Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Tuesday, April 21, 2015

Terorisme dan Politik (2)
at 12:46 PM 

Oleh: Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA
Praktek terorisme dapat dilihat akar sejarahnya dari tokoh Syi’ah ektrim Hasan bin Sabah dari sekte Hassyasyin (1057M) yang diberi gelar The Old Man of The Mountain in Alamut (dekat laut Kaspia), dan nama Hassyasyin (ada hubungannya dengan penggunaan hasyis-narkoba)  kemudian di Barat-kan menjadi Assasination karena kelompok ini selalu membunuh lawan-lawan politiknya secara tiba-tiba. Sedangkan ideologi terorisme modern pada umumnya dinisbahkan kepada Teori Evolusi Darwin struggle for survival between the races dan teori natural selection. Selanjutnya Maximilien Robespierr, tokoh Revo­lusi Perancis dianggap sebagai peletak dasar tero­risme modern, kemudian disusul Vladimir Lenin (Rusia), Yoseph Stalin (Rusia) yang diberi predikat master executive terror (1924), disusul Mao Tse Tung (Cina) yang dalam melakukan teror untuk menjamin kesetiaan rakyat kepada negara menghancurkan institusi keluarga dan agama. 
Di Amerika, terorisme bukanlah sesuatu yang asing sejak perang abad ke tujuh belas. Bahkan menurut sejarahnya, Amerika dirumuskan dan dilahirkan dalam kejahatan, “this nation was, as one historian note, “coceived and born in violence oleh karena itu perang Amerika terhadap terorisme sesungguhnya merupakan perang melawan diri sendiri, atau bagian dari kultur teroristiknya.
Internasionalisasi Terorisme
Ada dua hal yang menjadi titik internasionalisasi “terrorisme”  dewasa ini yaitu sosok Usamah bin Laden dan Afganistan atau kota Peshawar.
1.     Sesungguhnya kasus Usamah bin Laden lebih meru­pakan limbah politik dalam negeri Saudi Arabia. Usamah sebagai seorang muslim dan nasionalis Saudi bersama dengan 50 orang ulama/cendekiawan Saudi, protes keras terhadap kerajaan atas kehadiran tentara (pangkalan militer) Amerika di bumi kota suci Makkah Madinah. Kerajaan Saudi bukan saja tidak menghormati aspi­rasi Usamah dan 50 tokoh Saudi lainnya, tetapi lebih suka me­nunjukkan komitmen kerjasamanya dengan Amerika Serikat. Usamah terusir dari tanah kelahiran­nya dan akhirnya ia menjadikan seluruh negeri Islam sebagai tanah airnya. Ia pernah di Sudan, kemudian menetap di Afghan, sekarang kemungkinan besar sudah gugur tetapi tetap “dipelihara” kemunculannya guna me­ngawal “proyek” perang melawan terorisme global.
2.     Ketika Uni Sovyet menduduki Afganistan, Amerika sangat berkepentingan untuk mengusirnya. Dalam upaya mengusir tentara Komunis itu Amerika mem­bantu, melatih dan mempersenjatai Mujahidin Afghan. Invasi negara Komunis ke bumi Afghanistan sangat menyentuh panggilan jihad kaum muslimin dari se­luruh dunia. Amerika merasa menemukan potensi yang dapat digunakan sebagai kekuatan pengganggu Uni Sovyet, maka Amerika menfasilitasi partisipasi mujahidin non Afghan yang datang dari seluruh pen­juru negeri Islam, termasuk dari Indonesia di Peshawar Pakistan. Peshawar bagaikan Akademi Militer dengan 100 000 mujahidin dari seluruh dunia dibawah asuhan team instruktur CIA dibawah kendali William Cassey, M16 (Inggris), ISI (Pakistan) dan dana dari Saudi Arabia. Nah ketika Uni Sovyet telah ber­hasil diusir dari bumi Afghanistan, para Mujahidin merasa bahwa merekalah yang mengusir tentara kafir dari Afganistan, tetapi Amerika merasa dialah yang berhasil mengalahkan Uni Sovyet dengan melatih pasukan mujahidin Afgan dan non Afgan. Sepeninggal tentara Uni Sovyet tanpa disadari telah hadir veteran perang (mujahidin) yang jumlahnya sangat besar. Pengalaman keberhasilan Mujahidin mengusir tentara super power Uni Sovyet secara psikologis melahirkan konsep diri positif pada mujahidin, yakni merasa sanggup mengatasi masalah seberat apapun. Oleh karena itu gelombang veteran perang Afghanpun mengalir ke Bosnia bahkan ke Chehnya, Daghestan dan Moro, juga Poso dan Ambon. Pokok­nya dimana­pun terjadi penindasan terhadap kaum muslimin, para mujahidin itu siap untuk jihad dan syahid.  Ketika para pahlawan perang yang tangguh itu kemudian tidak lagi menemukan medan jihad, maka  sebagian besar kem­bali ke habitatnya sebagai orang biasa, ada petani, pedagang dan guru agama, tetapi ada juga yang mengalami problem psikologis seperti veteran perang Vietnam di Amerika. Hambali, Amrozi , Imam Samudera dan yang lain-lain yang jumlahnya cukup banyak adalah orang desa (lokal) yang masuk pusaran global. Mereka tinggal di desa kecil, tetapi informasi dunia global selalu diikuti melalui internet, dan seperti Rambo jiwanya mudah terguncang ketika melihat arogansi Amerika yang selalu menggunakan standar ganda. Mereka  bukanlah terrorist seperti yang di stigmakan oleh publik opini media Barat, tetapi mereka adalah pejuang ideologis yang sedang membutuhkan tempat berpijak yang tepat. Oleh karena itu memperlakukan kelompok itu secara “gebyah uyah” dengan menggunakan pa­radigma perang melawan terorisme international seperti yang dikumandangkan oleh presiden Bush, bukan saja tidak efektif, tetapi akan membangkitkan kembali jiwa perang veteran yang sudah tenang di habitat asalnya.
Laporan Badan Penasehat Pentagon, Defence Science Board yang bertajuk Strategic Communication sebagaimana dikutip situs BBC (Kamis 25-11-2004) secara terbuka menyalahkan perang melawan terorisme yang justeru melebarkan jaringan terorisme terhadap Amerika, karena diplomasi publik oleh AS soal demokrasi ke dunia Islam tak lebih sebagai kepura-puraan semata. Tindakan AS terhadap dunia Islam, kata laporan tersebut didorong oleh motif tersembunyi dan secara sengaja dikendalikan demi memenuhi kepentingan nasional AS dengan me­ngorbankan dunia Islam.
Bagaimana di Indonesia ?
         Praktek terror sudah lama dikenal di Indonesia. Para pahlawan kita dulu juga dicap sebagai teroris dan ektrimis oleh Belanda, karena mereka melakukan terror kepada penjajah,  bukan terror yang mengerikan (horrific terrorism ) tetapi terror yang bernuansa perjuangan dan kepahlawanan (heroic terrorism). Setelah merdeka , bersamaan dengan pencarian system kenegaraan Republik Indonesia, radikalisme tak bisa dihindarkan. Pertama karena adanya perbedaan konsep Negara, misalnya lahir DI/TII (Jawa),Daud Bereuh (Aceh) dan kahar Muzakkar (Sulawesi). Kedua karena tekanan politik (political pressure) yang dilakukan oleh rezim orde Baru. Ketiga karena adanya mainan inteljen seperti KOMJI nya Imran, Keempat pengaruh dinamika global;seperti perang Timur Tengah, Revolusi Iran, Arqam malaysia, perang Afgan dan pendudukan Amerika terhadap Afgan dan Irak. Tetapi yang paling berperan dalam menstigmakan atau membumikan terorisme di Indonesia adalah Sidney Jones.
Sidney Jones ,Direktur Indonesia International Crisis Group  yang berpusat di Australia menghabiskan waktu 20 tahun untuk merekam berbagai konflik di Indonesia dalam kapasitasnya sebagai aktifis LSM  sekaligus “kaki tangan” Amerika.  Laporan berkala Sidney Jones menjadi masukan resmi Kongres Amerika,FBI dan CIA,  Banyak hal yang dilaporkan Sidney Jones mengejutkan orang Indonesia, bahkan mengejutkan orang yang namanya disebut dalam laporan itu,karena ia terkesan sangat menguasai hingga ke detail peristiwa radikalisme bahkan sampai ke “celana dalam” pelaku, seperti dalam laporan The Case of The Ngruki Network in Indonesia.  . Tak jelas apakah terorisme di Indonesia itu karya orang Indonesia atau mainan inteljen Barat, apakah terrorist itu pelaku terror atau korban dari permainan politik global. Kiprah Sidney Jones nampak sekali standar gandanya, tetapi yang jelas hasilnya adalah menciptakan image negatip Indonesia dimata international. Pers Indonesia pun larut ke dalam tesis Sidney Jones karena memang tidak ada laporan lain yang bisa menandinginya sehingga wacana terorisme di Indonesia hanya melalui satu corong, yakni corong Sidney Jones. Sementara itu organisasi non profit multinasional yang berpusat di Belgia, International Crisis Group (ICG) yang dipimpin oleh mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari, meski juga ber”warna” Amerika tetapi tidak seberani Sidney Jones dalam menyimpulkan wacana radikalisme di Indonesia.

Sosok Amrozi dan Imam Samudera
       Senyum Amrozi ketika menerima vonis hukuman mati sungguh menggemaskan hati keluarga korban bom Bali dan membingungkan psikolog Barat, oleh karena itu Barat hanya menyebutnya sebagai teroris murah senyum. Sementara Imam Samudera justeru menulis buku Aku Seorang Teroris,  Hingga hari ini tidak ada keinginan keduanya untuk meminta grasi dan tetap dengan senyum menyongsong hari kematiannya. Senyum politik kah atau senyum ideology ? Sesungguhnya Amrozi dan Imam Samdera hanya sekedar sample dari limbah politik global, limbah dari politik standarganda Amerika. Amerika, dalam hal ini CIA kurang cermat ketika memutuskan melatih mujahidin di Peshawar untuk memerangi Uni Sovyet di Afganistan. Jika CIA berfikir teknis lawan dari lawan adalah kawan, mujahidin non Afgan yang datang ke Afgan lebih didorong oleh semangat mengusir tentara kafir dari bumi Afgan. Mereka siap mati bukan demi tugas dinas, tetapi karena adanya panggilan jiwa. Di Afgan, Imam Samudera tidak merasa sebagai orang Indonesia tetapi sebagai penduduk bumi yang sedang bekerja membasmi kezaliman tentara kafir. Suasana batin seperti itu dirasakan oleh mujahidin dari seluruh dunia,baik yang sempat berlaga di Afgan maupun yang barus bersiap-siap menuju kesana. Amrozi termasuk kategori yang terakhir ini karena ia hanya sampai ke Malaisia. Ketika Amerika menunjukkan standargandanya secara telanjang dengan menciptakan image building yang menghubungkan terorisme dengan kelompok Islam ,mujahidin alumnus Peshawar berbalik melawan Amerika yang dulu melatihnya. Jika  Bush berkata Now for all nations of the world, there only two choice; join America or join the terorisme,maka veteran mujahidin tak mungkin memilih Amerika. Mereka dipaksa oleh Amerika untuk menjadi lawan.  Sikap arogansi Amerika yang hanya memberikan dua pilihan persis sama ketika perang dingin 1950 an, John Foster Dulles berkata; “to all the Asian and African countries that there are only two alternative either they going to join Washington, or they join Moscow. Jika Bush dalam perang melawan teroris bertekad mengejar mereka dimanapun mereka berada,maka respond alumni Peshawar juga tidak kalah galaknya,yaitu killing Americans Civilian and military any where and any time,membunuh orang Amerika, sipil maupun tentara kapan dan dimanapun. Amrozi dan Imam Samudera tidak sedang memusuhi Indonesia, tetapi sedang terlibat dalam perang global dengan Amerika. Psikologi prajurit dalam perang itu sering kacau. Jika pesawat Amerika yang super canggih di Basrah Irak menembak mobil bak yang membawa tiang listrik karena dikira tank, itu karena suasana psikologis dalam perang. Begitupun Imam Samudera dan Amrozi, dalam kasus bom Bali dia tidak bisa membedakan antara orang Amerika dengan orang Australia. Jadi terorisme global kini lebih sebagai alat politik dan ekonomi serta rekayasa inteljen dibanding sebagai ideology, dan biasanya orang bodoh dan orang yang sempit wawasan yang dapat dijebak untuk menjadi pelaku lapangan terorisme, sementara actor intelektualnya tetap duduk ongkang-ongkang sambil menghitung keuntungan proyeknya..
posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger