Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam) diasuh oleh: Prof. DR Achmad Mubarok MA, Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN Jakarta, UIA

Tuesday, April 29, 2008

Peran Muballigh Dalam Menangkal dan Menjawab Islamopobhia
at 12:08 AM 
Oleh : Prof. Dr. Achmad Mubarok,MA
Kuliah Umum disampaikan dalam Acaea Wisuda Mahasiswa Pendidikan Kader Muballigh KODI DKI Jaya Angkatan XIV dan Permbukaan Kuliah Angkatan ke XV,
Jakarta, 24 April 2008



Pendahuluan

Muballigh adalah lapisan dakwah terdepan yang menggunakan media mimbar dengan audien (mad’u) yang tidak regular. Oleh karena itu materi dakwah yang disampaikan pada umumnya tidak mendalam dan mudah disalah fahami. Muballigh yang laris di masyarakat belum tentu yang terdalam ilmu keislamannya, tetapi lebih pada kemammpuannya berkomunikasi secara popler. Apalagi masyarakat yang hadir pada tabligh-tabligh belum tentu mereka yang bermotif mempelajari ilmu agama. Banyakdiantara mereka lebih menempatkan acara tabligh sebagai tempat menghibur diri dari berbagai kerutinan dan kesumpekan hidup. Oleh karena itu muballigh yang selebritis banyak disukai masyarakat meski bobot ceramah agamanya tidak seberapa. Muballigh bukan tidak penting, tetapi perlu disadasri bahwa peran muballigh lebih pada membangun gebyar-gebyar dakwah dibanding menanamkan kesadaran beragama. Oleh karena itu juga meriahnya gebyar-be\yar tablig tidak sejalan dengan kualitas ummat.


Tingkatan Dakwah

Dakwah artinya usaha mempengaruhi orang lain (masyarakat) agar mereka bersikapdan bertingkah laku seperti yang diinginkan oleh da’i . Tebal tipisnya usaha atau datar dan dalamnya tujuan dakwah nampakdari lapisan da’i. Lapisan da’i yang kita kenaldi Indonesia sekarang dapat diklassifikasi sekurang-kurangnya menjadi lima lapisan.

1. Lapisan muballigh. Mereka adalah yang berdakwah kepada publik, tidak berjadwal, madunya ganti-ganti, tidak ada kurikulum dan tidak ada target. Oleh karena itu ”kharisma”muballigh sangat bergantung pada diri sang muballigh sendiri. Ada muballigh fa`il dan ada muballligh maf`ul. Muballigh fa`iladalah muballigh yang memiliki program dan mempunyai perhatian khusus, misalnya masyarakat tertentu atau bidang tertentu. Sedangkan muballigh maf`ul adalah muballigh yang tidak memiliki program tetapi menunggu diprogram oleh masyarakat atau menunggu diundang. Jika muballigh fa`ilbisa diukur keberhasilannya, muballigh maf`ul ukuran keberhasilannya hanya pada jumlah undangan.

2. Lapisan pendidik. Guru yang sadar sebagai da’i sesunguhnya adalah da`i yang berdakwah dengan audient (mad’u) tetap,dengan tujuan yang terukur. Oleh karena itu jika seorang guru berhasil dalammenjalankan tugas dakwahnya, ia benar-benar bisa membentuk mad’u (murid) menjadi sosok seperti yang diinginkannya.

3. Lapisan Profesional. Ciri orang profesional adalah bekerja sesuai dengan pendidikannya, memiliki akses pada pengambilan keputusan dan mempunyai implikasi standar imbalan upah,misalnya dokter,insinyur, arsitek dsb.. Jika seorang profesional memiliki jiwa dakwah maka ia akan menjadi da’i dengan power dan jejaknya berujud persepsi psitip terhadap Islam. Da’i dari lapisan ini dapat juga disebut sebagai dakwah kultural.

4. Lapisan Politik. PKS misalnya secara terbuka menyebut dirinya sebagai partai dakwah.Maknanya PKS akan berdakwah melaluijalur politik. Pekerjaan Partai politik itu biasanya “memanipulasi” kepentingan rakyat sebagai tangga pencapaian kekuasaan. Jika partai bisa berpolitik secara bersih maka itu merupakan dakwah yang sangat efektip. Jika kekuasaan sudah dicapai (jadi Gubernur, Menteri atau Presiden) dan kemudian kosisten dengan konsep-konsep dakwahnya maka itu merupakan dakwah yang powerfull, yang hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas, ekonomi dan sosial. Ada yang secara terbuka berdakwah melalui Partai Islam, tapi ada yang berdakwah melalui partai yang tidak menyebut identitas keagamaan.


Dakwah Sebagai Peristiwa Komunikasi

Sebagai peristiwa, dakwah adalah komunikasi,oleh karena itu unsur-unsur dakwah juga sama dengan unsur komunikasi, yaitu da.i, mad.u, materi atau pesan, metode dan media.Materi yang disampaikan oleh muballigh atau da’i bisa informasi, ajakan, ajaran,bisa juga omong kosong. Tingkat komunikasi muballigh dengan masyarakat sangat bergantung kepada tingkat komunikatipnya. Jika seorang muballigh hanya menyampaikan suara, maka dakwahnya hanya didengar oleh telinga, jika muballigh menyampakan dakwahnya berupa pemikiran maka akan direspond dengan fikiran, jika dakwahnya merupakan suara hati,maka akan dicerna oleh hati.


Ciri-Ciri Dakwah Yang Berhasil

Sebagai peristiwa komunikasi, dakwah dipandang berhasil jika memilikiciri-ciri dibawah ini :

1. Jika pesan dakwahnya dimengerti oleh masyarakat
2. Jika dakwahnya menimbulkan kesenangan atau menghibur masyarakat
3. Jika hubungan antara muballigh dengan masyarakat mad,unya semakin membaik
4. Jika dakwahnya bisa mengubah sikap negatip menjadi positip terhadap nilai-nilai yang didakwahkan
5. Jika dakwahnya berhasilmenumbuhkan tindakan pada mad’u


Islamopobhia

Dalam Psikologi Komunikasi dikenal adanya Sistem komunikasi intrapersonal dan sistem komunikasi interpersonal.

• Sistem komunikasi intrapersonal adalah bagaimana proses seseorang menerima stimulus, mempersepsi, memasukkan kedalam meori, berfikir dan merespond. Bagi orang yang belum memeluk Islam, agama Islam adalah persepsi. Kebanyakan Orang Barat mempersepsi Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan, tidak menghormati HAM dan melecehkan wanita. Persepsi paling banyak dipengaruhi oleh perhatian. Yang sangat menarik perhatian adalah faktor kebaruan, gerakan, kontras, perulangan . Media masa Barat secara berulang-ulang menyiarkan berita subyektip (dan salah) dari duniaIslam tanpa dunia Islam mapu mengounternya dengan media yang sama. Akibatnya persepsinegatip tentang Islam terbangun di benak orang Barat, dan bahkan merasuk ke kalangan muslim yang dangkal ilmumnya.

• Sistem komunikasi interpersonal adalah proses bagaimana orang membangun citra. Membangun citra baik membutuhkan waktu yang lama melalui perilaku baik yang diulang-ulang. Sedangkan citra buruk langsung terbangun begitu orang melakukanperbuatan buruk.

Terlepas dari persepsi negatip orang Barat, harus kita akui terkadang diantara kita (da’i dan muballigh) mencitrakan diri sebagai golongan yang tidak bermartabat. Misalnya nahi mungkar anti maksiat dengan mendatangi tempat maksiat, sambil berteriak takbir dan membawa pentungan, menghancurkan kaca-kaca, plus berpakaian jubah putih. Ketika nahi mungkar ini ditayangkan di media Barat,maka yang terbangun adalah citra buruk Islam di mata orang Barat. Atau ketika seorang muballigh dalamtabligh akbar tentang Ahmadiyah beberapa waktu lalu mengatakan bahwa orang Ahmadiyah adalah halal darahnya. Ketika dalam tayangan kata2 ini diterjemahkan, maka persepsi yang tertanam di benak orang Barat adalah Islam agama yang tidak toleran dan kejam. Begitupun kasus Amrozi cs. Jadi kita tidak boleh terlalu emosionil ketika berjumpa dengan fenomena Islomopopbhia atau anti Islam.



Bagaimana menangkal dan Menjawab IslamoPobhia ?

Persepsi hanya akan berubah dengan komunikasi,bukan dengan respond jarak jauh. Menjawab IslamoPobhia yang poaling efektip adalah dengan mengedepankan Islam sebagai rahmatan lil`alamin, sebagai kasih sayang bagi alam semesta. Karakteristik rahmat adalah (a) penuh perhatian (b) inginnya memberi (c) memaklumi kekurangan dan (d) memaafkan kesalahan. Masyarakat dakwah harus berdialog dengan Barat, karena mereka yang anti Islam memang tidak tahu dan sudah terbangun persepsi buruk tentang Islam. Ingat Rasulullah ketika dilempari batu oleh orang Taif, Rasul bukannya memaki-maki tapi berkata, Allohummaghfirlahum fainnahum la ya`lamun. Ya Alloh ampunilah mereka, karena mereka melempari batu kepadaku karena mereka tidak tahu bahwa saya benar-benar utusan Mu.

Pasca peristiwa 11 September di Amerika, jumlah muslimin di Amerika naik 500%. Kenapa ? karena setelah agama Islam disiarkan sebagai agama teror, orang Amerika penasaran kepengin melihat seperti apa ajaran Islam. Mushaf al Qur’an dan buku-buku Islam selalu ludes terjual. Setelah mereka membaca langsung dan berkomunikasi langsung dengan orang-orang Islam, persepsi mereka berubah,malah kemudian simpati dan kemudian dapat hidayah Tuhan. Allohu Akbar


Penutup

Jadi mahasiswa PKM harus menambah wawasan, banyak membaca banyak mendengar dan banyak bergaul. Insyaalloh ilmu tambah, penghayatan bertambah dan keluwesan bertambah.

Wallohu a`lamu bissawab.
posted by : Mubarok institute
My Photo
Name:

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA achmad.mubarok@yahoo.com

Only Articles In
Photos of Activities
Best Seller Books by Prof. DR Achmad Mubarok MA
Join Mubarok Institute’s Mailing List
Blog Development By
Consultation


Shoutbox


Mubarok Institute Weblog System
Designed by Kriswantoro
Powered by Blogger