Monday, July 07, 2008
Kebohongan Publik: Proses Demoralisasi Bangsa

Kebohongan publik adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kredibilitas pemimpin dalam ber¬komunikasi dengan masyarakat. Jika ada seorang sopir taksi berbohong, maka ia tidak akan disebut melakukan kebohongan publik, karena implikasinya hanya pada sebagian kecil penumpang taksi. Tetapi jika seorang presiden atau Ketua Parlemen melakukan kebohongan di depan parlemen atau di depan pers, hal itu disebut kebohongan publik, karena implikasinya sangat luas.
Implikasi dari kebohongan publik yang dilakukan oleh pemimpin bisa pada rusaknya sistem administrasi negara karena pernyataan seorang pemimpin akan ditindak lanjuti oleh aparat di bawahnya. Tetapi, bahaya yang lebih besar dari kebohongan publik yang ke¬mudian terbongkar dan tidak ada sanksi, adalah demoralisasi bangsa, dimulai dengan hilang¬nya apre¬siasi masyarakat luas kepada pemimpin, dan selanjut¬nya sang pemimpin akan hilang kewibawaannya. Jika rakyat tidak lagi menghormati pemimpinnya, maka setiap orang akan menjadikan diri sendiri sebagai pemimpin, dan akibatnya timbul anarki. Menurut ungkapan bahasa Arab, suatu bangsa tidak akan eksis jika anarki mewabah di masyarakat, dan anarki terjadi ketika perbuatan bodoh dilakukan para pemimpinnya (la yashluh al qaumu faudla la surata lahum, wala surata idza juhhaluhum sadu).
Tanggung jawab seorang pemimpin sangatlah besar sebagaimana besarnya tanggung jawab orang ‘alim. Dalam kitab Zubad disebutkan; fa‘alimun bi‘lmihi lam ya‘malan # mu‘addzabun min qabli ‘ubbadi al watsan. Artinya; orang ‘alim yang tidak mengamalkan ilmu¬nya kelak akan disiksa duluan sebelum penyembah berhala. Demikian juga ancaman bagi pemimpin yang melakukan kebohongan publik. Hadis Rasul menya¬takan bahwa ada tiga kelompok yang kelak di akhirat akan diacuhkan oleh Allah, yaitu (1) kakek-kakek yang berzina, (2) Penguasa yang banyak berbohong dan (3) orang miskin yang sombong. Na‘udzu billah min dzalik.
No comment
Post a Comment