menyadari implikasi dan konsekwensi dari apa yang dilakukannya.
Isteri adalah amanah Allah kepada suami, suami adalah amanah Allah kepada isteri. Keduanya harus komit kepada hak dan kewajibannya serta menyadari implikasi dan konsekwensi dari apa yang mereka lakukan. Kasus-kasus buruk dalam keluarga pada umumnya bersumber dari tidak dihiraukannya amanah ini.

Cinta adalah salah satu sifat Tuhan yang maha Agung, oleh karena itu juga di dalamnya, di dalam cinta ada keagungan, keagungan cinta. Manusia diperintahkan untuk meniru akhlak Tuhan. Dalam hal cinta, orang yang memiliki perasaan cinta dan bisa mencintai adalah manusia yang mulia. Namun cinta itu bertingkat-tingkat. Menurut Imam al Ghazali, ada empat tingkatan kualitas cinta:
1. Ada orang yang hanya mencintai diri sendiri, cinta diri. Segala ukuran kebaikan hanya diukur dengan kepentingan dirinya. Ini adalah cinta yang paling rendah kualitasnya.

2. Ada orang yang mencintai orang lain sepanjang orang itu membawa keuntungan bagi dirinya. Jika keuntungan dari cinta itu sudah tidak ada maka cintanyapun putus. Cinta tingkat ini adalah cinta pedagang, cinta transaksional.

3. Ada orang yang mencintai orang baik, meski ia tidak diuntungkan sedikitpun dari orang yang dicintainya itu. Cinta tingkat ini sudah termasuk cinta yang agung.

4. Ada orang yang mencintai kebaikan murni terlepas dari siapapun yang memiliki kebaikan itu. Cinta tingkat ini adalah yang tertinggi, dan merekalah yang dapat mencintai Tuhan, karena Tuhan itu adalah kebaikan an sich.
posted by : Mubarok institute

Blogger arek kerapu said.. :

Bapak, saya ingin menyampaikan tausiah sehubungan jawaban atas penanya ketika menanyakan seorang istri yang dikutuk oleh malaikat karena menolak ajakan suami.

Bukankah ini berasal dari hadist Nabi: Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu berkata bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam : Apabila seorang istri bermalam meninggalkan atau menjauhi tempat tidur suaminya, maka malaikat akan mengutuknya sampai pagi (no hadits 815, riwayat Bukhori).

Apalagi yang perlu ditaujih oleh Bapak ketika hadits ini menyatakan demikian?

Yang kedua, pernyataan bapak bahwa jihad hawa nafsu termasuk jihad akbar, maka perkataan ini berasal dari hadits palsu, Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadist diatas adalah merupakan pernyataan
seseorang bernama Ibrahim bin abdullah dan diaku-akui sebagai hadist nabi.

Mudah-mudahan Bapak lebih berhati-hati dalam memberikan jawaban-jawaban, sehingga tidak terancam berdusta atas nama Nabi.

8:56 PM  
Blogger Mubarok institute said.. :

terima kasih atas taushiyah anda, kita memang perlu saling mengingatkan dan saling belajar. Orang memahami agama ada yang tektual, ada yang substansial, ada yang logik, ada yang filosofis, ada yang afektip. angka seribu malaikat itu bukan angka matematis, karena pada masa itu angka seribu adalah angka yang banyak menurut persepsi waktu itu, sekarang angka seribu sudah menjadi sedikit, karena orang sudah biasa mwenyebut angka sejuta dan semilyard. Keterangan hadis sangat banyak, sepertinya ada yang saling bertentangan, padahal sesunggguhnya memang ada wilayah pemahaman, bukan bertentangan. Oleh karena itu moralitas agama lebih menekankan pada rendah hati, merasa kecil, tidak merasa benar sendiri, dan percaya kepada keluasan rahmat Nya serta ampunan Nya.

10:06 PM  

Post a Comment

Home

My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger