Tuesday, July 08, 2008
Leadership & Anarki

Cita-cita bangsa Indonesia dengan mendirikan negara Republik Indonesia misalnya, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 adalah untuk: (1) melindungi segenap warga negara, (2) hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warganya, (3) menghargai kedaulatan rakyat, dan (4) berketu¬hanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Manusia secara pribadi adalah makhluk yang di satu sisi berfikir positif dan menyukai kebaikan, tetapi di sisi lain terkadang berfikir negatif dan kemudian melakukan perbuatan yang bukan saja merusak diri¬nya tetapi juga merusak atau mengganggu orang lain. Perilaku manusia juga ada yang bersifat individual dan terkadang bersifat sosial. Ada orang yang secara pribadi adalah pendiam, penakut dan cenderung patuh, tetapi ketika ia menjadi bagian dari perilaku sosial yang bringas maka ia bisa berubah menjadi pemberani, nekad dan agresif, satu perilaku yang sangat berbeda dengan perilaku individualnya.
Untuk menjamin terlaksananya kesepakatan sosial, maka masyarakat mengenal struktur pemimpin dan yang dipimpin. Pemimpin diberi kewenangan oleh orang banyak untuk mengorganisir dan mengatur strategi pencapaian tujuan, dan orang banyak harus membantu dan mentaati pemimpin yang telah di¬sepakati. Manusia mengenal sistem kepemimpinan (leadership) pada setiap lapisan. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya (kullukum ra‘in). Kemudian suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, lurah adalah pemimpin satu desa dan sete¬rusnya Presiden adalah pemimpin dari satu negara. Tipologi pemimpin itu bermacam-macam, tetapi kontrak pemimpin dan yang dipimpin bersifat “universal”.
Kepe¬mimpinan akan efektif jika rakyat yang dipimpin merasa mem¬peroleh sesuatu dari pe¬mimpinnya; memperoleh rasa keadilan, rasa aman, dan bimbingan menuju masa depan yang menjanjikan. Oleh karena itu seorang pemimpin haruslah orang yang memiliki banyak kelebihan dibanding yang dipimpin, karena seorang pemimpin harus bisa memberi. Jika tiga hal itu tidak bisa diberikan oleh seorang pemimpin, maka kepe¬mimpinannya tidak akan efektif. Jika kepemimpinan tidak efektif maka kesepakatan umum bermasyarakat akan rusak, tatanan kehidupan menjadi tidak tertib, dan masya¬rakat manusia yang semestinya berbudaya tinggi akan berubah menjadi kerumunan binatang yang saling menyerang, apa yang sekarang disebut sebagai anarki.
No comment
Post a Comment