Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Sunday, September 05, 2010

Membangun akhlak manusia (8) Agama Sebagai Sumber Nilai
at 8:08 PM 
Ketika kita berbicara tentang nilai agama, harus dibedakan tingkat-tingkat pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan agama.

Sekurang-kurangnya ada lima tingkat pemahaman tentang agama

a. Agama seperti yang dimaksud oleh Tuhan.

Ketika seorang muslim mengatakan bahwa Islam adalah sempurna dan memiliki kebenaran yang bersifat mutlak, maka yang dimaksud adalah Islam seperti yang dimaksud oleh Tuhan. Ia berada pada tataran konsep yang tersembunyi dibalik wahyu kitab suci. Tafsir Kitab Suci tidak lagi mutlak kebenarannya karena disitu sudah ada pemikiran manusia

b. Agama seperti yang dicontohkan oleh Nabi utusan Tuhan.

Pada tahap ini, agama juga bersifat mutlak benar, karena seorang Nabi memang didesain Tuhan untuk menjadi contoh

c. agama seperti yang dipersepsi oleh generasi pertama (pengikut nabi).

Pada tahap ini agama tidak lagi bersifat mutlak benar, karena persepsi pengikut dipengaruhi oleh tingkat intelektual yang berbeda, juga oleh frekuensi hubungan yang berbeda.

d. Agama seperti yang diajarkan oleh para ulama/pendetanya.

Pada tahap ini kebenaran agama bersifat interpretatip, oleh karena itu tidak mutlak benar. Pada tahap ini agama sudah bercampur dengan budaya.

e. agama sebagai tradisi masyarakat beragama.

Tradisi masyarakat beragama bisa sesuai, bisa juga tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Dari itu maka agama sebagai sumber nilai akhlak dapat dibagi menjadi dua;

Pertama : Nilai-nilai yang bersifat universal , misalnya berbakti kepada orang tua, membantu si lemah, larangan zina, larangan membunuh, mencuri,. Dalam al Qur’an, nilai2 mulia yang bersifat universal disebut al khoir, nilai-nilai kekejian universal disebut fakhisyah.

Kedua : Nilai-nilai yang meski diilhami oleh nilai universal tetapi pada tahap implementasinya dipengaruhi oleh cara pandang sosial; misalnya, meski semua sepakat bahwa anak harus berbakti kepada orang tua, tetapi mereka berbeda pandangan tentang bagaimana caranya berbakti. Nilai-nilai akhlak pada tahap implementasi dalam al Qur’an disebut ma`ruf, yakni sesuatu yang secara sosial dpandang sebagai kepatutan, sedangkan kekejian yang diselimuti alasan sehingga sepertinya tidak buruk, disebut munkar. Oleh karena itu ada ungkapan amar ma`ruf nahi munkar.


Contoh Butir-butir akhlak dari agama

* Dari agama Kristen kita sering mendengar ungkapan : jika dipukul pipi kirimu berikan pipi kananmu, atau ungkapan; cintailah musuhmu. Butir ini sesungguhnya sejalan dengan butir hadis Nabi yang mengatakan bahwa aku disuruh memberi kepada orang yang pelit, bersilaturrahmi kepada orang yang memutuskan hubungan, memaafkan orang yang menzalimi.

* Dari tradisi Kristen klassik juga didapati nilai-nilai akhlak yang berbunyi; Duduk di bagian belakang kemudian dipersilahkan ke depan itu lebih baik daripada langsung duduk didepan tapi kemudian datang orang memohon agar pindah ke belakang karena di depan sudah diperuntukkan bagi orang lain.
posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger