Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Monday, June 22, 2009

Konseling Pendidikan
at 12:03 AM 
Kualitas manusia diukur dengan tingkat kecerdasan dan ketinggian budipekertinya. Pada dasarnya setiap manusia telah dibekali perangkat untuk mengembangkan tingkat kecerdasan dan ketinggian budi pekertinya. Dari segi kejiwaan, sejak lahir manusia telah memiliki kapasitas yang berda-beda, tetapi dari segi pendidikan, manusia lahir dalam keadaan sama, yaitu bersih, dalam keadaan fitrah. Perjalanan hidupnyalah nanti yang akan menentukan corak dan tingkat kecerdasan serta kepribadiannya.

Ada manusia yang memiliki kapasitas tertentu mampu secara otodidak memahami fenomena alam dan sosial untuk kemudian menyimpulkannya sendiri tanpa bantuan suatu program, dan orang itu kermudian menjadi orang pandai, orang terpelajar. Sebaliknya ada orang yang telah diikutkan dalam suatu program pendidikan yang reguler, tetapi karena keterbatasan kapasitas dirinya, maka program pendidikan reguler yang diikutinya itu tak terlalu berhasil untuk mentransfer budaya yang ditawarkannya, sehingga meski jenjang pendidikannya panjang tetapi, tetapi ciri-ciri orang pandai tidak nampak pada orang itu.
Pendidikan dalam artinya yang luas , bermakna merubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada setiap individu dalam masyarakat. Proses pemindahan nilai budaya itu menurut Prof Hasan Langgulung dapat melalui;

(a). pengajaran, yakni pemindahan pengetahuan, bisa di sekolah, di rumah, di tempat bermain dan bisa dimana-mana. Proses pengajaran adalah memindahkan pengetahuan yang dimiliki seseorang kepada orang lain yang belum memilikinya dengan mengajarkan sebab-akibat dan memilah-milah suatu masalah.

(b). Proses pelatihan. Dalam hal menyetir mobil atau main sepakbola misalnya, maka pelatihan merupakan proses memindahkan budaya yang lebih cepat dibanding dengan proses pengajaran teori.

(c). Indoktrinasi, yaitu proses yang melibatkan seseorang untuk meniru atau mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang lain.
Ketiga pendekatan itu; pengajaran, latihan dan indok¬trinasi nampaknya digunakan sekaligus dalam proses pendidikan di masyarakat.
Pendidikan adalah transfer budaya, sementara masya¬rakat manapun serta dalam tingkat manapun mereka dalam sejarah peradaban manusia, kebudayaannya mengandung unsur-unsur; (a) akhlak atau etik, (b) estetika atau keindahan, (c) sain atau ilmu pengetahuan, dan (d) teknologi.

Sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa setiap bangsa berbeda dalam menitik beratkan pendidikan, ada yang mengutamakan segi etik sambil menomorduakan yang lain, ada yang mengutamakan pendidikan teknologi sambil menomorduakan yang lain dan seterusnya. Idealnya keempat unsur itu diperhatikan secara proporsional dalam kebijakan pendidikan, tetapi kebijakan pendidikan pada suatu masyarakat belum tentu ditentukan oleh ahli pendidikan, terkadang pertimbangan politis justeru lebih dominan dalam penentuan kebijakan pendidikan, sehingga hasilnya secara makro tidak seperti yang diharapkan.
Secara individual, jika langkah pendidikan yang ditem¬puh tidak sesuai dengan kebutuhan atau kapasitasnya sering menimbulkan problem-problem kejiwaan.

Tujuan dan Lingkup Pendidikan
Setiap pendidikan mempunyai tujuan, dan tujuan pendidikan biasanya diazaskan pada falsafah dan pandangan hidup yang dianggap sesuai untuk kepentingan mengembangkan dan membentuk suatu generasi mendatang sebagai pewaris generasi sekarang. Falsafah hidup orang Barat yang liberal misalnya, falsafah pendidikannya yang bersifat pragmatis, untuk membentuk manusia yang pragmatis juga, sementara pendidikan di Rusia bertujuan untuk membentuk manusia komunis, dan Indonesia yang menganut falsafah Panca Sila, tujuan pendidikan yang ditetapkan oleh Pemerintah juga untuk membentuk manusia Pancasilais.

Adanya bidang studi kewiraan, SPPB, dan last but not least Penataran Panca Sila adalah mengacu kepada tujuan pendidikan tersebut. Demikian juga bagi ummat Islam yang memiliki ideologi Islam pastilah juga memiliki falsafah pendidikan Islam.

Sedangkan lingkup obyek pendidikan adalah aspek kepribadian (psikologik) dan aspek psikopisik atau psikomotorik. Istilah yang populer di kalangan Depdiknas adalah kognitip, afektip dan psikomotorik yang kemudian dipopulerkan menjadi cerdas, trampil dan takwa, maksudnya bahwa sasaran dan obyek pendidikan nasional Indonesia adalah membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, memiliki kepribadian manusia Indonesia yang beragama serta trampil dalam bekerja, atau sebagai manusia Indonesia seutuhnya.
posted by : Mubarok institute

Post a Comment

Home

My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger