Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Sunday, August 27, 2006

Pandangan Islam Tentang Sikap Fanatik
at 7:58 PM 
Sejarah Islam kaya dengan pengalaman pahit yang disebabkan oleh perilaku fanatik yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam. Pada zaman klassik, aliran Khawarij dapat disebut sebagai awal mulanya lahir kelompok fanatik. Logika berfikir faham Khawarij yang menyesatkan itu antara lain bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar hukumnya kafir, dan orang kafir halal dibunuh. Dengan logika fanatik demikian maka banyak terjadi korban pembunuhan dengan atas nama agama.

Pada zaman modern sekarang, kelompok-kelompok fanatik juga banyak dijumpai, terutama di kalangan kaum muda. Ciri mereka antara lain mereka merasa benar sendiri sehingga merasa tidak sah makmum salat kepada orang lain diluar kelompoknya, tidak mau mendengarkan nasehat dan bahkan tidak bisa mengormati kepada orang lain yang di luar kelompoknya meskipun ayah ibunya, gurunya dan sebagainya. Ada contoh menarik dimana sekelompok mahasiswa sebuah perguruan tinggi meninggalkan dosen yang sedang mengajar di kelas menuju ke masjid kampus untuk salat Ashar begitu azan terdengar. Kebetulan dosen yang mengajar seorang Nasrani, dan dosen tersebut melaporkan perilaku mahasiswa tersebut ke Dekan . Ketika mereka ditegur oleh Dekan bahwa tindakan mereka tidak etis mereka menjawab bahwa panggilan Allah (untuk salat) tidak bisa dikalahkan oleh panggilan manusia (dosen).

Saya oleh dekan diminta menjadi pengajar agama Islam dengan pesan khusus bagaimana meredam sikap fanatic mahasiswa. Al hamdulillah, satu semester, dengan dialog dan contoh-contoh empiric ada juga hasilnya, yakni ada sedikit perubahan.
Di antara butir-butir ajaran Islam menyangkut sikap fanatik adalah sebagai berikut :
1. Alqur'an mengisyaratkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk membanggakan apa yang ada pada mereka.


artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kamu kepadaKU. (52) Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul) menjadikan agama mereka terpecah-pecah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing) (53) Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan nya sampai suatu waktu (54). (Surat Al Mu'minun, 52-54)

2. Alqur'an banyak sekali mengingatkan manusia agar menggunakan akalnya, dan diingatkan agar tidak mengikuti pandangan yang mengabdi kepada hawa nafsu.
Afala ta`qilun? artinya: Apakah kamu tidak berakal? Afala tatafakkarun? Apakah kamu tidak berfikir? Apakah kamu tidak merenungkan ...?

3. Bahwa beragama artinya juga hidup dengan menggunakan akal karena agama itu sendiri didesain untuk manusia yang berakal. Oleh karena itu orang yang tidak berakal tidak terkena kewajiban agama.
Addinu huwa al`aqlu la dina liman la `aqla lahu artinya: Agama adalah akal, maka tidak ada agama bagi orang yang tidak menggunakan akal.

4. Bahwa bersikukuh dengan pandangan yang diyakini seraya menutup diri dari pandangan lain (yang justeru mungkin lebih benar) adalah perbuatan sesat, yang dalam al Qur'an disebut sebagai mengikuti hawa nafsu, yakni kecenderungan memenuhi dorongan keinginan untuk kesenangan jangka pendek, bukan untuk mencari kebenaran (yang pada mulanya mungkin terasa pahit).

artinya: Katakanlah; Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammmad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (al Maidah, 77)
Pada akhirnya orang yang secara membabi buta membela sesuatu tanpa melihat duduk soal dan benar salahnya masalah yang dibela akan terjerumus pada perbuatan konyol dan sia-sia, meskipun boleh jadi apa yang dilakukanya itu didorong oleh rasa cintanya yang mendalam terhadap sesuatu yang dibela itu. Imam Gazali dalam Ihya Ulumuddin membagi cinta kepada empat kualitas:
(a). Cinta diri. Pencinta ini melihat segala sesuatu hanya dengan satu ukuran atau satu kaca mata, yaitu dari kepuasan diri sendiri.

(b). Cinta kepada orang lain sepanjang orang lain memberi keuntungan kepadanya. Cinta kelas ini seperti cintanya pedagang kepada pembeli, cinta transaksional.

(c). Cinta kepada orang baik, meskipun yang dicintainya itu tidak memberikan apapun kepadanya., seperti cinta kepada Nabi, ulama dan pemimpin

(d). Cinta kepada kebaikan sich, terlepas dari siapa pemilik kebaikan itu.

Dalam perspektip ini, maka sikap fanatik mudah timbul pada orang dengan kategori pertama. Dari cinta diri (narcisme) dapat berkembang menjadi cinta kelompok in group dan selanjutnya bisa menjelma menjadi fanatik etnik. Sebaliknya cinta dalam kategori ke tiga dan ke empat akan mengantarkan orang pada cinta kepada manusia dan cinta kepada Tuhan.

Nabi mengingatkan bahwa barang siapa yang mati karena membela sesuatu secara fanatik buta (mata `ala `asabiyyah) maka ia masuk neraka. Termasuk ke dalam kelompok ini barangkali adalah orang yang berani mati hanya untuk partai dan bentrokan kampanye pemilihan umum, atau pilkada padahal mereka sendiri tidak tahu apa hakikat yang dibela.

posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger