Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Wednesday, August 17, 2011

Citra Da'i di Mata Masyarakat (5)
at 9:36 PM 
Kualitas Konsep Diri

Konsep diri ada yang positif dan ada yang negatif. Jika seorang da’i memiliki konsep diri yang positif, maka ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

1. Ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu mengatasi masalah yang akan dihadapi. Apapun kesulitan yang ia bayangkan, ia merasa yakin akan dapat menemukan jalan keluarnya.

2. Dalam pergaulan dengan orang banyak, ia merasa setara dengan orang lain, ia tidak merasa rendah diri, tidak kecil hati, tidak merasa sebagai orang kampung yang ketinggalan zaman (meskipun ia berasal dari kampung), tetapi merasa sama. Jika orang lain bisa mengapa saya tidak bisa?

3. Jika suatu saat ia dipuji orang, ia tidak tersipu-sipu malu, karena ia merasa pujian itu wajar saja, sekadar mengungkapkan keberhasilan atau kelebihan yang ia miliki. Baginya pujian tidak membuatnya merasa tinggi dari apa yang ada pada dirinya, atau merasa kagum terhadap dirinya (‘ujub). ia menerima pujian itu dengan terbuka karena pujian itu sudah pada tempatnya.

4. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki kecenderungan yang – tidak mungkin disetujui atau memuaskan seluruh masyarakat. Ia menyadari bahwa ia dapat melakukan suatu hal yang berguna dan menyenangkan orang lain, tetapi ia juga sadar bahwa tidak semua orang dapat menerima secara positip terhadap apa yang ia lakukan. Di antara sejumlah masyarakat mad’u, atau bahkan di antara atasannya, pasti ada orang yang tidak meyukainya, tidak menyetujuinya atau tidak paham terhadap dimensi kebaikan yang ia lakukan. Oleh karena itu jika suatu saat ia disalahkan, dikritik atau dicaci maki orang, ia sama sekali tidak terkejut. Baginya pujian dan penolakan adalah wajar, ia dapat menerimanya secara wajar. Pujian tidak membuatnya besar kepala dan cacian tidak membuatnya tersinggung. Ia bisa tertawa terbahak-bahak karena dipuji dan ketika dicaci.

5. Mampu memperbaiki diri. Karena sikap yang terbuka terhadap pujian dan cacian, maka ia mampu menerima kritikan dan saran-saran dari orang lain sebagai masukan untuk memperbaiki diri.

Sedangkan da’i yang mempunyai konsef diri negatip, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

1. Peka terhadap kritik. Jika dikritik orang ia tidak tahan. Ia mempersepsi kritikan orang itu sebagai upaya untuk menjatuhkan dirinya. Oleh karena itu da’i yang konsep dirinya tidak dapat menjalankan dialog terbuka, ia tidak dapat menangkap pikiran-pikiran yang bagus dari para pengkritiknya, karena telinganya terlanjur “merah” dan oleh karena itu ia bersikukuh untuk mempertahankan logika berpikirnya yang keliru.

2. Ia bersifat hiperkritis, kelewat kritis terhadap orang lain, sehingga ia cenderung merendahkan dan meremehkan orang lain. Ia begitu berat mengakui kelebihan yang dimiliki orang lain, apalagi orang yang menjadi saingannya. Baginya yang benar adalah dirinya dan orang lain pasti salah. Kebenaran orang lain itu diakuinya hanya jika berhubungan dengan pujian kepada dirinya sendiri.

3. Ia merasa tidak disenangi oleh orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, merasa tidak dianggap sebagai “orang” dan ditinggal. Oleh karena itu ia mudah mempersepsi orang lain sebagai lawan, sebagai saingan atau musuh yang mengancam keberadaan dirinya. Orang yang memiliki sifat ini biasanya susah untuk dapat bergaul secara akrab dan hangat, karena ia sendiri merasa tidak diakrabi. Jika suatu saat rivalnya itu datang dengan keakraban, maka ia mencurigai keakraban lawannya itu sebagai pura-pura. Ia susah sekali mengakui kesalahan dirinya.
Dalam pandangannya, sistem sosial, sitem organisasi dan norma-norma msayarakat hanya memojokan dirinya daja.

4. Ia pesimis untuk bersaing dengan orang lain secara terbuka. Ia enggan untuk berkompetisi dengan orang lain. Karena ia merasa bahwa sistem persaingan itu merugikan dirinya. Ia sudah memastikan bahwa jika ia ikut kompetisi pasti akan dikalahkan oleh sistem yang tidak adil terhadap dirinya.

Seorang da’i sudah sepantasnya memiliki konsep diri yang positif, karena dari konsef diri positiflah akan lahir pola konsep diri positif. Da’i diharap tidak keliru mempersepsi orang, dan mampu berekspresi diri yang menimbulkan kesan positip. Sebagai orang yang harus mengetuk hati nurani dalam dakwahnya, seorang da’i harus memiliki citra “terbuka” di hadapan mad’unya, dan hanya orang yang memiliki konsep diri positiflah yang sanggup membuka diri.

Orang yang terbuka (atau berani membuka diri) adalah orang yang tahu betul hal-hal apa yang telah diketahui orang lain tentang dirinya, sehingga tak perlu menutup-nutupi dengan topeng (kata-kata atau perilaku tertentu). Ia juga tahu betul hal-hal apa pada dirinya yang tidak perlu diketahui oleh orang lain, yang oleh karena itu tidak merasa perlu untuk memberitahukannya.
Konsep diri orang juga dapat diketahui dari pilihan kata-kata yang digunakan, pilihan selera dan pilihan perilaku yang bersangkutan. Secara sederhana kita dapat mempersepsi siapa pembaca kompas dan siapa pembaca pos kota, siapa pemakai bikini dan siapa pemakai jilbab, siapa yang selalu mengenakan topi haji dan siapa yang selalu berdasi. Orang yang memandang dirinya “siapa”, maka ia merasa pantas memakai pakaian anu, tidak melakukan ini dan tidak layak bergaul dengan si Anu. Pilihan-pilihan itu merupakan proses penyusunan lambang-lambang, sebagai terjemahan dari apa yang ada dalam pikirannya.

Seorang mubalighah yang sudah biasa dipanggil ustadzah, merasa harus selalu memakai jilbab ketika ke luar rumah atau bertemu dengan orang lain, sedangkan mahasiswa Fakultas Dakwah yang merasa belum menjadi da’i atau mubalighah menganggap: Tak apalah sekali-sekali “ bergaya” dengan pakaian trendi di jalanan, asal tidak ketahuan orang-orang tertentu. Yang penting jangan keterlaluan, katanya.

Pak Yusmin, seorang dosen muda merasa tidak pantas dan tidak bisa makan sewarung dengan mahasiswanya, tetapi Pak Zubaidi, seorang dosen senior dan disegani mahasiswanya, biasa-biasa saja makan di warung bersama mahasiswanya, terkadang mentraktir, tapi lebih sering ditraktir.
Itu semua menggambarkan terjemahan dari apa yang ada dalam pikirannya, sesuai dengan konsef dirinya.
posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger