Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Monday, May 24, 2010

at 11:26 PM 
c. Pembiasaan Kejujuran dan kedisiplinan

Kejujuran merupakan sifat seseorang. Dalam bahasa Arab kejujuran diungkap dengan istilah siddiq dan amanah. Siddiq artinya benar dan amanah artinya dapat dipercaya. Ciri orang jujur adalah tidak suka bohong, meski demikian jujur yang berkonotasi positip berbeda dengan jujur dalam arti lugu dan polos yang terkandung di dalamnya konotasi negatip. Dalam sifat amanah juga terkandung kecerdasan, yakni kejujuran yang disampaikan secara tanggung jawab. Jujur bukan dalam arti mau mengatakan semua yang diketahui apa adanya, tetapi mengatakan apa yang diketahui sepanjang membawa kebaikan dan tidak menyebutnya (bukan berbohong) jika diperkirakan membawa akibat buruk kepada dirinya atau orang lain. Sebagai illustrasi dapat disebutkan dari sebuah hadis bahwa suatu hari Nabi sedang duduk di suatu tempat, tiba-tiba seseorang berlari denga kencang lewat didepannya. Tak lama kemudian datang lagi orang lain dengan menghunus senjata tajam, nampaknya sedang mengejarnya. Ketika didekat Nabi, orang itu bertanya adakah engkau melihat orang lari lewat sini ? Jika Nabi berkata tidak artinya Nabi berbohong, jika berkata iya, berarti kejujuran Nabi membawa kepada ancaman bahaya bagi seseorang yang belum diketahui apakah bersalah atau tidak, maka Nabi menjawab dengan ungkapan; sejak saya berdiri di sini tidak ada orang lewat . Nabi tidak berbohong karena ketika orang pertama yang lari di depannya, Nabi masih duduk, setelah berdiri tidak ada lagi orang yang lewat.
Tingkah laku disiplin adalah perbuatan yang dilakukan karena mengikuti suatu komitmen. Disiplin bisa berhubungan dengan waktu, tempat, aturan, anggaran dan sebagainya. Disiplin bisa berhubungan dengan kejujuran, bisa juga tidak. Seorang penjahat professional biasanya sangat disiplin terhadap agenda kriminal yang dibuatnya. Tetapi baik kejujuran maupun kedisiplinan bisa dibentuk melalui pembiasaan.
Kejujuran juga diwariskan oleh genetika orang tuanya, oleh karena itu setiap orang tua harus menyadari bahwa ketidak jujuran orang tua, terutama ketika anak sedang dalam kandungan, secara psikologis dapat menitis pada anaknya. Disini gagasan pra natalia education atau pendidikan sebelum anak lahi menjadi sangat relevan. Tradisi masyarakat menyangkut ritual orang hamil seperti, ketika sang isteri sedang hamil, suami tidak boleh menyembelih hewan, tidak boleh menyumbat sarang binatang, kemudian tradisi ngupati (hamil empat bulan) dan mitoni (hamil tujuh bulan) dan selanjutnya azan dan akikah ketika anak baru lahir semuanya merupakan simbol harapan orang tua terhadap anaknya untuk tidak berperilaku sadis, mengganggu orang lain, suka memberi orang lain pendeknya agar sang anak kelak memiliki akhlak yang mulia. Selanjutnya keharmonisan orang tua di dalam rumah akan sangat berpengaruh dalam membentuk watak dan kepribadian anak pada umur-umur perkembangannya. Ketika anak-anak masih kecil pantang orang tua berbohong kepada anaknya, karena kebohongan yang dirasakan oleh anak akan menimbulkan kegelisahan serta merusak tatanan psikologi anak.
Pada anak usia kelas IV SD hingga SMP kejujuran seyogyanya dibiasakan sejalan dengan kedisiplinan hidup, disiplin belajar, disiplin bekerja membantu orang tua di rumah, disiplin keuangan dan disiplin agenda harian kanak dan remaja. Pada usia SLA kejujuran dan kedisiplinan yang ditanamkan sudah harus disertai alasan yang rational, baik dalam kehidupan di dalam rumah, di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Sistem punishment & reward sudah bisa diterapkan secara masuk akal. Pada usia mahasiswa kejujuran dan kedisiplinan dibiasakan melalui pemberian kepercayaan dalam berbagai tanggungjawab. Kepada mereka, yang ditekankan adalah komitmen dan substansi, sementara teknik dan prosedur mungkin sudah harus diserahkan kepada seni dan kreatifitas mereka. Pada orang dewasa yang sudah kerja, kejujuran dan kedisiplinan justeru diterapkan melalui pelaksanaan sistem dimana peluang untuk berbuat tidak jujur dipersempit dengan sistem pengawasan yang transparan. Betapapun orang jujur dapat berubah menjadi tidak jujur manakala peluang untuk tidak jujur dan tidak disiplin terbuka tanpa pengawasan.
posted by : Mubarok institute

Blogger bahasakupu-kupu said.. :

Assalamualaikum prof. Prof perkenalkan saya mutia dari majalah muslim Alia. Prof, kebetulan saya sedang membuat artikel tentang kejujuran. Apakah saya boleh mengutip tulisan prof ini? Tentunya dengan menyertakan nama prof. Terima kasiih.

8:14 PM  
Blogger Keramahan dan kelembutan said.. :

tetapi mengatakan apa yang diketahui sepanjang membawa kebaikan dan tidak menyebutnya (bukan berbohong) jika diperkirakan membawa akibat buruk kepada dirinya atau orang lain. ...pantasan korupsi dibiarkan bapak punya pendapat yang salah tentang hal ini karena bohong boleh untuk keselamatan diri masya Allah ....terus klo untuk kebaikan sendiri semua berarti gak perlu tuh kata2 bohong dilarang anda cantumkan riwayat dari mana dan penjelasan dari ulama mana >>>

12:09 AM  

Post a Comment

Home

My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Consultation

Name :
Web URL :
Message :



Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger