Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Tuesday, July 22, 2008

NURANI dalam BERPOLITIK
at 8:40 PM 
Pemilu 2009 nanti akan diramaikan dengan kehadiran partai baru yang mengusung nurani, yaitu partai HANURA, Partai Hati Nurani Rakyat. Pak Wiranto sebagai pendiri dan Ketua umumnya juga sudah pasang iklan politik yang mengusung nurani.Bahkan doa politikpun diiklankan. Benarkah ada nurani dalam politik ?

Nurani berasal dari bahasa Arab Nur, yang artinya cahaya, nuraniyyun, sesuatu yang bersifat cahaya. cahaya apa ? Menurut perspektip Psikologi Islam, perangkat kejiwaan manusia itu terdiri dari akal, hati,nurani, syahwat dan hawa nafsu. Akal merupakan problem solving capacity yang kerjanya berfikir, hati merupakan alat untuk memahami realita, nurani merupakan pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Syahwat merupakan penggerak tingkah laku atau motif dan hawa nafsu merupakan kekuatan destruktip yang menguji kemampuan jiwa. Sebagai system, kelima subsistem tersebut dipimpin oleh hati, oleh karena itu jika orang hatinya baik maka perilakunya juga baik,jika hatinya busuk maka perilakunya juga busuk.

Teori Pancaran
Konsep nurani berasal dari teori isyraqy atau teori pancaran yang menyatakan bahwa Tuhan adalah cahaya (Allohu nur assamawati wa alardh). Seperti matahari yang selalu memancarkan cahayanya, ia meninggalkan jejak cahayanya di bumi berupa kehidupan, kehangatan atau panas dan terang. Di malam hari, panas dan cahaya matahari itu berusaha kembali ke cahaya asal meninggalkan bumi dalam keadaan gelap dan dingin. Nah Tuhan memancarkan cahaya Nya, dan diantara jejak cahaya Tuhan adalah manusia, oleh karena itu didalam diri manusia ada cahaya ketuhanan, disebut bashirah (pandangan batin) atau nurani (sesuatu yang bersifat cahaya). Dan nurani memiliki kerinduan untuk selalu kembali kepada Tuhan sebagai cahaya asalnya. Berbeda dengan hati yang wataknya tidak konsisten; terkadang benci dilain waktu cinta, terkadang sadar dilain waktu lupa, terkadang tenang dilain waktu bergejolak, nurani yang merupakan cahaya ketuhanan bersifat konsisten, tidak mau kompromi dengan kebohongan dan kejahatan.

Dengan menyuap , orang bisa menang di pengadilan , tetapi nuraninya tetap jujur mengatakan bahwa ia lah yang bersalah. Nurani tetap konsisten dengan kejujuran. Hanya saja sebagaimana cahaya terkadang buram dan gelap, nurani manusia juga terkadang buram,gelap atau bahkan mati, yakni ketika ia tertutup. Jika nurani mati maka orangnya seperti berada di tempat gelap (dzulm) sehingga perilakunya juga seperti perilaku orang dalam kegelapan, salah tempat,salah ambil, salah persepsi, salah naroh dan salah langkah. Dari kata dzulm itu maka orang yang nuraninya tertutup atau mati disebut orang dzalim, yakni orang yang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Cahaya nurani tertutup oleh dua hal ; keserakahan/ambisi dan perbuatan dosa. Orang yang serakah pasti nuraninya tak berfungsi, sudah jabatannya tertinggi,gajinya paling banyak,jatah orang miskin pun masih disikat juga.. Demikian juga orang yang ambisius, segala macam cara ditempuh untuk menggapai ambisinya, tak peduli benar atau salah, tak peduli merugikan Negara dan bangsa..

Karakter Politik
Jika politik difahami sebagai kekuasaan,maka watak politik adalah korup. Korupsi adalah memanipulasi angka dan fakta untuk kepentingan sendiri. Jika dihubungkan dengan typologi kejiwaan, maka politisi yang lebih dipengaruhi oleh akalnya cenderung rasionil meski terkadang kering, politisi yang lebih dipengaruhi oleh hati maka cenderung hati-hati, politisi yang lebih dipengaruhi oleh syahwat cenderung mudah terdorong ke ambisi, politisi yang lebih dipengaruhi oleh hawa nafsu cenderung destruktip dan jahat,nah orang berpolitik karena panggilan nurani cenderung kepada keinginan memberi dibanding keinginan menerima. Politik adalah power, maka mengendalikan politik sama seperti mengendalikan kuda. Kuda adalah power yang jika bisa dikendalikan,maka ia akan mengantar pengendalinya pada satu tujuan. Salah mengendalikan bisa terperosok ke jurang bersama kereta yang ditarik. Makanya orang betawi menyebut pengendali kuda dengan nama sais, yaknibentuk isim fa`il dari kata Arab siyasah yang artinya politik.

Syahwat Politik
Syahwat adalah kecenderungan kepada apa-apa yang diingini. Syahwat politik adalah kecenderungan orang untuk menguasai orang lain, fikirannya , seleranya bahkan kemauannya,sehingga syahwat politik mendorong orang untuk bisa menjadi orang nomor satu; ketua, direktur, lurah bahkan presiden,agar ia dapat menguasai dan mengatur orang lain. Sesungguhnya syahwat itu manusiawi, netral dan tidak mesti jelek. Jika orang menggapai syahwat dengan mengikuti prosedur dan mematuhi hokum (hokum Tuhan,hokum Negara dan hokum etika) serta jujur maka aktualisasi syahwat itu sah dan bahkan bisa bernilai ibadah. Akan tetapi karena politik itu cenderung korup maka syahwat politik pada umumnya mendorong kepada ambisi, sementara ambisi menutup nurani .

Oleh karena itu mengusung nurani dalam gerakan atau manuver politik cenderung kepada manipulasi , tidak jujur dalam menilai, tidak jujur dalam mengkritik, dan lupa introspeksi. Ketika seorang ketua partai oposisi dalam persaingan politik menyebut Presiden yang sedang berkunjung ke daerah sebagai tebar pesona, pasti itu bukan suara hati nurani, tetapi syahwat p;olitik. Karena syahwat maka tak disadari ia lupa kritiknya lalu melakukan hal yang sama, tebar pesona juga . Bergitupun ketika masa kepresidenan baru setengah jalan tetapi sudah banyak orang yang mendeklarasikan dirinya untuk menjadi presiden mendatang,pasti itu bukan suara hati nurani, tetapi syahwat politik, karena karakter syahwat memang tidak sabaran.

Adakah Pemimpin Yang Bernurani ?
Sudah barang tentu ada. Ciri pemimpin yang digerakkan oleh nurani politik adalah tampil karena panggilan,bukan karena berhitung. Dalam suasana yang tak berpengharapan, maju kena mundur kena, bangsa berada ditubir kehancuran, pemimpin konvensional sibuk berhitung posisi berebut kamar padahal “kapal” nyaris tenggelam, nah… dalam keadaan seperti itu biasanya muncul seorang pemimpin yang terpanggil nuraninya untuk menyelamatkan keadaan. Ia siap memberikan apapun yang dimiliki tanpa berhitung untung rugi. Fikiran dan hatinya bersih suci dari kepentingan-kepentingan subyektip. Ia tampil bukan karena ingin berkuasa tetapi ingin menyumbangkan potensi dirinya bagi keselamatan bangsa, dan ia bahkan dengan senang hati siap menyerahkan kepemimpinannya itu kepada orang lain yang dinilai lebih tepat. Pemimpin plitik yang bernurani, ditengah malam ketika orang lain terlelap tidur , ia bangun berdoa kepada Tuhan agar bangsanya diselamatkan dari berbagai bencana. Dalam berduaan dengan Tuhan ia benar-benar jujur, karena memang tak mungkin berbohong kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Mengiklankan doa politik di surat kabar seperti yang dilakukan oleh pakWiranto pastilah bukan bersumber dari hati nurani, tapi dari syahwat politik.. Jika benda-benda konsumtip diiklankan berulang-ulang akan menarik perhatian konsumen meski benda itu sesungguhnya tidak terlalu bermutu, mengiklankan nurani yang bermutu secara berulang-ulang dalam waktu lama justeru membuat nurani itu terasa hambar di telinga konsumen.
posted by : Mubarok institute

Post a Comment

Home

My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger