Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Wednesday, March 16, 2011

Akhlak Manusia terhadap manusia (3)
at 8:55 PM 
Akhlak Terhadap Guru

Yang dimaksud dengan guru ialah orang yang berjasa mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid. Dalam hal guru, bisa dibedakan antara guru pengajar dan guru pendidik. Pengajar adalah orang yang berjasa mentranfer ilmu pengetahuan, sedangkan pendidik adalah orang yang berjasa menanamkan pola tingkahlaku tertentu. Ukuran keberhasilan guru pengajar terletak pada kemampuannya mentransfer ilmu pengetahuan sehingga si murid menguasai ilmu yang diajarkan.

Penguasaan ilmu oleh si murid dapat diketahui melalui metode ujian atau test, dan tingkat penguasaannya dapat dituangkan dalam bentuk nilai 0-100 atau indek prestasi 0-4. Sedangkan ukuran keberhasilan guru pendidik dapat dilihat pada ketrampilan, kedisiplinan dan konsistensi tingkahlaku anak didik sepanjang hidupnya.

Kedudukan guru dan orang tua dari segi etik adalah sejajar. Orang tua berjasa membesarkan anak, sementara guru berjasa mengenalkan ilmu pengetahuan dan menanamkan pola tingkahlaku sehingga memungkinkan seseorang mengembangkan konsep dirinya beraktualisasi diri menjadi sosok manusia yang didambakan, baik oleh dirinya maupun oleh keluarganya atau bahkan oleh masyarakatnya.

Peran orang tua dan peran guru bisa dilakukan oleh dua orang yang berbeda, bisa juga oleh orang yang sama. Maksudnya bisa terjadi seorang ayah atau ibu adalah juga seorang guru bagi anaknya, baik guru dalam bidang ilmu pengetahuan maupun guru dalam bidang kehidupan.
Dalam dunia persilatan, seorang guru atau suhu sangat dihormati dan dipatuhi, baik secara teknis maupun secara etis. Kepatuhan adalah sikap mental, oleh karena itu seorang guru tidak otomatis dipatuhi oleh muridnya, melainkan terlebih dahulu harus membuktikan "kelebihan" yang dimilikinya di mata murid.

Dalam dunia pendidikan, seseorang dapat tiba-tiba menjadi pengajar dari suatu cabang ilmu pengetahuan, tetapi tidak untuk menjadi pendidik. Dari pengalaman penulis dalam dunia pendidikan menjadi guru di SD/SLP dan SLA, sepuluh tahun pertama penulis menjadi guru belum cukup mengantarnya menjadi pendidik. Baru pada tahun ke tiga belas, penulis merasa menjadi pendidik, bukan hanya sekedar menjadi pengajar.

Pusat perhatian seorang pengajar adalah pada transfer ilmu pengetahuan di kelas, dan kriterianya sudah diatur dalam metodologi pengajaran. Seorang pengajar merasa telah menyelesaikan tugasnya di kelas, dan apa yang terjadi di luar kelas merasa bukan menjadi bagian tugasnya. Oleh karena itu seorang pengajar pada umumnya hanya jengkel menghadapi problem murid, bukan memprihatinkannya. Perasaan seorang pengajar kepada murid lebih terfokus pada konteks dirinya sebagai petugas, bukan pada kontek murid sebagai anak didik.

Sedangkan pusat perhatian seorang pendidik adalah pada anak didik sebagai kesatuan pribadi manusia. Seorang pendidik akan sangat sedih jika melihat anak didiknya mengalami penurunan prestasi, dan ia berusaha mencari akar permasalahannya, tak peduli apakah permasalahannya di kelas atau di luar kelas.

Seorang pengajar akan dengan mudah tidak masuk kelas hanya karena merasa terganggu kesehatannya, tetapi seorang pendidik tetap akan berusaha hadir di kelas meski kesehatannya kurang mengizinkan.
Penulis, pada tahun ke tigabelas menjadi guru, baru merasa menjadi pendidik setelah bertemu dengan dua pengalaman:

Pertama: bergaul dengan seorang kepala sekolah yang sungguh sangat dedikatip dalam dunia pendidikan. Kepala Sekolah tersebut seorang yang sebenarnya berstatus sosial tinggi, tetapi perhatiannya kepada tugas kependidikannya sangat tinggi. Ia selalu menengok murid yang sakit, menjenguk guru yang sakit, hadir dalam setiap undangan hajatan wali murid, satu hal yang bagi penulis pada mulanya sangat merepotkan, tetapi lama-kelamaan ikut menghayati makna tugas kependidikan secara konprehensip.

Kedua: setelah penulis berkenalan dengan tugas-tugas guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), atau Konseling pendidikan. Sebagai guru BP, penulis akhirnya mengetahui problem yang sebenarnya dari seorang murid sebagai anak manusia. Penulis menjumpai seorang murid yang sebenarnya cerdas, religius, tetapi terkadang tiba-tiba berperilaku aneh. Dari pendekatan yang selalu penulis lakukan akhirnya penulis tahu bahwa murid tersebut mengalami problem krisis identitas. la meragukan siapa jati dirinya setelah mengetahui dari guru biologinya bahwa dari golongan darah yang dimilikinya tak mungkin lahir dari dua orang yang selama ini dikenal sebagai ayah ibunya.

Perasaan galau itu menjadi lebih dalam setelah memperoleh informasi dari rumah sakit bahwa pada tahun-tahun kelahiran dirinya pernah terjadi kasus bayi tertukar. Krisis identitas itu ternyata berakibat sangat serius dalam hubungan interpersonalnya dengan keluarga-nya, yang dampaknya melebar ke prestasi belajarnya, dan integritas dirinya. Kasus lain pernah penulis jumpai, seorang murid perempuan, kelas tiga SLP sangat agresip kepada lelaki, termasuk kepada penulis. Penulis sering dibuat terkesima dan kikuk oleh agressifitas murid tersebut yang bernuansa seksual. Dari pendekatan yang penulis lakukan dapat diketahui bahwa anak tersebut ditinggal mati ayahnya ketika umur dua tahun dan sejak itu ibunya hidup menjanda. Gadis kecil itu rupanya tumbuh dalam rumah tangga yang sangat memprihatinkan. Karena rumahnya yang sempit ia sering memergoki ibunya berhubungan intim dengan lelaki kekasihnya yang tidak pernah menikahinya. Gadis belia itu telah teracuni oleh pemandangan yang tidak semestinya, tetapi keadaan tidak membantu mencarikan jalan keluar.

Gadis itu rajin mengaji dan rajin menjalankan salat, dan prestasi sekolahnya juga tidak terlalu mengecewakan, tetapi alam bawah sadarnya sering datang muncul dalam wujud perilaku agressip, bahkan terhadap guru lelakinya seperti yang dia lakukan kepada penulis.
Sebagai guru BP penulis bukan hanya berhubungan dengan murid tetapi juga dengan orang tua dari murid yang bermasalah, oleh karena itu penulis banyak sekali berjumpa dengan problem-problem "kemanusiaan" atau problem manusiawi, menyangkut murid, orang tua murid (masyarakat) dan juga rekan guru.

Sebagai manusia, penulis sering mengalami konflik batin dalam menangani kasus-kasus konseling, tetapi sebagai pendidik, keprihatinan seorang guru lebih dominan. Penulis sangat akrab dengan problem anak didik, begitu akrabnya hingga terkadang terjadi bias cinta, antara cinta seorang guru dan cinta seorang lelaki.

Pengalaman berhubungan dengan problem anak didik (dan masyarakat) itu mengantar penulis pada keindahan perasaan seorang guru, baik ketika berhasil membantu orang lain maupun ketika menerima penghormatan yang tulus dari murid-murid. Sebagai pendidik, penulis sangat tertantang oleh problem yang dihadapi oleh murid (dan orang tuanya), seperti gairahnya seorang petinju menemukan lawan tanding yang seimbang atau lebih. Penulis sangat terharu ketika mengetahui bahwa ada sejumlah murid, meski tidak berjumpa selama lebih dari duapuluh tahun tetapi masih sering menyebut nama penulis sebagai gurunya ketika ia menasehati anaknya atau muridnya.

Dalam tradisi Islam, akhlak seorang murid kepada guru diwujudkan dalam berbagai bentuk, misalnya silaturrahmi secara berkala kepada guru, memperioritaskan sedekah atau infaq materiil kepada nya, memberi nama anaknya dengan nama guru, mohon nasehat dan doa restu kepada guru setiap mempunyai hajat strategis, sampai kepada mengirim fatihah dan menempatkan nama guru dalam susunan orang-orang yang tercatat dalam teks doa setiap ba'da salat atau pada event-event tertentu.
posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger