Wednesday, April 14, 2010
Infrastruktur Kepribadian I
1.Pengetahuan tentang nilai
Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jika sesorang memiliki nilai kapasitas yang seimbang dari ketiga aspek tersebut, maka secara teori ia dapat hidup harmoni dengan lingkungan dan dengan dirinya karena ia mampu mengamati dan merespon permasalahan secara benar dan proporsional. Jadi pengetahuan tentang nilai akhlak itu sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan kepribadian terutama bagi anak yang memiliki fitrah bawaan yang baik. Pengetahuan tentang nilai-nilai akhlak bisa disampaikan; (a) oleh orang tua di rumah, sejak dini, melalui dongeng sebelum tidur, kemudian melalui nasehat rutin, nasehat khusus sehubungan dengan event-event penting, misalnya ketika akan berangkat merantau, ketika dalam proses memilih jodoh, ketika memulai hidup rumah tangga, ketika menduduki suatu jabatan dan sebagainya, (b) oleh guru sekolah, berupa pelajaran ilmu akhlak atau budi pekerti, meski pada umumnya lebih pada aspek kognitif, sedikit aspek afektif, tetapi disiplin sekolah, cukup besar pengaruhnya dalam diri si murid, sekurang-kurangnya masuk ke dalam alam bawah sadar, (c) oleh ulama atau orang bijak setiap usai shalat atau dalam pengajian, atau dalam pertemuan khusus, (d) oleh cendekiawan melalui forum diskusi, (e) melalui literatur yang terprogram, dan (f) bisa juga diperoleh dari peristiwa yang mengesankan hatinya yang kemudian dijadikan pelajaran.
2. Menciptakan lingkungan yang kondusif
Menurut suatu penelitian yang dikutip oleh Prof. Dr. Zakiah Dradjat, disebutkan bahwa perilaku manusia 83 % dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar, dan 6 % sisanya oleh gabungan dari berbagai stimulus. Dalam perspektif ini maka pengaruh lingkungan terhadap pembentukan kepribadian orang sangat besar, di dalam rumah dan di luar rumah.
Tamsil perumpamaan kekuatan lingkungan disebutkan dalam hadis nabi yang mengatakan bahwa bergaul dengan orang baik itu seperti berdekatan dengan penjual minyak wangi, meskipun tidak membeli tetapi dirinya ikut berbau wangi karena watak penjual minyak wangi itu selalu menempelkan minyak wangi yang dijajakannya itu kepada setiap orang yang mendekat (sebagai promosi), sementara bergaul dengan orang jahat itu ibarat berakrab-akrab dengan tukang pandai besi (yang sedang bekerja), kalau tidak terpercik apinya, hampir pasti abunya akan mengotori pakaiannya.
2 comments
maksud sy prof, anak terbentuk kepribadiannya dilingkungannya, karena lingkungan anak bukan keluarga saja, anak pasti mampu dan ingin memasuki budaya luar/lain yang belum pernah dirasakan di keluarganya. Prof, bagaimana dengann orang tua yang mau belajar/memahami budaya si anak saat masa2 tumbuh kembangnya? Orang tua mau mengerti/mengikuti si anak karena anak mengikuti zamanya tumbuh kembangnya?
Post a Comment