Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Wednesday, April 13, 2011

Akhlak Manusia Kepada Tuhan (2)
at 8:41 PM 
Tauhid dan Tawakkal

Tauhid

Bertauhid artinya menggesakan Tuhan, memandang dan memperlakukan Tuhan sebagai satu-satunya Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengatur, Yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, yang pantas disembah dan sifat-sifat kesempurnaan lainnya. Dalam peribadatan, bertauhid artinya hanya menyembah Allah (iyyajka na’budu), sedangkan dalam bermu’amalah, bertransaksi, meski prosedurnya berurusan dengan sesame manusia, tetapi di dalam hatinya ia hanya memohon pertolongan kepada Allah (iyyaka nasta’in). dalam memahami pasang surut kehidupan, seseorang yang bertauhid merasa yakin, bahwa apa yang diperoleh dan apa yang sesunguhnya Allah-lah Pelaku sebenarnya (la fa’ila illallah).

Dalam berkontemplasi seorang yang bertauhid bahkan merasa bahwa dirinya adalah nonsen, karena sebenarnya tidak ada eksistensi kecuali Allah (la maujuda Illallah)
Lawan dari tauhid adalah syirk, pelakunya disebut musyrik. Seorang musyrik dalam beribadah disamping mengakui adanya kekuasaan dari Tuhan Sang Pencipta ia menyembah juga kepada makhluk ciptaan-Nya, seperti patung berhala, matahari, api atau bahkan manusia. Syirk model ini disebut syirk jaliy, yakni syirk yang nyata, syirk yang Nampak di mata. dalam kehidupan sehari-hari seorang musyrik mempercayai hal-hal tertentu atau benda-benda tertentu yang diyakini secara gaib dapat menentukan takdir kehidupan, misalnya percaya bahwa memelihara ayam putih dapat membuat dagangan laris, atau mengatakan; jika bukan aku yang menolong pasti dia sudah mati, atau meyakini seyakin-yakinnya bahwa segala sesuatu dapat diatur dengan uang. Syirk seperti ini disebut syirk khofiy, atau syirk tersamar.

Tawakkal

Tawakal artinya berpasrah diri kepada Allah setelah melakukan upaya-upaya secara maksimal. Manusia di dunia jika menginginkan sesuatu maka ia harus berusaha untuk menggapainya. Meski demikian, usaha manusia tidak sepenuhnya menentukan, karena banyak faktor kebetulan, faktor yang dipercaya sebagai keberuntungan, faktor doa dan sebagainya.
Orang yang menyombongkan keberhasilannya sebagai usaha sendiri termasuk orang yang buruk akhlaknya terhadap Tuhan, dan bahkan bisa terperangkap ke dalam syirk khofiy.

Seorang yang bertawakal kepada Allah adalah orang yang bekerja keras untuk menggapai apa yang diinginkannya dengan mengikuti prosedur yang wajar (menggunakan management usaha), teteapi ia tetap meyakini bahwa keberhasilan usahanya ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Pengatur. Ia yakin betul bahwa upaya dan kekuatan itu tidak efektif tanpa seizin Allah, la haula wala quwwata illa billah al’Aliy al ‘Aziem.

Pengertian tawakal diahami dari hadis yang berbunyi I’qilha wa tawakkal. Dikisahkan bahwa ada seseorang baru datang dri luar kota menemui Rasululla. Beliau menanyakan apakah ontanya diikat (di parker secara benar dan dikunci). Orang itu menjawab: tidak Ya rasulullah, saya tawakal saja kepada Allah. Rasul lalu menegurnya; (jangan begitu), ikat dulu untamu secara benar, baru engkau bertawakal kepada Allah. Dari hadist ini dapat dipahami bahwa kepercayaan kepada Allah sebagai yang Maha Kuasa, Maha pengatur dan maha Penentu tidak mengurangi profesionalitas dan rationalitas usaha.

Tingkat kemampuan seseorang untuk bertawakal kepada Tuhan berhubungan juga dengan tingkat ketauhidannya. Imam Ghazali menggambarkan tingkat-tingkat tawakkal dengan perumpaan sebagai berikut :

a. Jika engkau mau pergi ke padang pasir gersang, maka engkau harus mempersiapkan segala kebuthan yang diperlukan disana, makanan, minuman, tenda, kendaraan dan sebagainya. Jika sudah lengkap berangkatlah anda dan bertawakalah kepada Allah. Jika tidak lengkap jangan berani nekat, karena di sana alamnya sangat kejam. Ini adalah tawakal tingkat terendah.

b. Jika engkau akan pergi ke hutan tetapi tidak ada bekal makanan, yang ada hanya alat berburu (senapan, pisau, korek dan termos air), berangkat sajalah dengan tawakal kepada Allah. Insya Allah anda bisa menemukan bahan makanan disana. Ini adalah bentuk tawakal orang yang telah memiliki keterampilan tertentu.

c. Jika anda tidak memiliki bekal apapun, tetapi anda harus pergi juga ke suatu tempat, maka pergilah dengan tawakkal kepada Allah, asal tempat yang anda tuju itu masih ada atau banyak orang. Tawakkal tingkat ini masih rationil karena sifat sosial masyarakat akan dapat menjadi tumpuan hidupnya.

d. Meski anda tidak mempunyai bekal apapun, dan tempat yang anda tuju tidak juga ada persediaan bekal, sedang anda tidak bisa menghindar dari keharusan untuk pergi ke tempat itu, maka pergilah dengan bertawakkal kepada Allah. Insya Allah Dia akan memberi apa yang anda butuhkan. Tawakal tingkat ini adalah tawakkal kaum khowash, orang yang sebenar-benarnya bertauhid, karena ia telah mencapai tingkat ma’rifat yang meyakini betul bahwa Tuhan Yang maha kuasa mengadakan yang tiada, mengembalikan yang hilang, memberi rizki kepada seluruh hamba-Nya dimanapun ia hidup, dan maha pengasih lagi Penyayang kepada makhluk-Nya.

Tawakal merupakan wujud akhlak manusia kepada Tuhan, yang oleh karena itu perbuatan itu bernilai ibadah. Secara psikologis, orang bertawakal dapat terhindar dari perasaan kecewa berkepanjangan jika menghadapai kegagalan, dan terhindar dari rasa sombong jika memperoleh keberhasilan. Karena ia menempatkan diri sebagai hamba yang berprasangka baik terhadap kehendak Tuhan. Orang yang sudah bisa bertawakkal, jika ia sukses dalam suatu hal, disamping mengucapkan syukur kepada Tuhan, ia juga bertanya-tanya dalam hatinya, jangan-jangan kesuksesan ini merupakan coban dari Tuhan.

Sebaliknya jika setelah bekerja keras secara benar untuk menggapai apa yang diinginkan tetapi mengalami kegagalan, maka ia menyalahkan diri sendiri dan mengembalikan persoalannya kepada Tuhan Yang Maha Pengatur serasa berprasangka bahwa kegagalan itu merupakan rahmat Tuhan, karena boleh jadi dimata Tuhan ia belum layak menerima apa yang diinginkannya. Di satu sisi, tawakkal adalah juga merupakan bentuk tawaddu’ atau rendah hati seorang hamba kepada Tuhannya. Orang yang bertawakal pada umumnya juga ridla (puas) atas apapun yang diterimanya dari Tuhan, baik yang bersifat peningkatan maupun yang bersifat penurunan, karena ia memahami makna pemberian Tuhan.
posted by : Mubarok institute

Post a Comment

Home

My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger