Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Monday, September 06, 2010

Membangun akhlak manusia (9) Kebudayaan sebagai sumber nilai
at 10:52 PM 
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa agama Islam adalah agama langit yang kemudian “membumi”. Ketika masih di “langit” Islam adalah agama yang sempurna dan mutlak benar, tetapi ketika “membumi” maka ia mengalami proses pembudayaan atau pergumulan budaya dimana ada peran manusia yang tidak sempurna sehingga sebagai agama bumi Islam tidak lagi sebagai agama yang mutlak benar, tetapi memiliki variasi tingkat kedekatan dengan kebenaran.

Dengan demikian maka ada kebudayaan Islam yang sangat dekat dengan syari`at (budaya syar`iy) disamping ada kebudayaan yang hanya merupakan sempalan saja dari Islam, karena ia lebih dekat ke kebudayaan lokal setempat. Di sisi lain ada kebudayaan ummat Islam yang malah tidak ada relevansinya dengan Islam.

Nilai Budaya

Banyak definisi tentang kebudayaan, tetapi saya memilih pandangan yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah konsep, keyakinan, nilai dan norma yang dianut masyarakat yang mempengaruhi perilaku mereka dalam upaya menjawab tantangan kehidupan yang berasal dari alam sekelilingnya. Disamping sebagai fasilitas, alam adalah tantangan yang harus diatasi. Berbeda dengan hewan, manusia tidak puas hanya dengan apa yang terdapat dalam alam kebendaan. Dengan konsep yang dimiliki manusia berusaha mengolah alam ini , dan dengan kesadaran dan cita-citanya manusia merumuskan apa yang bermakna dan apa yang tidak bermakna dalam kehidupannya. Sekurang-kurangnya ada enam nilai yang amat menentukan wawasan etika dan kepribadian manusia sebagai indifidu maupun sebagai masyarakat, yaitu : ekonomi, solidaritas, agama, seni, kuasa dan teori.

One. Nilai teori. Ketika manusia menentukan dengan objektif identitas benda-benda atau kejadian-kejadian, maka dalam prosesnya hingga menjadi pengetahuan, manusia mengenal adanya teori yang menjadi konsep dalam proses penilaian atas alam sekitar.
Two. Nilai ekonomi. Ketika manusia bermaksud menggunakan benda-benda atau kejadian-kejadian, maka ada proses penilaian ekonomi atau kegunaan, yakni dengan logika efisiensi untuk memperbesar kesenangan hidup. Kombinasi antara nilai teori dan nilai ekonomi yang senantiasa maju disebut aspek progresip dari kebudayaan.
Three. Nilai agama. Ketika manusia menilai suatu rahasia yang menakjubkan dan kebesaran yang menggetarkan dimana di dalamnya ada konsep kekudusan dan ketakziman kepada yang Maha Gaib, maka manusia mengenal nilai agama.
Four. Nilai seni. Jika yang dialami itu keindahan dimana ada konsep estetika dalam menilai benda atau kejadian-kejadian, maka manusia mengenal nilai seni. Kombinasi dari nilai agama dan seni yang sama-sama menekankan intuisi, perasaan, dan fantasi disebut aspek ekpressip dari kebudayaan.
Five. Nilai kuasa. Ketika manusia merasa puas jika orang lain mengikuti fikirannya, norma-normanya dan kemauan-kemauannya, maka ketika itu manusia mengenal nilai kuasa.
Six. Nilai solidaritas. Tetapi ketika hubungan itu menjelma menjadi cinta, persahabatan dan simpati sesama manusia, menghargai orang lain, dan merasakan kepuasan ketika membantu mereka maka manusia mengenal nilai solidaritas.

Enam nilai budaya itu merupakan kristalisasi dari berbagai macam nilai kehidupan, yang selanjutnya menentukan konfigurasi kepribadian dan norma etik individu maupun masyarakat. Nilai apa yang paling dominan pada seseorang atau sekelompok orang, akan menentukan “sosok” mereka sebagai manusia budaya (al insan madaniyyun bi at thab`i). Orang yang lebih dipengaruhi oleh nilai ekonomi cenderung kurang memperhatikan halal dan haram, orang yang lebih dipengaruhi oleh nilai teori cenderung menjadi ilmuwan, yang lebih dipengaruhi oleh nilai kuasa cenderung tega dan nekad, yang lebih dipengaruhi oleh nilai agama dan seni cenderung menjadi sufi dan seterusnya, sehingga ada sosok orang yang materialis, seniman, pekerja sosial dan sebagainya. Bisa juga ada ilmuwan yang mengabdi kepada materi, politisi yang pejuang, ulama yang rasionil, ilmuwan yang mistis dan sebagainya.

Budaya progressip akan mengembangkan cara berfikir ilmiah dan melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan, sedangkan puncak dari budaya ekpressip bermuara pada kepercayaan mitologis dan mistik. Pendukung budaya progressip pada umumnya dinamis dan siap digantikan oleh generasi penerus dengan penemuan-penemuan baru, sedangkan pendukung budaya ekpressip biasanya statis atau tradisional, memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang sudah final.

Budaya Islam Syar`iy

Sebagaimana telah diketahui bahwa sumber utama ajaran Islam adalah al Qur’an dan Sunnah Rasul. Dalam perjalanan sejarahnya, budaya lokal juga ikut mempengaruhi corak kebudayaan Islam. Istilah budaya Islam Syar`iy digunakan untuk membedakan bentuk pemahaman dan pengamalan Nabi atas agama yang belum dipengaruhi oleh budaya jahiliyah (unsur-unsur budaya lokal), sebaliknya justru mengubah budaya jahiliyah yang musyrik menjadi agama tauhid, dengan bentuk-bentuk agama Islam yang telah dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya lokal; seperti sekte-sekte Syi`ah, Khawarij dan juga ordo-ordo Sufi, dll. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam seperti yang dicontohkan oleh Rasul, adalah sistem yang merupakan kesatuan utuh antara aspek aqidah (iman) aspek Islam (aturan-aturan formal) dan aspek ihsan (moral spiritual). Sepeninggal Rasul, untuk masa tertentu meski terjadi gejolak sosial dan politik, tetapi magnit al Qr’an dan Sunnah masih cukup kuat menarik jiwa penganutnya, terutama para sahabat besar sehingga budaya lokal tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap budaya Islam.

Dapat dikatakan bahwa Islam yang asli telah diperagakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan diteruskan oleh Khulafa Rasyidin, yakni pada periode dimana Madinah al Munawwarah masih menjadi pusat imamah. Pengamalan Islam pada periode ini masih sederhana tetapi tauhidnya sangat kokoh dan belum diwarnai oleh peradaban lain, sebaliknya malah mengubah budaya lokal Arab. Meski budaya Islam periode awal disebut masih sederhana, dan al Qur’an serta Sunnah Nabi menjadi nilai dasar, tetapi sebenarnya di dalamnya juga sudah ada nilai-nilai rasional, ekonomi, kuasa, solidaritas dan seni.

Pergumulan Budaya

Sepeninggal periode Khulafa Rasyidin, budaya lokal menyeruak keatas permukaan menghiasi aspirasi konflik elit politik. Baru dalam bilangan 20 tahun sepeninggal Rasul, wilayah kekuasaan Islam sudah sangat luas, menaklukkan imperium Persia dan membebaskan wilayah Syams dan Afrika dari penjajahan Romawi, dimana pada kedua wilayah itu masing-masing telah memiliki peradaban yang sudah mapan serta potensi ekonomi yang sangat besar. Umar bin Khattab melarang keras tokoh-tokoh elit hijrah ke negeri baru, tetapi khalifah Usman agak mengendorkan larangan itu, sehingga banyak pedagang Quraisy hijrah ke wilayah yang baru ditaklukkan. Dengan ketiadaan sosok Rasul, para tokoh elit Arab Jahiliyah yang sudah masuk Islam tidak dapat lagi dibendung peran sosial ekonominya, karena mereka sejak sebelum memeluk Islam memang sudah memiliki kelebihan pengalaman dalam bidang ekonomi dan kepemimpinan. Jika pada masa Rasul dan Khulafa Rasyidin nilai agama dan solidaritas lebih menonjol, maka pada periode pasca Khulafa Rasyidin nilai ekonomi dan nilai kuasa justru yang lebih menonjol. Akibatnya konflik politik dan persaingan bisnis menjadi subur, dan ujungnya adalah lahirnya sistem kekuasaan absolut berupa dinasti Umayyah (berpusat di Damaskus dengan basis budaya Romawi) dan disambung dinasti Abbasiah (berpusat di Baghdad dengan basis budaya Persia). Adapun kelompok yang tetap berorientasi kepada Qur’an & Sunnah, mereka tidak mau melibatkan diri dalam konflik, tetapi mengkhususkan diri menekuni pemikiran agama, kemudian secara sosiologis menjadi kelompok ulama yang bisa dipertentangkan dengan kelompok umaro (penguasa).

Pada saat itu berbagai aspirasi (Qur`ani, Hadits, Israiliyyat, filsafat dan tradisi lama) dan berbagai kelompok kepentingan terlibat dalam pergumulan budaya, dan kesemuanya mengatas namakan Islam.

1. Dari aspek politik lahirlah penguasa dinasti yang lebih mementingkan mempertahankan nilai kuasa dibanding nilai agama dan solidaritas, disamping kelompok oposisi.

2. Dari aspek pemikiran hukum, lahirlah mazhab-mazhab fiqh, yang terbesar adalah mazhab Maliki, Syafi`I, Hanafi dan Hambali.

3. Dari aspek teologi lahir alian-aliran ilmu Kalam (filsafat ketuhanan), seperti Mu`tazilah, Qadariyah, Jabbariyyah, Maturidiyyah dan Ahlu sunnah wa al jama`ah.

4. Dari aspek spiritualisme, lahirlah sufisme yang bercorak lmmanen dan bercorak transenden, yang panteistis dan yang tetap tauhid rational.

Di Aceh, Islam bergumul dengan budaya Melayu, melahirkan sastra Melayu Islam, dan pengaruhnya meluas di Sumatera, melahirkan format seperti adat bersendi syara`, dan syara` bersendi Kitabullah. Sedangkan di Jawa nilai-nilai Islam berhadapan dengan lingkungan budaya kejawen, yaitu lingkungan budaya istana (Majapahit) yang telah menyerap Hinduisme dan budaya wong cilik yang animistis. Hasilnya, yang lebih dekat ke Islam menjadi Pesantren, sedangkan yang lebih dekat ke budaya lokal menjadi Kejawen dan kebatinan. Di Jawa muncul konsep manunggaling kawula lan Gusti, konsep eling, konsep kalifatullah sayyidin Panatagama, konsep ngerti sadurunging winarah, konsep layang kalima sada dan sebagainya. Tipologi orang Jawa pasca pergumulan budaya Islam vs budaya lokal terbagi menjadi tiga (menurut Geertz) yakni santri, abangan dan priyayi. Priyayi kebanyakan juga abangan. Pergumulan itu di Indonesia berlangsung terus hingga sekarang, melahirkan typologi H.Agus Salim,Sukarno, Gus Dur,Nur khalis Majid, Harun Nasution, juga Takdir Ali Syahbana, Mustafa Bisri, Emha Ainun Najib, Habib Riziq, Amrozi, , Inul dan kita-kita ini.

Bias Budaya dan Agama

Ketika zaman orde baru memberlakukan azas tunggal Panca Sila, muncul resistensi terhadap Panca Sila dari sebagian kecil kelompok Islam. Wacana anti Panca Sila sebenarnya berasal dari bias agama dan budaya. Islam itu agama (murni) yang juga melahirkan budaya, maka ada kebudayaan Islam dan ada kebudayaan kaum muslimin. Kebudayaan Islam dipengaruhi oleh ajaran Islam, sedangkan kebudayaan kaum muslimin ada yang berasal dari ajaran Islam dan ada yang berasal dari budaya lain, yang bahkan mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. Kebudayaan adalah konsep, gagasan, dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat dalam waktu lama dan memandu perilaku mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ada kaidah yang mudah diingat, yaitu bahwa agama murni dalam hal ini ibadah mahdlah, pada dasarnya ritus ibadah itu dilarang, kecuali yang ada perintahnya, Dalam agama murni tidak ruang kreatifitas. sedangkan yang bersifat kebudayaan, mu`amalah, pada dasarnya semua bentuk kebudayaan masyarakat itu dibolehkan, kecuali yang ada larangannya (al ashlu fi al `adat wa al mu`amalah al ibahah hatta takun dall fi buthlanihi). Jadi pada agama (murni) tidak ada ruang kreatifitas ummat, tapi pada wilayah budaya, semuanya justeru wilayah kreatifitas. Nah Negara, ilmu pengetahuan (termasuk ilmu2 agama), Panca Sila dan konstitusi adalah budaya. Demikian juga partai Islam, ormas Islam, juga produk kebudayaan. Bahkan konsep khalifah adalah budaya Islam, oleh karena itu corak khulafa rasyidin berbeda dengan khilafah Bani Umaayyah dan Abbasiyah. Negara Islam boleh berbentuk kerajaan, boleh republik, boleh dinasti, boleh kerajaan konstitusional, bergantung kepada kondisi wilayah dan kreatifitas ummatnya. Ideologi Anti Panca Sila bukanlah ekpresi Islam, tapi kedudukannya sama dengan Komunisme yang juga anti Panca Sila, dua-duanya kebudayaan.
posted by : Mubarok institute

OpenID casdiraku said.. :

Ijin copy gambar nya ya..

1:52 AM  
Anonymous dazhansta said.. :

terimakasih info nya
bermanfaat bgt

11:35 PM  

Post a Comment

Home

My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger