Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Thursday, April 30, 2015

Psikologi Kepemimpinan Politik (1)
at 4:34 AM 
Banyak  yang berkata bahwa fenomena politik nasional dewasa ini sangat menyebalkan. Konflik koalisi  KMP vs KIH di Parlemen, konflik DPR dengan Pemerintah, konflik internal Partai Politik, ada DPR tandingan, Kongres tandingan, Gubernur tandingan dipertontonkan secara terbuka kepada public. Belum lagi skandal korupsi pimpinan Partai Politik, kesemuanya itu membuat ada yang berkesimpulan bahwa politik memang kotor, politik memang jahat. Benarkah politik itu jahat ?
Manusia Sebagai Makhluk Politik
       Suka atau tidak suka terhadap politik tetapi manusia adalah memang makhluk politik (zon politicon atau siyasiyyun bitthob`I dalam bahasa Arabnya). Perilaku politik adalah perilaku manusiawi, oleh karena itu kualitas politik bukan bergantung kepada politiknya tetapi kepada kualitas manusianya. Sebagai makhluk psikologis, manusia itu berfikir dan merasa, fikirannya mempengaruhi perasaannya dan perasaannya mempengaruhi  pikirannya. Jadi kualitas perilaku politik seseorang bergantung kualitas fikirannya (akalnya) dan kualitas perasaannya(hatinya) bahkan hati nuraninya. Oleh karena itu ada partai politik yang menggunakan hati nurani sebagai inspirasinya, yaitu Partai Hati Nurani Rakyat atau Hanura.
       Naluri politik adalah kekuasaan, tetapi konsep kekuasaan bagi setiap orang berbeda-beda, ada yang ingin menguasai orang lain, yakni manusianya,  ada yang lebih tertarik kepada kekayaan atau ekonomi, yang lain memilih keluasan wilayah dan ada yang lebih tertarik untuk menguasai hati dan fikiran orang lain.  Perbedaan pusat perhatian politik ini mempengaruhi perilaku politik seorang politisi, ada yang repressip, ada yang culas, ada yang rakus dan ada yang sportip,santun dan arif.
       Sebagai makhluk social manusia membutuhkan orang lain dan menjadi apa dan siapa bergantung dengan siapa mereka bergaul, bekerjasama dan belajar. Untuk mengejar kekuasaan politik maka makhluk social itu melakukan kerjasama untuk menggapai tujuan bersama, dan bersaing untuk menggapai agenda subyektip masing-masing. Oleh karerna itu lahirlah organisasi,  ada ormas, orpol atau Partai Politik bahkan Negara dan pemerintahan (termasuk juga Universitas) yang kesemuanya itu merupakan wadah kerjasama dan wajah persaingan sekaligus.  Di Partai Politik mereka bersama-sama membangun organisasi, tetapi di kongres masing-masing bersaing merebut jabatan tertinggi/ketua umum (contoh paling segar adalah Kongres PPP dan Golkar). Begitupun dalam pemerintahan dan dalam Negara, bahkan dalam organisasi dunia PBB. Kualitas perilaku dalam persaingan sangat erat dengan target apa yang ingin dicapai. Jika orang bersaing untuk merebut nilai-nilai keutamaan, kebajikan dan ketaqwaan, maka mereka pasti bersaing secara sportip, jujur dan bermartabat. Tetapi jika mereka bersaing untuk memperebutkan hal-hal yang sifatnya rendah (harta,tahta,wanita,gengsi) maka para politisi sangat mudah tergoda melakukan cara-cara kotor, seperti fitnah, intimidasi,terror, korupsi dan sebagainya.
       Menurut teori psikoanalisa, ekpressi manusia merupakan sinergi dari tiga pilar kepribadian, id, ego dan super ego, dimensi hewani, dimensi akal dan dimensi moral. Politisi yang berkepribadian hewan maka ia bersaing seperti hewan, serakah, tak sabar dan sadis. Politisi yang mengedepankan akal maka berpolitik secara cerdas, ia bisa bermain cantik dan mampu melakukan rekayasa politik,meski belum tentu bermoral. Sedangkan type politisi yang bermoral, ia hanya bersaing secara fair,berpegang teguh kepada prinsip-prinsip moral, mengacu kepada cita-cita politik yang dituju dan tabah menderita ketika harus melalui tahapan-tahapan yang berat, dan tidak mau melakukan praktek dagang sapi.
       Sebagai suatu persaingan, kemenangan politik tidak selalu sejalan dengan karakteristik sang politisi. Amin Rais yang Profesor Doktor dalam bidang ilmu politik ternyata tidak dijamin menang dalam politik, sebaliknya sebagai ketua MPR ia malah harus melantik Megawati yang tidak sarjana menjadi Presiden menggantikan Gus Dur. Idealisme politik tidak menjamin kemenangan actual, dan memang idealisme justeru menguat ketika sering berhadapan dengan realita politik yang terlalu pragmatis. Dibutuhkan kearifan, kecerdasan, keuletan dan kesabaran serta keberanian dalam menghadapi realitas politik yang cenderung pragmatis.
Politik dan Agama
       Agama mempunyai struktur vertical ke Tuhan Yang Maha Kuasa, sementara politik lebih berdimensi horizontal bersaing antar manusia. Tetapi nyatanya ada partai politik yang berbasis agama, Partai Islam, Partai Kristen dan sebagainya. Di Indonesia ada PKS, PPP, PKB, PBB yang jelas sekali warna ke Islamannya. Bagaimana sesungguhnya konsep polit5ik dalam Islam ?
Dalam bahasa Arab, politik disebut dengan istilah siyasah. Ilmu agama (Islam) yang berbicara tentang politk disebut fiqh as siyasah atau fiqih politik. Secara akademik ilmu politik berdekatan dengan ilmu ushuluddin atau teologi, oleh karena itu di IIUM (International Islamic University Malaysia) misalnya jika seorang mahasiswa S2 mengambil program mayornya ilmuUshuluddin,maka program minornya adalah ilmu politik. Jadi jika seorang sarjana alumnus Fakultas Ushuluddin (Teologi) kemudian aktif dalam dunia politik, itu sudah berada pada jalur yang benar. Politik berbicara tentang kekuasaan, sumber kekuasaan adalah Tuhan,dan Ushuluddin atau Teologi adalah ilmu yang berbicara tentang ketuhanan. Jadi berpolitik adalah juga ekpressi agama (ibadah) karena manusia adalah khalifatulloh (wakil Tuhan) di muka bumi yang bertugas menegakkan hukum-hukum Tuhan kepada ummat manusia di bumi. Oleh karena itu partai politik yang berbasis agama harus tunduk kepada akhlak mulia dalam berpolitik. Jika melanggar ekhlak al karimah dalam berpolitik, ia bukan saja diancam penjara di dunia tetapi diancam dengan hukuman neraka di akhirat nanti.
Politik dan Psikologi
      Definisi yang bersifat terapan menyatakan bahwa Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mnegendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia. ”psychology is the sciense that attempts to describe, predict, and controle mental and behavioral events”. Jadi psikologi juga bisa digunakan untuk memprediksi suatu peristiwa sosial politik dan bahkan bisa digunakan untuk mengendalikan kekuatan politik. Dengan psikologi seorang pemimpin bisa mengamankan kedudukan politiknya sehingga tujuan-tujuan besar politik jangka panjang bisa tercapai. Pengabaian terhadap psikologi bisa menyebabkan seorang pemimpin jatuh hanya dikarenakan oleh kesalahan kecil  tetapi berdampak  (negatip) besar.  Pengendalian politik  sangat berhubungan dengan persepsi politik publik. Kesalahan pendekatan psikologis dalam politik bisa melahirkan misspersepsi yang solusinya juga hanya bisa dilakukan dengan membangun persepsi baru. Publik terkadang bisa ditipu dengan politik pencitraan, tetapi persepsi yang terbangun oleh plitik pencitraan biasanya sarat dengan bom waktu politik. Oleh karena itu seorang pemimpin seyogyanya harus memenuhi persyaratan integritas, kompetensi dan komitmen kuat yang dibuktikan dengan mampu memilih skala perioritas, yang dengan itu citra politi8k akan terbangun secara real, bukan membangun politik pencitraan.
Psikologi Barat dan Psikologi Islam
        Psikologi sebagai ilmu (lahir abad 18) adalah produks dari peradaban Barat yang sekuler, oleh karena itu Psikologi Barat atau Psikologi modern tidak mengenal Tuhan, akhirat bahkan tidak mengenal baik dan buruk. Yang dikenali dalam Psikologi barat adalah sehat dan tidak sehat secara psikologi. Kenapa ?  karena psikologi Barat hanya bersumber dari renungan intelektuil dan penelitian empirik (laboratorium psikologi). Oleh karena itu wajar saja ketika teori psikoanalisanya Freud dibantai habis oleh teori Behaviorisme, selanjutnya disalip oleh teori Psikologi Kognitip dan baru muncul teori Psikologi Humanisme yang sudah agak berdekatan dengan teori-teori Islam.
         Sesungguhnya didalam al Qur’an dan hadist banyak sekali disebut kata nafs (jiwa), tetapi para ulama generasi awal lebih memandang jiwa dalam konteks hubungan vertikal dengan Tuhan. Oleh karena itu ilmu yang lahir adalah ilmu akhlak dan ilmu tasauf, dimana dapat dijumpai istilah nafs al muthma’innah ( jiwa yang tenang), nafs lawwamah (jiwa yang selalu menyesali diri), nafs al musawwilah (jiwa yang secara umum sudah tenang kecuali dalam menghadapi satu dua hal) dan nafs al ammarah (jiwa yang condong kepada keburukan). Munculnya istilah Psikologi Islam justeru di Barat (1950), yakni ketika mahasiswa muslim dari negeri2 Islam studi di Barat, dan ketika berjumpa dengan ilmu Psikologi sebagaimana dikatakan oleh  Prof. Malik Badri mengalami fase2 : (1) infantuasi, kemudian (2) rekonsiliasi dan (3) fase emansipasi, yakni dari terkagum-kagum, kemudian berusaha mencocdok-cocokkan dengan teori2 Islam dan akhirnya kritis terhadap pandangan-pandangan psikologi modern. Di Indonesia sendiri muncul istilah nafsiologi, kemudian Psikologi Islami, baru kemudian Psikologi Islam.
       Perbedaan Psikologi moderen (Barat) dengan Psikologi Islam terletak pada wilayah dan metodolginya. Jika Piskologi Barat wilayahnya hanya (1) menguraikan (2) memprediksi (3) mengendalikan perilaku manusia, maka Psikologi Islam menambah dengan (4) membentuk perilaku yang baik dan (5) mendorong jiwa agar merasa dekat dengan Tuhan. Demikian juga dari segi sumber, jika Psikologi Barat  bersumber dari renungan intelektuil dan laboratorium empirik, Psikologi Islam bersumber dari apa kata Sang Pencipta tentang manusia, seperti yang terkandung dalam al Qr’an dan dijelaskan oleh hadis. Metode yang digunakan adalah tafsir maudhu`i atau tafsirf tematik Sudah barang tentu teori2 Psikologi Barat juga digunakan sebagai pembanding dan pembantu dalam memahami teks.
posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger