Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Tuesday, September 02, 2008

Jalan Menuju Ke Langit, Mendekat kepada Alloh
at 11:25 PM 
Bahasa sehari-hari mengenal istilah; Tuhan yang di atas, atau Tuhan yang di langit. Langit sering didefinisikan sebagai batas pandangan mata. Dalam al Qur’an langit disebut dengan nama sama’ atau samawat. Dalam bahasa Arab, sama’ mengandung dua arti, pertama; ma `ala ka, apa yang di atasmu. Dari pengertian ini maka plafon di rumah kita di sebut langit-langit. Ke dua; langit adalah ungkapan tentang sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal manusia.

Jika di sebut sorga berada di langit artinya akal manusia tidak akan mampu melacak keberadaannya. Sorga dapat dilacak dengan keyakinan atau iman, bukan dengan ratio. Bahasa sehari-hari juga suka menggunakan istilah langit meski kurang tepat, misalnya menyebut kecantikan luar biasa dari seorang gadis dengan menyebut cantiknya selangit, kekayaan yang sangat banyak disebut kayanya selangit , dan ungkapan semisal lainnya.

Orang beriman meyakini bahwa di balik alam raya ini ada alam langit atau `alam malakut satu “tempat” yang sangat tinggi dimana blue print alam raya dengan segala kehidupannya itu berada dan dikendalikan, dan Allah bersemayam di `arasy Nya mengendalikan kekuasaanya melalui sistem sunnatulllah, dan Dia mengontrolnya secara detail hingga jatuhnya selembar daunpun berada dalam kontrol Nya.

Di mana letak alam malakut dan dimana `arasy Tuhan, akal manusia tidak mungkin menjangkaunya, karena Allah Maha Tinggi sedangkan manusia sebagai hamba memiliki keterbatasan yang sangat banyak. Meski demikian, dengan sifat Rahman dan Rahim Nya Allah memberi infrastruktur kepada manusia untuk dapat mendekat kepada Nya. Allah menempatkan sifat ketuhanan pada setiap manusia, apa yang dalam tasauf disebut nasut.

Allah juga menempatkan cahaya (nur) Nya pada setiap hati (qalb) manusia, disebut nuraniyyun (hati nurani) yang memiki kapasitas pandangan batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala, oleh Al Qur’an disebut bashirah (Q/75:14-15). Jika sifat Tuhan al Bashir mengandung arti Tuhan mampu melihat sesuatu secara total tanpa alat bantu, maka bashirah nya manusia atau hati nurani manusia juga dapat menembus dinding-dinding pembatas, secara internal melihat diri sendiri, introspeksi secara jujur dan hati nurani tidak bisa diajak berdusta, sedangkan secara ekternal, nurani dapat menerobos ke alam malakut bercengkerama dengan ruhaniyyun (malaikat atau arwah manusia) dan bahkan bisa bercengkerama dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Di alam malakut manusia bisa berjumpa dengan arwah manusia yang telah lama meninggal, dan jika beruntung bisa berjumpa dengan Nabi.

Dengan sifat Nasut itulah manusia pada suatu ketika rindu kepada Tuhan. Sifat Nasut itu bagaikan api yang selalu menyala ke atas. Orang yang sedang rindu kepada Tuhan, maka pandangannya selalu ke “atas” mencari Dia Yang Maha Tinggi di “alam atas”. Kerinduan kepada Tuhan itu memuncak ketika seseorang berhasil bekerja keras mensucikan jiwanya (tazkiyyat an nafs) hingga jiwanya mencapai tingkat nafs al muthma’innah, yakni jiwa yang tenang, atau ketika Tuhan berkenan mendekati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki Nya sehingga orang itu dalam waktu cepat tersucikan jiwanya (Q/ 4:49)


Di sisi lain, Tuhan memiliki sifat kemanusiaan (Lahut) yang selalu merindukan kehadiran manusia ke haribaan rahmat Nya. Tuhan sangat antausias menyongsong hambanya. Jika manusia mendekati Tuhan dengan jalan kaki, maka Tuhan akan menyongsongnya dengan berlari. Itulah yang menyebabkan ada orang yang sudah sejak kecil menjadi muslim tetapi tak kunjung berkualitas, sementara ada orang yang belum lama menjadi “mu’allaf” tetapi sudah mencapai pencerahan sufistik, karena ia disongsong oleh Tuhan. Di satu pihak, manusia memang memiliki bakat kerinduan kepada Tuhan dan untuk itu ia berusaha naik ke “atas” (taraqqi), di pihak lain, Tuhan yang merindukan kehadiran manusia berlari turun dari “atas” (tanazul) menyongsong setiap hambanya yang berusaha keras mendekat (taqarrub). Ada tiga jalan yang bisa ditempuh manusia mendekat kepada Nya.

Pertama: Thariqat as Syar`iy, jalan syari’at. Siapa saja yang berusaha keras konsisten mengikuti syari’at Islam, salatnya, puasanya, berdagangnya, berpolitiknya, dan seluruh aspek hidupnya, maka dijamin ujungnya adalah dar al muqarrabin, wisma khusus untuk orang-orang dekat. Siapa saja yang secara konsisten mengikti petunjuk Tuhan dalam hidupnya, yakni mengikuti aturan Tuhan tentang halal-haram, mengerjakan perintahNya dan menjauhi larangan Nya, maka ia berpeluang untuk menjadi orang dekat Nya.

Kedua: Thariqat ahl az zikr, jalannya ahli zikir. Barang siapa yang dalam hidupnya selalu berzikir maka ia akan sampai ke tingkat dekat dengan Allah. Zikir artinya menyebut atau mengingat. Orang awam berzikir dengan mulutnya dalam bentuk menyebut asma Allah atau kalimah thayyibah, meski hatinya belum tentu ingat Allah. Lihatlah orang yang ikut zikir bersama Arifin Ilham, ia bisa menangis haru interospeksi. Jika zikir itu dipelihara, dikerjakan secara sistemik, maka lama-kelamaan hatinya menjadi dekat dengan Tuhan yang selalu disebutnya. Sementara orang khawas berzikir dengan hatinya. Keadaan apapun yang dihadapinya dalam hidup, hatinya tetap mengingat Allah. Ada beberapa tingkatan zikir, yaitu zikir jahr, zikir keras-keras, kemudian meningkat ke zikir khofiy, zikir yang tidak mengeluarkan suara tetapi penuh d dalam hati, kemudian tafakkur, berkelana secar ruhaniyyah merenungkan kebesaran Allah, dan yang tertinggi adalah tadabbur, yakni melihat benda atau alampun langsung terbayang Sang Pencipta (tadabbur `alam).

Ketiga: Thariqat mujahidat as Syaqa, memilih jalan yang sulit. Bagi penganut jalan ini, hidup secara biasa itu berarti tidak tahu diri dan kurang bersyukur kepada Tuhan. Ia wajibkan dirinya mengerjakan yang sunnat, ia haramkan untuk dirinya apa yang sesungguhnya halal, semata-mata karena tahu diri. Ia lebih suka tidur di lantai, meski memiliki kasur, ia memakan makanan yang tidak enak meski tersedia makanan lezat, ia pergi haji dengan jalan kaki meski ada pesawat terbang, pokoknya semua yang sulit menjadi pilihannya. Baginya menempuh kesulitan dalam perjalanan mendekat kepada Tuhan itu satu kenikmatan, dan baginya pula, menggunakan fasilitas kemudahan dalam perjalanan kepada tuhan itu memalukan. Wallohu a`lam.
posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger