Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Friday, February 20, 2009

Fatsun Politik (1)
at 12:23 AM 
Manusia adalah makhluk politik (zon politicon). Ia memiliki tabiat suka bekerjasama dan bersaing sekaligus. Dalam bekerjasamapun manusia sambil bersaing satu sama lain.Dalam bersaing ada yang fair dan ada yang tidak fair. Persaingan politik pada umumnya lebih menggoda untuk tidak fair karena politik lebih dekat ke syahwat dibanding ke hati nurani. Bahkan partai yang sudah menamakan dirinya Partai Hati Nuranipun tetap lebih didominir oleh syahwat politik dibanding nurani politik. Nurani dan syahwat politik merupakan ekpressi kekhalifahan manusia.

Secara vertical manusia memang memiliki dua dimensi, hamba Alloh dan khalifah (wakil) Nya. Sebagaihamba manusia adalah kecil tak berarti, tetapi sebagai khalifah Nya, manusia memiliki kebesaran luar biasa karena yang diwakili adalah Tuhan Yang maha Besar. Sebagai khalifah manusia diberi kekuasaan untuk menegakkan kebenaran seperti yang diajarkan Tuhan. Hanya saja tak selamanya nurani manusia berfungsi.Nurani dari kata nur artinya cahaya, jadi nurani adalah cahaya ketuhanan yang ditempatkan di dalamhati manusia, oleh karena itu nurani selalu konsisten dengan kebenaran ketika ia berfungsi optimal. Cahaya nurani tidakberfungsi ketika tertutup oleh keserakahan dan maksiat. Ketika nurani (cahaya) mati maka hati menjadi gelap, dan perilaku orang seperti dalam kegelapan,; salah langkah,salah ambil,salah naroh dan salah pandang.

Menurut epistimologi Islam, ilmu politik (`ilm assiyasah) berada dibawah ilmu teologi (`ilm ushuluddin). Maknanya kekuasaan politik harus dijalankan seperti Tuhan berkuasa. Di satu sisi Tuhan adalah Maha Kuasa, tetapi di sisi yang lain,Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Menejemen dari dua sisi ektrim itu adalah keadilan,dan Tuhan adalah Maha Adil. Nah fatsun politik yang benar adalah manakala insane politik tetap konsisten bersikap dan bertindak adil, yakni menempatkan segala sesuatu pada proporsinya,tidak memutar balik, tidak berlebihan.

Sesungguhnya politik itu memiliki tiga dimensi; ilmu, game dan seni. Ilmu politik bisa melahirkan konstitusi, peraturan dan struktur yang logic. Game politik membuat persaingan politk menjadi meriah, menggairahkan, kalah menang menjadi sesuatu yang biasa. Seni politik membuat perkelahian sekalipun indah dirasa dan indah ditonton.

Fatsun Politik Pemimpin Kita

Perjalanan sejarah bangsa, disadari atau tidak telah membentuk warna dan corak perilaku politik para pemimpin. Penjajahan Belanda ratusan tahun disamping melahirkan sifat kepahlawanan,juga melahirkan sifat pengkhianatan dan dendam. Revolusi 45 telah melahirkan sifat anarkis. Periode Sukarno sedikit menyuburkan nasionalisme, periode panjang Suharto menanamkan sikap kepura-puraan.Nah kesemuanya itu tumpah ruah pada era reformasi yang digelar bersamaan dengan proses globalisasi . Perilaku politik para pemimpin bangsa mencerminkan gabungan dari sifat-sifat itu, dendam,khianat,anarki dan pura-pura.

Pada periode akhir masa penjajahan, para pemimpin generasi kebangkitan nasional banyak sekali mereka yang memiliki integritas tinggi sebagai pejuang. Pada awal Republik ini, tokoh-tokoh se angkatan Moh Natsir juga menunjukkan integritas yang tinggi sebagai pemimpin sehingga dalam konflikpun mereka menjaga fatsun politiknya sebagai negarawan. Pada periodePakHarto selama 30 tahun,karena PakHarto terlalu kuat dan tidak mau disaingi maka terjadilah loss generation. Tokoh-tokoh muda yang berbakat menjadi pemimpin nasional dikandangin di ”ruang isolasi”, ada yang di parlemen, ada yang di kabinet, tetapi semuanya berada di bawah bayang-bayang Suharto. Yang berani nentang sedikit seperti kelompok petisi 50 ditaroh di kandang yang berbeda. Ali Sadikin mestinya berbakat jadi Presiden, tetapi ia tak pernah berkesempatan untukbersaing. Apalagi tokoh-tokoh muda, mereka terlena dalam seakan-akan.

Dampak dari lost generation itusangat terasa ketika bangsa membutuhkan hadirnya pemimpin besar. Pasca Suharto kita tidak punya orang. Stok pemimpin yang ada hanya yang pas-pasan sebagai pemimpin kelompok. Anggaplah,SBY adalah yang terbaik diantara yang pas-pasan itu, tetapi SBY harus berhadapan dengan ekpetasi masyarakat yang sangat tinggi, sementara problem yang ditinggalkan oleh Pak Harto menumpuk dan membelit hingga hampir-hampir tidak ada teori yang bisa digunakan sebagai problem solving secara tepat. Sementara itu pesaing pak SBY yang sesungguhnya lebih pas-pasan berkoar-koar mengkritik tetapi juga tidak mampu mengajukan resep tandingan. Tanpa disadari,anarki bukan hanya di lakukan dijalanan,

MPR pun melakukan amandemen yang anarkis, dialog antar elit juga anarkis,bahkan takbir pun anarkis. Mestinya takbir adalah kalimat suci yang hanya diucapkan pada saat puncak emosi secara vertikal (kepada Tuhan). Nah untuk merobohkan pintu gerbang DPR ketika demopun disertai dengan pekik takbir. Masyaallooooh, astaghfirulloooh. Melihat daftar nama caleg 2009 dari semua partai , hati lebih miris, karena tokoh yang berintegritas diri tinggi sulit sekali di jumpai dari mereka... Saya tidakbisamembayangkan progres lima tahunan 2009, 2014, 2019,karena sesungguhnya bangsa ini butuh konsep untuk 50 – 100 tahun ke depan. Kita sudah melakukan moratorium amandemen, tapi kita tidak boleh stagnant, maka kita harus berani melakukan Restorasi Indonesia, yang lama tapi baik kita pelihara, dan kita hanya mau menerima yang baru dari luar apa yang sudah teruji lebih baik. Almuhafadzatu `ala al qadim assalih, wa al’akhdzu biljadid al-ashlah. Kata ideologi NU.
posted by : Mubarok institute

Anonymous Saka said.. :

Sy jd ingat guru agama sy pernah bercerita kisah tentang pembelengguan iblis selama 1000 thn dan pelepasan iblis selama 1000 thn. Jika menyimak dari tulisan bapak, iseng2 sy berpikir jd era demokrasi sekarang ini adl termasuk yg mana? Dg kata lain,
Demokrasi = iblis dibelenggu (kah?) (krn kita bisa bebas berdemokrasi)
atau
Demokrasi = iblis dilepas (kah?) (krn keadaan malah semakin "kacau")

Lalu sampai kapan kita akan memasuki usia dewasa dalam berdemokrasi? Namun apakah ada usia "dewasa" dalam kehidupan berdemokrasi? Atau apakah demokrasi seyogyanya hanya suatu sistem ke"kanak"2an yg (justru) menciptakan kekacauan? Lalu apakah demokrasi Indonesia suatu ketika akan serta merta berhenti pd saat kita telah menemukan seorang "pemimpin super"? Ataukah warisan pemikiran tentang (atas nama) demokrasi itu sendiri yg pd akhirnya akan menjatuhkan kembali Indonesia dalam kekacauan yang tak berujung?

Sy sangat berharap "pemimpin super" itu kelak akan tersedia utk Indonesia. Semoga saja Tuhan memanjangkan tangan'Nya kepada sosok yg benar2 membawa perubahan signifikan pd Indonesia. Jika ternyata sosok itu adl Pa SBY, semoga Tuhan senantiasa menjaga dia dan orang2 yg dicintainya agar cinta itu lantas tertular pd Indonesia.

Sekedar saran ttg "pengaturan" integritas, sepertinya kita membutuhkan suatu sistem baku yg bs "menjaga" integritas. Contoh :

MEREVISI SUMPAH JABATAN

Sepertinya kalimat "Sumpah Demi Tuhan" sudah tidak menakutkan bagi sebagian orang..

Bagaimana jika sebagai kata penutup di akhir pembacaan sumpah, ditambahkan kalimat :

"Celaka'lah bagi orang-orang yang saya cintai jika saya melanggar sumpah saya"
"Celaka'lah bagi orang-orang yang saya cintai jika saya melanggar sumpah saya"
"Celaka'lah bagi orang-orang yang saya cintai jika saya melanggar sumpah saya"
"Celaka'lah bagi orang-orang yang saya cintai jika saya melanggar sumpah saya"
"Celaka'lah bagi orang-orang yang saya cintai jika saya melanggar sumpah saya"

Secara spontan kita langsung menerawang membayangkan orang-orang yang kita cintai.. (?)

Seperti apa bangsa ini kedepannya?

Namun apa jadinya jika kita lupa akan Sumpah ini? Ya jangan sampai lupa. Saling mengingat'kan, atau mengingat'kan diri sendiri dengan cara penempelan tulisan-tulisan bernada mengingat'kan disekeliling kita, seperti di gedung rapat, di kantor, di mobil, bahkan di handphone, laptop, dll. Sepertinya cara ini cukup bagus sebagai benteng diri. Insya ALLAH..

Jika kelak sumpah ini diberlakukan, akan tercipta suatu iklim pemerintahan yg membuat keberadaan Tuhan akan sangat nyata dirasakan di Bumi Indonesia. Tuhan tidak tidur, DIA Maha Mendengar Doa kita, DIA Maha Mendengar Sumpah kita. Jika ada manusia yg masih melanggar akan sumpah ini, mungkin hukuman Tuhan tidak terjadi secara instan, malah mungkin saja dia masih bisa lolos dari jeratan hukum negara, namun jika hukuman Tuhan akan sumpah ini akhirnya tiba, haqqul yakin si pelanggar akan lebih memilih mati daripada hidup dalam beban rasa bersalah yg begitu dahsyat menghantui setiap hembusan nafasnya..

Terdapat salah satu sifat Tuhan yang sepertinya tidak begitu populer, namun jika disadari benar, sesungguhnya kita berada di dimensi paling nyata dalam sifat ini. Bahkan sangat begitu nyata dalam kehidupan kita, yakni Maha Sabar. Contoh paling mudah untuk memahaminya adalah : pada saat kita luput dari hukuman atas keburukan/kejahatan (kecil) yang kita lakukan, yang mana kita sangat tahu bahwa seharusnya kita mendapat hukuman atas perbuatan itu.. Ke'Sabar'an Tuhan menginginkan kita tidak mengulangi perbuatan tersebut, namun yang sering kali terjadi malah justru kita mengulanginya lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi bahkan lebih berani dengan skala perbuatan buruk yang lebih besar, sehingga pada akhirnya yang terjadi adalah...kita terhukum oleh kebodohan kita sendiri..

Adapun maksud sesungguhnya dari posting ini adalah
sekedar mengingatkan bahwa tidak perlu berbuat jahat
untuk mencapai suatu kepuasan krn dg kejujuran pun
kebahagiaan justru bisa tercapai dengan lebih klimax..

Jika seandainya usul ini smpai ke DPR, apakah mereka akan mau mengesahkannya?
Jika seandainya hal ini telah di sah kan, apakah akan mampu meredam penyimpangan2 yg terjadi?
atau'kah "sabodo teuing" (masa bodoh)?

Main2 jg ke blog sy ya Pa. Salam sukses..

Terimakasih. Tuhan memberkati Indonesia. Salam..

:)

http://www.san9saka.blogspot.com/

12:53 PM  
Anonymous Syam Jr said.. :

Loyalitas JK Terhadap Pemilihnya Sebagai Fatsun Politik.

Setelah sekian lama JK dengan gigih mempertahankan loyalitas kepada rakyat pemilihnya dengan cara tidak menyatakan diri bersedia maju sebagai Capres Partai Golkar, akhirnya tembok fatsun politiknya jebol juga. Sungguh berat mengambil keputusan dibawah tekanan antara loyal kepada Partai Golkar atau tetap loyal kepada pemilihnya. Sunguh berat untuk bertahan pada prinsip " My loyality to my party will end when my loyality to my my country begin" - John Fitzgerald Kennedy.

Keyakinan dan kesadaran penuh untuk tetap berada dalam koridor konstitusi UUD 1945 dalam konteks sebagai incumbent maka loyalitas terhadap pemilihnya merupakan fatsun politik, Mengapa? sebab konstitusi menyatakan bahwa : Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. Demikian tercantum pada Bab II pasal 6A ayat 1 Undang Undang Dasar 1945.

Saya yakin itulah dasar pemikiran JK, mengapa beliau selama ini bertahan untuk tidak menyatakan dengan tegas bersedia maju sebagai Capres 2009. Samar samar diungkapkan dengan retorika bahwa Capres Partai Golkar akan ditentukan setelah pemilu legislatif. Latar belakang pertimbangan ini yang tidak banyak dipahami secara luas bahkan oleh kader Partai Golkar sendiri, karena diliputi oleh kecemasan dan ambisi para caleg untuk memenangkan Pemilu Legislatif 2009

Sekarang era keterbukaan, mengapa pendirian prinsip loyalitas kepada pemilihnya itu tidak dinyatakan saja secara tegas kepada publik?

Satu hal harus diingat dan diperhatikan bahwa SBY telah menyatakan bersedia maju sebagai Capres Partai Demokrat. Akan sangat kontradiktif seandainya JK mengatakan bahwa dia memegang fatsun politiknya karena tunduk kepada konstitusi. Pernyataan itu langsung menghancurkan kesatuan SBY-JK sebagai pemegang mandat mayoritas kedaulatan rakyat. Jalannya pemerintahan akan langsung amburadul karena perpecahan. Rakyat menjadi korban.

Pasangan Presiden dan Wakil Presiden yang mengemban mandat karena dipilih secara langsung oleh rakyat pada Pilpres 2004 yaitu SBY-JK sejatinya mengakhiri loyaltas kepada Partai Demokrat yang mengusungnya. Demikian juga terhadap JK kepada Patai Golkar dalam hal mana beliau baru menjadi Ketua Umum melalui Munas Bali, justeru setelah dia terpilih menjadi Wapres.

Memang ada argumentasi bahwa SBY maupun JK harus loyal kepada partainya karena dia dipilih oleh pendukung partai. Faktanya tidak demikian karena hasil Pemilu Legislatif 2004, Partai Demokrat, perolehan suaranya kecil yaitu hanya 7,45% atau cuma rangking ke 7 dari tujuh partai teratas. Atau Kepada Partai Golkar dengan pendukung 21,58% suara. Orang dengan mudah melupakan bahwa pasangan SBY-JK dipilih dengan mayoritas signifikan sebesar 60.62% atau 69.226.350 suara sah rakyat Indonesia.

Tapi begitulah dunia politik mengkondisikan bahwa bangsa ini terus menerus "belajar berdemokrasi" sebagai suatu idiom politik sebagaimana dimasa Bung Karno dengan istilah "Revolusi Belum Selesai", dimasa Pak Harto " Pembangunan Berkesinambungan" dan entah apalagi pada perubahan mendatang.

2:14 AM  

Post a Comment

Home

My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger