Tuesday, January 19, 2010
Hadis Psikologi

Ada sebuah hadis yang cukup popular, sesunguhnya ia merupakan hadis psikologi, tetapi jarang sekali yang memahaminya. Hadis itu berbunyhi, “addunya sijnul mu’minin wa jannatul kafirin”, artinya dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan sorga bagi orang kafir. Dalam pemahaman non psikologi, hadis ini menilai dunia sebagai hal yang negatip bagi orang mukmin, dan sebagai hal yang positip bagi orang kafir. Hadis ini dulu pada zaman penjajahan Belanda bahkan digunakan oleh Vanderplass untuk mempengaruhi ulama agar mereka tidak usah memikirkan urusan dunia, karena dunia adalah domain orang klafir, termasuk tidak usah memikirkan kehidupan bernegara.
Sesungguhnya hadis ini adalah hadis psikologi. Dunia sebagai penjara bagi orang mukmin maknanya, seorang mukmin ketika hidup di dunia hendaknya psikologinya seperti orang yang berada dalam penjara. Penghuni penjara tidak ada yang berfikir untuk berlama-lama di dalamnya. Ia selalu memikirkan apa yang akan dikerjakan nanti setelah keluar dari penjara. Kerinduan penghuni penjara adalah terbebas dari penjara untuk selanjutnya menikmati kebebasan diluar penjara. Nah begitulah psikologi seorang mukmin semasa hidupnya. Ia tidak berfikir untuk menumpuk kekayaan duniawi. Yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana melakukan sesuatu yang bermakna agar kelak nanti setelah meninggal memperoleh kebahagiaan surgawi. Ia mau berlapar-lapar puasa demi untuk nanti. Ia mau bersusah payah bekerja atau menolong orang demi ridla Tuhan yang akan dinikmati nanti di akhirat. Bagi orang mukmin, kematian disongsong dengan riang gembira seperti riang gembiranya orang yang keluar dari penjara.
Adapun orang kafir, ia memandang dunia sudah final, dunia adalah surge, oleh karena itu yang dilakukan adalah sepuas-puasnya menikmati kehidupan dunia. Semua yang membawa kesenangan dan kenikmatan dalam hidup ia kejar dan ia hirup. Baginya akhirat itu tidak ada, oleh karena itu ketika sadar mau mati ia bingung dan takut seperti takut menghadapi kegelapan. Ia tidak tahu apa yang ada disana, dibalik kematian, dan ia tidak siap menghadapi kegelapan. Ia takut kehilangan kesenangan hidup di dunia, dan ia takut menghadapi ketidakpastian.
No comment
Post a Comment