Wednesday, January 20, 2010
Hadis Psikologi 2

• Al mu’minu yatazawwadu. Psikologi orang mukmin dalam hidupnya seperti petani. Petani yang sedang mencangkul di sawah, ia berada di tempat yang becek, pakaiannya kotor kena lumpur, dan terkena terik panas matahari, tetapi ia tetap semangat dan bertahan lama. Kenapa?, karena ia tidak membayangkan kotornya lumpur dan panasnya matahari, tetapi membayangkan hasil panen ke depan . Perhatian kepada yang besar dan jauh membuat derita lumpur dan panas terik di depan mata tidak terasakan. Perhatian orang mukmin terhadap sesuatu yang besar (kebajikan) dan jauh (akhirat) juga membuat derita perjuangan dan ibadah tidak terasa.
Karakteristik seperti ini sesungguhnya khas milik orang besar. Orang besar atau pemimpin besar adalah orang yang cita-rasa dan perhatiannya jauh ke depan menembus sekat ruang dan waktu. Ruang kerjanya mungkin hanya seluas 5 x 10 m2, tetapi pusat perhatiannya luas, seluas wilayah yang menjadi tanggungjawabnya. Masa jabatannya mungkin hanya lima tahun, tetapi pusat perhatiannya justeru terhadap 50 – 100 tahun ke depan, yakni untuk generasi cucu-cicitnya. Sedangkan orang yang berjiwa kecil, meski ia telah menduduki kursi kebesaran, perhatiannya hanya terhadap kursinya, yaitu bekerja keras agar kursinya tidak lepas. Orientasinya juga sebatas hanya kepada masa dimana ia duduk, yaitu mumpung lagi menjabat.
• Wa al munafiqu yatazayyanu; Sedangkan psikologi orang munafik dalam hidupnya, ia seperti orang yang sedang main sandiwara di panggung. Pusat perhatiannya adalah bagaimana ia bisa kelihatan bagus di mata penonton. Ia selalu menyembunyikan watak aslinya (yang buruk) dan menampilkan kebaikan (yang palsu) di depan penonton, karena target orang munafik adalah dipandang baik oleh penonton (pers, TV atau orang banyak), bukan kebaikan yang diyakini hatinya atau kebaikan menurut ajaran agama. Orang munafik bisa bermanis muka dan memberikan pujian kepada orang yang dibencinya, padahal ia sedang berfikir bagaimana mencelakakannya. Karakteristik munafik itu tidak satunya kata dengan perbuatan. Dalam aksi jahatnya orang munafik bahkan bisa menjadi musuh dalam selimut
• Wa al kafiru yatamatta`u. Adapun orang kafir dalam hidupnya selalu mengutamakan kesenangan dan kelezatan seperti orang yang berada dalam ruang pesta. Segala bentuk kelezatan ingin direguknya. Ia menganggap bahwa kepuasan berpesta dapat menjadi solusi hidupnya. Mengapa orang kafir begitu ? kafir, kufur artinya tertutup, bahasa Inggrisnya menjadi cover. Orang kafir itu mata hatinya tertutup dari kebenaran, oleh karena itu baginya yang ada adalah hanya yang kelihatan dari dekat. Baginya realitas adalah apa yang bias dilihat, diraba dan dicicip. Tuhan, akhirat dan kebajikan baginya adalah sesuatu yang tidak riil, bukan realitas. Dalam perspektip komunikasi, orang kafir lebih aman untuk berhubungan disbanding orang munafik, karena orang kafir relatip jujur dalam penolakan, sementara orang munafik justeru bias menyembunyikan penolakannya untuk selanjutnya menjadi gangguan yang selalu mengancam, menjadi musuh dalam selimut.
1 comment
mempsikologikan diri kita untuk membangun psikologi yang idealnya baik bagi kita, susah sekali, jika kita cari contoh panutan psikologi orang yang bagus/pas susah sekali, jelek semua...... yang di tv palsu smua psikologinya
Post a Comment