Sunday, April 27, 2008
Filsafat Ketuhanan

Oleh karena itu argumen-argumen dalam Ilmu Kalam selalu mengedepankan ayat al Qur’an. Yang dikaji antara lain apa hakikat sifat rabb al `alamin, sifat ar Rahman dan aar Rahim, al Jabbar, al Khaliq. Apa hakikat makna Maha Suci Allah (Subhanallah), makna Ahad atau Esa dan apa makna Allah bersemayam di arasy, apa makna langit dan seterusnya.. Jika untuk masyarakat umum dipandang cukup dengan mempelajari ilmu Tauhid, maka untuk kaum terpelajar perlu mendalami filsafat tauhid, yaitu Ilmu Kalam.
8 comments
Prof apakah mempelajari filsafat ketuhanan tidak akan mempengaruhi aqidah kita? saya sebagai orang yang awam kadang tidak berani terlalu mendalam mempelajari filsafat (tarekat) karena takut tidak dapat men'cerna' ilmunya. Seperti tulisan Harun Yahya mengenai Hakikat Materi, saya masih binggung dan masih belum bisa memahaminya. Mohon penjelasannya.
Manusia sering menceritakan tentang ujud ‘TUHAN’ tetapi itu merupakan cereka2 kosong, kerana kecenderungannya kepada sifat2 material yang dianggap subjectif/ realiti. Kerana tidak fahamnya bahawa fikriyah duniawiyah, bukannya satu realiti/ identi, tetapi fikriyah hanyalah bersifat bayangan yang ghaib tanpa memiliki nilai.
Saya menhgargai pendapat anda. tapi saya kurang sepakat dengan komentar tentang frame filsafat ketuhanan itu terdapat pada Kalamullah, wahyu dan bukan akal.
Dan saya lebih cenderung pada penggunaan akal, karena kepercayaan akan terasa meyakinkan jika dapat di buktikan secara realita.
Balau kita langung bergelut pada inti sari dari kebesaran melalui Kalam, Wahyu, itu tidak dapat membuktikan secara detail.
Bagi saya kepercayaan secara tekstual dan kepercayaan keyakinan itu dual hal yang berbeda.
Kepercayaan tekstual akan lebih mampu untuk membuktikan keberadaan dan kekuasaan sekaligus kebesara-Nya dan pada akhirnya akan melahirkan keyakinan lebih.
Dan kepercayaan keyakinan tidak akan dapat membuktikan dan menjelaskan siapakah Tuhan ? dimanakah keberadaan-Nya ? dimanakah Kekuasaan dan kebesaran-Nya ? (maka jawabanya saya yakin pasti hanya dengan ucapan nyebut "Astagfirullah" dan diam membisu).
Akhirnya saya mohon ma'af pada pak prof, bukannya saya mau menentang akan tetapi saya hanya berkomentar sesuai dengan apa yang saya tketahui..
Tapi suatu saat aku berharap dapat kembali pada ketiadaanku,sehingga tidak akan pernah ada lagi perbedaan yang menjadi perbandingan antara aku,kamu,dia,mereka,kita dan semua yang tercipta.
Kalau saja kita mengetahui kebenaran dengan benar....,sesungguhnya tidak satu katapun yang dapat menjelaskan kebenaran dengan benar,dan tidak sesuatupun yang dapat mengumpamakan kebenaran dengan benar selama emosi masih menjadi pembenaran dalam kebenaran.
Kalau saja kita mengetahui kebenaran dengan benar....,hanya kebenaran yang dapat memahami kebenaran dengan benar,karna kebenaran adalah benar,dan benar adalah kebenaran.
Kalau saja kita mengetahui kebenaran dengan benar....
Post a Comment