Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Wednesday, May 18, 2011

Jenis-jenis Gangguan Jiwa (3)
at 9:37 PM 
Psychastenia dan Gagap Bicara

Gangguan jenis ini adalah salah satu keadaan dimana integritas seseorang tidak sempurna sehingga ia tidak memiliki rasa percaya diri untuk memutuskan sesuatu, oleh karena itu segala yang harus dilakukan terasa sebagai suatu paksaan. Setiap saat penderita gangguan ini merasa selalu dipaksa dan takut dipaksa. Gejala dari penyakit ini antara lain rasa takut yang tidak masuk akala (phobia), fikiran yang tidak bisa dihindarkan (obsesi), dan merasa dipaksa mengerjakan sesuatu (kompulsi).

Phobia
Penyakit Phobia adalah perasaan takut yang tidak beralasan, artinya apa yang ditakuti itu sebenarnya tidak mempunyai potensi menakutkan atau membahayakan apa-apa, dan oleh karena itu orang lain biasanya menertawakan rasa takutnya itu, dan tertawaan orang itu malah menambahnya menjadi semakin cemas. Bermacam-macam hal ditakuti oleh penderita phobia, ada yang takut kepada gambar ulat, takut kepada ketinggian, takut kepada gelap, takut kepada ruangan yang luas dan takut kepada benda yang besar.
Pengidap phobia terhadap benda besar misalnya, ketika ia sedang memandang gedung tinggi, tiba-tiba terbayang gedung yang tinggi itu berkepala, matanya melotot dan mulutnya terbuka mau menerkam, dan ketika perasaan itu tiba, ia merinding dan mengkirig ketakutan.

Obsesi

Obsesi adalah sejenis gangguan jiwa dimana seseorang dikuasai oleh suatu pikiran yang tidak bisa dihindarinya. Setiap saat apa yang dipikirkan itu selalu ada dalam fikirannya sehingga ia sulit untuk memikirkan hal lain yang justeru lebih perlu. Pikiran yang mengganggu itu bisa berupa perasaan sengsara, fikiran membunuh, fikiran ditinggal kekasih. Penderita yang mengidap obsesi sengsara, maka setiap melihat sesuatu rasanya akan mengantarkannya pada kesengsaraan. Jika naik mobil terbayang mau kecelakaan, jika melihat sungai besar terbayang mau tenggelam dan hanyut, jika mempunyai uang terbanyak mau dirampok.

Sedangkan penderita obsesi mau membunuh, maka dalam pikiran berkecamuk perasaan ingin membunuh, jika berduaan dengan seseorang di tempat yang sepi, maka bayangannya ia sedang membunuh temannya itu tanpa ada yang mengetahui. Jika sedang naik kereta api misalnya, maka terbayang mendorong temannya hingga jatuh ke bawah dan mati, jika sedang di kolam renang maka terbayang ia mencekik orang di dalam air hingga mati. Adapun penderita obsesi ditinggal kekasih, maka jika kekasihnya pergi terbayang untuk tidak kembali, jika suaminya pergi naik motor, terbayang suaminya akan mengalami kecelakaan dan mati, jika sedang duduk berdua dengannya maka terbayang bahwa yang dipikiranya kekasihnya bukan dirinya tetapi orang lain yang akan diajak pergi meninggalkan dia.Penyebab obsesi pada umumnya adalah pengalaman pahit dimana dia tidak mampu menyesuaikan diri dengan realita.

Kompulsi

Kompulsi adalah jenis gangguan jiwa dimana seseorang merasa harus mengerjakan sesuatu, baik hal itu masuk akal atau tidak. Perasaan harus melakukan itu sangat membelenggu dirinya sehingga jika ia tiak melakukannya maka ia merasa sangat gelisah karena menyalahi apa yang menurut perasaannya harus dikerjakan. Kecemasan dan kegelisahan itu baru hilang jika ia telah mengerjakan hal tersebut. Gejala kompulsi bermacam-macam, misalnya ada :
(1) orang yang merasa harus mengulang-ulang pekerjaan, padahal ia tahu pekerjaan itu telah sempurna (repenitive compulsive). Gejala kompulsi jenis ini bisa menimpa pada pegawai bank yang tugasnya menghitung uang. Meskipun ia tahu bahwa hitungannya sudah benar, tetapi ia gelisah jika tidak mengulangi hitungannya lagi. Gejala lain dari kompulsi adalah pada
(2) keharusan urut-urutan pekerjaan (serial compulsive). Ada seseorang yang jika makan, piringnya harus ditengkurapkan dulu baru sendok garpu ditaroh, kemudian makan sop dulu baru makan nasi. Jika kebiasaan urutan itu tidak dilakukan maka ia merasa terganggu perasaannya. Ada juga kompulsi berupa ;
(3) keharusan aturan-aturan tertentu (compulsive orderlinese), misalnya seseorang merasa terganggu jika susunan pakaian di lemari atau buku di raknya diubah, atau susunan meja dan kursi dipindah. Perubahan itu membuatnya gelisah, bukan karena menjadi kurang rapi tetapi karena dipaksa harus seperti itu.
(4) ada kompulsi yang bersifat magic, yakni merasa harus membaca kata-kata tertentu (mantra atau doa). Jika mengerjakan sesuatu tanpa bacaan itu maka ia merasa gelisah dan merasa harus menguangi pekerjaannya.

Kompulsi anti sosial
Penyakit jenis kompulsi yang paling buruk adalah kompulsi anti sosial (Anti Social Compulsive), yaitu penderita dihinggapi perasaan dipaksa melakukan hal-hal yang sifatnya anti sosial atau merugikan orang lain atau masyarakat.
Gejala dari kompulsi anti sosial ada tiga macam :
1) Kleptomania, yaitu merasa dipaksa untuk mencuri, meskipun tidak memerlukan benda itu. Kasus tertangkap masahnya anggauta parlemen Indonesia mencuri sebuah celana dalam di sebuah supermarket inggris dapat diduga sebagai bentuk kleptomania.
2) Fetitisme, yaitu perasaan harus mencuri dan mengumpulkan benda-benda tertentu sebagai sesuatu yang mempunyai nilai seksual atau kesaktian, misalnya mencuri celana dalam wanita untuk kemudian disimpan secara rapi di lemari atau di kopernya. Dan ia merasa menikmati perasaan tertentu dengan simpanannya itu.
3) Kompulsi, yang berhubungan dengan seksual, misalnya senang mengintip aurat orang lain, atau senang memamerkan kemaluannya kepada oran lain, dan ia memperoleh kenikmatan dengan perilakunya seperti itu.

Gagap Bicara

Gangguan jiwa jenis ini biasanya menimpa anak-anak. Anak-anak pengidap gangguan ini bicara gagap, terputus-putus, tertahan nafas dan diulang-ulang. Ia kelihatan sangat berat untuk mengucapkan kata-kata. Gagap bicara bisa juga berhubungan dengan gangguan fisik seperti tenggorokan, amandel, tetapi jika fisiknya ternyata sehat maka gagap bicara itu berhubungan dengan kejiwaan. Anak yang dimanjakan di rumah tetapi kemudian kehilangan tempat bermanja di sekolah, sementara keluarga di rumah tidak menyadari hal itu, dapat menimbulkan gangguan jenis ini.
posted by : Mubarok institute

Post a Comment

Home

My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger